
Ardi memasangkan masker untuk menutupi mulut dan hidung istrinya, siang ini mereka akan keluar rumah untuk melihat apartemen yang dihadiahkan oleh sang abang.
"Yakin kita mau keluar sekarang?" Tanya Karin, perempuan itu sedikit sangsi, pasalnya keadaan di luar saat ini sedikit tidak aman.
Ardi mengenakan maskernya sendiri, meski mulutnya tampak tertutup, tapi senyum yang sampai di mata pria itu tidak mampu bersembunyi. "Nggak apa-apa kan pake mobil juga," ucapnya, kemudian membuka pintu kendaraannya untuk sang istri.
Isyu virus yang semakin meresahkan membuat jalanan ibu Kota mendadak lengang, mereka yang sudah terbiasa dengan kemacetan malah merasa asing. Karin menempelkan keningnya pada kaca mobil, entah kenapa dia rindu suasana sesak jalanan ibu kota, dia rindu dengan macet yang bahkan bisa menunggu abang tukang bakso meracik pesanannya.
Tidak ada kebisingan, juga klakson yang bersahut-sahutan meski tidak banyak berperan mengurai kemacetan, dan untuk siang ini jalanan tampak sepi. "Kapan ya, Bang virusnya bakal ilang," gumamnya.
Ardi yang sibuk dengan kemudi sekilas menolehkan kepala, lalu kembali menghadap jalan raya, "berdoa aja semoga sebelum bulan puasa virusnya udah nggak ada," ucap pria itu setelah menurunkan masker yang menutupi mulutnya.
Karin bersandar pada jok mobil, ikut menurunkan masker sampai ke dagu, "mana bentar lagi peresmian hotel baru, giman dong masa ditunda."
Ardi mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap kepala sang istri, "ditunda sebentar lagi nggak apa-apa, nanti mau berapa karangan bunganya."
Karin mencebik, "boro-boro mikirin karangan bunga, aku khawatir sama rencana Oma Rosita, dia pasti bakal melakukan sesuatu," ucapnya.
"Jangan soudzon dulu." Ardi berucap sembari membelokkan mobilnya memasuki parkiran gedung tinggi yang mereka tuju. "Siapa tau dia baik orangnya."
Karin menghela napas. "Semoga aja," ucapnya lirih, "biar Gimana pun juga kan Oma Rosita dan aku masih saudara," Imbuhnya dengan raut wajah yang terlihat murung.
Melihat itu Ardi jadi sedih, dunia orang kaya benar-benar mengerikan, berebut harta saja sampai bermusuhan. "Mau tau fakta nggak?" Tanyanya setelah mematikan mesin mobil.
Karin menoleh, "fakta apa?"
"Fakta bahwa saat kita tersenyum, ternyata kita nggak bisa napas." Ardi berucap seolah hal itu serius, dia mengangguk.
Karin mengerutkan dahi, kemudian menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk senyum, dia mencoba menghela napas, dan ternyata...." Bisa kok," ucapnya.
Dan suaminya itu malah tertawa, mengusap puncak kepalanya, "bercanda sayang, cuma pengen liat kamu senyum aja," ucapnya.
Dan hal itu mendapat tabokan di lengan, "ngeselin banget si, "omelnya, namun tersenyum lagi.
Ardi merapikan masker sang istri, menutupi sebagian wajah cantik perempuan itu sampai ke hidung. "Ayo kita turun," ajaknya.
Sebelum mengangguk, Karin juga memasangkan masker yang tersangkut di dagu sang suami. "Ayo."
Ardi tersenyum, menangkap kedua pipi sang istri kemudian menempelkan bibirnya yang masing-masing tertutup masker. "Nggak berasa," ucapnya setelah memundurkan kepala.
Karin jadi tertawa. "Abang ih."
***
Keduanya masuk ke dalam apartemen yang ternyata sudah lengkap dengan barang-barang yang terlihat baru, abangnya itu memberikan hunian beserta isinya.
"Gimana? Kamu suka?" Ardi bertanya.
