
Tidak terasa sudah hampir tiga bulan Alya dekat dengan Agung, bagi gadis itu Agung adalah sosok pemuda yang tangguh. Tidak mudah menyerah dan yang terpenting kalem.
"Kak Agung hebat yah, bisa bikin pelangi," goda Alya sembari menopang dagu di meja bar, kebiasaan gadis itu saat menyantroni Agung yang tengah sibuk dengan mesin kopi.
Agung mendongak, "pelangi apa?" Tanyanya. Karena setaunya bukan pelangi yang dia lukis di setiap sajian kopi.
"Pelangi, Kak, sampe dibikinin lagu lagi, pelukismu Agung siapa gerangan–,"
"Liaa...." Agung tertawa, mencondongkan tubuhnya pada meja mendekati gadis itu. "Kenapa? Bosen nungguin aku?" Tanyanya.
Alya mengangguk, "Kak Agung kapan sih santainya aku dikacangin terus nih," keluhnya dengan wajah cemberut.
Agung jadi senyum-senyum sendiri, kemudian mendapat sikutan dari karyawan yang sudah dia anggap teman baik, di sebelahnya.
"Udah, Bos, ini biar gue aja yang urus, kasian cewek lo," godanya.
Agung tidak menanggapi, namun kemudian melepas apron yang ia kenakan dan memberikannya pada pemuda itu. "Panggil gue kalo kerepotan," pesannya.
Melihat itu Alya turun dari bangku tingginya dengan senang, akhirnya sejak sore dia menunggu, pemuda itu bisa meluangkan waktu.
Agung melangkah ke arah Alya berada, bersamaan dengan itu Ardi yang baru datang dengan menggandeng tunangannya itu menghampiri mereka.
"Bang Agung aku mau nyumbang lagu dong." Karin berucap setelah menyapa Alya dan mendapatkan senyum dari gadis itu.
Ardi berdecak, "Nggak ada ya, Dek. Kita ke sini bukan buat ngamen," ucapnya dengan menyentuh puncak kepal Karin.
"Plis, Bang, aku mau nyumbang lagu," rengek gadis itu, "udah lama nih nggak nyanyi," ucapnya dengan menarik-narik lengan pemuda yang dipanggilnya abang itu.
"Udah kasih, Ar, sonoh." Agung sedikit mendorong tubuh temennya untuk mengantar kekasihnya naik ke atas panggung kecil yang tersedia di sudut Cafe.
"Yaudah sana kamu aja," ucap Ardi.
Karin cemberut, "sama abang, kita duet," ujarnya dengan msih menarik-narik lengan pemuda itu.
"Males, males, males," keluh Ardi, raut wajahnya tampak kusut.
Melihat pasangan yang satu itu, Alya jadi tersenyum sendiri, cocok sih, saling melengkapi. Gadis itu melirik pada Agung yang menyandarkan tubuhnya pada meja bar, pemuda itu tersenyum menyaksikan perdebatan pasangan di hadapannya.
Agung yang kemudian menoleh membuat Alya jadi kelabakan, pemuda itu sadar gadis di hadapannya diam-diam terus memperhatikan, namun pura-pura tidak peka biasanya lebih bisa diandalkan alih-alih menggoda, Agung bukan Ipang yang terang-terangan jika suka, juga bukan Ardi yang tidak pernah menutup-nutupi perasaannya.
"Mau makan sesuatu?" Tanya Agung saat Ardi sudah membawa kekasihnya pergi untuk menyanyikan sebuah lagu.
Alya menggeleng, "jadi, mereka nyanyi?" Tanyanya, mengalihkan perhatian.
Agung mengangguk, "Karin emang udah biasa nyanyi sih, suaranya bagus," pujinya.
"Pak Ardi juga bagus suaranya, cocok banget mereka."
"Tapi lebih bagus lagi suara Ipang," ujar Agung, memuji sahabatnya yang memang pintar dalam hal tarik suara.
Alya tertawa, dia kadang tidak percaya sepupunya bisa bernyanyi dengan merdu, padahal modelnya seperti itu. "Kak Agung sendiri, bisa nyanyi nggak?" Tanyanya.
