
Sudah lebih dari tiga hari Aira di rawat, namun Dokter belum mengijinkan nya pulang karena kondisi tubuh Aira yang masih sering merasa pusing juga nyeri di bagian perutnya.
Karena itu pula, Nathan terus saja menemaninya di sana walau sebenarnya Aira merasa sedikit risih namun dia sendiri tidak bisa berbuat sesuatu untuk bisa keluar atau paling tidak membuat Nathan tidak terus menemani nya.
" Bagaimana bisa cepat sembuh jika terus bermain ponsel." Ucap Nathan merebut ponsel yang sedang Aira pegang
" Itu ponsel aku, Lagian aku juga baru pegang "
Nathan tidak menjawab dan menyimpan ponsel Aira,,
" Iih " Kesal Aira langsung menarik selimutnya dan membelakangi Nathan yang masih berdiri menatapnya.
Adi sendiri masih terus khawatir dengan keadaan Aira, selama tiga hari Aira tidak masuk kerja bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi membuatnya mendatangi rumah Bratama.
" Permisi ,, " Ucapnya saat sudah berada di depan pintu.
Tidak lama pintu terbuka,,
Melisa menatap malas Adi, Baginya Adi sama saja dengan Aira orang orang yang hanya membuang buang waktunya.
" Ada apa kamu ke sini. "
" Maaf Tante, Saya ke sini untuk mencari Aira karena sudah beberapa hari Dia tidak datang ke Cafe,, Aira baik baik saja kan Tante.?"
" Jadi kamu tidak tau, Aira di Rumah Sakit "
" Apa Tante Rumah Sakit, Aira sakit apa Tante."
" Mana saya tau, Tanya saja sama Pacarnya "
Brakk
Adi kaget saat tiba tiba Melisa menutup pintunya kasar.
Adi pun segera kembali ke mobilnya, dia terus mencoba menghubungi Aira namun tetap saja tidak aktif.
Sudah pasti lah Aira lebih memilih Laki laki kaya dan meninggalkan Adi,,
Nathan lebih segalanya dari Adi.
" Mah,, Mama kenapa sih ?" Ucap Anggita yang baru saja keluar kamar
" Adi datang mencari Aira, Sudah pasti Aira meninggalkan dan memilih Nathan, secara Nathan lebih segalanya dari Adi."
" Mah,, Seharusnya Nathan milik Gita dan bukan Aira,, sampai kapan pun Gita gak bakal setuju, Gita bakal rebut Nathan dari Aira."
Melisa menutup mulutnya,,
dia Lupa jika Putrinya menyukai Nathan.
" Sayang,, Bukan maksud Mama seperti itu .. Mamah juga lebih setuju Nathan bersama Kamu dan Bukan Aira, Kamu perempuan yang serasi bersanding bersama Nathan dan bukan Aira."
" Ya Mama bantu Gita dong,, Bilang Papa buat kembali mengundang Nathan ketemu "
" Iya Sayang,, Mama bilang Papa ya sekarang kamu jangan sedih."
Anggita mengangguk,,
Bratama terus menatap keuangan Perusahaan yang tidak stabil, beberapa Perusahaan memutuskan kerjasama mereka.
Bukan hanya Pratama grup namun beberapa perusahaan lain pun ikut membatalkan nya secara sepihak membuat Bratama harus mengalami kerugian yang sangat besar.
" Permisi Tuan, Anda memanggil Saya ?"
__ADS_1
" Bagaimana semua ini bisa terjadi, baru kemarin Perusahaan Pratama memutuskan kerjasama dan kini Tiga perusahaan lain pun ikut membatalkan kerjasama kita ?"
" Benar Tuan, mereka pun tidak menjelaskan secara detail alasan mereka membatalkan kerjasama ini "
Bratama memijat pelipisnya,,
Perusahaan yang sudah dia rebut dari Ayah Aira selama masih hidup akan hancur karena mengalami kerugian besar.
Semua ini karena Nathan,,
Jika saja dia tidak membatalkan kerja sama ini, Perusahaan Saya sudah bisa bersaing dengan perusahaan lain.
bahkan jika saya berhasil menikahkannya dengan Gita itu sangat menguntungkan bagi saya.
tapi,,
Aira, Ya,, semua ini terjadi karena gadis sialan itu.
jika Nathan tidak mengenalnya semua ini tidak akan terjadi.
