
"Kerja?" Respon Ipang atas ucapan Ardi saat mereka berkumpul di Cafe tempat Agung bekerja paruh waktu.
Pemuda itu memang bekerja sepulang kuliah untuk tambahan uang saku, sebenarnya pemilik cafe ini masih kerabat dekat, untuk itu Agung bisa saja izin tidak masuk sewaktu-waktu jika banyak tugas kuliah.
Berbeda dengan Ipang yang memang anak orang kaya, sayangnya keluarganya yang tidak lengkap karena kepergian sang mama dengan suami barunya membuat pemuda itu tidak betah di rumah karena pasti tidak ada siapa-siapa.
Sore itu, pengunjung yang tidak terlalu ramai membuat Agung bisa ikut bergabung setelah mengantarkan pesanan teman-temannya. "Kerja apaan," Tanya pemuda itu. "Abang lo kan udah kaya, ngapain kerja," imbuhnya kemudian.
"Gue juga nggak tau sih kerja apaan," ucap Ardi mengambil kentang goreng dan memasukkan ke dalam mulut setelah ia colekkan pada saus sambal terlebih dahulu. "Nggak enak gue minta duit sama abang gue mulu," tambahnya.
"Lo kerja di kantor abang Lo aja mendingan," usul Ipang.
"Kerja apaan?"
"Apaan kek, jadi ob gitu," ucap Ipang ngasal, yang membuat Agung tertawa.
"Set dah, jadi Kang palkir aja sekalian gue." Ardi jadi sewot.
Ipang mencondongkan tubuhnya, menyetel suara pelan mode ghibah yang membuat kedua temannya melakukan hal yang sama. "Emang beneran si Karin se kaya itu?" Tanya nya tidak percaya, Larasati hotel dia tau, hotel berbintang yang pemiliknya adalah rekan sang papa. "Beruntung dong lo, Ar."
Ardi berdecak, kembali menegakkan tubuhnya. "Beruntung apaan, bapaknya galak banget kaya setan."
"Makanya lo tuh jangan suka manggil si Karin anak setan mulu, beneran anak setan kan tuh jadinya." Agung mengingatkan.
Ipang tertawa, bersamaan Dengan itu Edo dan Nadia yang baru saja datang duduk di antara mereka.
"Hay! Lagi ngomongin apa nih?" Sapa Nadia ramah, kemudian duduk di sebelah Edo.
"Ini, Si Ardi nyari kerjaan katanya." Ipang menjawab yang kemudian mendapat pelototan dari sahabatnya.
"Lo nyari kerja, Ar? Abang lo bangkrut emang," celetuk Edo yang mendapat sikutan dari kekasihnya.
"Amit-amit dah," ucap Ardi, "nggak, gue kebanyakan nganggur aja di rumah," tambahnya memberi alasan.
Setelah memesan minuman pada Agung, Nadia kembali memusatkan perhatiannya pada mantan sekaligus sahabat kekasihnya itu. "Lo kerja aja di restoran keluarganya Mita, lagi nyari karyawan tuh."
Ardi tersenyum kecut, "Masa iya gue kerja di sana," protes nya.
"Eh iya, jangan deh entar clbk lagi sama sepupu gue," canda Nadia.
Edo jadi tertawa. "Lo mau kerja emangnya boleh sama abang lo?" Tanyanya.
Ardi mengangkat bahu, "kayaknya sih nggak bakalan boleh," ucapnya kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. "Gue cabut ya, mau jemput Karin."
__ADS_1
"Ok, sekalian nanti ajak aja kesini," usul Ipang.
"Ngapain amat, mendingan gue balik, rebahan di rumah." Ardi yang selesai menyalami temannya satu-satu termasuk Agung yang sudah kembali ikut bergabung, kemudian beranjak pergi.
"Jiwa rebahan kaya gitu ngakunya pengen kerja." Agung menggelengkan kepala.
"Taau," balas Ipang, "palingan jadi kang pijet dia."
"Pijet plus ya," sambung Edo yang mendapat teguran dari kekasihnya.
"Gue masih denger sialaan!" Ardi yang memang belum terlalu jauh, berbalik hanya untuk mengacungkan telunjuknya, mengancam.
Namun kemudian melangkah lagi, meninggalkan teman-temannya yang mungkin menjadikan dirinya sebagai bahan ghibah selanjutnya.
***
Seperti biasa, Ardi duduk di atas jok motornya, menunggu Karin yang katanya sudah bersiap pulang. Jadwal ekskul disekolahnya membuat gadis itu pulang lebih lama dari biasanya.
Ardi membalas lambaian tangan gadis berponi yang baru keluar dari gerbang sekolah, tersenyum merekah, cantik seperti biasanya.
Posisi pemuda itu saat ini berada di seberang jalan, niatnya sebelum pulang dia ingin mengajak Karin makan dulu di kantin biru, gadis itu pasti lapar.
Ada dua kemungkinan yang mereka bisa lakukan saat ini, dia yang menghampiri gadis itu atau gadis itu sendiri yang melangkah ke arahnya, tapi lalu lalang kendaraan yang seolah tidak ada hentinya membuat Ardi semakin gusar. Sekali lagi dia merasa, kini di antara mereka mulai ada sekat yang membuatnya sulit untuk mendekat.
Satu mobil hitam yang cukup tinggi berhenti di seberang jalan, hal itu membuat Ardi tidak bisa melihat keberadaan Karin, dan saat mobil besar itu beranjak pergi, pemuda itu mengerutkan dahi karena tidak mendapati keberadaan Karin di tempatnya tadi berdiri.
