
Ardi pikir menghabiskan sisa liburan di rumah, dia akan bisa rebahan seharian di atas kasurnya, tapi ternyata.
"Aarr jagain anak gue!" Pagi-pagi sekali Nena sudah menerobos masuk kamar sang adik. "Bangun lo! Males banget udah siang juga," omelnya.
Ardi yang tidur tengkurap mengambil bantal dan menutupkan ke belakang kepalanya. Pura-pura mati akan jauh lebih baik dari pada meladeni sang kakak berdebat, bikin sakit kepala.
"Bangun buruan!" Nena menarik selimut sang adik, yang kemudian kembali ditarik oleh pemuda itu.
"Apa sih, Mbak. Gue lagi mimpi liburan lagi njiir. Ganggu banget ih."
"Liburan kemana lagi si, lo ditinggal diragunan aja ketuker sama penghuni sono, nyasar nggak bisa pulang."
Iya, Ardi memang pernah hilang di ragunan, terpisah dengan rombongan teman-teman Tk nya, tapikan sekarang udah gede njiiir. "Iya-iya, disuruh ngapain akunyaaa," ucapnya pasrah, mendudukkan diri dengan tatapan malas.
"Jagain anak gue," ucap Nena.
Ardi menggulingkan lagi tubuhnya ke atas kasur, "ogaaah!" Tolaknya.
"Yaudah lo nganterin ibu ke pasar sana." Nena memberi pilihan.
Ardi menggeleng, "Males, Mbak. Ibu kalo nawar gue yang malu."
Nena tertawa, "yaudah sana lo jagain anak gue."
Ardi terduduk, "si kembar tidur apa melek."
"Tidur."
Pemuda itu pun kemudian mengangguk, "yaudah, tapi ntar kalo bangun gimana. Nangis nggak dia."
"Ya lo bikinin susu, kan kemaren udah gue ajarin."
Ardi menuruni ranjang, melangkah malas keluar kamar dengan sang kakak yang mengikutinya di belakang. Saat pemuda itu melewati meja makan dia melihat Karin tengah menggigit rotinya untuk sarapan.
"Roti Karin abaang!" omel gadis itu saat Ardi merebut roti di tanganya yang baru ia gigit sekali.
"Tinggal bikin lagi, yaelaah."
Dengan kesal Karin mengambil roti tawar baru kemudian ia oleskan selai, gadis itu melirik pada Nena yang tampak memperhatikannya dengan seksama.
"Ngapa si, ngeliatinnya gitu amat?" Ardi yang bertanya, kemudian kembali menggigit roti di tangannya.
"Kalian berantem mulu, kok bisa pacaran si?"
Karin terdiam sesaat, "pacarannya buat referensi tulisan Karin, Mbak," ucapnya kemudan.
Ardi yang tersedak dan batuk-batuk mengambil air minum di hadapannya, bukan Karena pertanyaan sang kakak yang membut dia terkejut, tapi justru karena Jawaban kekasihnya.
Pemuda itu melirik sekilas pada gadis remaja yang duduk di sebelahnya, kemudian beralih pada sang kakak yang juga menatapnya. "Iya, yang di dapur juga buat referensi doang," ucapnya, kemudian melangkah pergi menuju kamar Nena untuk menemani si kembar.
Karin menoleh sekilas ke arah perginya sang abang, kemudian beralih menatap Nena yang bertanya.
"Referensi apaan?"
"Karin nulis novel, Mbak," ucap Karin.
Nena masih tidak mengerti, namun dia tidak ambil peduli, bersamaan dengan itu, sang ibu yang sudah tampak rapi mengajaknya buru-buru agar cepat sampai di pasar.
Ditinggalkan sendiri oleh kakak dan ibunya Karin jadi melamun, memikirkan Ardi yang tadi pergi begitu saja. Apa abangnya itu marah ya?
Di kamar Nena, Ardi yang tengkurap menopang dagu dan menghadap pada si kembar tampak menggerutu sendiri, "cih, referensi katanya," ucap pemuda itu kemudian menoleh saat mendapati ketukan dipintu.
Karin masuk dengan mengaitkan kedua tangan di balik tubuhnya, "Abang marah ya?" Tanyanya yang malah membuat Ardi melengos.
"Lo pikir aja sendiri."
Set kaya cewek, pikir Karin, mencebikkan bibirnya kemudian duduk di pinggir ranjang, memperhatikn si kembar yang tampak terlelap tidur. "Karin cuman ngindarin introgasinya Mbak Nena doang, Bang."
Ardi merubah posisinya jadi terduduk, mereka kini saling berhadapan. "sekalian aja lo jadiin gue bahan referensi buat bikin anak," ucapnya, menarik gadis itu untuk ia cium, dan Karin menahan wajahnya dengan telapak tangan.
