NOISY GIRL

NOISY GIRL
CEMBURU


__ADS_3

Karin merasa tidak suka saat di pesta itu dia melihat Ardi mengantarkan wanita lain pulang, dan ditambah lagi wanita itu malah menjadi anak magang baru di perusahaan abangnya, dan yang lebih lebih lebih menjengkelkan gadis itu, sang abang malah menyuruh wanita itu membantu sekretaris Hana mengurus keperluan pemuda itu, dan tentu saja mereka akan sering bersama kemana-mana. Dan Karin benar-benar cemburu.


 


 


"Kenapa sih lo?" Tanya Maya saat jam istirahat, mereka makan siang bersama. Melihat sahabatnya yang tampak lesu memainkan sedotan jus di gelas, dia jadi merasa curiga.


 


 


Karin menggeleng, "Nggak apa-apa, May."


 


 


Maya mengangguk-angguk, kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


 


 


"Eh, hubungan lo gimana sama Kak Heru, baik-baik aja kan?" Tanya Karin.


 


 


Maya terdiam sesaat, kemudian mengangguk, "baik sih, tapi sampe sekarang dia blom mau ngenalin gue sama keluarganya," ucapnya murung.


 


 


"Yang penting kan dia serius, mungkin belum siap aja kali dia ngenalin lo nya," ucap Karin mencoba menghibur.


 


 


"Dia juga nggak mau dikenalin sama keluarga gue, Rin, padahal kan gue juga pengen ngerasain, pacaran yang nggak ngumpet-ngumpet kaya bawa narkoba rasanya gimana si."


 


 


Karin jadi tertawa, "Gue aja, May, yang keluarganya udah pada kenal pacarannya masih ngumpet-ngumpet sama Bang Ar."


 


 


"Ya lo mah beda kasus, eh beneran tar malem lo mau ketemu sama tunangan lo itu?" Tanya Maya penasaran.


 


 


Karin mengangguk, "kata papi sih iya, tapi nggak tau juga, gimana entar aja lah."


 


 


"Kalo ganteng gimana, Rin, masih bisa setia nggak?" Goda Maya.


 


 


Karin tertawa pelan, "kalo jodoh, mau nolakpun bisa apa?"


 


 


"Huu!" Maya menyuraki sahabatnya. Katanya bucin, liat yang licin kepleset. "Gue putus nyambung mulu, Rin, sama Kak Heru," ucap maya curhat.


 


 


Karin yang semula sibuk dengan jus di hadapannya kemudian menoleh, "putus mah putus aja, May, ngapain disambung lagi," ucapnya.


 


 


"Emang lo sama Bang Ardi nggak putus nyambung?"


 


 


"Putus sih nggak, cuman nggak ada kabar aja kemaren."


 


 


Maya jadi berpikir, kemudian mengangguk, "susah Rin kalo pacaran beda keyakinan," ucapnya lirih.


 


 


Karin terdiam sejenak, "beda keyakinan gimana?"


 


 


"Ya beda keyakinan, guenya yakin dianya enggak."


 


 


"Yhaaa, melas lo May, ribet hidup lo." Karin meledek.


 


 


"Ya seribet-ribetnya ceplok telor, hidup lo lebih ribet daripada hidup gue, tunangan aja nggak tau gimana wujudnya," sindir Maya.


 


 


Karin tertawa pelan, "sialan," umpatnya, kemudian sedikit memberikan nasihat pada sahabatnya itu, "sederhananya gini, May. Seseorang nggak bakalan pergi kalo dia emang cinta, dan kalo emang dia pergi, itu tandanya dia nggak cinta."


 


 


"Kak Heru emang sering tiba-tiba ngilang, tapi tau-tau nongol lagi."


 


 


"Manusia emang kadang sering egois, datang karena sepi dan pergi ketika bosan, alasan paling sering diantara semua kalimat nggak cocok ya palingan, maaf ya, kamu terlalu baik."


 


 


"Susah ngomong sama penulis, semua kalimat jadi puitis."


 


 


Karin jadi tertawa, "bilangin sama Kak Heru, kalo cuman datang terus pergi lagi, tukang galon juga bisa, dikasih tisu pula."


 


 


"Eh gue nggak suka ya, kalo hubungan gue lagi anyep terus disindirin mulu." Maya pura-pura merajuk, kemudian membersihkan mulutnya dengan tisu dan beranjak berdiri.


 


 


Karin juga ikut berdiri, mereka memutuskan kembali ke ruangan, dan berdiri di depan lift karyawan, menunggu benda itu terbuka.


