
Karin masih menangis sendiri, suaminya entah kemana dia pergi. Baginya baru kali ini menyaksikan abang angkat yang beberapa hari lalu resmi menjadi suaminya itu benar-benar terlihat marah. Dia teramat takut.
Perempuan itu menutup mulutnya dengan telapak tangan, meredam isakan yang semakin lama tak tertahankan, dadanya begitu sesak, dan suara sesenggukkan yang sesekali lolos dari mulutnya terasa sakit di tenggorokan. Kali ini dia sendirian.
"Mami," lirihnya, bahkan untuk sekedar menuruni tangga dan menghampiri sang mami untuk menumpahkan keluh kesahnya, dia merasa tidak berani, bertahun-tahun terhalang jeruji besi, kini dia merasa sedikit asing dengan wanita itu.
"Larasati Hotel terancam diambil alih oleh adik dari Oma Laras, beliau tidak terima jika hak waris ternyata jatuh ke tangan kamu." Carla menggenggam jemari putrinya dengan gugup, takut semua yang ia perjuangkan untuk kelangsungan hidup mereka akan sia-sia pada akhirnya." Mami percayakan semua sama kamu, Karin."
Karin tertegun, dia ingat saat dulu sang mami begitu gencar mengambil hati Oma Larasati, hingga wanita tua itu begitu menyayangi dirinya, namun perempuan itu merasa sang mami sudah terlalu berlebihan, tapi untuk menolak permintaan wanita itu, dia tidak punya kemampuan.
Selepas kepergian sang mami, Karin menimang satu botol kecil obat pemberian wanita itu barusan, ini adalah obat pencegah kehamilan, dan dirinya merasa bimbang dalam mengambil keputusan.
Dia berniat menanyakan tentang hal ini pada sang suami, namun yang membuat dirinya ragu, bagaimana cara mengutarakan hal itu, tidak mungkin Karin mengatakan bahwa mami yang menyuruhnya. Hingga di saat ia belum siap, kedatangan Ardi membuatnya merasa gugup.
Kembali mengingat kejadian beberapa jam yang telah lalu, Karin kembali menangis. Dia merasa tidak punya bahu untuk bersandar disaat seperti ini, bahkan tidak untuk papi kandungnya sendiri, jika anak perempuan lain mencari calon suami dengan berpatokan pada sosok sang ayah. Hal itu tidak berlaku untuk seorang Karina Larasati, yang bahkan tidak membawa gelar Gunawan di belakang namanya sebagai pengakuan. Dia memilih calonnya sendiri.
Seorang suami yang dia harapkan akan menjadi satu-satunya seseorang yang akan mengerti dirinya, mencintainya tanpa ada cela. Seseorang yang beberapa jam lalu malah pergi meninggalkannya entah kemana, tanpa kata, tanpa mau mendengarkan penjelasannya, dan dia adalah suami pilihannya sendiri. Lalu, bagaimana perempuan itu mampu mengadukan kesedihannya pada orang lain.
Kembali menelan isak yang tidak kunjung reda, Karin mencoba untuk menghentikan laju airmatanya. Malam ini akan segera berlalu, dan esok hari dia akan kembali baik-baik saja.
Sejak ia pergi dari hidupku, kumerasa sepi,
Dia tinggalkan ku sendiri di sini, tanpa satu yang pasti.
Aku tak tahu harus bagaimana,
Aku merasa tiada berkawan,
Selain dirimu, selain cintamu.
Namun kegelisahan dalam hati tidak juga membawanya ke alam mimpi, haruskah dia terus terjaga hingga pagi, dan dengan isi kepala yang penuh denga pertanyaan dimana keberadaan sang suami.
Ketukan di pintu balkon membuat Karin yang memejamkan mata kemudian membuka -dia terduduk, sedikit ragu untuk menghampiri hingga suara itu kemudian terdengar lagi.
Dengan hati-hati perempuan itu menuruni ranjang, terlalu banyak pikiran, juga airmata yang terus dihambur-hamburkan membuat langkahnya jadi sempoyongan.
