NOISY GIRL

NOISY GIRL
KALUT


__ADS_3

Agung mengendarai mobilnya dengan pikiran yang kacau, pemuda itu boleh saja terlihat tegar di hadapan siapapun, namun keadaan hatinya tentu dirinya sendiri yang lebih tau, betapa parah keretakan yang terjadi di tempat itu.


 


 


Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dan kedua adiknya adalah perempuan, hanya memiliki satu orang tua yang juga perempuan membuat seorang Agung begitu menghormati sosok lembut keturunan kaum hawa tersebut.


 


 


Ayahnya memang pergi entah kemana, sejak kecil Agung memang tidak pernah mengenal pria itu. Ibunya bilang sang ayah merantau ke berbagai Negara untuk mencari peruntungan, dan sampai saat ini sosoknya kembali ia kenang, pria itu masih saja tetap menghilang.


 


 


Agung membelokkan kendaraannya ke suatu tempat, turun untuk membeli sesuatu kemudian kembali dengan sekantong besar yang ia letakkan di kursi penumpang, setelah itu, dia kembali melanjutkan perjalanannya.


 


 


Saat sampai di Cafe miliknya, Agung mendapati suasana tampak sepi, karena beberapa menit yang lalu dia memang menghubungi karyawannya untuk menutup tempat itu.


 


 


"Yaudah kalian boleh pulang," ucap Agung saat menemui enam karyawannya yang tampak menunggu. Mereka berterimakasih dan kemudian berpamit pergi.


 


 


Agung sedikit terkejut saat mendapati Ardi dan Edo masih berada di sofa tempat biasa, dan saat dirinya meletakan sekantong besar belanjaan yang ia bawa ke atas meja, keduanya menoleh.


 


 


"Tumben lo cepet nutup Cafe, masih sore loh ini." Ardi berkomentar.


 


 


Edo yang juga mengiyakan kemudian ikut berkata, "Ipang aja bahkan belom balik," ucapnya.


 


 


Agung tidak menanggapi, pemuda itu mengambil tiga gelas kosong dari pantri, setelah meletakan ketiga benda itu di atas meja, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong yang ia bawa.


 


 


Melihat itu Ardi terkejut, menoleh pada Edo yang juga sama terkagetnya. "Lo ada masalah, Gung?" Tanyanya hati-hati.


 


 


Agung menggelang, "cuma mau coba sedikit bersenang-senang," ucapnya dengan membuka botol minuman yang setau mereka kadar alkoholnya cukup tinggi.


 


 


Edo tidak berani, pria itu mengangkat kedua tangannya, "Sory, gue nggak ikutan," ucapnya.


 


 


"Gue juga nggak." Ardi ikut menggeleng, namun kemudian mengernyit saat melihat sahabatnya itu meminum cairan di dalam gelas itu dengan satu tegukan.


 


 


"Kalo kalian nggak mau yaudah, balik aja." Agung kembali menuang cairan dalam botol itu dan kemudian ia minum, masih ada beberapa botol lagi yang belum terbuka. Melihat itu kedua sahabatnya semakin khawatir saja.


 


 


"Kayaknya Agung ada masalah," bisik Ardi, mendekatkan kepalanya pada Edo yang duduk di sebelah pria itu, tatapannya masih lurus, memperhatikan sahabatnya yang selama ini mereka rasa sudah kenal dengan baik, tapi baru kali ini mereka melihat Agung sekacau itu.


 


 


"Kayaknya sih, gitu." Edo ikut khawatir, pasalnya diantara mereka berempat, Agung adalah orang yang paling menghindari jenis minuman seperti ini.


 


 


"Gimana dong, gue mau jemput Karin, masa teler." Ardi jadi dilema, melihat sahabatnya menghabiskan semua minuman di atas meja dia jadi tidak tega.


 


 


Edo sejenak berpikir, pria itu beralih duduk di sofa sebelah Agung yang sepertinya sudah mulai terlihat pusing, tatapannya tampak kosong. "Gung, lo kalo ada masalah jangan kaya gini, mending cerita sama kita," ucapnya memberi saran.


 


 


Agung tidak menanggapi. Malah kembali menuangkan botol minuman itu ke dalam gelas yang sudah kosong. Ardi yang ikut duduk di sebelahnya merampas benda itu dari tangan sahabatnya.


 


 


"Lo nggak bisa minum, Gung. Jangan banyak-banyak." Ardi menasihati.

__ADS_1


 


 


Agung menghela napas, satu botol yang direbut temannya itu ia abaikan, dan kembali membuka botol berikutnya. "Kalian berdua mending pulang aja," usirnya.


 


 


Edo ikut merampas gelas yang dipegang oleh Agung dengan paksa, dan hal itu membuat sahabatnya yang terlihat aneh itu sejenak terdiam. "Plis Gung, jangan kaya gini, lo bisa cerita," ucapnya.


 


 


Pemuda yang sudah mulai mabuk itu tampak tidak peduli, malah semakin gila dengan meneguk menuman itu langsung dari botolnya.


 


 


Kedua sahabatnya semakin frustrasi, mereka tidak bisa menghentikan tindakan Agung yang berusaha menghabiskan satu botol sendiri.


 


 


"Yaudah kita bantuin aja." Edo memberi usul.


 


 


Ardi mengerutkan dahi, "bantu apaan?"


