
Ardi masih menguap saat Ipang dan Agung memaksanya untuk bangun lebih awal. Katanya mereka tidak boleh melewatkan pemandangan matahari terbit di kebun teh yang tidak ada di ibu kota.
Kamar mereka yang terletak di lantai dua, menjadikan balkon dengan kursi malas yang tertata di sana sebagai tempat faforit karena langsung menyuguhkan pemandangan kebun teh dan pegunungan.
Kabut dan udara dingin, juga embun pagi yang teramat sejuk, malah semakin membuat Ardi nyaris tertidur di kursinya, terlalu lama menunggu Agung yang membersihkan diri di kamar mandi.
"Gue nggak ikutan lah, pengen rebahan." Ardi beranjak, nyaris masuk kembali ke dalam kamar, dan Ipang langsung menarik kausnya.
"Rugi lo ntar kalo nggak ikut," ucap Ipang, menahan temannya yang ingin melanjutkan tidur. Dan keduanya jadi berdebat.
Bersamaan dengan itu, Agung yang keluar dari kamar mandi menghampiri pagar balkon kemudian melambaikan tangan. "Tinggalin aja, abang lo nggak mau mandi," serunya pada seseorang di bawah sana.
Ardi yang semula tarik-tarikan dengan Ipang jadi mendekat, melihat Karin dan teman perempuan yang lain tampak berkumpul di bawah sana.
"Abang buruaan!" teriak Karin.
Ardi tersenyum, hanya karena melihat gadis itu saja rasa kantuknya melarikan diri, Ya Tuhan, apa jatuh cinta memang bisa datang sepagi ini.
Belum sempat merespon. Ardi melihat Dewa dan teman-temannya menghampiri Karin dan yang lain, kemudian mereka tampak terlibat sebuah percakapan.
Ardi sadar, jatuh cinta memang selalu datang sepaket dengan rasa cemburu dan sakit hati, pemuda itu nyaris meloncat pagar sampai Ipang dan Agung reflek berteriak dan menarik kaus yang dikenakan pemuda itu.
"Goblok!" Pekik Ipang yang terkejut dengan yang di lakukan temannya.
"Lo gila ya." Agung ikutan mengumpat.
Sadar ilmunya belum terlalu tinggi untuk membuatnya bisa mendarat dengan keren di bawah sana, Ardi memilih masuk ke dalam kamar untuk melalui jalan yang benar, dan tarikan di kerah baju sahabatnya membuat ia terloncat mundur.
"Mandi dulu woy!" Protes Ipang.
"Nggak usah mandi, dingin. Gue nggak akan kuat, cuci muka aja," ucap Ardi, menirukan Dilan kw versi males.
Agung menariknya kembali menuju pagar balkon agar pemuda itu melihat pacarnya yang masih terlibat obrolan di bawah sana. "Biar panas," ucapnya.
"Anjir!" Ardi mengumpat kesal, kemudian melesat ke dalam menuju kamar mandi.
"Jangan lama-lama mandinya, saingan udah nyampe tikungan."
***
"Abang udah mandi belum sih?" Tanya Karin saat mereka menyusuri jalan utama dengan kebun teh yang membukit di sisi kanan kirinya, niatnya sih lari pagi, tapi mereka berdua yang tampak tertinggal dengan temannya yang lain malah memilih untuk berjalan santai.
Ardi berdecak sebal, "udah lah," ucapnya sewot.
Berjalan sejajar di sebelah abangnya, Karin mengaitkan kedua tangannya di belakang punggung, menoleh pada pemuda itu. "Ya maaf, Karin kan enggak bisa bedain, soalnya abang mandi nggak mandi tetep wangi, tetep ganteng," gombalnya, kemudian tertawa sendiri.
Ardi yang nyaris tersenyum mengalihkannya dengan melengos ke samping, gengsi dong, kan ceritanya ngambek, digodain dikit masa ambyar, lemah amat ni hati. Pikirnya.
__ADS_1
Karin mendahului abangnya kemudian berjalan mundur di hadapan pemuda itu, "senyum mah senyum aja, Bang. Nggak usah ditahan, nih Karin ajarin," ucapnya, meletakan kedua telunjuknya di kedua pipi, memberikan senyum termanis yang ia miliki.
Ardi tertawa mendengus, jangan-senyum-senyum depan gue, riba," ucapnya yang membuat Karin sontak mengerutkan dahi, masih melangkah mundur dengan perlahan.
"Riba kenapa?"
"Abis senyum lo bikin hati gue berbunga."
Karin jadi tertawa, "berbunga kaya minjem duit ke rentenir ya, Bang?"
"Iya," jawab Ardi, "lo rentenirnya."
"Kok Karin?" protes gadis itu.
"Ya kan lo yang nagih, " balas Ardi cuek, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana training panjang yang ia kenakan. Udara pagi di sana membuatnya merasa dingin.
"Nagih apa?"
"Ada deeh."
"Dih, nggak jelas, Abang tuh," ledek Karin, masih berjalan mundur, dan batu kecil yang terinjak membuatnya kepleset dan hampir jatuh jika saja sang abang tidak sigap menarik pergelangan tangannya.
"Lo tuh jalan yang bener napah," omel Ardi, khawatir, Karin yang sudah kembali berjalan di samping abangnya dengan menggandeng lengan pemuda itu jadi cengengesan.
