NOISY GIRL

NOISY GIRL
PEMILIK HATI


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu semenjak sang abang menemuinya dan membuat hari-hari gadis itu jadi berantakan, tidak ada sama sekali perasaannya memudar terhadap pemuda itu meskipun dirinya sudah dijodohkan dengan orang  lain oleh sang papi. Namun tetap saja, dia harus berusaha untuk terus melupakan pemuda itu.


 


 


"Jadinya si Hesti magang di mana, May?" Tanya Karin, saat ini mereka tengah berada di salah satu kantin di kantor tempat dirinya juga Maya mendapat tugas kuliah untuk observasi di perusahaan yang terbilang baru itu.


 


 


"Nggak tau gue," ucap Maya sembari menuangkan kecap pada bubur ayam pesanannya, sebagai anak magang ternyata mereka datang kepagian. "Denger-denger sih nama perusahaannya PT maju mundur," imbuhnya kemudian.


 


 


Karin jadi tertawa, "plin plan tuh perusahaan, mau maju-maju, mundur-mundur, ngapa jadi maju mundur si."


 


 


"Mana gue tau," jawab Maya dengan mengangkat bahu. "Eh, Rin ajarin gue bela diri dong, biar bisa berantem kaya lo," ucapnya, menoleh pada sahabatnya yang tampak sibuk dengan ponselnya, gadis itu menolak sarapan karena merasa tidak lapar.


 


 


"Bisa berantem mah nggak harus bela diri, omongan lo aja pedesin, ntar juga bisa berantem," ucap Karin enteng.


 


 


Maya berdecak kesal, "Nggak gitu maksudnya dooong."


 


 


Karin tertawa, "iya udah lo ikut kelas taekwondo aja, gue sih udah nggak ikutan."


 


 


"Lah kenapa?" Maya penasaran.


 


 


Karin meminum air di gelasnya, gadis itu menggeleng, "Nggak apa-apa."


 


 


Maya menghela napas, menghembuskannya kasar, "penting banget, Rin, bisa bela diri biar nggak jadi korban pelecehan mulu," ucapnya.


 


 


"Emang lo pernah dilecehin?"


 


 


"Ya bukan gue, tapi banyak kaum wanita di luar sana yang mengalaminya," ucap Maya, kembali mengingat berita di tv yang baru-baru ini cukup meresahkan. "Kenapa kebanyakan korban itu perempuan ya?"


 


 


"Ya karena mereka taunya perempuan itu lemah."


 


 


"Nggak tau aja mereka, padahal obat kuat diciptakan untuk menghadapi perempuan."


 


 


Karin kembali tertawa, "yaelah, bahasa lo May, bapak lo nonton May!"


 


 


"Ih apaan si nggak nyambung lo." Maya jadi kesal sendiri, bersamaan dengan itu dua orang gadis yang terlihat seumuran dengannya tampak mengobrol seru dan duduk di meja sebelah mereka.


 


 


"Gila atasan gue ganteng banget," ucap salah satu gadis berambut panjang yang dikuncir kuda. Sekilas Karin menoleh, namun kemudian fokus lagi pada ponselnya.


 


 


"Denger-denger Jomblo tau dia, siap tebar pesona dong, siapa tau kecantol," balas temannya.


 


 


"Namanya siapa si?"


 


 


"Ar... eh, siapa ya, gue lupa, ya pokoknya ganteng banget lah, anak-anak aja kalo lagi ngomongin dia nyebutnya Pak Ganteng, abisnya masih muda banget sih."


 


 


Karin menoleh saat gadis di sebelahnya memberikan sikutan di bagian lengan, "Kenapa sih, May?" Tanyanya sedikit sewot.


 


 


"Atasan yang mereka omongin, sama nggak ya sama orang yang bakal jadi atasan kita?" Tanya Maya saat kedu orang wanita yang mengobrol seru tadi telah pergi.


 


 


Karin mengangkat bahu. "Mana gue tau, tapi setau gue sih biasanya orangnya udah tua," tebak Karin.


 


 


"Jangan dong," keluh Maya.


 


 


"Perutnya buncit."


 


 


"Yaelah, Riin."


 

__ADS_1


 


"Palanya botak."


 


 


"Kariiin, gue mengundurkan diri aja kalo gitu dah."


 


 


Karin jadi tertawa, Maya adalah satu-satunya orang yang bisa membuat dia lupa akan masalahnya.


