NOISY GIRL

NOISY GIRL
KEHILANGAN


__ADS_3

Saat terbangun, Karin yang mengerjapkan mata beberapa kali kemudian tersadar dengan kejadian malam tadi. "Bang Ar!?" Pekiknya.


 


 


Gadis itu bangkit dengan cepat, namun saat meloncat dari ranjang, kakinya tersangkut selimut dan terjatuh.


 


 


Rasa sakit yang teramat di pergelangan kakinya mengalihkan pedih di hati untuk sementara. Gadis itu meringis, kakinya yang berdenyut, juga hatinya yang tengah kalut, gadis itu bingung,  air matanya yang jatuh sekarang ini untuk alasan yang mana.


 


 


"Mami!" Raung gadis itu saat ternyata dirinya tidak mampu bangun lagi, kakinya terkilir.


 


 


Marlina yang mendengar tangisan anak gadisnya itu kemudian panik dan menghampiri Karin. "Kamu kenapa?" Tanyanya.


 


 


"Bang Ar mana, Bu?" Tanya Karin yang membuat Marlina terdiam, "Buuu, Bang Ar mana?" Ulang nya sekali lagi, tangisnya semakin menjadi.


 


 


Marlina membawa Karin ke dalam pelukannya, mengusap bahunya yang berguncang agar bisa sedikit tenang.


 


 


"Semalem Karin mimpi abang dateng terus bilang mau pergi, abang ada kan Buuu, ayo bilang, Bang Ar nggak pergi kan," celoteh Karin panjang lebar saat pelukannya terlepas. Tangis nya yang kian kuat membuat kalimatnya tersendat-sendat.


 


 


"Ardi pergi buat kamu, Sayang."


 


 


Mendengar itu isak Karin semakin sesak, "enggak," tolaknya. "Ibu boongin Karin kaan, bilang buu."


 


 


Marlina hanya diam, kembali memeluk gadis di hadapannya dengan sayang, saat anak bujangnya itu pamit pergi tadi pagi ia berusaha untuk tidak menangis, tapi melihat gadis dihadapannya ini begitu kecewa, dia jadi ikut berduka. Padahal putranya itu pergi demi kebaikan bersama."Sabar sayang, abangmu nanti pulang."


 


 


***


 


 


Agung menghampiri teman-temannya di kampus pagi ini sebelum memulai jadwal kelas pertama, pemuda itu membanting map ke atas meja, membuat Ipang yang asik bermain game juga Edo yang sibuk chat dengan kekasihnya itu jadi menoleh."Benci banget gue liat foto ktp, udah jelek seumur hidup lagi," ujarnya misuh-misuh.


 


 


Ipang menurunkan kakinya dari kursi, menaruh hp di atas meja dan fokus pada map di hadapannya. "Emang ktp lo udah jadi?" Tanyanya.


 


 


"Emang lo baru tujuh belas taun, kok baru bikin ktp Gung?" Edo ikut menimpali.


 


 


"Kemaren tuh ktp dia ilang, Do." Ipang yang menjawab, bersamaan dengan itu Nadia dan Lisa yang baru datang ikut bergabung dengan mereka.


 


 


"Eh, apaan nih?" Lisa mengambil map di atas meja dan membukanya.


 


 


"Dih jangan woy!" Agung yang protes hendak merebut kembali.


 


 


"Yah, merem." Komentar Lisa.


 


 


Agung merebut benda di tangan gadis itu dan menyimpannya. "Bukan merem, mata gue emang sipit woy."


 


 


Lisa jadi tertawa, kemudian duduk di antara mereka, "Gue kadang kasian sama tukang foto ktp,  banyak yang nyumpain pasti gara-gara hasil jepretannya."


 


 


"Sama sih, foto gue juga jelek, padahal aslinya ganteng," komentar Edo yang mendapat adegan pura pura muntah dari Lisa di hadapannya. Nadia hanya tertawa.


 


 


"Eh si Ardi kemana, tumben tu anak belum keliatan." Lisa bertanya sembari memasukkan kentang goreng entah milik siapa ke dalam mulutnya.