Sesaat dia ragu, tangannya yang memegang handle pintu sedikit bergetar, hanya ada satu orang yang ia harapkan untuk datang, namun hujan deras di luar sana membuat dirinya terus menyuarakan ketidak Mungkinan.
"Hay," sapa laki-laki yang ia kenali saat pintu sudah terbuka, kuyup di sekujur tubuhnya tidak mampu memudarkan senyum manis di bibir yang sedikit pucat. Itu suaminya.
Kirim aku malaikatmu, biar jadi kawan hidupku
Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilih kan untukku.
Kirim aku malaikatmu karena ku sepi berada di sini
Dan di dunia ini, aku tak mau sendiri. (Aku tak mau sendiri, BCL)
__ADS_1
Karin tertegun, "Abang," gumamnya tidak percaya, namun ego di dalam hatinya menolak untuk menghambur ke pelukan pria itu meskipun ingin. Dia berbalik.
"Maaf." Ardi yang melangkah masuk memeluk sang istri dari belakang, mendekap perempuan itu dengan erat, menyalurkan rasa dingin yang perlahan mulai menghangat, istrinya itu terdengar mulai terisak.
"Aku nggak minum obat itu," rintih Karin, membiarkan airmatanya kembali luruh, mengabaikan pelukan sang suami yang membuat pakaian yang ia kenakan ikut basah di bagian punggungnya, hangat namun menggigil dalam waktu yang bersamaan.
Mendengar itu, Ardi semakin mengeratkan pelukannya, meleburkan rasa bersalah yang terasa semakin membuncah. "Aku minta maaf," ucapnya.
Karin menghela napas, perlahan melepaskan dekapan pria itu dari tubuhnya, kemudian berbalik.
Sorot teduh dari mata sang suami yang sedikit memerah membuatnya merasa terenyuh, kemudian menghambur ke pelukan pria itu. "Jangan pernah tinggalin aku," pintanya.
"Aku janji," ucap Ardi, balas melingkarkan lengannya pada tubuh Karin yang terasa rapuh, mencium puncak kepala perempuan itu, mengisi paru-parunya dengan aroma tubuh sang istri hingga penuh.
Pelukan mereka kemudian terlepas, namun tatapan keduanya masih melekat, berbagi senyum, juga berbagi pelajaran dengan apa yang mereka lalui.
Karin menyentuh kaus yang dikenakan suaminya, "Kenapa pulang? Di luar hujan, kamu dari mana?"
Pertanyaan beruntun itu membuat Ardi tersenyum, meraih jemari sang istri kemudian ia cium, "Kangen kamu," jawabnya.
Karin ikut tersenyum, "Kenapa nggak lewat pintu sih, kenapa harus manjat, licin kan, kalo kamu jatuh gimana?"
"Takut ganggu mami kamu," jawab Ardi, dan hal itu membuat istrinya terdiam.
"Kalo kamu nggak nyaman tinggal di sini–,"
"Ssssttt," potong Ardi, menyentuh perempuan di hadapannya itu di bagian pipi, dan membungkam bibirnya dengan ibu jari. "Kita bahas nanti," ucapnya sedikit bergetar, "aku kedinginan," imbuhnya datar.
Telapak tangan sang suami begitu dingin saat menempel di pipi Karin, bibirnya yang bergetar semakin menambah pucat, penampakan wajah pria di hadapannya itu.
Karin membantu melepaskan jaket juga kaus yang suaminya kenakan, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu dibibirnya, ia mendaratkan ciuman.
Ardi terdiam beberapa saat, rasa panas yang mulai menjalar dari dalam dada memaksa kelopak matanya untuk merapat, menikmati setiap sentuhan dari telapak tangan yang hangat menyusuri setiap inci bagian tubuhnya.
Untuk kali ini Ardi menyentuh sang istri dengan begitu lembut, menyamarkan jejak-jejak brutal percintaan sebelumnya, menghapus kenangan menyakitkan yang tertinggal di benak istrinya.