 


 


***


 


 


Menjadi anak magang memang sama persis seperti yang Karin ceritakan dalam kisah novelnya sebagai Kanjeng ribet, selalu ditindas dan disuruh-suruh, gadis itu sedikit menyesal karena menolak sarapan pagi tadi, dan saat ini ketika energinya mulai terkuras, dia malah belum dapat jatah istirahat.


 


 


Dan entah kenapa semua yang ia temui di kantor ini mendadak jadi antagonis, namun berubah manis saat atasan mereka kemudian melewatinya.


 


 


Apa dunia kerja memang seperti itu, tau begini dia mending nulis aja. Karin menjatuhkan kepalanya di atas meja, "mamiii," keluhnya.


 


 


"Oy, kenapa lo?" Maya melongok dari mejanya. "Capek ya, gue juga, dari tadi bolak-balik foto kopi," keluhnya mulai bercerita.


 


 


Karin mengangkat kepala, menopang dagu dan mengarahkan pandangan pada sahabatnya itu. "Orang-orang di sini kenapa si, pada sensi banget kayaknya, masa gue naik lift aja nggak boleh, katanya ngantri, kelamaan."


 


 


Maya mengangguk setuju, "bener Rin, ob di sini juga julid banget, masa tadi gue nginjek keset aja diomelin, lah keset kan emang buat diinjek ya, kalo gak boleh mending sangkutin aja jadi hordeng," sungutnya sebal sendiri.


 


 


Karin menghela napas, "Ya apalah arti hitam putih, May, untung besok kita disuruh pake baju bebas aja."


 


 


"Karin!" Panggil seorang senior wanita yang membuat gadis itu sedikit terlonjak, kemudian menoleh.


 


 


Maya yang pura-pura sibuk dengan kertas entah apa yang bertumpuk di atas meja kemudian tersenyum pada gadis itu. Memberikan semangat.


 


 


Karin berdiri, menghampiri seniornya yang selalu terlihat rapi, "iya, Buk," ucapnya.


 


 


 


 


Karin mengangguk, belum sempat berucap mengiyakan, seseorang kembali memanggil namanya.


 


 


"Karina, Karina, ada yang namanya Karina nggak?" Tanya wanita yang sepertinya juga cukup senior di kantor ini.


 


 


"Ngapain? Dia mau aku suruh foto kopi," ucap gadis berkacamata.


 


 


"Dipanggil atasan. Suruh ke ruangannya."


 


 


Karin sedikit heran saat semua orang di sana kemudian jadi diam, pasalnya baru kali ini karyawan biasa dipanggil ke ruangan Pak Bos, magang pula.


 


 


"Suruh ngapain?" Tanya gadis berkacamata lagi, tampaknya hal itu benar-benar tidak bisa ia percaya.


 


 


"Mana saya tau, suruh bikin kopi kali, bentar lagi Pak Direktur utama sama wakilnya mau dateng kan."


 


 


"Ah, kalo bikin kopi, Mah, aku juga bisa, dia sibuk soalnya," ucap gadis di hadapan Karin itu dengan merapikan rambutnya.


 


 


"Lusi, yang dipanggil itu Karin anak magang, bukan kamu," ucap wanita yang Karin ketahui adalah atasan gadis bernama Lusi itu.


 


 


Karin tidak menanggapi saat gadis itu dengan kesal mengambil kembali kertas di tangan Karin, kemudian pergi.


 


 


"Ruangannya ada di lantai atas, buruan ke sana."


 


 


Karin mengangguk, segera bergegas menuju ruangan atasannya itu, dan saat dia sampai di depan pintu, gadis itu mendapati seorang wanita yang mungkin sekretaris atasannya kemudian menyapa.


 

__ADS_1


 


Seolah tau. Wanita itu menyuruh nya untuk langsung masuk. Karin memilih mengetuk pintu terlebih dahulu, kemudian membukanya dan sedikit mencondongkan kepala. "Misi, Bapak manggil saya?" Tanyanya pada seseorang yang tampak sibuk pada hp di telinga sembari merapikan sesuatu di rak dan memunggunginya.


 


 


Karin menutup pintu, kemudian melangkah lebih dekat, tidak ingin mengganggu, gadis itu memilih untuk diam saja.


 


 


Tatapannya lurus pada punggung si bos yang seperti dia kenal, namun alih-alih memikirkan  hal itu yang dikepalanya malah hanya seputar informasi tentang si bos yang ternyata masih muda, dia akan menceritakannya pada Maya.