Agung tersenyum, "bisa dong, setiap manusia pasti bisa bernyanyi, yang membedakan itu merdu atau tidaknya, dan suara aku termasuk ke dalam yang nggak merdu," ucapnya jujur.
Alya tertawa, "kalo gitu sama dong, tapi nanti aku pengen denger Kak Agung nyanyi yah."
Sambil mengangguk pemuda itu berkata, "boleh, tapi kamu aja yang denger," ucapnya.
Mendengar itu hati Alya menghangat, entah kenapa, dia merasa istimewa, belum sempat ia memberikan tanggapan, seorang gadis mendatangi mereka, dan mencium pipi pemuda di hadapannya.
__ADS_1
Alya sedikit terlonjak hingga termundur satu langkah, hatinya tiba-tiba terasa nyeri. Agung yang terlihat sama terkejutnya tampak diam saja.
"Kak Agung selamat yah, usaha kakak maju, rame banget Cafenya, aku nggak nyangka."
Agung tertegun, melirik Alya yang juga terlihat syok di depan sana, gadis itu berubah murung. "Makasih, Sivia," ucapnya canggung.
"Aku kangen banget sama kakak, selama kuliah di luar Negri aku selalu nyari kontak Kak Agung tapi nggak pernah dapet."
Agung mengangguk-angguk, kembali melirik Alya yang terlihat kikuk.
"Aku ke sana ya, Kak." Alya berucap tanpa bersuara, kemudian melangkah pergi.
Agung berniat mengejar gadis itu namun Sivia yang tiba-tiba memberikan pelukan membuat langkahnya kemudian terhenti, di saat seperti ini, Alya berbalik, tersenyum samar dan kembali meneruskan langkahnya.
"Sivia." Agung mendorong gadis yang memeluknya itu hingga sedikit menjauh, raut wajahnya tampak terkejut.
"Kenapa?" Tanya gadis bernama Sivi yang adalah mantan yang membuat pemuda itu gagal move on.
Namun itu dulu, sepertinya sekarang sudah tidak lagi, karena buktinya dia sudah tidak menaruh perasaan apapun pada gadis itu. Bahkan hanya untuk menjadi sekedar teman.
"Kak Agung kenapa?" Tanya Sivia, karena sebelum dia ke luar Negri hubungannya dengan pemuda itu baik-baik saja.
Agung selalu mau jika gadis itu melakukan apapun pada dirinya, tapi kenapa sekarang dia menolaknya.
"Kita nggak ada hubungan apa-apa, Via."
Sivia mengerjap tidak percaya, pemuda di hadapannya, apakah salah berbicara. "Kakak kok, gitu? Kak Agung nggak mungkin bisa move on dari aku kan."
Agung menyingkirkan telapak tangan gadis di hadapannya yang menyentuh pipi, "nyatanya, hati aku emang udah sembuh, setidaknya Vi, jika kamu tidak bisa menyembuhkan lulaku, tolong jangan buat luka baru, aku udah nggak punya rasa apa-apa sama kamu, dan aku menikmati itu."
Sivia tertegun, rasa kehilangan itu pasti datang, tidak ada lagi pemuda yang akan rajin menanyakan kabarnya seperti dulu, selama di luar Negri bahkan yang amat dirindukan oleh gadis itu adalah sosok Agung yang perhatian, dia tidak menangis, gadis itu berusaha menguatkan diri, memang dia yang salah, telah menyianyiakan pemuda di hadapannya.
Pemuda itu mencari keberadaan Alya, menyapukan pandangannya pada setiap penjuru Cafe yang cukup ramai dan tidak ada gadis itu di sana. Dia mencari ke arah belakang.
Gadis itu duduk di undakan anak tangga, belakang Cafe yang sepi dan sedikit gelap, Agung ikut duduk di sebelahnya.
"Kenapa Kak Agung nggak pernah bilang sama aku," ucapnya setelah menoleh sekilas, suranya tampak parau, iya, dia menangis, meski bukan siapa-siapa, tapi dia sudah merasa cemburu layaknya sepasang kekasih, padahal hanya dekat, tidak sampai bertahap, apalagi jadian.
