
Nena yang mengoleskan bedak tebal-tebal pada pipi Karin tampak mengomel saat anak laki-lakinya yang tidak bisa diam itu mulai mencoret-coret alat make up ke atas kaca meja. "Lipstik mami abis dong Jinooo," omelnya dengan merebut benda itu dari tangan kecil sang anak.
Justin yang menghampiri keributan di ruang tv itu menggelengkan kepala saat bibir putra ke duanya itu blepotan lipstik merah menyala. "Jinooo-jino," keluhnya, namun kemudian tertawa. Putranya itu ada ada saja, berbeda dengan Nino yang lebih Kalem, adiknya malah begitu pecicilan.
"Bang Justin, Bang Ar jadi pulang nggak hari ini." Karin sedikit melirikkan matanya, dan wanita di hadapannya yang sibuk mengoleskan pemerah bibir kembali mengarahkan wajahnya untuk saling berhadapan. "Jan menor-menor, Mbak, aku mau lulusan doang ini, bukan jadi biduan dangdut."
"Ya siapa tau nanti kamu mau sekalian manggung," ucap Nena, kemudian tertawa dan gadis di hadapannya itu hanya mencebik sebal. "Kamu tuh harusnya tadi pagi bangun awal. Biar bisa nyalon," omel Nena.
"Ngapain ke salon ngantri, Mbak Nena juga bisa."
"Saya nggak tau Ardi pulang apa nggak," jawab Justin, sembari membersihkan bibir putranya dengan tisu basah. Kemudian menoleh pada Nino yang tampak seru bermain hp, "jangan deket-deket nontonnya," tegur pria itu, sedikit menarik ponsel di tangan putranya dan malah membuat bocah itu ngambek.
"Udah sih, Mas. Biarin dulu, aku bentar lagi selesai nih dandaninnya."
"Eh, ayo cepetan udah siang." Marlina yang sudah tampak rapi menyuruh keluarganya untuk cepat beranjak, tidak lupa wanita itu memasukkan katalog dagangannya siapa tau ada yang berminat.
Karin yang sudah cantik dengan kebaya juga kemben ala pengantin lokal itu setengah berlari mengambil sepatu tinggi di dekat pintu, setelah itu menyusul keluarganya yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Nih, Bu." Karin menyerahkan kunci rumah pada sang ibu.
"Nggak ada yang ketinggalan kan ya?" Tanya Justin.
Nena memeriksa keperluan putranya di dalam tas, dan ada. Begitu juga sang ibu yang memeriksa katalog dan mengangguk saat merasa tidak ada yang kurang.
Karin masih memeriksa bulu mata palsu nya yang terasa berat.
"Bang Nino, Mih, Bang Nino." Jino menarik-narik baju sang mami, mengadukan bahwa saudara kembarnya yang suka sekali bermain hp itu ketinggalan di rumah.
Justin sudah meloncat ke luar pintu, dengan kunci rumah yang ia miliki pria itu membukanya. Dan putranya masih tampak seru bermain hp di sofa. "Ya ampun Ninoo, Nino," omel nya namun kemudian tertawa.
***
Karin sedikit berdebar saat namanya dipanggil untuk naik ke atas panggung, tahun ini dia berhasil mendapat gelar lulusan terbaik di sekolahnya, gadis itu menerima hadiah berupa piala juga kado entah apa yang terbungkus rapi di dalam kotak.
Dari atas sana dia mencari sosok sang abang yang tidak nampak juga batang hidung nya, entah kenapa perasaannya berubah sedih padahal berada di panggung ini dan mendapat banyak pujian dia seharusnya merasa senang.
__ADS_1
"Selamat ya, sayang." Marlina mencium pipi Karin, mengambil piala dari tangan gadis itu untuk dia bantu bawa.
"Ante ulang aun ya?" Bagi seorang bocah seumuran Jino, kado selalu ia hubungkan dengan ulang tahun, hal itu membuat maminya tertawa.
"Antee mindem ape dong." Nino yang sangat menggilai benda persegi itu merengek pada Karin saat gadis itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang abang.
"Jangan hape terus, ah." Justin menegur putranya, dan bocah itu kembali merengek.
