NOISY GIRL

NOISY GIRL
GAME


__ADS_3

Adelina sedikit mendorong tubuh mantan kekasihnya itu hingga termundur beberapa langkah, "kamu harus bisa ngambil hati A Agung, kalo mau dukungan dari aku," ucap gadis itu kemudian pergi.


 


 


Aldo menangkap pergelangan tangan Adelina hingga gadis itu menghentikan langkah dan berbalik, "perasaan kamu ke aku masih sama kan?" Tanyanya.


 


 


Gadis itu menarik lengannya hingga genggaman sang mantan kekasih  kemudian terlepas, "masih," jawabnya yang membuat Aldo refleks tersenyum, "tapi mungkin rasa sakit hati A Agung juga masih sama, seperti waktu itu Ka Aldo maki-maki dia di depan keluarga kakak."


 


 


Aldo tertegun, kalimat itu memutar kembali kenangan  saat dia pertama kali bertemu dengan Agung di rumahnya, lalu harus  bagaimana lagi agar gadis itu tau bahwa dirinya telah menyesal.


 


 


Dilansir dari hatinya yang selalu berdesir, juga detak jantung yang selalu nyaris berantakan saat berhadapan dengan pemuda itu, Adelina tau bahwa perasaannya masih sama, bahkan mungkin bertambah tatkala kebenaran tentang kesungguhan pemuda itu terungkap lewat adiknya.


 


 


Tapi ia perlu sedikit egois pada dirinya sendiri, dan sadar bahwa orang yang ia cintai telah melukai seseorang yang sejak dulu selalu memberikan cinta pada dirinya. Gadis itu tentu tidak terima jika Agung yang selama ini ia anggap sebagai pengganti ayahnya ternyata dihina-hina.


 


 


"Adeel," ucap Aldo lirih, "kan aku udah minta maaf," Imbuhnya dengan raut putus asa.


 


 


Dan gadis di hadapannya itu membuang muka, "Kalo Kak Aldo bisa akur sama A Agung, mungkin aku bisa maafin itu semua," ucapnya kemudian menoleh. "Kalo Kak Aldo beneran sayang sama aku, Kakak harus sayang sama keluarga aku juga," tukasnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Aldo mengusap rambut kepalanya sendiri dengan kasar, tatapannya terus tertuju pada Adelina yang kemudian menghilang di balik tembok pemisah. Gadis itu sepertinya benar-benar marah, tapi wajar, karena dirinya memang telah begitu  kurang ajar.


 


 


***


 


 


Keesokan harinya mereka bersiap akan ke pantai, Karin membangunkan suaminya yang masih bergelung di dalam selimut.


 


 


"Ayo Bang aku nggak sabar pengen liat pantainya," ucap perempuan itu dengan menarik lengan suaminya.


 


 


Ardi menggeliat sebentar namun kemudian meringkuk lagi, mata pria itu masih rapat terpejam, membuat Karin begitu gemas untuk kembali mengguncang tubuh sang suami hingga ia merasa terganggu. "Apa siiiih," rengeknya dengan suara serak.


 


 


"Banguuun aku nggak sabar mau main air laut," ucap Karin.


 


 


Namun bukannya bangun suaminya itu malah menariknya hingga ikut berbaring di atas kasur. "Aku masih ngantuk, gimana kalo kita di kamar aja seharian jangan keluar," usulnya yang membuat sang istri jadi meradang.


 


 


"Iih, kalo cuma mau numpang tidur ngapain jauh-jauh ke sini coba." Karin terus mengomel, apalagi saat tangan sang suami sudah mulai menggerayangi bagian-bagian sensitif tubuhnya. "Nggak-nggak, aku mau ke pantai, yang lain juga pasti lagi nungguin," tolak perempuan itu.


 


 


Ardi berdecak malas dan semakin mengeratkan rangkulannya pada tubuh sang istri, mendapat penolakan dari perempuan itu membuatnya sedikit merajuk, "kita kan lagi program bikin baby boy, mereka juga maklum kalo kita nggak keluar kamar," ucapnya, kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur.


 


 


"Mau ngapain?" Tanya Karin dengan masih berusaha melepaskan diri dari kuncian lengan suaminya.


 


 


"Nelpon Agung, nyuruh mereka buat berangkat duluan aja, nanti kita nyusul belakangan."


 


 


Karin mengerutkan dahi, "kok gitu sih? Nggak seru lah Bang, misah-misah gitu," ucapnya dengan berusaha merebut benda persegi dari tangan sang suami.


