NOISY GIRL

NOISY GIRL
SEANDAINYA


__ADS_3

"Mbak Heny, masuk ke taman labirin yuk," ajak Karin pada Heny yang tengah sibuk berfoto selfie di antara bunga-bunga.


 


 


Gadis berrambut sebahu itu mengalihkan perhatian dari benda di tangannya, kemudian menoleh ke arah taman labirin yang tingginya melebihi tubuhnya." Nggak ah, gue takut nyasar. Tinggi banget Rin."


 


 


"Yaah," desah Karin kecewa, bersamaan dengan itu Lisa menghampirinya. "Mbak Lisa mau masuk ke taman labirin nggak?" Karin kembali mencoba peruntungan.


 


 


"Gue pengen kencing, eh tapi katanya Nadia tadi mau masuk deh," ucapnya kemudian menarik Heny untuk mengajak mengantarkannya ke toilet.


 


 


Karin mengedarkan pandangannya, dan menemukan Nadia tengah berjalan ke arah pintu taman labirin bersama sepupunya.


 


 


Karin berlari menyusul. "Mbak Nadia mau masuk? Aku ikut dong," ucapnya yang membuat Nadia menoleh, kemudian tersenyum.


 


 


"Yaudah ayok," ucap Nadia yang mendapat sikutan dari Selomita.


 


 


"Anak kecil dilarang masuk ke sini, takut kesasar, ntar lo nangis lagi." Mita menyindir.


 


 


Karin melirik tidak suka. "Kalo nggak boleh ikut yaudah," ucapnya, kemudian berbalik dan melangkah pergi.


 


 


"Eh Karin." Nadia mencegahnya dengan mencekal lengan gadis itu. "Apa sih, Ta, biarin aja sih, Karin pengen ikut doang nggak minta lo gendong," omel Nadia pada sepupunya, kemudian kembali menoleh pada Karin. "Ayo, Rin kita masuk."


 


 


"Yaudah gue nggak usah ikut," ancam Mita.


 


 


"Yaudah terserah," jawab Nadia.


 


 


Mita berdecak kesal, saat kemudian sepupunya itu malah menarik Karin masuk ke dalam taman, gadis itu menghentakkan kakinya jengkel, "Nadia!" teriaknya, namun kemudian memilih untuk menyusul saudaranya yang menggandeng gadis remaja yang entah kenapa tidak ia sukai itu.


 


 


Karin takjub dengan pepohonan yang begitu rapi tertata dan membentuk labirin di sekitarnya, bunga-bunga juga tampak menyembul dari sana. "Bunga di sini boleh dipetik nggak sih, Mbak?" Tanyanya pada Nadia, namun yang menjawab malah sepupunya.


 


 


"Ya nggak boleh lah, lo mau ngerusak alam," ucap Mita ketus, kemudian melipat lengannya di depan dada.


 


 


Nadia melirik tidak suka pada sepupunya, kemudian menoleh pada gadis remaja adik mantan pacarnya itu, kemudian tersenyum. "Kayaknya sih nggak boleh, tapi kalo kamu pengen banget, petik satu nggak apa-apa, tapi umpetin."


 


 


Karin balas tersenyum, seandainya Ardi adalah abang kandungnya, pasti dia akan amat senang sekali jika Nadia ini menjadi pacar pemuda itu, dan mereka akan menjadi saudara ipar yang akur.


 


 


"Mbak Mita itu hobynya nyemilin balsem geliga ya, pedes banget kalo ngomong." Karin yang jadi kesal mulai berkomentar.


 


 


"Ya terserah gue lah, mulut-mulut gue."


 


 


"Tapi yang denger itu kuping aku."


 


 


"Salah sendiri kenapa punya kuping nggak dijaga."


 


 


Karin jadi kesal, belum sempat dia menanggapi, Nadia sudah melerai perdebatan keduanya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


 


 


Di tengah taman, Nadia mendapat panggilan di hpnya, gadis itu berhenti sejenak untuk mengangkatnya. Merasa sinyal di sana putus-putus, Nadia berbalik dan mencari jaringan yang bagus agar suara di seberang hpnya bisa terdengar dengan baik.


 


 


Mita melihat saat Karin semakin jauh melangkah, gadis itu terlihat amat tertarik menyusuri dinding labirin yang penuh dengan bunga-bunga. Dan Mita membiarkannya.


