Nathan Dan Aira

Nathan Dan Aira
No. 85


__ADS_3

Adi masih memikirkan keadaan Aira di rumah sakit, cukup lama mereka tidak bertemu dan kini Aira malah di rawat di rumah sakit.


Sebenarnya dia bisa saja menjenguk nya di sana, namun sudah pasti suaminya Nathan tidak akan mengijinkan nya.


lebih baik besok aku coba kembali ke sana, siapa tau bisa bertemu Aira.


Adi melajukan mobilnya keluar Rumah sakit.


*Pagi Harinya...


Aira membuka matanya, namun dia tidak melihat suaminya berada di sana.


" Mas Nathan " Panggil Aira namun tidak ada jawaban membuat Aira beranjak.


Ceklek,,


Pintu terbuka dan Nathan berjalan masuk..


" Astaga Sayang,, Kamu mau kemana ? "


Nathan segera menghampiri Aira yang akan turun.


" Aku bosan Mas tiduran terus, Boleh kan aku jalan jalan keluar "


Nathan menatap istrinya,,


Sudah pasti Aira sangat bosan, dan jika hanya berjalan jalan saja mungkin akan membuat nya senang.


" Ya Sudah,, Tunggu aku ambil kursi roda dulu."


Aira mengangguk dan menatap suaminya yang berjalan keluar.


Dia pun ingin menemui Pamannya yang juga di rawat di rumah sakit yang sama dengannya.


Nathan kembali dengan kursi roda, dia pun membantu Aira duduk di sana


" Awas hati hati Sayang "


Ini lah Nathan yang semakin bersikap posesif terhadap Aira apalagi dengan kehamilan Aira kini.


Nathan mendorong kursi roda keluar, menyusuri lorong Rumah sakit.


Beberapa Suster atau dokter yang berpapasan terlihat mengangguk dan tersenyum dengannya.


kini Aira sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.


Dia harus bisa terbiasa dengan kehidupan suami nya, juga kehidupan di sekitar suaminya.


Mereka duduk di taman dengan Nathan yang terus menatap wajah Aira.


Walau tanpa polesan make up pun Aira masih tampak cantik.


" Bagaimana keadaan kamu, Perut kamu apa masih sakit ?Ucap Nathan .


Aira menggeleng,,..


" Kapan aku bisa pulang, Aku pengin di rumah saja Mas "


Nathan mengusap wajah Aira yang masih memohon kepada nya.


" Kita tanya dokter keadaan kamu Oke "


" Eum "


Nathan tersenyum dan menggenggam tangan istrinya,,


" Oya Mas, Apa aku boleh bertemu dengan Paman, ?"


" Ya Sayang,, Kita ke sana sekarang "


Aira mengangguk dan tersenyum menatap suaminya, Nathan selalu saja membahagiakan nya.


Di ruangan lain,,


Melisa baru saja selesai membantu Bratama makan juga minum Obat, dan keadaan Bratama kini sudah lebih baik.


" Ada Apa Pa, Apa yang Papa Cari " Ucap Melisa menatap suaminya yang terus saja melihat ke arah pintu kamar.


" Apa Aira ke sini, Papa tidak melihat nya dari kemarin Ma "

__ADS_1


Melisa menggeleng,,


Aira memang tidak berkunjung namun Melisa pun tidak ingin mengganggu Aira.


Anggita yang baru saja selesai mandi pun kembali duduk.


" Gita,, Apa Papa boleh minta tolong Na " Ucap Bratama menatap putrinya.


" Apa Pa "


" Tolong kamu ke rumah Aira ya Nak, Papa khawatir dengan kondisi Aira sekarang."


" Aira Pa,, " Kaget Anggita


Ceklek,,


Semua menatap ke arah pintu dan terlihat Aira masuk bersama Nathan.


" Astaga Aira,, Kamu kenapa Nak " Ucap Melisa yang khawatir melihat Aira yang ternyata juga di rawat di rumah sakit bahkan memakai kursi roda.


" Aira,, Kamu kenapa pakai kursi roda Na " Lanjut Bratama.


Semua terlihat khawatir dengan keadaan Aira, berbeda dengan Anggita yang kesal.


Aira tersenyum dan menggenggam tangan Bratama,,


" Aira Gapapa Paman, Bibi,, " Ucap Aira tersenyum


" Terus kenapa kamu pakai kursi roda Nak "


Aira menatap Nathan dan tersenyum.


" Sebenarnya ada Kabar bahagia, saat ini Aira sedang mengandung." Ucap Nathan membuat Melisa juga Bratama kaget.