 


 


Ardi menjauhkan ponsel di tangannya dari jangkauan perempuan itu. "Nggak apa-apa lah kita kan mau menyibukkan diri dulu," godanya dengan membenamkan wajah ke dalam ceruk leher sang istri yang membuat perempuan itu menggeliat geli.


 


 


Keduanya jadi berdebat, berebut ponsel di tangan Ardi yang kemudian berpindah ke tangan sang istri, namun pria itu tidak tinggal diam, dia terus melancarkan serangan-serangan memabukkan, hingga kekalahan Karin, membuat keduanya tertahan di dalam kamar untuk waktu yang lebih lama.


 


 


***


 


 


Adelina dengan riang melangkah keluar kamar dengan mengenakan baju pantai yang ternyata membuat abangnya sakit kepala.


 


 


"Ganti," ucap Agung, yang terlihat risi dengan busana sang adik yang sedikit terbuka.


 


 


Adelina memperhatikan pakaian yang ia kenakan, tangtop hitam yang dilapisi cardigan tipis juga kain pantai yang ia lilitkan di pinggangnya, apa yang salah. "Kenapa sih A, kan kita mau ke pantai, kaya gini dong bajunya," ucap gadis itu.


 


 


Lisa yang kebetulan melewati mereka dan mendengar perdebatan itu hanya tersenyum, dia juga Nadia melanjutkan langkahnya menuju dapur. Membiarkan saja kakak beradik itu meneruskan perdebatan mereka.


 


 


"Aa nggak suka kamu pake baju kaya gitu, ayo cepet ganti," ucap Agung dengan melipat lengannya di depan dada.


 


 


"Atuh A, kita kan mau ke pantai pake baju apa dong masa gamis ih, emangnya mau ngaji."


 


 


"Kamu ganti apa mau aa fotoin kirim ke umi," ancam pemuda itu.


 


 


Adelina berdecak, mulai sebal jika sang abang sudah main ngadu-ngadu pada uminya, yang memang tidak suka jika dirinya mengenakan busana yang sedikit terbuka. "Iya, Nina ganti," ucap gadis itu dengan terpaksa, menghentakkan satu kakinya dan kembali masuk ke dalam kamar.


 


 


Tidak begitu lama, Adelina kembali keluar kamar dengan baju yang lebih sopan, gadis itu menghampiri sofa dimana sang abang juga beberapa temannya tengah duduk menikmati sarapan di sana, tv yang tampak menyala membuat sebagian dari mereka jadi fokus ke benda itu.


 


 


"Kok belum siap-siap?" Tanya Adelina.


 


 


Nadia menoleh ke luar jendela, kemudian menunjuknya, "ujan, gimana mau pergi," ucap perempuan itu.


 


 


Adelina mendesah kecewa, menoleh pada sang abang di sebelahnya kemudian memukul lengan pemuda itu hingga mengaduh, "gara-gara Aa nih, aku disuruh ganti baju jadi ujan, udah bener yang tadi juga," omelnya, kemudian bersidekap.


 


 

__ADS_1


"Dih, apa hubungannya," balas Agung.


 


 


Sebagian dari mereka kemudian tertawa, begitu juga dengan Aldo yang duduk di ujung sofa, pemuda itu terus memperhatikan wajah cemberut mantan kekasihnya.


 


 


"Daripada gabut mendingan kita main game." Ipang yang baru datang dengan membawa sekotak balok-balok kecil berbahan dasar kayu kemudian meletakkannya ke atas meja.


 


 


Beberapa dari mereka langsung mendekat, duduk melingkari meja, di hadapannya Ipang tampak menyusun balok-balok itu menjadi sebuah menara.


 


 


"Namanya Apa Bang Ipang?" Tanya Adelina.


 


 


Ipang yang tengah sibuk menyusun benda di hadapannya kemudian menoleh, "ini namanya permainan jenga, lebih sederhana dari uno stacko, jadi kita cuman dapet giliran narik satu balok terus ditaro di atas, gitu terus sampe menaranya roboh."


 


 


"Yang robohin menara kalah dong?" Edo yang ikut membantu menyusun balok kemudian bertanya.


 


 


"Ya nanti kita pikirin aja yang kalah suruh ngapain," ucap Ipang dengan senyum yang tidak terbaca.


 


 


"Gue nggak ikutan." Agung berucap mengundurkan diri, yang kemudian mendapat cibiran dari teman-temannya.