 


 


Gadis itu menoleh saat lift khusus orang-orang penting di sebelahnya terbuka. Dia melihat Ardi keluar dari sana, berdua dengan anak magang baru yang tadi pagi diperkenalkan oleh atasannya.


 


 


Pemuda itu sempat menoleh, bersamaan dengan Karin yang memilih masuk ke dalam lift yang terbuka, tatapan keduanya terhalang sekat pintu lift yang bergerak menutup.


 


 


***


"Kak Ardi mau pulang nggak? Pulang bareng yuk," ajak Alya untuk ke sekian kalinya, dan pemuda yang tampak sibuk dengan laptop di hadapannya itu tampak tidak peduli.


 


 


"Kalo kamu mau pulang, pulang aja nggak apa-apa." Ardi membalas tanpa menoleh.


 


 


"Tapi aku maunya pulang bareng Kak Ardi." Gadis bernama Alya itu merengek manja, tangannya ia letakkan pada pundak pemuda itu, menjadi anak magang istimewa karena sang papa adalah rekan bisnis yang menjanjikan, membuat gadis itu merasa berani melakukan apapun.


 


 


Ardi menghela napas, jiwa pencaci maki dalam dirinya mulai terusik, namun pesan sang abang seolah menjadi mantra untuk dirinya mampu meredakan gejolak emosi. Sabarin aja, dia anak orang penting, jangan sampai dia kecewa, jika kerja sama ini gagal, usaha kamu sia-sia. Begitu Justin bilang.

__ADS_1


 


 


"Kerjaan aku belum selesai Lia..., dan lagi jam pulang kantor itu masih sepuluh menit lagi."


 


 


"Tapi kan kamu bosnya, pulang jam berapapun yang larang nggak akan ada," rengek gadis itu lagi.


 


 


Ardi menghela napas, kemudian beranjak berdiri, "Yaudah ayo aku anterin kamu pulang, abis itu aku balik lagi ke sini," ucapnya mengalah dengan sedikit emosi.


 


 


Melihat pemuda di hadapannya yang mulai menunjukkan sifat dinginnya itu Alya jadi takut, gadis itu tertawa pelan dipaksakan, "nanti aja deh, tunggu kerjaan kamu selesai aja," ucapnya, kemudian bersandar pada meja di hadapan pemuda itu.


 


 


Ardi kembali duduk, "kamu bisa nggak jangan berdiri di situ," ucapnya tanpa melirik gadis di hadapannya.


 


 


"Kenapa? Kakak nggak bisa konsen ya?" Tanyanya dengan nada menggoda.


 


 


Ardi mengangguk, kemudian menoleh. "Ganggu," ketusnya.


 


 


Alya sedikit terlonjak, perlahan gadis itu mulai merasakan hawa-hawa dingin di sekitarnya.


 


 


Dia jadi teringat pesan seseorang, jangan diambil hati, dia kalo ngomong suka nggak pake filter, anggap aja itu suara kaleng jatoh, bikin kaget tapi nggak bermakna.


 


 


Alya menghela napas, duduk sedikit agak jauh dari pemuda itu, dan kemudian memikirkan sesuatu untuk memecah kecanggungan diantara mereka, dan salahnya dia terus bertanya tentang strategi perusahaan yang mungkin membuat pemuda itu pusing.


 


 


"Kamu nanya-nanya aku terus, kamu pikir aku Google," ucap Ardi, raut wajahnya tampak geram, Alya menciut di kursinya.


 


 


Ih, Alya jadi kesal sendiri, ternyata pemuda di hadapannya itu ketus sekali, padahalkan dia hanya bertanya, ya meskipun emang ganggu banget si, abis gimana dong, pada seseorang, dia berjanji untuk terus bertahan.


 


 


Alya menoleh saat Ardi tidak sengaja menjatuhkan pulpen ke bawah meja, dengan sigap gadis itu memungutnya, namun ternyata pemuda itu juga melakukan hal yang sama, nyaris bertubrukan dengan wajah tampan sang atasan, jantungnya berdebar-debar, siaaal.


 


 


Awas, kamu jangan sampe jatuh cinta, udah punya orang soalnya, nanti kamu sakit hati, inget aja kata-katanya yang nggak pernah manis, anggap aja muka dia emang sejelek itu.


 


 


Nggak jelek ini, gimana dong.


 


 


Suara pintu terbuka membuat Ardi mendongak, seorang gadis cantik berdiri di ambang pintu, dan raut wajah pemuda itu seketika berubah, Alya beranjak berdiri mengangkat alis, mencoba mengenali.