"Buset istigfar, Bang." Karin jadi meloncat mundur, nyaris terjengkang dari ranjang king size milik mbaknya, tapi kemudian malah tertawa.
"Pake ketawa lagi." Ardi jadi mengomel, melipat lengannya di dada. "Sono-sono lo jauh-jauh dari gue," tambahnya lagi.
"Bener nih disuruh pergi, entar abang kangen loh sama Karin," goda gadis itu.
"Nggak bakalan." Tukas Ardi.
__ADS_1
Karin beranjak berdiri, "yaudah," ucapnya kemudian melangkah pergi
"Heh, anak setan."
Panggilan Ardi membut langkah gadis itu terhenti.
"Jagain nih anak tuyul, gue mau tidur." Ardi merebahkan dirinya dengan posisi terlentang, kemudian menutup mata.
Karin tertawa tanpa suara, menghampiri tempat tidur dan duduk menghadap si kembar. "Kamu dibilang anak tuyul, Dek," sindirnya, melirik pada sang abang yang tampak tidak peduli. "Tapi masih mending, aku malah dibilang anak setan," tambahnya.
Ardi tampak menahan senyum.
"Kita jadi keluarga dedemit di mata Bang Ar, Dek."
"Ngegibah jangan didepan orangnya woy!" Protes Ardi, menarik belakang kaus yang Karin kenakan hingga gadis itu merebahkan kepala di atas perutnya.
Karin tertawa minta ampun saat sang abang membekap hidungnya dengan telapak tangan hingga nyaris kehabisan napas. Sesaat kemudian pemuda itupun melepaskannya.
"Bang, Ar."
"Hn?"
"Minjem hp dong, Karin mau fotoin si kembar nih, lagi lucu banget," ucap Karin, duduk bersila mencolek pipi bayi mungil di hadapannya.
Ardi mengambil ponsel yang ia letakan di atas kasur, memberikannya pada gadis itu.
Karin mulai mengambil gambar mahluk kecil di hadapannya, saat terkumpul banyak, dia membuka galeri untuk melihat hasil jepretannya.
Satu folder bertuliskan 'jangan dibuka' membuat gadis itu menoleh pada abangnya yang tampak memejamkan mata. Dia dilema, buka jangan ya? Tapi kan jangan dibuka tulisannya. Tapi justru kalimat jangan dibukanya itu yang bikin dia penasaran.
Dan saat Karin memutuskan untuk membukanya dengan dalih menghilangkan rasa penasaran, dia mengerutkan dahi. Vidio? Gumamnya dalam hati, vidio apaan ya? Gadis itu semakin penasaran.
Dan suara berisik, mendesah teriak-teriak saat Karin memencet satu video membuat gadis itu membelalakkan mata, belum lagi saat melihat gambarnya.
Ardi yang terkejut reflek terbangun, merebut hpnya dan langsung ia matikan. Raut wajahnya berubah panik.
"Abaaang! Pantesan abang tuh mesum banget tontonannya kaya gitu." Karin mengomel, meskipun suara gadis itu dibuat pelan agar si kembar tidak bangun, tapi tetap saja pemuda di hadapannya itu sedikit kelabakan.
Karin terdiam, masih syok. "Abang koleksi film biru beneraaan." Karin kembali mengomel, dulu memang dia pernah menuduh abangnya seperti itu, tapi tidak menyangka jika sang abang benar-benar mengoleksinya.
"Nggak, itu punya orang. "
"Boong, Abang."
"Beneran." Ardi jadi tertawa melihat gadis di hadapannya yang terlihat pucat pasi. "Dia numpang nyimpen doang, tapi belum sempet dipindahin," ucapnya lagi.
"Punya siapa?" Tanya Karin.
Ardi sempat ragu untuk menjawab, merasa tidak enak. "Ipang," ucapnya.
Karin tampak tidak percaya, "abang pasti udah nonton ya?" Tuduhnya kemudian.
Sesaat Ardi terdiam, kemudian tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang membut Karin mengernyit keki.
"Setiap orang pasti pernah nonton vidio semacam itu."
"Karin nggak pernah," tukasnya.
"Mau?" Tawar Ardi.
"Emang boleh?"
Ardi jadi tertawa, "boleh kalo nontonnya sama gue."
Sesaat Karin berpikir, "oh, harus didampingi sama orang dewasa ya nontonnya?"
Ardi kembali tertawa, dia jadi berpikir, ini dirinya yang salah ngomong apa gadis itu yang salah tanggep ya, padahalkan niatnya cuma menggoda.
Ardi berdehem untuk meredakan tawa, "nggak boleh, Dek," ucapnya lembut, sedikit memberi pengertian tentang hal-hal yang tidak seharusnya dilakulan, terlepas orang itu sudah dewasa atau belum, salah tetap saja salah. "Besok juga gue hapus kalo udah dipindain sama Ipang."