 


 


"Aa payah banget ah, gini aja takut." Adelina berkomentar, dan Alya yang baru datang dengan membawa potongan buah di piring ikut memojokkan kekasihnya.


 


 


Aldo beranjak berdiri, kemudian ikut duduk melingkar di depan meja dan membuat Lisa yang duduk di sebelah kanannya sedikit bergeser," aku ikutan," ucapnya.


 


 


Ipang yang duduk di sebelah kiri Lisa mengacungkan ibu jari ke arah sepupunya itu, mereka sering memainkan ini dan tentu saja sudah begitu ahli.


 


 


Agung mau tidak mau ikut turun ke karpet, duduk di antara Adelina dan Edo. Alya yang mengikuti, mengambil tempat duduk di sebelah kekasihnya.


 


 


"Main apaan nih?" Tanya Ardi yang baru datang dengan Karin di belakangnya.


 


 


"Yang betah banget di kamar, kirain nggak mau keluar." Ipang berkomentar.


 


 


Ardi tidak menanggapi, malah ikut bergabung dengan mereka, dan Karin yang memilih pergi ke dapur untuk mengambilkan suaminya makanan berkata tidak mau ikut dalam permainan.


 


 


"Ini dimulai dari gue ya, abis itu Lisa, dan seterusnya." Ipang mulai berkonsentrasi mencabut satu balok dalam susunan yang terletak di tengah, "kalian boleh nanya sesuatu buat ganggu konsentrasi si pemain," ucapnya setelah menaruh satu balok yang ia ambil dan meletakkannya di susunan paling atas.


 


 


"Curang banget lo, ngomongnya pas udah kelar." Ardi berkomentar dengan kesal, dan pemuda itu menanggapinya dengan tertawa.


 


 


 


 


"Sayang, dari semua yang ada di tubuh aku, bagian mana yang paling kamu suka?" Ipang mengajukan pertanyaan.


 


 


"Eh, gimana?" konsentrasi perempuan itu jadi buyar, "pertanyaan macam apa si, yang lain napah," omelnya dengan terus berusaha menarik balok yang sudah bergerak setengahnya. "Bagian apa yah, mata deh," jawabnya.


 


 


"Mata apa bibir?" Goda Ipang yang kemudian mendapat cubitan dari kekasihnya saat misi perempuan itu sudah berhasil.


 


 


Aldo kali ini mendapat giliran, pria itu menarik balok yang berada di bagian tengah karena menurutnya itulah yang paling aman.


 


 


"Kamu udah berapa kali pacaran?" Pertanyaan itu terlontar dari Agung, dan membuat sebagian dari mereka yang semula berisik untuk memecah konsentrasi jadi terdiam.


 


 


Aldo tampak berpikir, namun sampai balok yg ia tarik berhasil ditaruh pada bagian atas menara, pemuda itu  baru memberikan jawaban. "Lupa," ucapnya.


 


 


"Kalo lupa berarti banyak, tak terhingga," ucap Lisa berkomentar.


 


 


"Kaya Ardi mantannya dimana aja ada." Ipang menambahkan.


 


 


Ardi mengedarkan pandangan, mencari sang istri yang sepertinya belum kembali dari dapur. "Kenapa jadi gue si, ada juga lo lah," balasnya tidak terima.


 


 


"Udah lah kalian itu sama," omelan Nadia menghentikan perdebatan mereka.


 


 


"Jangan lupa amit-amit jabang bayi lo, Nat, ntar ketularan buaya," ucap Lisa.


 


 


"Apaan, ya nggak lah bapaknya bersih begini," protes Edo tidak terima.


 


 


"Ka Aldo mantannya tiga, satu pas Sma, satu lagi pas kuliah di luar Negri, dan yang ke tiga aku, iya kan?"


 


 


Ucapan Adelina membuat sang abang di sebelahnya jadi menoleh. Gadis itu kemudian tersenyum.


 


 


Aldo menggeleng, "mantan aku cuma dua kok," ucapnya dengan memberikan tatapan teduh pada Adelina yang juga memberikan pandangan yang sama.


 


 


"Ok lanjut," ucap Ardi mengalihkan perhatian, pria itu mengambil giliran.


 


 


"Eh bukan lo, gue dulu," protes Edo dan keduanya jadi berdebat.

__ADS_1


 


 


Permainan yang sudah mulai menegangkan karena susunan menara sudah mulai oleng membuat konsentrasi pemainnya semakin ditajamkan.


