NOISY GIRL

NOISY GIRL
HARAPAN


__ADS_3

Ardi menghentikan motornya di depan hotel tempat di mana sang istri sudah ditunggu oleh rekannya.


 


 


"Nanti aku telepon kalo udah mau pulang." Karin berucap setelah turun dari motor, melepaskan helm dari kepala kemudian memberikannya pada pria yang masih duduk di atas kendaraannya


 


 


"Hmm." Ardi berdehem sebagai tanggapan, turun kemudian membuka jok motor untuk menyimpan helm di sana. Setelah dia kembali bersiap akan pergi ternyata istrinya itu masih berdiri di tempatnya. "Apa lagi? Kamu katanya udah ditungguin."


 


 


Karin yang semakin rapi dengan blazer hitam yang ia kenakan sedikit mencondongkan tubuhnya. "Kamu nggak marah kan?" Tanyanya.


 


 


Ardi menggeleng, namun pandangannya menolak bersitatap dengan sang istri, dan perempuan itu jadi tidak enak hati. Mereka sudah membuat janji untuk jalan-jalan hari ini. Tapi gagal lagi.


 


 


"Abang." Karin menarik ujung jaket yang dikenakan sang suami, membuat pria yang telah duduk di atas motor itu kemudian menoleh. "Nanti kita atur hari lagi buat jalan-jalan," bujuknya dengan tersenyum.


 


 


"Iya," jawab Ardi, kemudian menyalakan motornya.


 


 


"Mau ke rumah ibu kan? Jangan makan mi instan terus," ucap Karin mengingatkan, Ardi kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Jangan suka diem-diem ngerokok di belakang rumah," imbuhnya.


 


 


"Kok kamu tau?"


 


 


Karin menghela napas, "aku cuma nembak loh, dan kamu malah ngaku."


 


 


Yhaaa, Ardi tertawa pelan, kemudian berkata tidak akan lagi mengulanginya jika tidak lupa.


 


 


Melihat suaminya itu masih terlihat marah, Karin jadi tidak tega. "Abang, aku punya tali," ucapnya yang membuat Ardi kembali menoleh, kemudian mengerutkan dahi saat istrinya mulai berpantonim dengan seutas tali di ke dua tangannya.


 


 


"Terus?" Ardi yang kembali mematikan mesin motor kemudian bersidekap.


 


 


Karin tersenyum, menunjukan deretan giginya yang putih bersih, dia senang pria di hadapannya itu merespon. "Kamu pegang ujungnya," ucap perempuan itu, menyerahkan tali tak kasat mata di tangannya.


 


 


Ardi sedikit ragu, namun penasaran juga, istrinya itu mau apa sih sebenarnya. Dan dia mengangkat tangan kanannya, berpura-pura memegang ujung tali goib yang diberikan perempuan itu. "Kaya gini?"


 


 


Karin mengangguk, "ujung satunya aku gigit," ucapnya, dengan mempraktekkan seolah tengah benar-benar menggigit sesuatu. "Coba tarik," titahnya.


 


 


Dengan polosnya Ardi menarik ujung tali yang padahal tidak ada di tangan kanannya, dan sedikit terlonjak saat sang istri mencondongkan kepala dan mendaratkan ciuman di pipinya. Dia tertawa.


 


 


"Aku tarik lagi nih talinya, sebelah sini belum," ucap Ardi, menyodorkan pipinya setelah mengerti dengan apa yang dimainkan sang istri.


 


 


Karin tertawa pelan, sepertinya suaminya itu tidak marah lagi, dan dia menoyor pipi pria di hadapannya itu sebagai permintaannya barusan. "Talinya udah putus nggak bisa ditarik lagi dong," candanya.


 


 


Ardi mencebikkan bibir kecewa. "Kebanyakan nonton tik tok kamu," sindirnya.


 


 


"Dih, orang aku dapet dari Ig," sangkal perempuan itu, kemudian meraih tangan sang suami untuk dia cium. "Aku masuk dulu ya," ucapnya.


 


 


Ardi mengangguk, beralih mengusap puncak kepala Karin sebelum istrinya itu dengan tergesa memasuki area hotel, dan dia belum mau berlalu sampai tubuh perempuan itu benar-benar menghilang ditelan pintu.


 


 


***


 


 


Menghentikan motornya di depan rumah sang ibu, Ardi disambut dengan lemparan bola dari sang keponakan yang sepertinya sibuk main sendirian.


 

__ADS_1


 


Ardi mengambil bola, menghampiri anak itu. "Abang mana?" Tanyanya.


 


 


"Bang Nino main ps, Om," jawab bocah bernama Jino itu dengan merebut bola basket dari tangan omnya, kemudian mulai bermain lagi.


 


 


Lapangan kecil yang dibuatkan oleh papi anak itu, dulu dia juga sering bermain di sana bersama Karin, entah kapan lagi mereka bisa seperti itu kembali.


 


 


"Ayo, Om, main," ajak Jino.


 


 


Ardi bangkit berdiri dari duduknya, bermain beberapa menit sekedar menyenangkan keponakannya, kemudian mengajak anak itu untuk masuk ke dalam rumah saat panas mulai terik.


 


 


"Karin mana?" Nena yang entah datang dari arah mana membuat Ardi yang duduk di sofa memperhatikan anak kembar di hadapannya bermain ps itu kemudian menoleh.


 


 


Ardi menjawab bahwa istrinya ada tugas mendadak, Nena hanya mengangguk-angguk menanggapinya, dan saat pria itu menanyakan keberadaan sang ibu, dia bilang wanita itu tidak ada di rumah.


