
Hal yang paling membahagiakan adalah sebuah kelahiran, di rumah sakit ternama di kotanya Ardi berlarian menghampiri ruang persalinan, istrinya tengah berjuang menahan rasa sakit demi buah hati mereka bisa lahir ke dunia.
"Kamu kok lama banget si," omel sang ibu saat pria itu baru saja sampai dan menanyakan keadaan istrinya.
"Kamu masuk aja, udah ditungguin dari tadi," ucap Nena.
Ardi yang terlihat panik membuat dokter wanita yang membantu persalinan kemudian tersenyum, "tidak apa-apa Pak. Semua wanita mengalaminya," ucapnya menenangkan suami dari pasien yang terlihat ketakutan lebih dari yang akan melahirkan.
"Katanya baru pembukaan dua, Bang. Tapi udah sakit banget," rengek Karin tanpa mengeluarkan air mata, benar kata dokter itu hampir semua wanita pasti, atau akan mengalaminya. Jadi jika harus menangis tentu saja dia merasa malu.
"Sabar ya sayang kamu pasti bisa," ucap Ardi menyemangati, menggenggam tangan sang istri yang semakin mengerat setelah beberapa saat sekali.
"Sakitnya masih ilang-ilangan sih, masih bisa aku tahan, tapi aku ngantuk banget masa." Karin kembali mengernyit saat rasa sakit itu kemudian datang lagi.
"Yaudah kita ngobrol aja biar kamu nggak ngantuk," ucap Ardi memberi saran.
"Ngobrol apa?"
Ardi tampak berpikir, mulai mencari topik obrolan yang mungkin bisa mengalihkan rasa sakit istrinya, "tadi aku dapet kabar dari Ipang, katanya Lisa hamil," tuturnya.
"Oyah, ikut seneng deh," ucap Karin, dengan sesekali masih terlihat menahan rasa panas di pinggangnya.
"Alya juga udah hamil, bareng dong mereka?"
Ardi tertawa kecil, "janjian kali," ucapnya yang membuat Karin kemudian tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Karin yang sudah tidak bisa lagi diajak berbicara membuat Ardi diserang kepanikan, dokter dan para asistennya yang akan membantu persalinan sudah berkumpul di dalam ruangan.
Ardi terus menggenggam tangan sang istri yang begitu dingin, cengkrmannya begitu erat hingga jari-jari pria itu terasa nyeri, tapi tentu saja tidak sebanding dengan perjuangan sang istri yang bertaruh nyawa di depan matanya, pria itu tidak tega, dan hanya bisa berdoa sembari memejamkan mata.
Suara tangisan seorang bayi laki-laki menciptakan tawa bagi keduanya, Ardi sangat bahagia, putranya lahir dengan selamat dan sang istri juga sehat walafiat, dan mengazani makhluk kecil itu menjadi hal pertama interaksi di antara keduanya.
***
Acara syukuran yang diselenggarakan di rumah ibu Marlina berjalan dengan meriah, para tamu undangan juga tetangga yang datang selalu mendoakan agar putra dari mereka menjadi anak yang berbakti pada orangtua.
"Siapa nih namanya?" Ipang bertanya setelah sang istri memberikan bingkisan yang diterima oleh Karin, menghampiri Ardi dengan bayi kecil yang usianya baru beranjak beberapa hari.
"Arka Ardian," jawab Ardi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
__ADS_1
"Bukan Arka Gunawan ya," sindir Agung yang mendapat sikutan dari sang istri.
"Bukan lah, ini anak gue."
"Bangunin dong Bang, kok merem terus sih." Adelina yang mencolek pipi bayi mungil di gendongan Ardi mencoba membangunkan anak itu.
"Gangguin orang lagi tidur aja kamu," tegur Aldo yg membuat kekasihnya itu menoleh kemudian tertawa.
"Tidurin aja Bang, kasian dia merem gitu." Karin meraih putranya yang terlihat kelelahan agar berpindah ke pelukannya, namun saat berada di tangannya anak itu malah membuka mata, kemudian menangis.
"Yaah ini mah bapaknya susah kemana-mana, tidur aja maunya sama ayahnya ya." Edo yang juga kebetulan ada di sana ikut berkomentar, mencolek pipi Arka kecil yang sedang menangis, dan terlihat memerah ujung hidungnya.
"Lucu banget siii." Adelina kembali menjawel pipi Arka yang sudah kembali tenang di gendong ayahnya.