 


 


"Mba Indah nyuruh kita balik nih, Karin mana?" Tanya Nadia pada Mita yang tampak menunggunya.


 


 


"Tu anak udah balik duluan, lo nggak liat tadi dia lewat depan lo," ucap Mita berbohong.


 


 

__ADS_1


"Masa sih?" Nadia tampak tidak percaya.


 


 


"Beneran, Nat. Ngapain sih gue boong."


 


 


Nadia melongokkan kepala, kembali melangkah untuk melihat Karin yang mungkin masih ada di sekitar sana.


 


 


"Dibilang anaknya udah balik, nggak percaya banget si lo sama gue," ucap Mita pura-pura tersinggung. "Yaudah gue balik duluan aja, terserah kalo lo masih mau di sini," tambahnya lagi kemudian melangkah pergi meninggalkan sepupunya.


 


 


"Eh, tungguin, Ta." Nadia mengejar gadis itu, "beneran kan Karin udah balik?" Tanyanya sekali lagi saat mereka sudah berjalan sejajar.


 


 


"Iya beneran, lo tuh tadi fokus sama hp, makanya nggak liat dia lewat."


 


 


Nadia sedikit ragu, namun untuk memilih tidak percaya dan kembali mencari gadis remaja itu di dalam sana, dia pun sama tidak yakinnya. Semoga saja Mita memang berkata benar, pikirnya.


 


 


Dan di satu sisi, Karin tampak bingung harus memilih bunga yang mana untuk dia petik, semuanya terlihat cantik. Kakinya terus melangkah, mengikuti belokan demi belokan tak tentu arah.


 


 


Bunga yang pertama ia lihat begitu menarik, tapi ketika ia semakin melangkah ke depan, bunga yang lain juga tak kalah cantik.


 


 


Terkadang jika kita mencari yang cantik dari yang paling cantik, pasti akan selalu ada yang lebih cantik dari sebelumnya. Dan Karin akhirnya memutuskan untuk kembali dan memilih bunga yang pertama menarik perhatiannya.


 


 


Gadis itu berbalik, kemudian memetik satu bunga yang ia pilih. Karin mendongakkan kepala, mencari sosok Mita dan Nadia, yang ternyata mereka tidak ada.


 


 


"Mbak Nadia?" Panggil Karin, kemudian berlari menyusuri taman yang berbelok-belok, dan dia tidak menemukan siapa-siapa.


 


 


Gadis itu mulai sedikit panik. "Tenang Kanjeng Ribet, kamu adalah pemecah sebuah masalah dalam kisah imajinasi yang rumit. Cuma taman labirin, kamu pasti bisa."


 


 


Karin terus menyemangati diri sendiri. Meyakinkan bahwa dia pasti akan menemukan jalan keluar, gadis itu berbelok, kembali lurus, kemudian belok lagi dan tetap saja dia tidak menemukan jalan yang benar.


 


 


 


 


"Tadi aku masuknya lewat selatan apa utara ya? Terus ini selatan sama utara arahnya kemana?" Karin mengerang frustrasi, namun dia bertekad untuk tidak menangis. Gadis itu mengambil ponselnya, kemudian menelepon seseorang.


 


 


"Abang tolongin, Karin tersesat di taman labirin."


 


 


***


 


 


"Yaudah lo diem aja, jangan kemana-mana, biar gue yang masuk cari lo." Ardi berucap tenang, namun tetap saja kalimatnya itu mengundang perhatian kedua sahabatnya.


 


 


"Kenapa Ar?" Tanya Ipang.


 


 


"Karin nyasar di taman labirin, gue susul dia dulu ya."


 


 


"Perlu ditemenin nggak?" Tawar Agung.


 


 


"Nggak usah," ucap Ardi, kemudian setengah berlari menghampiri pintu taman, lalu memasukinya.


 


 


Dengan langkahnya yang lebar-lebar, Ardi menyusuri taman labirin yang berbelok-belok, terkadang pemuda itu pun melompat-lompat, berharap gadis yang ia cari mungkin akan sedikit terlihat.


 


 


Namun dinding labirin yang terbuat dari tanaman itu terlalu tinggi untuk dirinya, dan dia memutuskan kembali menghubungi gadis itu.


