NOISY GIRL

NOISY GIRL
TENTANG MAYA


__ADS_3

"Emang lo udah siap, nikah Rin?" Maya bertanya saat mereka tengah membahas rencana pernikahan yang katanya beberapa bulan lagi, tentu saja setelah gadis itu lulus kuliah. Keduanya tengah makan siang di kantin kantor.


 


 


Karin meminum es teh di gelasnya, kemudian sedikit berpikir, "emang kalo nggak siap alasannya apa?" Tanyanya.


 


 


"Iya si nggak ada alasan, soalnya kan kalian udah ngebet banget," sindir Maya.


 


 


Karin tertawa pelan, "ya enggak juga," sangkalnya, kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya sebentar, "ya daripada kita bikin dosa mulu, tiap ketemu ngulang candu Mending nikah aja, lagian udah cukup umur juga."


 


 


"Candu apaan?" Tanya Maya bingung.


 


 


Karin terdiam, maksud dari kata itu mungkin hanya mereka berdua yang tau, "ada deh," ucapnya dengan menahan senyum.


 


 


Maya berdecih, "aneh-aneh pasti nih," tebaknya curiga, dan tidak mendapat tanggapan dari gadis di hadapannya. "Wajar sih nikah, kalian kan pacaran juga udah lama," imbuhnya.


 


 


"Lama juga lo sama Ka Heru, kapan nih kalian ikut nyusun rencana?" Tanya Karin, sembari mengaduk minuman di gelasnya dengan sedotan.


 


 


Maya yang masih mengunyah tampak sedikit murung, "Gue belom siap, Rin."


 


 


Karin mengerutkan dahi, "Kak Heru kan udah kerja juga, kenapa belum siap?"


 


 


"Bukan dianya, tapi gue yang belum siap."


 


 


Karin menjauhkan gelas dari hadapannya, juga piring dengan makanan yang masih tersisa di sana. "Kenapa?" Tanyanya.


 


 


"Kak Heru nyuruh gue bisa masak dulu, katanya dia nggak suka sama masakan beli," ucap Maya, "padahal lo tau sendiri, gue ngupas bawang aja nangis mulu."


 


 


"Lagian ngupas bawang aja dihayati," sindir Karin. "Kalo menurut status orang yang gue baca nih, May, patokan buat siap menikah itu bukan bisa masak atau nggak, kalian kan mau bangun rumah tangga, bukan rumah makan, dan nggak semua cowok di dunia ini juga bisa benerin genteng yang rusak."


 


 


Maya mengangguk, "bener juga sih, masak kan bisa juga sambil belajar, lagian selera suami sama orang rumah kan pasti beda," ucapnya dengan menggerak-gerakan sendok di udara.


 


 


"Itu lo tau," ucap Karin, sedikit memberikan kalimat-kalimat bijak untuk menyemangati sahabatnya. "Nia ramadhani, nggak bisa ngupas salak suaminya biasa aja, calon mertua lo lebih kaya dari Aburizal bakrie emang?"


 


 


Maya tertawa, ngapa jadi bawa-bahwa mantunya Aburizal bakrie si. "Itu mah akal-akalan cowok gue aja kali ya biar gue nggak nuntut cepet nikah, padahal gue mah santai orangnya."


 


 


Karin menghela napas, dari cerita sahabatnya selama ini, sepertinya hubungan mereka terlalu dipaksakan. "Kalo emang bisa nyari yang lebih baik mah, ngapain terus bertahan."


 


 


Maya yang semula terdiam, kemudian menoleh. "Maksudnya?"


 


 


"Buat apa kita berusaha terus mengalah biar hubungan baik-baik aja, belum nikah aja udah sakit hati mulu." Karin berucap hati-hati, dia tau, masalah perasaan biasanya sensitif sekali. "Hati kita cuma satu, May, lo harus pintar memilih orang yang tepat buat bantu jadi penjaga. Buat apa bertahan untuk disakiti, kalo pun kalian menikah bukan rumah tangga yang bakal kalian bina, rumah duka ntar yang ada."


 


 


Maya tersenyum dipaksakan, selama ini dia memang sudah merasa tidak sejalan, berusaha memperbaiki pun percuma.


 


 


Kesalahan bukan ada pada dirinya selama ini, dan berusaha memperbaiki sendiri sampai kapan pun tidak akan pernah berujung pada penyelesaian.