"Makanya cepet nikah biar punya yang kaya gini di rumah."
Nadia yang sedikit kerepotan menggendong putranya yang terlihat mulai aktif, kemudian berkomentar. "Kok maunya sama kamu sih Ar, anak aku malah rewel kalo digendong ayahnya."
"Biarin aja biar aku nggak capek," balas Karin yang membuat teman-temannya itu kemudian tertawa.
"Tau lah dia ayahnya sibuk cari duit." Edo menundukkan kepala, mensejajari putranya yang berada di gendongan Nadia.
"Om, aku mau liat dedek bayi." Jino yang entah datang dari arah mana langsung naik ke atas ranjang hingga nyaris membangunkan bayi Arka.
Ardi menangkap Jino dan memangku anak itu, "jangan ganggu, lagi tidur."
"Ok," balas Jino dengan berbisik.
Nino ikut duduk di tepi ranjang, menggoda bayi kecil yang akhir-akhir ini meramaikan suasana di rumah. "Jadi mirip siapa nih!" tanya anak itu dengan melihat wajah om dan tantenya satu persatu.
"Mirip aku lah, kan anak aku," ucap Ardi sedikit keki, entah sampai kapan dia bisa berdamai dengan seorang Nino Nakula, terkadang Karin sendiri sering dibuat menggelengkan kepala.
"Kayaknya mirip aku deh, gantengnya sama." Nino berucap begitu yakin.
"Idih."
Perdebatan mereka teralihkan oleh kedatangan Ibu Marlina, Justin dan juga Nena.
"Kalian beneran mau pindah, seminggu lagi dong, kan ibu masih kangen sama cucu baru ibu," ucap Marlina yang mendengar kabar bahwa mereka akan tinggal sementara di rumah Mami Carla.
__ADS_1
Karin tersenyum menanggapi. "Mami Carla nyuruh nginep terus Bu, nanti sesekali pasti kita ke sini lagi kok," ucapnya sedikit menghibur.
Jino memeluk sang oma yang raut wajahnya terlihat sedih. "Tenang aja Oma, kan masih ada Jino," ucapnya ikut menghibur.
Marlina yang duduk di tepi ranjang itu menoleh pada cucunya, "Nggak mau ah Oma, kmu udah nggak lucu, bandel lagi," tolak nya bercanda.
Jino tertawa kecil. "Janji deh nggak bandel-bandel lagi," ucapnya sungguh-sungguh.
Nena yang begitu gemas dengan anak bayi mengusap pipi Arka dengan hati-hati, "lucu banget siiii, Ar tukeran aja deh, kamu bawa Nino tuh, ntar Arka biar aku yang ngurusin," selorohnya.
"Idih ogah amat." Ardi menolak mentah-mentah.
"Atulah mamii, masa aku," protes Nino.
Jino yang semula memeluk sang Oma beralih menubruk tubuh Ardi, "Om Ardi bawa aku aja, biar dedek Arka yang di sini," ucapnya yang membuat penghuni kamar itu seketika tertawa.
"Kalian itu sama aja, nggak mau lah," tolak Ardi lagi.
Nena yang terkekeh pelan kemudian beranjak berdiri di sebelah sang suami, "Kenapa Ar. Enak tau udah gede, udah bisa main sendiri, nggak repot kamu," bujuknya belum mau menyerah.
Justin merangkul pundak Nena, "Daripada ngusilin anak Ardi mendingan kita bikin sendiri," ucapnya yang mendapat sikutan dari sang istri.
"Iya mami bikin satu yang kaya Dedek Arka aku suka." Jino menghambur pada sang mami dan mengusap perut rata perempuan itu.
"Tapi aku maunya cewek ya, kalo nggak cewek aku nggak suka." Nino ikut berkomentar.
"Wah Mbak Nena harus nambah kembar sepasang nih biar adil," ucap Karin dengan tertawa.
**iklan**
Netizen: jadi ini bonchap terakhir thor.
Author: kalo aku lgi kangen sam kisah mereka ya aku tambahin. Jadi jangan dihapus dari faforit dulu ya.
Netizen: kira kira kisah anak anaknya mau dibikin cerita nggak.
Author: itumah nunggu Bang bule kelar dulu dong, jangan lupa pada mampir ya ramaikan di sana aku tunggu 😘😘😘
Bantu vote gadis 100 juta ya teman-teman, votenya besok senen aja, jangan lupa pada mampir insya Allah up tiap hari. 😆
__ADS_1