
Nathan Duduk sendiri sementara Aira sedang ke toilet, dia membuka Ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Boy yang berada di Perusahaan.
" Tuan Nathan"
Nathan menoleh dan terlihat Melisa berdiri menatap.
" Maaf Jika Saya mengganggu Anda, Saya hanya sangat berterima kasih kepada Anda Karena Anda juga Aira begitu banyak membantu Saya, membiayai semua Pengobatan suami saya dan memberikan Tempat tinggal untuk Kami."
Nathan mengangguk dan menyimpan ponsel nya.
" Semua ini Saya lakukan karena dan untuk Aira, bahagia pun kebahagiaan Aira sangat Saya pikirkan."
" Saya sangat tau Tuan, Anda begitu mencintai Aira dan Saya sangat bersyukur Aira bertemu dan menikah dengan Anda.
Saya merasa begitu bersalah dan berdosa kepada Aira setelah apa yang sudah saya juga keluarga saya lakukan dulu."
Nathan menghela napasnya,,
" Karena Hal itu juga Saya membantu Kalian, Aira seharusnya mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang sudah dia alami selama ini."
Melisa terdiam bagaimana pun selama ini dia banyak bersalah dengan Keponakan nya itu.
" Saya Minta Maaf dan Saya sudah sangat menyesali nya."
" Minta Maaflah kepada Aira, Bagaimana pun dia sama sekali tidak memiliki dendam terhadap kalian."
Berbeda dengan Aira yang baru saja keluar dari Toilet,,
" Aira tunggu "
Terlihat Anggita berjalan mendekat,,
" Kenapa Git"
" Lo bilang mau bantu Papa , Lo bilang sudah memaafkan mereka dan Lo bilang tidak ada dendam kepada mereka tapi gue gak nyangka Lo bisa melakukan semua itu."
" Maksudnya apa sih Git, Aku gak tau "
" Lo tau biaya rumah sakit sangat besar, dan Lo tau Mama sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar nya dan Lo malah seakan tidak peduli dengan Hal itu. Lo sekarang sudah memiliki banyak uang, suami Lo orang Kaya tapi Lo masih saja sama bersikap sombong."
" Lo salah Git, Aku sama sekali tidak sombong dan,-
" Padahal kita keluarga Ra, tapi Lo seperti orang lain buat Kami., Dan jika memang Lo peduli dengan Kami seharusnya Lo bantu kami, Membiayai Biaya Rumah Sakit, Dan Kebutuhan kita sehari hari. Lo tau gue tidak bekerja dan dari mana kita mendapatkan semua uang itu." Ucap Anggita berjalan meninggalkan Aira yang masih berdiri mematung di sana.
Anggita tersenyum,,
Pasti lah Aira akan berpikir dan dengan apa yang di lakukan bisa membuatnya mendapatkan uang tanpa harus bekerja seperti apa yang Mama nya suruh.
Aira berjalan gontai menuju Ruang ICU dimana Suami juga Bibinya berada.
" Sayang " Ucap Nathan langsung menghampiri Aira yang tampak memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Anggita yang berada di sana tampak tersenyum senang, sudah pasti Aira memikirkan apa yang dia katakan dan dia hanya tinggal menunggu saja apa yang akan Aira lakukan.
" Wajah kamu Pucat, Kita pulang dan Kamu istirahat oke "
Aira mengangguk dengan Nathan yang langsung memeluknya.
" Bi, Aira pamit pulang dulu ya Kabari Aira jika ada sesuatu."
" Iya Nak, Kamu istirahat ya sayang jangan mikir macam-macam."
Aira mencium punggung Tangan Melisa dan berjalan Keluar.
Melisa menatap Anggita yang tampak masih tersenyum,,
" Gita, Kamu kenapa senyum senyum seperti itu."
" Ah ,, Gak papa Ma "
Melisa menggeleng dan kembali menatap pintu ruang ICU dimana Suami nya masih juga belum sadar.
Aira terus terdiam,,
Dia memikirkan ucapan Anggita , Sebagai keluarga dia pun tidak mau membuat keadaan mereka terpuruk.
Bagaimana pun dia harus membantu mereka tapi apa yang harus dia bantu.