Agung melirik sekilas, merasa terenyuh, "bilang apa?" Tanyanya hati-hati.
"Bilang kalo sebenernya Kakak itu udah punya pacar."
Agung tertawa pelan, "orang nggak punya pacar, masa ngaku-ngaku," sindirnya.
Alya menoleh, seperti ingin berkata tapi ia urungkan.
Agung menghela napas, "dia mantan aku," ucapnya jujur.
Alya sesaat tertegun, kemudian berpikir. "Yang bikin Kak Agung gagal move on?" Tanyanya.
"Iya."
Jawaban itu membuat Alya membuang muka. Rasanya dia ingin menangis lagi, namun gadis itu memilih menatap langit agar air matanya tidak terjatuh.
"Tapi itu dulu, empat tahun yang lalu," ucap Agung. "Dulu aku memang sayang sama dia, tapi sejak tau dia nggak memberikan perasaan yang sama, buat apa."
Agung meraih tangan Alya, membuat gadis itu menoleh, "masuk yuk, di luar dingin," ajaknya.
Alya menurut, dan Agung mengajak gadis itu mencari satu bangku kosong di dalam Cafe, dan kemudian duduk di sana, sesaat keduanya saling diam.
__ADS_1
Tiga puluh menit kita di sini, tanpa suara, dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara, Karin yang membawakan lagu lama berjudul pelangi di matamu itu tiba-tiba membuat mereka ingin tertawa.
"Liriknya nyindir banget," ucap Agung yang memang sudah terlalu lama tidak mengucapkan apa-apa semenjak mereka duduk berdua.
Alya tersenyum, kembali menoleh pada sumber suara yang giliran Ardi melantunkan lanjutannya.
Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara, dan aku benci harus jujur padamu, tentang semua ini.
Agung menoleh pada jam dinding, "udah lumayan malem, kamu mau pulang?" Tanya pemuda itu. Karena gadis di hadapannya ini memang tidak terbiasa pulang larut.
"Mantan Kak Agung ke mana?" Bukannya menanggapi, Alya malah kembali membahas hal itu.
Agung sesaat tertegun, "pulang kali," jawabnya.
Alya mengangguk, "Kangen sama mantan boleh aja kok, Kak," ujarnya kemudian menatap pemuda di hadapannya dengan sedikit senyum. "Yang penting jangan sepaket sama pengen balikan."
Agung tertawa pelan, "kenapa emang?" Tanyanya sedikit menggoda.
"Aku cemburu, aneh yah, padahal bukan siapa-siapa Kak Agung," ucapnya, kemudian tersenyum.
Agung terdiam, dan lirik lagu lanjutan yang dilantunkan sahabatnya itu terasa lebih mendominasi di antara mereka yang tidak lagi melontarkan kata-kata.
Ada yang lain di senyummu, yang membuat lidahku, gugup tak bergerak.
Ada pelangi, di bola matamu, yang memaksa diri tuk bilang....
"Aku sayang sama kamu, Liaa." Agung memberanikan diri, mengungkapkan perasaan pada gadis yang mengerjap gugup di hadapannya.
"Eh, gimana?"
Agung mengangguk, "aku sayang sama kamu," ulangnya yang membuat Alya tersenyum senang, pelangi di matanya semakin berbinar.
**iklan**
Author: udah ya, mereka udah aku jodohiin.
Netizen: Ardi Karin cuma jadi cameo thor, kapan sih mereka nikahnya gak sabar nunggu MP mereka 🤭
Author: iya lu yang baca nggak sabar, gue yang ngehalu malah bingung. 😒
Netizen: tulis aja 'dan mereka melakukannya' thor. 😁
Author: Melakukan apaan. 😑
Netizen: poin nih, vote jangan.
Author: 😍😍😆😆
Netizen: 😑😑😑
Jangan lupa poinnya tambahin ya, buat kamu yg bingung sampe kapan ngasih poin, ya sampe cerita ini tamat, nggak ada batasan, selagi kalian masih suka, poin tetap ditunggu.
Terkhusus buat yang lagi deket aja tapi nggak sampe jadian, tetaplah haha hihi walau ngungkapin perasaan sulit sekali 😆😆
__ADS_1