 


 


Edo dan Nadia sontak menoleh, Ipang dan Agung yang semula sibuk dengan tas mereka juga ikut terdiam. Melihat hal itu Lisa jadi teringat sesuatu.


 


 


"Eh iya, dia udah pergi ya, lupa gue," ucap Lisa pelan.


 


 


"Emang kalian nggak ada yang nganterin ke Bandara?" Tanya Nadia.


 


 


"Ardi larang kita buat nganterin," jawab Edo.


 


 


"Sengaja banget lagi perginya sebelum subuh, kan ngantuk ya, gue nggak bisa nyusul." Ipang ikut menanggapi.


 


 


"Lebay banget ah, pake disusul, entar juga dia pulang," ucap Edo.


 


 


"Yah, anggota buronan Mitoha berkurang dong," ucap Lisa, yang kemudian mendapat anggukan dari Nadia.


 


 


"Ntar juga kalo dia ngabarin bisa gabung lagi, kira-kira sekarang dia udah nyampe blom ya?" Agung yang bertanya mendapat aksi mengangkat bahu dari teman-temannya.


 


 


"Gimana Lis, temen gue udah pdkt?" Tanya Ipang.


 


 


Lisa yang semula sibuk dengan pesanannya yang baru datang jadi menoleh, "Ah iya, gue mau nanya, dia kan ngajak gue jalan ya terus pas gue tanya kemana dia malah ngusulin ke kosan dia, terus kesono ngapain ya?"


 


 


Edo langsung tertawa, membuat Nadia di sebelahnya reflek mencubit pacarnya itu, namun dia juga ikut tertawa. "Lo polos amat dah," komentar pemuda itu.


 


 


Ipang  yang juga tertawa kemudian berkata, "kalo gitu jangan ditanggepin lagi temen gue yang itu, ntar gue cari yang lain."


 


 


"Lo salah sih, Lis, nyari gebetan sama Ipang," ucap Agung.


 


 


"Iya juga ya, Ipang nya aja kaga bener." Lisa seolah baru sadar.


 


 


"Gue yakin sih Lo pura-pura polos aja ya Lis." Edo memberi dugaan, "padahal tau maksudnya apaan, ah konci kosan dasar."


 


 


Lisa tertawa, "konci kosan?" ulangnya bercanda, "nyelip, nggak tau di mana."


 


 


"Gedean gantungannya daripada koncinya," ucap Agung. Padahal tidak nyambung.

__ADS_1


 


 


"Kosan bukan yang segi tiga ya," sambung Edo.


 


 


"Itu kukusan," balas Agung, dan Edo hanya ber oh sambil tertawa.


 


 


"Kukusan mah yang buat nimbun mayat." Ipang ikut menimpali, dan teman-temannya jadi diam.


 


 


"Hah?"


 


 


"Apaan?" Tanya Edo bingung.


 


 


"Eh gue nggak suka ya, cuman pengen ketawa aja harus mikir dulu." Lisa jadi sewot.


 


 


"Kuburan, yaelah," jawan Ipang kesal sendiri.


 


 


"Jauuuh!!" Teriak teman-temannya kompak.


 


 


"Ah, emang si Ardi doang yang bisa paham sama jokes gue, dia doang yang bisa ngerti sama maksud gue." Ipang jadi curhat.


 


 


"Ya iyalah, kalian kan satu kandang." Nadia menanggapi.


 


 


Lisa yang tertawa kemudian menambahkan, "satu peranakan."


 


 


Ipang berdecak, kemudian beranjak berdiri. "Gue mau nyusulin Ardi aja ke LA, bay!!"


 


 


"Anak sultan mah bebas ya." Agung berlagak iri.


 


 


"Dikira jaraknya sama kaya Jakarta-Surabaya," ucap Edo.


 


 


Lisa tertawa. "Naik kereta dong, Yhaaaa!" Balas nya heboh sendiri.


 


 


"Nggak jelas ah lo pada." Nadia jadi bingung melihat teman-temannya.


 


 


Dan mereka tiba-tiba berubah murung. "Belum sehari aja udah kangen gue sama tu anak."