 


 


"Lo di mana si? Tadi lo masuknya ke arah kiri apa kanan?" Tanyanya. Dan jawaban tidak tau dari gadis itu membuatnya berdecak frustrasi, mengacak rambutnya kemudian kembali memasuki celah demi celah yang malah semakin membuatnya jauh terpisah.


 


 


*

__ADS_1


 


 


Di tempatnya, Karin tampak gelisah menunggu sang abang yang menyuruhnya tidak boleh kemana-mana. Gadis itu kembali menatap bunga di tangannya, sedikit kusut karena ia tidak sengaja menggenggamnya saat panik tadi.


 


 


Dan sebuah panggilan telepon mengalihkan perhatiannya.


 


 


Abangnya bertanya ke arah mana dirinya melangkah saat pertama kali memasuki pintu labirin, tapi Karin tentu lupa. Dan mendengar nada abangnya yang mulai panik membuatnya jadi khawatir.


 


 


"Bang Ar?" panggil Karin lirih, "Seandainya abang jadi sepasang sepatu Karin, Bang Ar bakal pilih jalan yang mana buat bisa ketemu sama pemiliknya?" Tanyanya.


 


 


*


 


 


Ardi sejenak menghentikan langkah, ponselnya masih menempel di telinga, dan intruksi dari gadis itu membuatnya menatap sepasang sepatunya sendiri.


 


 


Setelah mengatakan jangan mematikan sambungan teleponnya, pemuda itu kembali melangkah, berbelok, lurus dan belok lagi, saat dihadapkan dengan dua pilihan yang membuatnya dilema, Ardi kemudian bertanya.


 


 


"Dek? Seandainya lo jadi gue, lo bakal pilih belok kanan apa kiri, biar gue bisa nemuin lo?" Tanyanya dengan lembut, berusaha setenang mungkin meski gerimis sudah mulai berjatuhan dan membasahi  permukaan kulit lengannya.


 


 


*


 


 


Karin terdiam, mendongakkan kepala dan membiarkan tetesan gerimis kecil membasahi pipinya, dia tau saat ini sang abang tengah merasakan gerimis yang sama.


 


 


"Karin pilih belok kanan, Bang," ucapnya, kemudian sadar sambungan teleponnya dengan sang abang sudah terputus. Gadis itu sedikit panik, ingin kembali menghubungi abangnya tapi tidak bisa, ponselnya mati kehabisan daya.


 


 


Karin menghela napas pasrah, dia sudah akan menangis di tempatnya, namu ia urungkan, gadis itu bertekad untuk berusaha mencari jalan sendiri, dan saat dia berbalik, gadis itu terkejut dengan keberadaan abangnya yang sudah berdiri di depan sana.


 


 


Ardi mendekat, dan Karin seolah membeku di tempatnya, gerimis yang berganti menjadi hujan tidak lantas membuat pemuda di hadapannya itu terlihat panik, raut wajahnya yang khawatir justru bukan karena turunnya tetesan air yang mulai membasahi rambut kepalanya.


 


 


"Kalo lo jadi gue, dan bisa nemuin lo di sini, apa yang bakal lo lakuin?" Tanya Ardi.


 


 


Dan Karin berlari kemudian menubruknya, mengeratka pelukan pada tubuh pemuda itu. "Makasih abang udah bisa nemuin Karin," ucapnya.


 


 


"Jangan pernah lagi pergi tanpa gue, tersesatpun harus bareng sama abang, Dek."


 


 


Karin melepaskan pelukannya, menatap wajah sang abang yang mulai basah terkena tetesan air hujan. Gadis itu  mengangguk, kemudian membuka telapak tangannya, menyodorkan sekuntum bunga yang ia petik dari sana." Buat abang, " ucapnya.


 


 


***


 


 


**Iklan**


 


 


Netizen: Kenapa dibikin scen ujan thor, berasa terhanyut Izen.


 


 


Author: Gue malah kepikiran sama bazarnya, kasian pada gulung tiker gegara ujan.


 


 


Netizen: set dah somplak lu thor.


 


 


Author: udah biasa.


 


 


 



Karin: vote lah meskipun itu hanya 10 poin, karena 10 poin dari satu kalian jika diberikan secara bersama-sama akan sangan berarti bagi authornya. 😭😭😭 Begadang aku tuh.


 


 



Ardi: Jangan lupa makan meskipun nggak ada yang ngingetin, ngehalu juga butuh tenaga ya sayaang 😘

__ADS_1


__ADS_2