***
Keduanya masih bergelung di dalam selimut tebal, berbaring miring berhadapan dengan tatapan saling terlontar. Ardi mengangkat satu tangannya, menyentuh pipi Karin yang kemudian mendapat senyuman dari perempuan itu. "Kalo emang mau nunda, aku nggak apa-apa," ucapnya.
Hal itu membuat Karin terdiam, tatapannya meredup, ada sesuatu yang ingin dia utarakan, namun merasa takut. Dan usapan di pipinya kembali membuat perempuan itu mengarahkan tatapannya pada sang suami di hadapannya."Aku...," ucapnya ragu.
"Aku udah tau kok," potong Ardi, menarik tangannya dari pipi sang istri. "Tentang masalah kamu dengan keluarga besar dari papi kamu yang menolak hak waris atas nama kamu," imbuhnya.
"Kamu tau dari mana?"
Ardi menggeleng, meraih jemari sang istri kemudian menciumnya, "Nggak penting aku tau dari mana," ujarnya, menempelkan telapak tangan perempuan itu ke pipinya sendiri. "Mulai sekarang jika ada apa-apa, cobalah untuk saling terbuka."
__ADS_1
Karin mengangguk, "kamu juga seharusnya dengerin penjelasan aku dulu, jangan langsung emosi," ucapnya hati-hati.
Pria di hadapannya tersenyum, kemudian ikut mengangguk, "kamu juga harusnya nurut sama aku, jangan ambil keputusan sendiri," belanya yang mulai memicu perdebatan selanjutnya.
Namun untuk kali ini, mereka sama-sama mau belajar menyikapi dengan dewasa, mengambil jalan tengah yang dihadapkan pada keduanya.
"Besok kita pindah," tegas Ardi.
"Ke rumah ibu?" Karin bertanya.
Dan melihat suaminya itu menggeleng, Karin mengerutkan dahi. Ardi bercerita tentang hunian yang dihadiahkan oleh abangnya, dan mengajak perempuan itu untuk melihatnya esok hari.
"Emangnya kamu nggak kerja?" Tanya Karin.
"Kayaknya aku mulai sakit," ucap Ardi, kemudian merapatkan diri untuk memeluk tubuh sang istri, "luangin waktu buat perhatiin dan manja-manjain aku ya," pintanya sekali lagi.
Karin mengusap kepala sang suami yang menempel di dadanya, memang tarasa hangat saat tangannya menyentuh kening pria itu, sepertinya dia demam.
"Lagian ujan-ujanan," omel Karin yang kemudian membuat suaminya itu mendongakkan kepala.
"Kamu nggak penasaran gimana perjuangan aku manjat genteng hujan-hujan?" Tanya Ardi.
Karin tertawa, "enggak," tolaknya, "kamu kan dari dulu emang udah biasa manjat genteng rumah ini," ledeknya kemudian.
"Ya tapi kan beda, nggak pas lagi ujan."
Mengingat itu Karin jadi gemas sendiri, "ngapain si nggak lewat pintu aja?" Tanyanya.
"Makanya lain kali aku kasih kunci dong."
"Nggak jadi pindah nih?"
"Eh, jadi-jadi."
***iklan***
Author: penyebaran virus corona membuat sebagian sekolah terpaksa diliburkan, aku juga niatnya pen libur gitu dua minggu mah. 😂😅
Netizen: Katanya buat tukang nulis yang masih hidup nggak boleh libur thor. 😑😒
Author : Astagfirullah. 😑
Netizen: Lagian udah update dua hari sekali masih minta libur aja, gue ketapel dari sini kena nih pala lu. 😒
Author: Heh itu kata-kata gue 😭😭
Jangan lupa jaga kesehatan buat kalian, semoga selalu dilindungi Allah dari segala macam penyakit. Semoga virus yang meresahkan itu bisa segera teratasi. Aku sayang kalian.
__ADS_1
Nb. Jan lupa komen Next sama tambahin poin biar aku semangat, semangat juga mulungnya buat kalian.