Bratama meremas berkas yang berada di tangannya,, dia terus saja menyalahkan Aira karena semua ini.
_____
Nathan baru saja menerima telpon dari Boy yang mengatakan jika Bratama terus meminta bertemu dengannya.
Padahal semua sudah sangat jelas jika mereka tidak bisa kembali bekerjasama.
" Ada apa ?" Ucap Aira menatap Nathan yang tampak diam.
" Kenapa tidak tidur, kamu harus,-
" Banyak istirahat,, Iya Kan ?
Nathan sedikit menyunggingkan senyuman,
Untuk kali pertamanya dia melihat Aira yang sangat cerewet.
" Kenapa Senyum senyum,, ?" Tambah Aira saat menyadari jika Nathan tersenyum.
" Sejak kapan kamu begitu cerewet Hem ?!"
Deg..
Aira terdiam,,
dan langsung memalingkan wajahnya malu,,
Memang semenjak mereka bersama Aira sudah tidak begitu canggung dengan Nathan.
dan Hari ini pun pertama dirinya melihat seorang Nathan tersenyum.
" Apa Saya boleh bertanya sesuatu?" Ucap Nathan membuat Aira kembali menatap nya.
" Apa memang nya ?"
" Bagaimana selama ini kamu hidup bersama Paman juga Bibi kamu ?"
Aira terdiam,,.
Apa perlu dia menjawab pertanyaan Nathan, dan apa dia harus menjawab nya dengan jujur atau harus berbohong.
" Aira ,, Kamu masih bisa mendengar juga mengingat bukan ?"
__ADS_1
" Untuk Apa Tuan menanyakan semua itu."
" Sudah berapa kali saya bilang, panggil Saya Nathan"
" Iya Nathan,, Untuk apa Anda bertanya semua itu ,apa begitu perlu saya menjawabnya."
" Perlu karena Saya ingin mendengar nya dari kamu."
Aira menghela napasnya,,
" jawab semua jujur jangan ada yang kamu tutup tutupi "
" Semenjak Kedua orang tua Saya meninggalkan, Saya tinggal bersama Paman juga Bibi karena hanya mereka keluarga yang saya punya, Namun mereka seperti tidak menyayangi Saya, mereka menyuruh saya bekerja dan uangnya selalu Mereka minta untuk berfoya foya."
Aira terhenti,,
terlihat pula Aira menatap ke arah lain untuk menutupi rasa sesak dalam hatinya mengingat bagaimana perlakuan mereka terhadap dirinya.
Nathan sendiri sebenarnya sudah tau apa yang terjadi, namun dia ingin mendengar nya dari Aira sendiri.
" Tapi walaupun mereka melakukan semua itu, Saya tetap menyayangi mereka, saya tau mereka pun sebenarnya menyayangi saya." Lanjut Aira tersenyum kecut.
" Jika mereka menyayangi kamu, kenapa semua gaji kamu mereka minta."
Aira kembali terdiam,,
" Aira dengar,, Semua yang mereka lakukan terhadap kamu sudah sangat jelas jika mereka tidak menyayangi kamu, kenapa kamu berpikir mereka menyayangi kamu hah ?"
" Karena hanya mereka keluarga yang saya miliki "
Tes..
Butiran bening menetes bersama dengan Aira mengatakan semua itu.
Nathan menatap Aira,
entah mengapa dia merasa sakit melihat Aira menangis seperti ini.
" Maaf bukan maksud Saya membuat kamu sedih."
Aira menggeleng,,
Namun terlihat jelas jika dia masih merasa sedih akan nasibnya.
" Lupakan,, sekarang istirahat lah ini sudah malam."
Aira mengangguk dan menyeka air matanya,,
dia pun mulai memejamkan matanya.
Nathan terus menatapnya,,
Air matanya masih menetes,,
" Istirahat dan lupakan semuanya Oke,, "
Nathan berusaha menenangkan Aira, dia merasa bersalah dengan apa yang dia tanyakan tadi, dia tidak menyangka jika Aira sudah sangat tersiksa dengan hidupnya selama ini.
Jadi semua yang Boy ceritakan memang benar,
Selama ini Aira hidup dengan penderitaan yang Paman juga Bibinya ciptakan.
Pantas saja tubuhnya sangat kurus, dia harus bekerja demi kesenangan mereka.
__ADS_1