" Sayang,, Hei ada apa ?" Ucap Nathan mengusap lembut Tangan Aira.
" Gapapa Mas, Aku hanya lelah."
Nathan mengusap wajah Aira dan menggenggam tangannya.
Dia melanjutkan mobilnya untuk kembali ke rumah.
______
Hari semakin Sore,,
Melisa tampak pasrah dengan keadaan suaminya, apapun yang terjadi dia sangat mencintai suami nya.
" Gita, Apa kamu sudah memikirkan ucapan Mama"
" Soal Apa Ma "
" Bekerja, Kamu sudah layak bekerja Nak bukan hanya untuk membantu Mama dan Papa tapi juga untuk mengurus diri kamu, membeli apapun yang kamu inginkan Nak."
" Ma, Kapan sih Mama tidak membicarakan soal itu. Gita masih belum bisa bekerja Ma. Lagian untuk apa sih Gita bekerja toh juga masih Ada Aira yang bakal memberi uang atau kita meminta uang."
" Astaga Anggita,, Kapan kamu bisa belajar Dewasa Nak, Aira sudah menikah dan dia memiliki kehidupan sendiri. Kita pun tidak bisa terus terusan mengganggu dan meminta bantuan Kepada nya."
" Buat apa kita punya keluarga Kaya jika kita tetap terus hidup miskin."
__ADS_1
" Gita,, "
" Bener kan Ma, Aira hidup enak di sana, tinggal di rumah mewah, bisa makan enak, banyak Yang dan bisa membeli apapun yang dia mau tapi kita, Kita apa yang kita punya sekarang Ma.
Apa Aira tega melihat Kita hidup menderita."
Plak.
Melisa menampar pipi Anggita, sudah sangat lelah dirinya dengan sikap dan tingkah Anggita selama ini.
" Mama salah mendidik kamu Anggita, Mama terlalu memanjakan kamu hingga kamu bisa seperti ini, Kamu sama sekali tidak dewasa berbeda dengan Aira yang begitu baik dan dewasa dalam menyikapi masalah."
" Cukup Ma,, Dua Kali Maka menampar Anggita. Mama juga terus memuji Aira dan membandingkan Gita dengannya, Sebenarnya siapa Anak Mama, Anggita apa Aira.
Mama benar benar sudah berubah, Gita benci sama Mama."
" Gita,, "
Anggita terus berlari Keluar dan meninggalkan Melisa yang memanggil nya
Melisa mengusap dadanya,,
Dia menyesal telah membesarkan Anggita dengan didikan yang salah, sejak Kecil Anggita selalu di manja olehnya juga Bratama hingga sampai sekarang sikapnya masih tidak bisa berubah dan tidak bisa bersikap dewasa.
Maafin Mama Gita,,
Selama ini Mama salah mendidik kamu hingga kamu bersikap seperti ini.
Bukan berarti Mama membenci kamu Nak, Mama hanya ingin kamu berubah menjadi perempuan yang lebih dewasa.
Papa dan Mama sudah tua, Bagaimana jika kamu sudah pergi, Apa yang akan terjadi dengan Kamu sayang.
Kamu harus berubah sejak sekarang.
Melisa mengusap air matanya yang menetes di wajahnya,,
Dia menyayangkan sikap dan perilaku Putrinya yang salah.
Bagaimana pun dia harus memikirkan Suaminya yang masih terbaring lemah di dalam ICU, memikirkan biaya Rumah Sakit selanjutnya, memikirkan kehidupan mereka nantinya, biaya kehidupan mereka dan kini Anggita yang bersikap seperti itu.
Melisa sudah sangat pusing dengan semua yang terjadi.
Hanya Aira yang selalu mengerti, namun dia tidak mungkin untuk terus mengganggu Aira dengan semua masalah masalah dirinya.
Aira bahkan sedang hamil dan tidak boleh stres atau banyak pikiran.
Ya Tuhan,,
Apa yang harus aku lakukan sekarang,,
Sembuhkan lah suami Aku, karena Hanya dia lah yang bisa membantu ku mengatasi semua masalah masalah ini.
__ADS_1
Melisa bersandar dengan masih terus meneteskan Air mata nya.