 


 


"Sama."


 


 


***


 


 


Karin kembali ke sekolah selepas dua hari kepergian abangnya, kaki yang terkilir membuat Justin melarang gadis itu untuk ke mana-mana.


 


 


 


 


Karin mengerjap sadar, kemudian menoleh ke luar jendela, mereka sudah berada di depan gerbang sekolahnya. Gadis itu berbalik menoleh pada Justin, mencium punggung tangannya dan beranjak keluar dari mobil. "Makasih, Bang," ucapnya saat sudah berada di luar.


 


 


Justin mengangguk, "pulang nanti kabari lagi, biar Alvin–,"


 


 


"Nggak usah, Bang. Nanti Karin pulang naik ojek aja." Karin memotong ucapan abangnya, kemudian beranjak pergi saat sang abang menganggukkan kepala.


 


 


"Karin!!" sini lo. Gue mau bikin perhitungan sama lo."


 


 


Teriakan Maya dari arah belang membuat Karin menoleh, namun gadis itu mencoba untuk tidak peduli. Kembali melangkah menuju kelas.


 


 


"Eh, kenapa cerita kanjeng Ribet jadi sad end gitu, gue nangis sumpaaaah." Maya mengomel dengan heboh saat sampai di hadapan Karin. Dan temannya yng adalah kanjeng ribet itu malah menunjukan wajh tanpa ekspresinya. "Lu kenapa dah," Tanya Maya curiga.


 


 


"Nggak apa-apa." Karin kembali melangkah meninggalkan Maya, masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya.


 


 


Maya mengambil tempat duduk di hadapan Karin, "jangan sad end dong Riin, idupin lagi tokoh nya, kalo nggak datengin sodara kembarnya aja deh, nggak papa karakternya beda, kaya sinetron yng lagi naik daun itu loh."


 


 


Karin menopang dagu di atas meja, celotehan Maya yang panjang lebar itu ia dengarkan tanpa dicerna.


 


 


"Lo tuh dengerin gue nggak sih, elaah." Maya jadi kesal sendiri, teman sebangkunya itu tiba-tiba berubah menjadi Kanjeng Kelin. Bikin kesel.


 


 


"Eh Bambang." Maya mencegah satu teman kelas lelakinya itu dan menyuruh untuk duduk sebentar.


 


 


"Nama gue Bendi ya, Ayam," protes pemuda yang mengaku namanya Bendi, setelah duduk di bangku kosong sebelah Karin.


 


 


"Gue Maya, bukan Ayam ya, monmaap." Maya balik mengomel, "kenapa kata sepupu gue lo tiba-tiba ngilang tanpa kabar. Galau kan jadinya dia."


 


 


Karin masih menopang dagu, menyimak dua teman kelas yang berdebat di hadapannya itu.


 


 


"Gue cape ngejar sepupu lo terus, tiap hari gue mulu yang chat duluan, udah gitu gue terus yang nanya, emangnya gue Dora nanya mulu."


 


 


"Ya emang cowok mah udah kondratnya disuruh berjuang." Maya menimpali.


 


 


"Ya seenggaknya kan gue butuh timbal balik," ucap Bendi tidak mau kalah.


 


 


"Sekarang gini aja deh, di buku biologi tertulis nggak sel telur ngejar-ngejar spe*ma?"


 


 

__ADS_1


Beni jadi kicep, "Ngapa jadi bawa-bawa pelajaran si?"


 


 


Maya berdecak, "Nggak ada pengorbanan banget lo jadi cowok, ya mungkin dia masih ragu aja sama lo, lagian dulu lo yang mohon-mohon minta nomor dia."


 


 


"Biarin aja gue ngilang dulu sebentar, pengen liat aja dia nyariin apa nggak kalo gue pura-pura pergi."


 


 


Karin yang diam-diam menyimak obrolan keduanya tiba-tiba menendang kaki kursi yang diduduki Bendi hingga pemuda itu sedikit terlonjak. "Ghosthing lo ya?" Omelnya.


 


 


Maya jadi bingung, namun Bendi yang kemudian berani bertanya.