 


 


"Dapetin aku kebiasaan lama apa yang kamu tinggalin?" Tanya Karin pada sang suami yang kali ini mendapat giliran.


 


 


"Kamu kan nggak ikutan, kenapa ikut nanya si," protes Ardi.


 


 


"Pertanyaan boleh dari siapa aja lah," bela Ipang.


 


 


Ardi yang masih berkonsentrasi menjaga keseimbangan menara yang mulai bergerak, kemudian menjawab. "Berenti bersolo karir di kamar mandi," ucapnya yang mendapat cubitan di lengan dari Karin.


 


 


"Widih, gue nggak paham," ledek Ipang.


 


 


Ardi yang berhasil memindahkan satu balok pada bagian atas terlihat begitu lega, padahal hanya permainan tapi tetep saja merubuhkan menara adalah sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi padanya, hukuman dari para sahabat yang agak gila membuatnya sedikit khawatir. "Iya, dapetin dia aku jadi tobat," ucapnya bercanda.


 


 


"Lo pilih abang lo, apa pacar?" Pertanyaan itu terlontar dari Ipang pada Adelina yang kali ini mendapat giliran.


 


 


Sesaat gadis itu menghentikan gerakan tangannya, sedikit berpikir kemudian menjawab. "Abang aku lah," ucapnya yang membuat Agung diam-diam tersenyum, "bahaya kalo uang jajan sampe diberentiin mah," Imbuhnya yang membuat mereka tertawa.


 


 


Permainan kembali dilanjutkan, menara susunan balok yang kondisinya mulai memprihatinkan tidak dapat dipertahankan oleh Agung yang mendapat giliran. Pekikan terkejut juga tawa membuat mereka reflek memundurkan tubuhnya.


 


 


"Yah, Agung nih yang kalah, hukumannya apa ya?" Ipang berucap menakut-nakuti.


 


 


Agung yang terlihat pasrah tampak diam saja, hanya Alya yang sesekali mengusap bahunya memberikan semangat.


 


 


"Jadi semua pemain, boleh ya ngajuin satu permintaan sama Bang Agung." Ipang berucap sedikit meledek.


 


 


"Eh perjanjian awalnya nggak gitu ya," protes Agung.


 


 


"Ya kan gue bilang pikirnya belakangan," balas Ipang kemudian tertawa.


 


 


"Yeee! Aa aku mau minta dibeliin apa aja pokoknya." Adelina bersorak senang.


 


 


"Nanti kalo ke pantai bawain barang-barang aku ya," ucap Alya, yang mendapat anggukan dari kekasihnya.


 


 


"Gue minta traktir aja." Edo ikut meminta bagian.


 


 


"Permintaan gue mah nanti aja kalo udah butuh." Ardi juga ikut-ikutan.


 


 


Merasa semua telah mengutarakan keinginannya, mereka pun terdiam saat Aldo mengacungkan telapak tangan. Sesaat hening, tatapan kedua pemuda itu saling beradu, penuh tanya, curiga juga waspada yang dapat tergambar dari keduanya.


 


 


"Aku cuman mau minta dimaafin, dan dapet izin buat kembali melanjutkan hubungan dengan Adelina, boleh nggak?"


 


 


***iklan***


 


 


Author: Gue sedih, kemaren ngetik oh my boss lupa nyimpen eh malah ilang 😭😭😭


 


 


Netizen: Sabar thor yang penting bukan jempol lu yang ilang 🙄


 


 


Author: 😒 repot ya gabisa ngetik.


 


 


Netizen: hooh, ntar pertanyaan penting gue nggak dapet jawaban. 😌


 


 


Author: pertanyaan avah 😒


 


 


Netizen: nanya thor misal nih ya, kan utang puasa gue nyang tahun kemeren belom dibayar ya, tahun ini kasbon bolong lagi boleh apa nggak ya? 🤔


 


 


Author: 😑 emang manusia nggak tau diri ya, utang kemaren blom dibayar udah mau ngutang lagi 😒


 


 


Netizen: jadinya boleh apa nggak thor 🤔


 


 


Author: seterah lu, 😌 nyang penting minta dukungan dulu lah buat NG  sebanyak banyaknya. 😆


 


 


Buat yang gak ngeri mereka main permainan apa share di Internet ya, semoga puasanya masih lancar manteman. Salam haha hihi ini 2000 kata lebih, tulisan panjang disela kesibukan, mohon dihargai dengan meninggalkan komentar yang menyenangkan, next doang juga gue mah udah bahagia. 😌


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2