"Bang Ipang buat apaan si?" Tanya Karin penasaran.
Ardi Mengangkat bahu, "mana gue tau," balasnya.
__ADS_1
Karin memicingkan mata, setengah tidak menyangka. "Seru kali ya, coba dong, Bang. Sekali aja deh, Karin pengen liat."
"Hah?"
Ardi terkejut saat gadis dihadapannya itu merebut hpnya.
"Eh, nggak boleh," tukas Ardi kembali merebut benda persegi miliknya itu.
"Karin penasaran, Bang. Satu aja ayo kita tonton bareng-bareng."
"Astaga anak setan, nggak boleh ya nggak boleh." Ardi jadi mengomel kesal, dan perdebatan mereka akhirnya membuat salah satu dari si kembar terbangun dan menangis.
"Yaah, tuh kan dia bangun, Abang si."
"Lo njiir, nyalahin gue lagi," omelnya, masih fokus dengan dua bayi di hadapannya yang kini sudah menangis semua. "Bikin susu sana," suruhnya pada Karin saat tangis si kembar semakin kuat.
Karin setengah berlari ke meja di pojok kamar mbaknya itu, dan meracik dua botol susu formula, dia memang pernah diajarkan oleh Nena sebelumnya.
Si kembar yang menolak minum susu membuat keduanya jadi panik. Dan Ardi menghubungi Nena dengan telepon vidio. Mbaknya itu menyuruh Ardi untuk mengarahkan vidio pada kedua putranya, dan wanita itupun memanggil-manggil nama sang anak, tapi tetap saja tidak bisa.
Dengan perlahan Karin mencoba menggendong yang satu, sedikit menggoyang-goyangkannya persis seperti yang sering mbaknya itu lakukan, dan bayi yang sudah berumur beberapa bulan pun akhirnya diam.
"Gendong, Bang. Tuh yang ini diem." Sulit membedakan yang mana Jino dan yang mana Nino membuat gadis itu memakai sebutan yang ini dan yang itu untuk membedakan keduanya.
"Gue nggak bisa," ucap Ardi yang jadi panik karena salah satu bayi di hadapannya tidak mau berhenti menangis.
"Yaudah, abang pegang yang ini." Karin meletakan bayi di tangannya pada gendongan sang abang yang masih duduk bersila, kemudian memberikan botol susu pada pemuda itu, dia sendiri memangku yang satunya dan mengambil botol susu yang lainnya.
Keduanya saling berhadapan dengan masing-masing dari si kembar di pangkuannya.
"Yang ini Jino apa Nino, Bang?" Tanya Karin menunjuk bayi di pangkuannya dengan dagu.
Ardi memperhatikan bayi di pangkuannya, kemudian beralih pada yang digendong oleh gadis di hadapannya.
"Nggak tau, mukanya sama," jawab Ardi, mereka pun kemudian tertawa.
***
Saat mulai masuk kuliah, dan selesai mengikuti kelas pertama, Ardi mengedarkan pandangannya di kantin kampus, mencari keberadaan Ipang yang sejak pagi belum juga menemuinya.
"Pindahin nih, folder lo dari hp gue." Ardi menempelkan benda persegi di tangannya pada dada Ipang yang duduk di pojok kantin.
"Udah buat lo aja."
Ardi berdecak, mengambil ponselnya dari tangan Ipang. "Muka alim kaya gue begini mah nggak pantes nyimpen vidio ginian njiir, malu-maluin aja," omelnya sembari membuka hp dan mulai menghapus vidio itu.
Ipang tertawa, "yaelaah nggak usah dihapus biarin buat hiburan," godanya.
"Setan!" Umpat Ardi, dan seorang teman yang memanggil namanya membuat ia menoleh.
"Ardi kan?" Tanya pemuda yang Ardi ingat masih satu jurusan.
"Iya, kenapa?"
"Ada yang nyariin lo di depan," ucapnya kemudian.
Setelah menepuk pundak Ipang, Ardi beranjak pergi, menghampiri seseorang yang katanya mencarinya.
Ardi mengerutkan dahi, saat seseorang yang ia kenal keluar dari mobilnya dan berdiri di hadapan pemuda itu.
"Kamu ada waktu kan?" Tanyanya. "Saya ingin bicara," tambahnya lagi. Setelah itu memberikan isyarat untuk Ardi masuk ke dalam mobilnya.
Ardi sesaat tertegun, untuk apa papinya Karin ini ingin mengajaknya berbicara? Pikirnya. Apa yang ingin dibicarakan?
Karin: boleh dong kalo aku nanya ini cerita maunya dibawa kemana.
Ardi: Semangat ya sayaang ngumpulin poinnya 😘😘😘😘 jangan lupa napas, entar mati loh.
__ADS_1