Karin yang masih merasa takjub dengan dekorasi juga barang-barang mewah yang masih terbungkus plastik itu kemudian tersenyum, menyingkirkan masker dari wajah kemudian menoleh pada pria di sebelahnya untuk mengangguk, "suka banget, Bang," jawabnya, binar bahagia terpancar dari sorot mata perempuan itu.
Ardi merangkulkan lengannya di pundak sang istri, "coba kita liat kamarnya di atas," ucapnya.
__ADS_1
Karin menyikut suaminya kesal, "kita baru nyampe ya, Bang," omelnya.
Pria yang sempat mengaduh dan mengusap perutnya sendiri itu jadi tertawa, "beneran, Dek, penasaran abang sama kamarnya. Kenapa kamu mikirnya ke situ si."
Karin mecebik, melangkah lebih dulu ke Arah tangga kemudian menaikinya. "Ayo katanya mau liat," ucapnya.
Ardi yang tersenyum kemudian menyusul. Keduanya masuk ke dalam kamar yang ukurannya begitu luas, sudah lengkap dengan barang-barang juga di sana, pria itu menoleh pada sang istri, melihat perempuan itu menyibak hordeng yang ternyata di baliknya terdapat kaca besar yang tembus pandang hingga keluar, pemandangan ibu kota dapat terlihat dari sana.
Karin mendekati dinding kaca. Menyentuh permukaannya, "kalo malem aku yakin pemandangannya pasti lebih indah," ucapnya. Kemudian menoleh.
Sang suami yang mengangguk lalu mendekat, memeluk istrinya dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di pinggang perempuan itu. "Apalagi kalo liatnya sama kamu," godanya.
Karin mencebikkan bibir, mendongak untuk mencari wajah suaminya, "jadi kita tinggal di sini?" Tanyanya.
Ardi mengangguk, menempelkan dagunya pada puncak kepala sang istri, menatap lurus pemandangan di hadapan mereka. "Kamu siap kan tinggal berdua sama aku?" Tanyanya, "kita mulai dari awal."
"Tapi aku nggak Pinter masak loh, Bang. Nanti kalo kamu kelaparan gimana?" Karin bertanya khawatir.
Namun suaminya itu malah tertawa, kemudian membalikkan tubuhnya untuk saling berhadapan. "Nggak akan, Dek," ucapnya.
Karin tersenyum, dan sedikit memundurkan kepala saat pria di hadapannya mencondongkan wajahnya. "Masih siang, Bang."
"Sekali aja, Dek," bujuk pria itu.
Dan Karin hanya bisa merapatkan kelopak matanya saat sang suami mulai menciumi ceruk lehernya, hingga panggilan masuk di ponsel pria itu membuat kegiatan mereka terjeda.
Karin melihat suaminya tampak mendengarkan entah apa yang disampaikan lawan bicaranya di balik telepon, sesaat kemudian pria itu melirikkan matanya pada Karin yang mengerutkan dahi, Ardi kembali melanjutkan obrolannya.
"Kita ke rumah ibu." Ardi berucap sembari memasangkan maskernya kembali.
Karin yang kebingungan kemudian bertanya kenapa, namun suaminya itu tidak banyak menjelaskan apa-apa, hanya berkata bahwa ibu merindukan mereka, itu saja. Suatu hal yang tiba-tiba tentu selalu mendatangkan rasa curiga, namun Karin memilih untuk diam saja.
Sesampainya di rumah sang ibu ternyata sudah ada William di ruang tamu, tampak seru mengobrol dengan Justin.
"Tante Ariiin." Jino berlari memeluk tantenya yang baru datang. Perempuan itu berjongkok dan menurunkan masker di mulutnya.
"Jino apa kabar, ante kangen banget." Karin mencubit pipi bocah di hadapannya dengan gemas.
Jino mengangguk, "aku udah nggak sekolah, Tan, sekolahnya lewat hape," ucapnya bercerita.
Karin tersenyum, bersamaan dengan itu satu anak lelaki yang berwajah mirip dengan anak di hadapannya itu tampak terkejut.
"Tante!" Nino berlari, namun yang menyambut pelukannya malah Ardi, bocah itu bersidekap saat sang om menggendongnya sambil berdiri.
"Om kangen banget sama kamu, Nino Nakula." Ardi tersenyum mengancam.