Ardi menoleh ke arah mobil yang belum jauh, tampak gadis itu meronta-ronta di dalam kendaraan roda empat itu, yang akan membawanya entah kemana.
Ardi yang sempat terkejut langsung menaiki motor, tancap gas tanpa mengenakan pelindung kepala seperti
biasanya, pemuda itu mengikuti arah mobil yang ternyata memasuki halaman rumah yang ia kenali.
Namun bukannya lega, Ardi malah semakin cemas dibuatnya. Karena ternyata, Karin diculik oleh ayah kandungnya sendiri.
***
"Bang, ayo dong lakuin sesuatu." Ardi terus mengekori abangnya saat pria itu menuang air putih ke dalam gelas.
Sudah hampir empat kali adiknya itu merengek agar dia bisa melakukan sesuatu.
Sejak cerita Ardi yang pertama, ketika sampai di dalam ruangan kerjanya, Justin samasekali tidak terkejut dengan kabar yang pemuda itu bawa, dia sudah bisa menduga, karena sebelumnya juga Hendrik sudah menemuinya dan memberikan ancaman.
__ADS_1
Justin menyandarkan tubuhnya di meja pantri, yang ada di dalam ruangan kerjanya, menghadap sang adik yang raut wajahnya begitu kusut. "Biar bagaimanapun juga, dia adalah ayah kandung Karin, masih wali gadis itu, kamu pikir kita bisa melakukan apa?" Tanya Justin, setelah meminum air dalam gelas di tangannya, kemudian ia letakan ke atas meja.
Ardi terdiam, yang abangnya bicarakan itu memang benar, dia yang merasa tidak lagi bisa berbuat apa-apa terduduk lemas di sofa yang berada di tempat itu. Raut wajahnya begitu gusar, dan hal itu tidak luput dari pengamatan sang abang yang kemudian menghampirinya dan duduk di sofa tunggal menghadap pemuda itu.
"Kamu peduli sekali," ucap Justin yang membuat Ardi sontak mendongak saat sebelumnya menunduk sibuk dengan hpnya.
"Wajar saja aku peduli, dia kan adik kesayangan abang, tapi sekarang abang malah seolah nggak peduli," balas Ardi berani, baru kali ini dia membalikkan omongan sang abang.
Mungkin karena rasa khawatirnya pada gadis itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih dalam memilih kata-kata.
Justin tersenyum kecil,"kesayangan saya atau kesayangan kamu?" Tanyanya yang membuat sang adik menoleh, namun kemudian menunduk lagi. "Hendrik bilang kamu sudah kurang ajar, dia mengadukan keberanian kamu menantang pria itu tempo hari."
Ardi menelan ludah, tidak sama sekali menyangka pria itu akan mengadukan dirinya pada sang abang, "dia ngajakin aku kerja sama, biar Karin mau pulang ke rumahnya."
Justin yang terlihat tenang kemudian mengangguk kecil, "saya tidak menyangka kamu bisa membuat seorang Hendrik murka," ucapnya, namun kemudian tertawa. "Tapi saya suka."
Ardi terdiam, hal itu tentu saja bukan sesuatu yang patut dia banggakan, membuat calon mertua murka? Semakin sulit saja jalan untuk hubungannya dengan Karin bisa baik-baik saja.
"Sebagai adik saya, kamu tidak pantas mendapatkan penghinaan semacam itu, kamu harus membuktikan omonganmu pada Hendrik, bagaimanapun caranya."
"Bagaimana caranya?" Dengan lesu Ardi bertanya.
Justin sesaat terdiam, kemudian mengambil laptop di atas meja dan membukanya. "Saya sudah tau ini dari Nena lumayan lama, hanya saja saya ingin mencari waktu yang tepat untuk bertanya." Justin memutar laptop menghadap sang adik yang masih menunduk, "ini maksudnya apa?" Tanya nya kemudian.
Ardi mendongak, mengarahkan pandangan pada benda di hadapannya yang menampakkan sebuah vidio. Vidio dirinya dengan Karin pagi itu tengah sarapan.
Pemuda itu memejamkan mata sejenak, kemudian membuang muka. Dia malu, tapi dalam situasi seperti ini, belum saatnya untuk membahas hal itu.
"Terkadang manusia selalu dihadapkan dengan dua kenyataan, yang dua-duanya cukup sulit untuk dijadikan pilihan. Dan saya mau kamu memilih." Justin menggantungkan kalimatnya, menunggu respon dari sang adik yang sedari tadi diam saja.
"Pilihan apa?" Tanya Ardi, meski tidak siap, tapi ia bisa menduga, hal apa yang akan dibahas oleh abang nya.
Justin mengangguk kecil, "kamu harus pilih, kuliah kamu atau Karin," ucapnya.
Sesaat Ardi tertegun, tidak bisakah dia memilih keduanya. Dan ucapan sang abang berikutnya benar-benar membuat ia merasa dilema.
"Kamu mau kuliah ditempat pilihan saya, dan Karin akan kembali ke rumah, atau kamu tetap kuliah di sini dan gadis itu juga tetap tinggal dengan papinya, bagaimana? Kalian masih sama-sama belum dewasa, dan di antara kalian, saya tidak ingin terjadi apa-apa."
Kanjeng Rusuh: Mungkin aku pernah melakukan dosa tertentu, yang hanya bisa terhapus dengan cara berpisah denganmu dulu, miss you sayaang 😘😘
Author:Belom woy, et dah LeBaY 😒😑
Netizen: hajar thoorr... 😂
__ADS_1
Kanjeng ribet: poinnya kumpulin buat hari senin ya sayy diusahain update lagi deh 😘😘