 


 


"Kamu bolehin Karin kerja?" Tanya Nena, saat sudah ikut duduk di sebelah adiknya. "Kalo mas Justin dulu aku nggak boleh kerja," curhat perempuan itu, kemudian mengambil bantal sofa untuk ia pangku.


 


 


Ardi menoleh, "gimana rasanya nggak boleh kerja, Mbak?" Tanyanya penasaran.


 


 


Nena berpikir sebebentar, "ya bete banget lah, tapi itu sih sebelum ada si kembar, pas udah ada si kembar boro-boro mikirin kerja."


 


 


Ardi tertegun, apa memang harus ada anak dulu agar istrinya itu mau tinggal di rumah, pikirnya. Dia tersenyum sendiri. "Cara bikin anak kembar gimana, Mbak?"


 


 


"Hah?" Nena terlongo, namun kemudian tertawa, pertanyaan yang terlontar dari mulut adiknya itu seperti tengah menanyakan tutorial masak telur dadar. "Yakali dibikin emang kueh," ucapnya berkomentar.


 


 


 


 


Nena menutup mulutnya yang tertawa, menatap pria yang duduk di sebelahnya dengan seksama. "Kamu pengen anak kembar?" Tanyanya, dan saat adiknya itu mengangguk, dia menambahkan kalimatnya. "Repot punya anak kembar, Ar, beli apa-apa harus dua."


 


 


Ardi menyadandarkan punggungnya pada sofa, masih menatap wanita di sebelahnya,  "ya nggak apa-apa, biar sekalian punya temen, tiga malah kalo bisa," ucapnya yang kemudian mendapat tabokan bantal sofa di lengannya.


 


 


"Iya kamu yang bunting," omel Nena, dan adiknya itu malah tertawa.


 


 


"Gimana ngeluarinnya coba?"


 


 


"Kembar dua aja udah berat pake tiga lagi."


 


 


"Eh di berita ada tau kembar lima."


 


 


Nena tidak menggapai, menoleh saat sang suami tampak berjalan menghampiri mereka dengan fokus pada ponsel di tangannya. "Mas," panggilnya.


 


 


Ardi ikut menoleh, dan kembali melirik kakak perempuannya yang tampak menahan senyum, dan dia mengerti. "Jangan bilang abang, Mbak, ntar aku diledekin," ucapnya panik.


 


 


Nena tertawa, kemudian meraih tangan suaminya saat pria itu sudah begitu dekat. "Ardi minta tutorial bikin anak kembar," ucapnya.


 


 


"Mbak!" Ardi mendorong wajah sang kakak dengan bantal sofa, dan malah mendapat pukulan di kepala dari abangnya dengan bantal yang sama.


 


 


"Baru beberapa hari udah mikirin anak, emangnya kamu siapa jadi ayah?" Justin bertanya ragu.


 

__ADS_1


 


Sesaat Ardi terdiam, "Kenapa harus nggak siap?" Tanyanya.


 


 


Justin meletakkan ponsel yang ia bawa di atas meja, kemudian duduk di sebelah istrinya. "Kalo kamu punya anak, perhatian Karin jadi terbagi."


 


 


"Ya buat anak mah nggak masalah."


 


 


"Yakin?" Justin bertanya lagi, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


 


 


Ardi mengernyit, Apa-apaan? Pamer, mentang-mentang istrinya sedang bekerja. Dan sebelum Ardi berkomentar dia melihat Nino mendekati papinya dan menarik-narik tangan pria itu.


 


 


"Ayo temenin aku main ps, Pi. Jino nggak bisa diajak main, ayo Pi!" Nino tampak memaksa, menarik-narik sang papi hingga pria itu mau tidak mau menegakkan duduknya.


 


 


"Mami tolong ambilin minum dong, aku aus nih." Jino sendiri tampak bergelayut manja pada leher sang mami, memaksa perempuan itu menuruti kemauannya.


 


 


Ardi tersenyum meringis saat pasangan di hadapannya itu melirik ke arahnya.


 


 


"Masih mau cepet punya anak?"


 


 


Ardi tertawa pelan, "pikir-pikir dulu deh, susah nagih candu," ucapnya.


 


 


Namun meski begitu, pria itu tetap mendambakan kehadiran makhluk kecil yang kelak akan memanggilnya papa. Dan selalu bahagia seperti pasangan di hadapannya.


 


 


 


 


**iklan**


 


 


Author: pada ngancem nahan poin buat episode candu baru masa 😑


 


 


Netizen: ujian buat jemaah Mamah Dedeh thor 🤭


 


 


Author: sebenernya gausah diancem juga aku pasti bikin episode candu klo emang perlu buat kelangsungan cerita. 😒 Dan diancem kaya gitu malah bikin imajinasi macet tau 😭


 


 


Netizen: Jadi aku kudu piye Jum 😂


 


 


Author: ya terserah kalian aja lah, ntar gw minta poin dibilang ngemis lagi 😒


 


 


Netizen: siapa thor yg bilang pengemis, salah tuh padahal mah pemulung ya. 😂


 


 


Author :😑😑😑


 


 


Nb: makasih buat poin kalian yang luar biasa itu, sebagai rasa terimakasih aku, buat voter yang masuk rank 20 aku follow ya.


 


 


Netizen: Apa untungnya thor difollow sama lu. 🤔


 


 


Author: ya mayan lah bisa maki-maki gue lewat chat pribadi kalo lu mau 😒😒


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2