 


 


***


 


 


 


 


Dan saat Karin membuka pintu, dia malah melihat kekasihnya itu entah sedang apa berduaan di bawah meja, sialaaaan. "Maaf, Pak, ganggu," ucapnya menyindir.


 


 


Ardi yang sudah duduk di kursinya semula, kemudian berdehem, melirik pada Alya yang masih berdiri di sebelahnya. "Bisa tolong tinggalkan kami sebentar," pinta Ardi.


 


 


Alya menoleh, sedikit bingung, namun kemudian mengangguk.


 


 


Saat Alya si anak magang baru itu keluar ruangan, Karin meletakan berkas di tangannya ke atas meja, dan pemuda di hadapannya menangkap pergelangan tangan gadis itu, sesaat keduanya terdiam.


 


 


"Aku cuma disuruh nganterin berkas itu, Bang," ucap Karin, melepaskan genggaman tangan pemuda itu kemudian melangkah ke pintu.


 


 


"Dek," panggil Ardi, beranjak berdiri dan mengejar gadis itu.


 


 


Karin menoleh saat pintu yang sudah sedikit ia buka kemudian kembali ditutup oleh pemuda itu, kemudian dikunci.


"Aku mau pulang, Bang, " ucapnya lirih.


 


 


Ardi menghela napas, menarik Karin dan mendudukan di kursi putar depan meja kerjanya, "cemburu?" Tanyanya saat gadis itu menatap matanya.


 


 


Karin melengos, "Nggak," sangkalnya.


 


 


Ardi menarik kursi yang diduduki Karin hingga mendekat, kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya sedikit agak lama, dan gadis itu diam saja hingga dia melepaskannya.


 


 


"Kamu lagi hapus bekas ciuman orang lain?" Tanya Karin dingin.


 


 


Ardi mengangkat sebelah alis, kemudian tersenyum miring, "bekas siapa? Aku nggak  pernah cium siapa-siapa."


 


 


"Yang barusan apa?" Tanya Karin tenang, meski hatinya sedikit tidak senang.


 


 


Pemuda itu tertawa pelan, "kamu salah paham," ucapnya, kemudian menjelaskan saat mereka sama-sama mengambil benda yang jatuh di kolong meja. Hanya itu saja. "Canduku cuma buat kamu, Sayang."


 


 


Karin menghela napas, entah kenapa hari ini dia merasa sang abang sedikit berbeda. Gadis itu kemudian beranjak berdiri, "aku mau pulang, Bang," ucapnya.


 


 


Barusaja dia hendak melangkah pergi. Pemuda di sebelahnya itu menangkap lengannya.


 


 

__ADS_1


"Kenapa buru-buru?" Tanya Ardi setelah menegakkan tubuhnya, berdiri di hadapan gadis itu. "Mau ketemu sama tunangan kamu?"


 


 


Karin tertegun, sedikit mengernyit sakit saat genggaman pemuda itu semakin erat di lengannya. "Lepasin, Bang, tangan aku sakit."


 


 


"Kamu nggak boleh pergi, untuk sekali ini aku mohon, kamu jangan pergi." Ardi memutar tubuh gadis itu, dan menyandarkannya pada meja, lalu menjatuhkan ciuman bertubi-tubi yang malah membuat Karin kesal setengah mati.


 


 


Gadis itu memukul bahu sang abang, berharap cengkraman di tengkuknya itu dilepaskan, dan tak kunjung mendapatkan tanggapan, dia menarik kerah baju pemuda itu sembarangan.


 


 


Bersamaan dengan kancing baju yang hilang satu di dada pemuda itu, dasi yang terikat rapi pun tampak nyaris terlepas, sekuat tenaga gadis itu mendorong pemuda di hadapannya agar menjauh.


 


 


Karin mengatur napas, tidak seperti biasanya, ciuman sang abang tampak kasar dan menyakiti perasaannya. Tatapannya juga tidak terbaca, sedikit  berkabut dan membuatnya menjadi takut.


 


 


Ardi kembali mencondongkan kepala, dan dengan cepat gadis itu mendorongnya. "Ada kamar di ruangan ini, Dek, kamu mau?"


 


 


Kalimat itu berhasil membuat Karin mendaratkan tamparan di pipi pemuda di hadapannya, tidak sengaja, tapi kena, dan yang sakit malah hatinya sendiri, dia menangis. "Nggak gitu, Bang," ucapnya lirih, kemudian berlari pergi.