 


 


Mungkin dia memang harus melepaskan, demi seseorang baru yang mungkin telah Tuhan persiapkan, yang sepertinya masih terhalang karena menunggu giliran dipertemukan. "Jadi menurut lo gue harus gimana?"

__ADS_1


 


 


Karin mengangkat bahu, "lo pikir-pikir aja dulu, masih muda ini."


 


 


Maya tertegun, "rasanya benar-benar dicintai gimana sih, Rin. Bang Ardi juga kayaknya cuek ya, sama sih kaya Kak Heru," ucapnya, mengingat sifat sang pacar yang kurang lebih tidak jauh berbeda, hanya kadar ketampanannya saja sedikit tertinggal dibawah rata-rata. Tapi ya dia suka sih.


 


 


Sesaat Karin berpikir, abangnya itu memang cuek, bahkan dalam sehari bisa dihitung dengan jari berapa kali pemuda itu menghubunginya. Tapi terkadang perhatiannya itu tidak terduga.


 


 


"Maaf, Mbak Karin Larasati bukan ya?" Tanya seorang bapak dengan jaket ojol yang dikenakannya.


 


 


Karin sedikit bingung, namun kemudian mengiyakan, bapak itu memberikan pesanan seseorang yang ditujukan untuk dirinya.


 


 


"Makasih ya, Pak," ucap Karin, dan pria itu kemudian pergi.


 


 


"Apaan Rin?" Tanya Maya.


 


 


Karin mengeluarkan gelas plastik yang ternyata sebuah jus, gadis itu memamerkannya pada Maya. "Nggak pernah ngucap  minta sesuatu tapi tiba-tiba yang kita mau ada yang nganterin, lo pernah nggak?"


 


 


Maya menggeleng, "jangankan kita nggak ngomong, yang ngomong aja blom tentu diturutin."


 


 


"Nah ini nih yang disebut merasa dicintai."


 


 


"Iya deh, Bang Ardi sama cowok gue emang cueknya beda." Maya mengakui. Dengan pura-pura cemberut di wajahnya itu, Karin jadi tertawa.


 


 


 


 


Maya mengangguk, "gue paham sih, makasih, Rin, ternyata selama ini gue udah mempertahankan sesuatu yang nggak pasti."


 


 


Karin menyentuh tangan Maya di atas meja, "belum terlambat, May," ucapnya.


 


 


Gadis itu beralih mengambil ponselnya, membuka aplikasi Wa untuk menyapa sang tunangan.


 


 


Me: Jusnya dingin banget kaya kamu, tapi nyegerin.


 


 


Tidak begitu lama, balasanpun muncul.


 


 


Tukang Galon: Jauh doang yang dingin kalo deket jadi anget.


 


 


Karin jadi tertawa, bukan karena gombalannya, tapi karena nama kontak yang belum diganti. Dia pun kemudian merubahnya.


 


 


Me: apa tuh?


 


 


Agan omes: Candu , Dek.


 


 


Me: Candu mulu kamu, Bang.


 


 

__ADS_1


Agan omes: Masih penasaran aku, belom dapet soalnya.


 


 


Me: nggak bakalan aku kasih.


 


 


Karin cekikikan sendiri, dan malah tertawa saat mendapat balasan dari pemuda itu.


 


 


Agan omes: Mati daaaah.


 


 


Agan omes: maaf nggak bisa makan siang bareng.


 


 


Agan omes: pulang nanti kita bareng.


 


 


 


 


"Ketawa sendiri lo, Rin. Kaya orang gila," protes maya.


 


 


Karin menoleh, masih dengan senyum di bibirnya, dia berkata. "Namanya juga jatuh cinta, gilanya pasti beda."


 


 


 


 


**iklan**


 


 


Author : Ini aku blom nemu konflik lagi, nikmatin dulu aja ya, anggep aja istirahat dari ketegangan episode episode sebelumnya. Hehe


 


 


Netizen: Agan omes apa sih thor?


 


 


Author: Abang ganteng otak mesum, yhaaa 😅😅


 


 


Netizen: bodo amat 😑😑


 


 


Author: jangan lupa tambahin poinnya ya. Semangat.


 


 


 


 


Terkhusus buat yang tahun ini mau nikah semangat ya, tetaplah haha hihi walau sewa gedung mahal sekali 🤣


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2