 


 


"Bantu ngabisin lah."


 


 


"Gila, sebanyak ini? Mendingan kita umpetin aja sebagian." Ardi memberi ide, dan hal itu membuat Agung menoleh.


 


 


"Gue masih sadar ya," ucap Agung, "kalo kalian nggak mau ikut minum ya tinggalin aja gue sendiri."


 


 


Ardi berdecak, mana tega dia meninggalkan sahabatnya sendiri dalam kondisi yang seperti ini, pria itu menoleh terkejut saat Edo ikut menuang minuman beralkohol itu ke dalam gelas, lalu meneguknya.


 


 


 


 


Perlahan Ardi menerima gelas itu, kemudian ia dekatkan ke hidungnya, aroma yang begitu menyengat membuat wajahnya mengernyit, "bukan oplosan kan ini?" Tanyanya curiga.


 


 


Agung kembali tertawa, "bukan, tenang aja ini mahal gue beli, rasanya enak."


 


 


Ardi menghela napas, menatap Agung yang juga tampak memperhatikannya, sedangkan Edo entah sudah menuang gelas yang ke berapa. Dia pernah minum Alkohol, saat kuliah di luar negri, dan kala itu dirinya yang tidak suka akan aromanya tentu merasa tidak cocok.


 


 


"Ayo," desak Agung, menganggukkan kepala untuk mengisyaratkan bahwa rasanya memang patut untuk dicoba.


 


 


Ardi kembali mendekatkan gelas ke depan mulut, lalu meneguknya sedikit hingga rasa pahit yang menyerbu lidahnya, membuat pria itu sontak mengernyit. Meski begitu, cairan itu terasa hangat mengalir di tenggorokan, hangat juga yang tubuhnya mulai rasakan, hingga gelas-gelas berikutnya, tanpa sadar ia habiskan.


 


 


***


 


 


Di tempat lain, Karin yang masih menunggu jemputan sang suami mulai diserang kepanikan, kenapa pria itu belum juga datang, ponselnyapun sulit sekali dihubungi, selalu saja di luar jangkauan.


 


 


Dengan berbekal petunjuk pesan terahir dari pria itu, Karin memesan taksi online menuju ke Cafe Agung, semoga saja suaminya itu benar-benar berada di sana.


 


 


Karin turun dari mobil, menatap Cafe sahabat suaminya yang tumben sekali tampak sepi, perempuan itu melirik jam tangan dan seharusnya masih ada beberapa jam lagi Cafe ini menjadi pusat keramaian.


 


 

__ADS_1


Melihat suasana yang begitu aneh, perasaan wanita itu semakin tidak enak, baru beberapa langkah menuju ke depan pintu Cafe, suara motor gede yang ia kenal kemudian membuat dirinya menoleh.


 


 


"Karin?" Ipang menghentikan motornya di sebelah istri sahabatnya, "kok sendirian?" Imbuh pemuda itu sembari membuka helm dari kepala.


 


 


Karin yang menemukan salah satu teman suaminya itu akhirnya merasa lega, pasalnya, dia tentu bingung jika sang suami ternyata tidak ada di dalam. "Aku mau cari Bang Ar, katanya mau jemput tapi nggak dateng-dateng, yaudah aku kesini aja."


 


 


Ipang mengerutkan dahi, kemudian menoleh pada suasana Cafe yang tampak sepi, "kayaknya Agung udah tutup, tapi tumben sore banget."


 


 


Karin mengangkat bahu, "emang Bang Ipang dari mana?" Tanyanya sembari memperhatikan pria itu, yang terlihat aneh dengan setelah piyama bermotif spongebob dan dilapisi jaket gelap.


 


 


Ipang melirik bajunya sendiri, kemudian cengengesan, "Ini baju Lisa, tadi gue abis dari sana kehujanan basah kuyup, jadinya dipinjemin baju tidur."


 


 


Setelah mengucapkan kata oh, Karin kemudian mengangguk, masih tampak memperhatikan pria yang sudah turun dari motor itu, dirinya kemudian bertanya. "Emang muat?"


 


 


"Kebetulan kegedean katanya," jawab Ipang, "Ayo katanya mau cari Ardi," ajaknya, mengalihkan perhatian perempuan itu yang tampak kepo akan sesuatu.


 


 


Karin mengangkat bahu, kemudian melangkah masuk mengikuti sahabat suaminya itu.


 


 


***iklan**


 


 


Netizen: Emang miras rasanya pahit ya thor? 🤔


 


 


Author: Nggak tau juga, belom pernah nyoba, gw nanya mbah google itu 🤧


 


 


Netizen: serius thor belom pernah 😅


 


 


Author: berani samber gledek bareng-bareng dah, gw gk tau 😒 etapi scincare gw yang mahal tapi gak bikin glowing itu ada cairan alkoholnya itu kalo diminum mabok gak ya 😂


 


 


Netizen: jangan ngomong 😑


 


 


Author: dih orang gw cuma nanya 😒


 


 


Netizen: itu kenapa nggak disebutin merk tor mirasnya, janjangan oplosan 😂


 


 


Author: ntar disebutin merk gw dikira dapet endorse lagih 😒


 


 


Tetaplah haha hihi walau episode kali ini galau sekali, jan lupa kasih semangat ya like vote selalu 😘


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2