 


 


"Ghosthing apaan?"


 


 


Karin yang semula menopang dagu kemudian menegakkan duduknya. "Pendekatan, ngasih perhatian, bikin baper, tiba-tiba pergi, ngilang kaya setan," omel gadis itu, entah kenapa jadi terbawa perasaan.


 


 


Maya jadi bingung dengan sikap sahabatnya itu. "Lo ada masalah ya, Rin?" Tanyanya.


 


 


"Tau, baperan banget, terserah gue lah kalo gue mau pura pura ngilang biar dicariin, nawar barang dipasar aja yang pura-pura pergi bisa dipanggil." Bendi jadi sewot.


 


 


"Heh," Karin beranjak berdiri, membuat teman kelasnya yang lain jadi menoleh, termasuk Bendi yang entah kenapa sedikit merasa takut dengan gadis itu, sedikit sih. "Lo ngerti nggak sih rasanya ditinggalin pas lagi baper-bapernya? Nggak usah pura-pura pergi biar bisa dicari, pengorbanan nggak sebercanda itu," omelnya panjang lebar.


 


 


Beni beringsut menjauh, ngeri juga liat teman kelasnya itu marah-marah tidak jelas. "May, temen lo ada masalah apa si?"


 


 


"Udah sono pergi lo, lo juga si mancing-mancing, bangun dah piaraan Karin." Maya menghampiri temannya. Mengusir mereka yg tampak ingin tahu ada apa.


 


 


Karin terduduk di kursinya dengan napas yang memburu. Perlahan Maya menanyakan keadaan gadis itu dengan hati-hati.


 


 


"Rin, lo sehat?"


 


 


Karin yang seperti ingin menangis membuat Maya reflek memeluknya, "lo kenapa dah? Jangan bikin gue takut."


 


 


"Bang Ar pergi, May, dia ninggalin gue ke luar Negri, dia udah pergi." Karin berucap lirih, tatapannya yang kosong membuat gadis itu semakin terlihat frustrasi.


 


 


Maya terus memeluk sahabatnya itu dan mengusap punggungnya pelan, meski gadis itu tidak memeluknya balik.


 


 


"Pantesan tulisan lo sadis banget, udah singkat aja jadi beberapa tahun kemudian ya." Maya melepaskan pelukannya.


 


 


"Terus kisah gue gimana?" Tanya Karin.


 


 


"Ya lo jalanin aja sampe beberapa taun kemudian, masa mau disingkat emangnya cerita novel."


 


 


"Lo nggak sayang sama gue ya, May."


 


 


"Gue lebih sayang sama Karakter ciptaan lo, ngenes banget bikin gue baper."


 


 


Karin berdecak sebal, berbalik ke arah papan tulis dan mengeluarkan buku dari dalam tanya, lalu menopang kepala.


 


 


"Rin, gimana Grup Noisy baper? Aman." Tanya Maya.


 


 


Karin menoleh malas, "aman apaan, rusuh iya. Tapi seru sih."


 


 


"Serunya?"


 


 


"Ya seru aja." Karin malas membahas apapun untuk sekarang ini. Sang abang yang tidak juga mengabarinya selama dua hari ini membuat perasaannya jadi tidak enak. Dan dugaan pemuda itu sedang di mana, melakukan apa, selalu mengganggu pikirannya.


 


 


"Gue mau gabung lagi dong Rin di grup," ucap Maya.


 


 


Karin berdecak, tanpa menoleh dia berucap lagi. "lagian ngapain kemaren lo keluar."


 


 


"Ya abisnya gue baper, masa gue bilang kenal sam lo mereka nggak pada percaya."


 


 


"Jangan kan lo. Gue aja ngaku sebagai authornya mereka nggak pada percaya. Masa nanya gue siapa."


 


 


Maya jadi tertawa, "ngenes amat sih lo, ah."


 


 


"Nggak papa lah. Yang penting bintangnya  kenceng."


 


 


 


 


 



 


Karin: Adek ngamuk. Bang. "


 


 


 


 


 


 



Ardi: Berasa ada yang ngomongin dari tadi.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2