Nino yang terus ngambek membuat Jino sang adik ikut-ikutan rewel. Dan Nena mengusulkan untuk pulang lebih dulu.
"Karin ikut pulang juga deh," ucap gadis itu.
"Emang kamu udah nggak ada acara sama temen-temen kamu?" Tanya Justin.
Karin menggeleng, mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di luar gedung sekolah.
"Dek."
"Bang Ar." Karin berucap tak percaya pada pemuda yang baru saja menutup pintu taksi, gadis itu berlari ke arah sang abang, dan nyaris jatuh karena sepatu tinggi yang ia kenalan, namun dia kembali bangkit lagi melepas sepatunya hingga keduanya kini saling berhadapan.
Ardi sudah tersenyum. Namun alih-alih mendapat pelukan malah pukulan di lengan ia dapatkan menggunakan sepatu gadis itu hingga mengaduh.
"Abang jahat!" Omel Karin, gadis itu terus memukul tubuh sang abang hingga pemuda itu mengaduh, berlari dan bersembunyi di belakang ibunya.
Marlina tertawa, mengusap punggung tangan sang putra yang menempel di bahunya.
"Ibu aku kangen banget," ucap Ardi memeluk tubuh sang ibu dari belakang, melingkarkan kedua lengannya pada leher sang ibu. Setelah mencium pipinya sekilas, pemuda itu melirikkan matanya pada Karin yang masih berdiri di hadapannya.
Karin pun melontarkan tatapan yang sama, sorot mata penuh kerinduan dari keduanya mewakili kalimat yang selama ini hanya bisa mereka sampaikan lewat udara.
Ardi lebih dulu memutus kontak mata keduanya saat sang ibu melepaskan rangkulan putranya dan mengusap lengan pemuda itu. "Mau ikut pulang apa gimana?"
__ADS_1
"Om Al!" Dari dalam mobil Jino memanggil omnya hingga pemuda itu menoleh.
Ardi menghampiri anak itu. Melakukan tos saat keduanya menjulurkan tangan.
"Kamu mau ikut pulang Ar?" Justin mengulang pertanyaan sang ibu, pria yang sudah duduk di balik kemudi itu menyalakan mesin mobil.
"Tadi aku udah pulang ke rumah, eh kata bibi kalian udah lama berangkatnya." Ardi mulai bercerita, membuat Nena yang juga duduk di dalam mobil itu mengangguk paham. "Kayaknya aku mau di sini aja, ngikutin acara dulu, sama Karin."
Karin yang tampak melamun kemudian menoleh pada sang abang. Pemuda itu menghampirinya, merangkulkan lengannya pada leher Karin, membuat ia menoleh.
"Kita jalan jalan dulu di sini, temenin aku ke kantin biru," tambah Ardi.
Karin memukul lengan yang nyaris mencekik lehernya, namun kemudian ia tertawa, menoleh pada sang abang yang kini di sebelahnya.
Marlina yang sudah duduk di kursi penumpang kembali melontarkan pertanyaan yang sama." Karin katanya mau ikut pulang? "
"Aku temenin Bang Ar aja nggak apa-apa, Bu," ucapnya.
Justin mengangguk, dan sebelum mobil mewah itu melaju ke jalan raya, Karin masih sempat mengganti sepatunya dengan sendal yang lebih santai.
"Nggak kangen lo sama gue, Dek?" Karin refleks menolehkan kepala, mundur satu langkah saat kepala sang abang begitu dekat si samping wajahnya.
"Depan umum, Bang." Karin jdi mengomel.
Namun sang abang tampak tidak peduli, kembali melangkah maju, membuat gadis itu bingung harus bagai mana menghindari tatapan pemuda di hadapannya itu.
"Kangen banget gue sama, lo, Dek, terutama yang candu itu."
"Abang."
Meski tidak ada yang mengerti dengan candaan mereka tetap saja kalimat itu selalu membuat Karin merona malu. Nyatanya, beberapa tahun tidak bertemu tidak serta mengurangi sifat mesum pemuda itu.
Karin: bantu pertahanin rengking ya saay.
Ardi: semangat ya ngumpulin poinnya.
__ADS_1