" Kamu hamil Sayang,, Selama ya Nak,, Bibi bahagia mendengar nya "


" Terima kasih Bi "


" Aira,, Kamu harus jaga kandungan kamu Nak, jaga Anak kalian,, "


" Pasti Paman,,


Bratama tersenyum..


" Paman sudah lebih Baik Nak,, "


" Syukurlah.. "


Anggita terus menatap mereka,,


Bahkan kedua orang tuanya benar benar sudah Melupakan bagaimana untuk menyiksa Aira, mereka malah terlihat begitu menyayangi Aira dan seakan melupakan dirinya yang masih berada di sana.


" Pokoknya Jaga kehamilan kamu Ya Sayang, Makan yang banyak, istirahat juga yang paling penting jangan pernah berpikir macem macem."


" Iya Bi,, lagian ada Mas Nathan yang jaga Aira "


Melisa Menatap Nathan dan mengangguk,,


Mereka sangat tau bagaimana sikap Nathan menjaga Aira selama ini, bagaimana kehidupan Aira setelah bersama Nathan.


" Sayang,, Kamu harus istirahat kita kembali ke kamar " Ucap Nathan.


Aira mengangguk,,


" Paman, Bibi ,, Aira kembali ke kamar dulu..


Paman istirahat "


" Ya Nak,, Kamu juga harus banyak istirahat ya"


Nathan membawa Aira keluar dan semua itu lagi lagi tidak lepas dari tatapan Anggita.


Aira selalu saja mendapatkan kebahagiaan lebih darinya bahkan kali ini,


Anggita bahkan tidak memiliki uang sama sekali.


" Mama senang mendengar Aira hamil Pa, berarti sebentar lagi kita punya cucu "


" Iya Ma,, Papa juga senang mendengar nya "

__ADS_1


Brak..


Anggita beranjak kasar ,,


" Gita,, mau kemana kamu "


" Keluar, Gita bosan di dalam terus "


Melisa menggeleng dengan sikap putrinya, kapan Anggita bisa berubah.


" Papa istirahat ya,, tidak usah memikirkan Gita"


Bratama mengangguk namun dia tetap memiliki Putrinya.


Gita menyusuri lorong Rumah Sakit dengan memikirkan untuk bisa mengganti posisi Aira saat ini , menjadi Nyonya Nathan sepeda impian orang orang di luar sana.


Matanya memicing saat melihat Boy yang baru saja masuk, dia pun segera mengejarnya.


" Tunggu " Ucap Anggita membuat Boy menoleh.


" Anda memanggil Saya ?" Ucap Boy


Anggita mendekat dan tersenyum..


" Memang siapa lagi,, Oya Kamu Asisten Tuan Nathan kan."


Boy mengangguk,,


" Sebelum nya aku minta maaf soal keributan di kantor hari itu "


Boy mengangguk,,


" Maaf Nona, Apa ada yang penting karena Tuan Nathan sudah menunggu saya."


" Sebenarnya aku hanya ingin menanyakan sesuatu, apa di Kantor ada lowongan pekerjaan?"


Boy menautkan alisnya dan tersenyum..


" Bukannya Anda Adalah adik Dari Nyonya Aira, lebih baik Anda langsung menanyakannya kepada Tuan Nathan. Kalau begitu Saya permisi "


Boy meninggalkan Anggita yang masih berdiri menatapnya.


Sedangkan Anggita menghentakkan kakinya dengan sikap Boy yang tidak berbeda jauh dari Nathan.


Di ruangan Nathan membiarkan Aira yang tertidur, Bagaimana pun Aira harus banyak istirahat karena kondisinya kehamilan yang masih sangat lemah.


Tok,,


Tok,,


Tok,,


" Permisi Tuan " Ucap Boy.


Nathan menoleh dan memberi isyarat agar mereka berbicara di luar agar tidak menggangu istirahat Aira.


Boy mengangguk dan mengingutinya.


" Bagaimana, Apa ada masalah di Kantor "


" Tidak Ada Tuan,. Beberapa Janji Meeting sudah saya reschedule "


Nathan mengangguk..


" Oya Pa, Baru saja saya bertemu dengan Nona Anggita dan dia menanyakan tentang pekerjaan di Perusahaan."


" Buat Apa dia menanyakan itu "


" Saya tidak tau Tuan, Nona Anggita hanya bicara itu saja."


Nathan mengangguk,,,


" Maaf Tuan, Apa ada yang perlu saya bantu lagi"


" Tidak,, Kamu balik ke Kantor dan handle semua selama saya tidak ke sana."


" Baik Tuan , Saya Permisi."


Nathan masih berada di luar dan berpikir apa maksud Anggita menanyakan tentang posisi di Perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2