
Raziel memang tak semudah itu untuk ditarik. Tapi para fens Raziel langsung kesal karena melihat Vanessa menggenggam tangan Raziel
Vanessa menarik Raziel ke sebuah lorong sepi
"Udah sepi mau ngomong apa? "
"Hmm...itu..."hening sebentar sampai tiba tiba Vanessa berlutut di depan Raziel."Pliss mohon ampuni gw, jangan laporin gw ke kepsek, gw rela ngelakuin apa aja asal lo jangan lapor "Vanessa memohon setengah mati agar Raziel mengampuni makhluk malang seperti dirinya
"Gw udah maafin lo dari dulu kok, jangan ngelakuin hal berlebihan kaya gini"ucap Raziel sambil mengelus kepala Vanessa
[Kenyataannya]
"Kalau gitu...dengarkan perintah tuanmu ini"ucap Raziel dengan tegas dan jelas
"Eh?" Vanesa langsung terkejut
*nyesel gw ngomong kaya gitu* dengan muka masam, Vanessa tidak bisa berbuat apa apa lagi
*(Di Kelas X-1)*
"Ni Putra kemana sih, gak ada kabar banget, apa dia marah karena gw tiba tiba on? Ni Vanessa kemana lagi! "Omel Alea, dari sejak pagi Alea terus marah marah, males main game (langka), males ke kantin, males berdiri, (wajar lah lagi pms, Vanessa aja di ancem buat beliin cemilan Alea '-')
Baru saja Vanessa keluar ia berpapasan dengan Raziel
"Beliin gw batagor gih"perintah Raziel dengab muka tanpa ekspresi
"Gak bisa, gw ada urusan!! "Tegas Nessa
"Yaudah sekalian gw ke ruang kepsek aja"celetuk Raziel masih dengan muka tanpa ekspresi
"Yaudah deh yaudah gw beliin, mana uangnya"Vanessa mengulurkan tangannya
"Pake uang lu dulu"Raziel masih tetap tanpa ekspresi
"What!?? "Vanessa kaget
Raziel mulai tersenyum dan mengangkat alisnya tanda bangga. Vanessa hanya bisa diam dan menuruti perkataan Kakel yang menjengkelkan itu
Setelah selesai membeli cemilan Alea dan batagor Raziel, Vanessa teringat
"Waduh, batagornya kemanain ya? "Sekejap Angel lewat di depan Vanessa
"Kak, kakak temennya kak Raziel kan? Kelasnya dimana ya? Tanya Vanessa
"Oh kamu pacarnya Raziel ya, mau nyari pacarnya ni ya"ejek Angel
"Bukan kak, aku cuman babunya :v, tadi dia nyuruh aku beliin batagor"jelas Vanessa
"Lah, Raziel di kelas XI-2"Jawab Angel
"Makasih ya kak"
Vanessa terus mencari cari kelas XI-2. Sesampainya di sana, terlihat Raziel sedang berbincang dan tertawa dengan sahabatnya Putra dan Rafael
"Nih" Vanessa memberikan batagor kepada Raziel dengan kasar
"Yang sopan dong bilang 'tuan Raziel yang tampan pesanan anda sudah saya belikan, mohon diterima' sambil berlutut"ketus Raziel
Rafael dan Putra saling lirik bingung. Sedangkan Vanessa berlutut sambil memberikan batagor dengan hormat
"Tuan Raziel yang TAMPAN pesanan anda sudah saya belikan, mohon diterima"ucap Vanessa sambil menekan kalimat 'tampan'
__ADS_1
"Baik saya terima, tapi untukmu saja saya tidak lapar, lagipula itu uangmu"ucapan Raziel bagai petir di siang bolong, tapi Raziel justru tersenyum jahil
"What?!! Gw ngantri beli batagor, nanyain orang dimana kelas lo, gw berlutut sambil sopan, balasanya gini? Gak ngehargain? "Teriak Vanessa
"Aish kasar"ucap putra
"Bodo amat gw pergi"Vanessa langsung pergi meninggalkan kelas XI-2.......Sambil bawa batagornya
"Lo gk terlalu keras?"Tanya Rafel
"Nggak lah"polos Raziel
*(di koridor sekolah)*
"Huh dasar, nggak tau berterima kasih banget, gw udah ngantri panjang panjang, malah nyuruh gw yang makan, tapi gw lapar juga, makan ae lah"omel Vanesa dan berakhir dengan memakan batagor yang di pegangnya
*(di kelas X-1)*
*drrt drrt*
Siapa yang ngasih pesan sih
Nomor tak di kenal
Hai
10:23
Siapa?
10:23
Ini aku saudaranya putra, mau tanya, boleh?
10:24
10:24
Nama asli kamu itu siapa?
10:26
Alea
10:26
Alamat? Sekolah?
10:29
Jl XXX , sekolah XXX 1
10:30
Kelas berapa?