"Turunin aku, Om." Nino yang masih bersidekap memberikan tatapan tajam.
William berdiri, "Hay-Hay pengantin baru, bagaimana kabar kalian," sapanya.
__ADS_1
"Bang Bule kelamaan di luar Negri nih, aku jadi jarang liat." Karin menyambut abang angkatnya dan menyalami tangan pria bule itu.
William tertawa, "aku hampir-hampir tidak diterima msuk ke negara ini lagi," ucapnya setengah bercanda.
"Jangan pergi-pergi dulu, Bang. Keadaan lagi nggak aman." Karin tersenyum prihatin. Dan pria di hadapannya itu tampak mengangguk.
Justin ikut berdiri memasukkan kedua tangannya pada saku celana, menoleh pada Ardi yang juga melirik ke arahnya. "Karin, kamu bisa tolong ajak Jino dan Nino ke kamarnya dulu," pinta pria itu.
Sesaat Karin tertegun, jika dulu hal itu tidak membutnya merasa curiga, tapi kali ini tentu berbeda, dia sudah dewasa, dan dia berhak ikut tau dengan apa yang akan mereka bahas jika itu menyangkut dirinya.
Namun perempuan itu memilih menurut saja, mengantar si kembar ke kamarnya.
Justin mengajak adiknya untuk duduk, sedikit berbasa-basi, sebelum akhirnya membahas tentang peresmian hotel baru istri dari adiknya itu.
"Untuk sekarang ini banyak toko bunga yang tutup, dan setiap toko yang buka mereka selalu menolak jika mendapat pesanan untuk Larasati hotel, kurasa ada yang sengaja menyuap mereka." Justin mulai membahas inti permasalahan.
"Bukannya peresmian hotel Karin itu masih satu minggu lagi?" Tanya William.
"Sepertinya akan diundur, sekarang ini masyarakat dihimbau untuk menghindari keramaian, bagaimana mereka bisa mengadakan pertemuan." Justin menanggapi.
Ardi tertegun, mengusap dagunya gusar, memikirkan kira-kira siapa dalang di balik penolakan pesanan karangan bunga ucapan selamat untuk pembukaan hotel sang istri. "Karin harus tau tentang hal ini," ucapnya.
Justin menggeleng, "apa tidak akan menjadi beban jika mungkin dia tau? Dia tentu akan sedih."
William menghela napas, entah kenapa pria bule itu ikut prihatin, ya bagaimanapun juga dia ikut menaruh saham di sana. "Tidak mungkin juga kita meminta pesanan dari luar Negri, untuk sekarang ini apapun dibatasi."
Sesaat ruang keluarga itu berubah hening, sebenarnya masalah ini tidak terlalu besar, tanpa karangan bunga pun mungkin peresmian tetap bisa dijalankan, atau tinggal mencari dalang di balik penyuapan itu lalu selesai. Yang membuat mereka resah, akankah pembukaan hotel baru itu akan berjalan dengan semestinya.
Penting: ini aku boleh minta tolong nggak, noisy girl dibikinin grup chat baru dan dalam satu bulan aku harus sampai target kumpulin 1500 member. Aku minta tolong sama kalian buat masuk grup chat aku. Kalo nanti bisa mencapai target, noisy girl bakal ditaro di banner halaman depan noveltoon. Tolong bantu noisy girl ya teman teman.
***iklan***
Author: Duh pusing aing nyusun konflik, kalo ada yang merasa janggal dan nggak masuk akal, boleh lah tulis di kolom komentar ntar aku edit. 😌
Netizen: ngapa virusnya dibahas mulu sih thor. 😒
Author: biar waspada aja, yang penting konfliknya bukan mati karena corona.
Dan buat komentar kemaren aku ketawa ketawa bacanya, ternyata banyak yang orang kaya nggak tau ya. 😂
Netizen: dan apa yg orang kaya gak tau, gue ngalamin semua, termasuk gunting odol biar bisa sikat gigi pake bekasan yang nempel, berarti gue bukan orang kaya dong ya. 🙄
Author: 🤣🤣🤣
Jangan lupa vote dan komen nextnya ya. Makasih buat kalian yang udah setia.
__ADS_1