 


 


Untuk kali ini pemuda itu tidak mengejarnya, dia lebih sibuk membenahi perasaannya sendiri, padahal dia yang bilang akan mampu menahan patah hati sekali lagi, tapi nyatanya rasa cemburu itu tidak bisa ia hindari.


 


 


Iya, dia cemburu, cemburu pada seseorang yang bahkan gadis itu sendiri tidak tau.


 


 


***


Di luar ruangan Ardi, Alya tampak seru membicarakan bosnya itu dengan sekretaris Hanna. Gadis itu menanyakan seberapa lama wanita itu bekerja di kantor ini, dan seberapa betah dia bisa menghadapi sifat bos baru semacam Ardi.


 


 


"Pak Ardi itu baik kok, lucu lagi, nggak sekaku abangnya, tapi kalo dia nggak suka sama orang, level pedesnya bisa lebih tinggi dari Pak Justin." Hanna berbisik pada gadis itu.


 


 


Alya tampak mengangguk, kemudian mengerucutkan bibir sebal, memainkan pulpen yang tertutup di atas meja sekretaris itu." Tadi aku masa diomelin, Mbak, dibilang ganggu," adunya.


 


 


Hanna tertawa pelan," sabar aja Lia, dia emang orangnya gitu, tapi sebenernya nggak tegaan kok."


 


 


Alya kembali mengerucutkan bibir, belum sempat kembali berucap, suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh, gadis cantik yang tadi menemui atasannya itu keluar dengan penampilan yang sedikit berantakan, matanya tampak sembab, setelah mengangguk sekilas pada Hanna, gadis itu melangkah pergi.


 


 


Alya kembali mengingat-ingat, dia siapa yah? Sepertinya seseorang pernah menunjukan fotonya.


 


 


"Siapa sih, Mbak Hana?"


 


 


Hanna menoleh, sembari menyusun kertas entah apa di atas meja, wanita itu berucap lagi. "Namanya Karin, gosipnya sih dia ada hubungan sama Pak Ardi, tapi denger-denger juga, dia jadi adik angkat Pak Justin, nggak tau deh mana yang bener."


 


 


Alya mengangguk, Karin? Ah iya, dia ingat. Belum sempat gadis itu menyuarakan isi hatinya Hanna berucap lagi.


 


 


"Padahal dia anak orang kaya tau, bahkan denger-denger pewaris tunggal Larasati Hotel yang terkenal mahal itu."


 


 


Alya mengerjap ngeri, ilmu dengar-dengar ini nyatanya sulit untuk dihindari, dari mulai denger-denger dari sana, dari sini, pokoknya asal denger deh. Gadis itu jadi bingung, awalnya dia tidak ingin ikut mengghibah, tapi kok seru juga yah.


 


 


Gadis itu berlari-lari kecil ke arah pintu, menoleh kembali pada skrestraris atasannya yang mengepalkan tangannya memberikan semangat.


 


 


Dan saat dia mendapati Ardi masih berdiri di depan meja, gadis itu berniat masuk.


 


 


Ardi menolehkn kepala, tatapannya seperti ingin menelan siapa saja hidup-hidup, dari rambut baju dan dasi yang sedikit berantakan, Alya jadi kepo dengan apa yang barusan mereka lakukan. Tapi untuk sekarang ini lebih baik dia kabur dulu.


 


 


"Kenapa nggak jadi masuk, Lia?" Tanya Hanna.


 


 


Alya menggeleng, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, gadis itu beranjak menjauh.


 


 


"Halo?" Sapa seseorang di seberang ponselnya.


 


 


Alya sedikit mengecilkan suaranya saat berkata, "Kak Ardi serem banget kalo marah, aku takut, aku mau nyerah aja Mbak Nena."


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: etunggu tunggu, kok Mbak Nena thor???


 


 


Author: iya dia nelpon mbak Nena kali.


 


 


Netizen: kok pake kali? Etapi itu bahas nya nanti aja, aku lebih fokus sama Bang Ar yang nawarin kamar.


 


 


Author: terserah lu.



Kanjeng ribet: Riviewnya lama ya ini ak kirim mlm minggu ya, kalo lulus minggu, nanti votenya kumpulin dulu buat hari senen aja. Semangat.



Kanjeng rusuh: semangat ya mulungnya. Jangan lupa poinnya kumpulin buat hari senen aja. Kanjeng ribet udah bahagia bisa rengking dua 😘😘😘


Semangat ceritaku gak ada apa apanya tanpa dukungan poin dari kalian.


 

__ADS_1


 


__ADS_2