10:30
X-1
10:30
__ADS_1
Wah adik kelas dong, yaudah nanti kita ketemu yah, sekarang sampai disini dulu ya by by
10:32
*eh kalau saudaranya ada disini, artinya Putra juga ada disini dong* Pikir Alea, "Tapi kok gak pernah denger namanya ya? "
"Nama siapa? "Tanya Vanessa yang tiba tiba sudah berada di samping Alea
"Lama banget sih, siniin makanan gw! "Alea langsung merampas kantong plastik yang dipegang Vanessa
Vanessa hanya melongo melihat sahabatnya, Alea, melahap cemilan dengan rakus
*apa waktu gw pms separah ini ya*pikir Vanessa
*(Sepulang sekolah)*
Putra memasuki gerbang rumahnya tanpa ekspresi, ia paling tak suka dirumah apalagi setelah berkali kali ibunya pilih kasih dan memilih mengabaikannya, ia bahkan tak sadar bahwa mobil ayahnya sudah terparkir rapih di halaman rumah. Ia sibuk memikirkan cara menghindari ibunya yang tak pernah menganggap ia ada
Putra membuka pintu rumah tanpa ekspresi, lalu bergegas pergi kekamarnya tanpa mempedulikan keluarganya yanh sedang berkumpul diruang tengah
"Lihat tuh anak sulungmu, gak punya sopan santun, gak ngucap salam, bahkan ngelirik kita aja nggak"ketus Bunda terdengar oleh Putra, Putra bergegas lebih cepat menaiki tangga dan tak sengaja menyenggol sebuah lukisan, meskipun tak pecah ataupun risak sedikitpun Bunsa langsung sewot
"Tuh lihat bukannya monta maaf atau memperbaiki malah tetep aja jalan kaya nggak melakukan kesalahan"lagi lagi Bunda berbicara ketus soal Putra
"Bunda, itu semua karena Bunda, Bunda udah nyuekin Putra berhari hari, Bunda selalu menganggap Putra cuman angin lewat, Putra juga pasti punya hati, hanya masalah disekolah, Bunda gitu ke Putra, kalau aku jadi Putra juga aku sakit hati"ucap Putri tak setuju yang dibicarakan Bunda
"Diam kamj Putri!! Kamu berani melawan Bunda!! "Tegas Bunda
"Sudah sudah, Putri kau suruh Putra pergi ke ruang kerja Ayah"perintah Ayah
"Baik Ayah"Putri bergegas ke kamar Putra disusul Ayah yang bergegas ke ruang kerja, meninggakan Bunda sendiri yang kesal. Akhirnya Bunda memutuskan ke ruang kerja Ayah takut Putra mengatakan hal yang tidak benar adanya
"Kak Putra, dipanggil Ayah ke ruang kerja"tak lama Putra membuka pintu tersenyum pada Putri sambil mengelus rambut Putri lalu bergegas ke ruang kerja Ayah
"Coba jelaskan apa masalahnya"pinta Ayah
"Putra melanggar aturan sekolah karena bermain hp di dalam kelas saat jam pelajaran, Bunda nyita semua elektronik Putra, Bunda juga sudah nggak menganggap Putra sebagai anaknya, entah aku ini benar anaknya atau bukan"
"Kamu memang anak Bunda, tapi kamu udah mengecewakan Bunda, membuat Bunda berpikir lebih baik tidak punya akan sepertimu, cukup Putri seorang" Bagai kilat disiang bolong, ucapan Bunda menusuk hati kecil Putra.
Putra bergegas keluar ruang kerja meninggalkan Bunda dan Ayah, ia juga tak memperhatikan Putri yang terpukul karena mendengar kata Bunda, Putra langsung mengunci kamarnya dan bergegas ke balkon yang beeada dikamarnya
Balkon yang terbuka berpapasan langsunh dengan hutan dibelakang rumah, membuat pemandangan sore hari lebih indah. Setetes dua tetes air mata putra keluar dari mata berwarna muda seperti daun muda yang segar. Perkataan Bunda barusan membuat jelas semua masalah, bahwa Putra bukan lagi anak Bunda
Putra bergegas mengambil koper kesayangannya, mengambil baju baju dan semua yang ia butuhkan, termasuk foto kenangan bersama Putri
Putra loncat dari balkon yang berada di lantai dua dan mendarat tepat di semak semak, tangan dan kakinya tergores oleh beberapa duri, tapi itu tak mengurangi tekad yang sudah kuat
Putrapun bergegas pergi melewati hutan belakang rumah, karena didepan pasti ada penjaga yang akan menghalangi
Putra sampai didepan sebuah rumah dengan badan basah kuyup karena hujan dan gelapnya malam membuat badan semakin dingin
*Ting Tong*
"Eh Putra lu ngapain ujan ujanan malem malem gini? "Tanya Raziel saat membuka pintu namun Putra tak membalas, malah menjatuhkan kepalanya ke dada bidang Raziel
"Oy! *****!! Basah baju gw"
"Lo masuk aja dulu, ganti baju, trs ceritain ke kita"Rafael tiba tiba muncul
Rafael memang sedang menginap dirumah Raziel untuk mengerjakan tugas kelompok
__ADS_1
(PENGUMUMAN)
Maaf untuk para pembaca karena saya telah mengecewakan kalian, mulai sekrang saya akan berusaha lebih giat untuk melanjutkan cerita Noisy Girl. Terima kasih atas dukungan kalian 💞 saya jadi terharu😊