"Karin tuh pengen liat abang terus, makanya bela-belain jalan mundur," ucap gadis itu, memberi alasan.
Karin menggeleng, "nggak puas, Bang. Enakan dari depan liatnya, gantian sana abang yang jalan mundur buat Karin."
Ardi berdecak malas, "ogah amat," tolaknya. "Emang gue undur-undur," tambahnya lagi yang membuat Karin kembali tertawa.
Gadis itu melepaskan rangkulan lengannya, menatap teman-temannya yang terlihat jauh. "Katanya di sana ada pasar, Bang, kaya bazar gitu, cepetan yuk," ucapnya kemudian menyeret sang abang untuk sedikit berlari agar cepat sampai ke tempat tujuan.
Ardi berdecak malas, "emang lo mau beli apaan si?" Tanyanya.
Karin mendengus kesal melihat abangnya yang menolak permintaan gadis itu untuk buru-buru, malah tetap berjalan santai, kalo bisa ngeglinding juga mau deh kayaknya dia. "Karin mau beli baju couple sama abang."
"Dih, kaya anak paud," komentar Ardi yang kembali membuat Karin kesal, pantes aja pacar-pacar abangnya kabur semua.
"Abang nggak ada romantis-romantisnya jadi pacar, mending Karin pacaran sama kang ojol aja ketauan."
Masih terus melangkah dengan menolehkan kepala pada gadis di sebelahnya, Ardi melipat lengannya di depan dada. "Kenapa emang?" Tanyanya.
"Kang ojol niyah, Bang. Udah ngechat duluan, mau nganterin Karin kemana-mana, baru pertama ngajak jalan aja Karin udah dikasih helm kapelan."
Ardi melengos, berjalan duluan meninggalkan gadis itu, "yaudah lo pacaran aja sana sama kang ojol yang lebih romantis dari gue," ucapnya pura-pura kesal.
Karin menyusul pemuda itu, kembali menggandengnya, "tapi nggak ada yang ganteng kaya abang," ucapnya kemudian tertawa pelan.
__ADS_1
Ardi mencebikkan bibir, meledek, memilih untuk tidak menanggapi celotehan gadis itu.
"Lo mau makan apa?" Tanya Ardi saat mereka sudah sampai di stand penjual yang berjejer menyajikan makanan berat.
"Bubur aja deh," ucapnya, kemudian ikut mengantri untuk memesan. Pembeli yang terlalu ramai membuat si tukang bubur nyaris tidak kelihatan.
Dan seorang ibu-ibu menyerobot antrian Karin. "Maaf ya, saya buru-buru, anak saya udah laper," ucapnya memberi alasan.
Karin jadi kesal, namun usapan di kepala dari abangnya mampu meredakan emosi gadis itu. "Karin juga laper tau, dikiranya kita berdiri di sini lagi nonton video tutorial ngeracik bubur ayam kali ya," bisik Karin sewot. Dan Ardi hanya menanggapinya dengan tertawa.
**
"Senyum, Bang." Karin mengangkat kamera hpnya tinggi-tinggi, merapatkan kepalanya pada sang abang yang bukannya tersenyum malah mencebikkan bibir.
Ardi dan teman-temannya kini sudah sampai di taman bunga, berbagai macam bunga yang begitu cantik dan berwarna-warni mengundang keinginan mereka semua untuk berselfie.
Melihat hasil jepretannya Karin tertawa, "Ya Allah, gimana Karin nggak jadi bucinnya abang, foto manyun gini aja gantengnya nggak berkurang."
Ardi melengos acuh, merebahkan dirinya di taman berrumput dengan melipat lengan di bawah kepala untuk dijadikan bantal. Beberapa pengunjung yang lain tampak menggelar tikar, dan teman-temannya juga tampak melakukan hal yang sama.
Karin beranjak dari duduknya, dan Ardi menangkap pergelangan tangan gadis itu. "Mau kemana?" Tanyanya.
"Karin mau jalan-jalan."
"Jangan jauh-jauh, ntar ilang."
"Emang Karin anak kecil," tukas gadis itu, kemudian beranjak pergi.
Bersamaan dengan itu Ipang dan Agung yang sudah puas berfoto selfie menghampiri Ardi yang nyaris terpejam.
"Buset, dimana aja rebah, kukusan," olok Ipang, namun kemudian melakukan hal yang sama.
Agung mengangkat kameranya. "Foto dulu, senyum Ar yaelah pelit amat," ucapnya, yang kemudian membuat pemuda yang berbaring di tengah itu memberikan senyum dengan terpaksa.
Ardi memang tipe cowok yang tidak suka berfoto selfie, meski follower instagramnya ribuan, tapi hanya ada beberapa foto saja yang ia upload di sana. Itu pun kebanyakan foto sampul buku yang ia suka, wajah dirinya hanya beberapa.
"Gue mau tidur, jagain ya." Ardi memejamkan mata. Dan sebuah panggilan di hpnya kembali membuatnya terjaga.
"Abang tolongin, Karin tersesat di taman labirin."
"Hah?"
***
Nggak iklan takut disalahin, soalnya pendek. 🤣 🤣 🤣
Karin : tim pengepul poin mana suaranya?? . Minggu besok aku usahain up tiap hari biar semangat votenya.
Ardi: Buat kamu yang bingung mau komen apa, ketik next aja juga nggak papa kok sayang 😘😘😘😘
__ADS_1