 


 


Karin sedikit terlonjak saat pria yang masih muda seperti dugaannya itu kemudian berbalik, namun yang tidak dapat ia duga ternyata pria itu.


 


 


"Bang Ar," pekik Karin, detak jantungnya tiba-tiba menggebu, tanpa dapat dipungkiri, gadis itu benar-benar rindu.


 


 


"Hay," sapa Ardi, meletakan ponsel di tangannya ke atas meja, kemudian melangkah  untuk menghampiri gadis itu. "Apa kabar, Dek?" Tanyanya saat jarak mereka kian dekat.


 


 


Karin memundurkan langkahnya, "baik, Bang, eh, Pak," ralat gadis itu sedikit  gugup.


 


 


Ardi tertawa pelan, "kamu kaya sama siapa aja, Dek," ucapnya.


 


 


Karin memberanikan diri untuk sedikit mendongak, sebenarnya bertemu dengan pemuda itu dia masih merasa belum siap, perasaannya yang beberapa bulan lalu sempat ia hapuskan nyatanya kembali muncul hanya Karena sekali lihat. Gadis itu kembali akan menorehkan luka untuk hatinya sendiri.


 


 


"Kan di sini abang atasan aku," ucap Karin.


 


 


Ardi mengacak rambut gadis di hadapannya sekilas, "biasa aja, Dek. Ini masih abang kamu yang sama," ucapnya.


 


 


Karin sedikit tersenyum, kemudian mengangguk canggung, belum sempat ia bertanya untuk apa dirinya dipanggil menemui pemuda itu, dia malah sedikit tetlonjak dan kembali mundur satu langkah saat kepala sang abang sedikit dicondongkan pada wajahnya. Sepertinya dia sedikit melamun barusan.


 


 


"Kangen candu abang, Dek."


 


 


Ungkapan itu membuat Karin rrflek merapatkan bibirnya, sedikit mengernyit saat rasa hangat menjalar di seluruh dadanya. "A, aku udah jadi milik orang, Bang," ucapnya dengan sedikit membuang muka.


 


 


Ardi tertawa pelan, menyadarkan tubuhnya pada meja di hadapan gadis itu, kemudian melipat lengannya di depan dada. "Kaya apa sih, tunangan kamu, coba kenalin sama abang, gantengan mana," godanya percaya diri, mengabaikan kenyataan bahwa karena hal ini isi kamarnya harus diganti.


 


 


Karin menoleh, tatapannya tampak ragu, "aku juga nggak tau, Bang," jawabnya jujur, dia memang tidak tau siapa tunangannya itu, sang papi dulu hanya memberikan cincin sebagai tanda pengikat, yang ditukar dengan kebebasan sang mami.


 


 


Ardi tertawa lagi, "Nggak jelas banget si, Dek, kamu kaya beli kucing dalam karung, kalo ternyata itu kucing belang tiga gimana?"


 


 


"Asal jangan buaya aja isinya, Bang," balas Karin mencoba bercanda, sepertinya tidak lucu namun tetap saja, pemuda di hadapannya malah kembali tertawa.


 


 


"Buaya itu nggak punya lidah, mana bisa dia berucap manis, bingung juga kenapa binatang itu dijadikan ikon cowok-cowok nggak bener, padahal acara pernikahan adat betawi saja, simbolnya roti buaya." Ardi jadi berceloteh panjang lebar, dan Karin tampak menyimak dengan sedikit senyum.


 


 


Belum sempat gadis itu menanggapi, dering telepon membuat perhatian keduanya teralihkan. Ardi mengangkat benda itu kemudian didekatkan ke telinga, dia tampak memberi persetujuan dengan entah apa yang mereka bicarakan.


 


 


"Aku ada urusan," ucap Ardi sembari menegakkan tubuhnya, sedikit menunduk membuat tinggi mereka jadi sejajar, "jangan diganti lagi nomornya ya, Dek, nanti dihubungi kalo abang rindu," godanya.


 


 


Karin  melengos, sedikit merasa risi dengan kedekatan mereka. Kalau ada yang tiba-tiba masuk bagaimana. "Aku tuh udah punya tunangan, Bang," ucapnya kembali menegaskan.


 


 


"Yakin bisa setia?"


 


 


Pertanyaan itu seperti dejavu, pemuda di hadapannya juga pernah mengucapkan kalimat yang sama beberapa tahun yang lalu, dan gadis itu terlonjak mundur saat kecupan sekilas di bibirnya membuat ia terkejut setengah mati.


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya. "Abang tunggu di tikungan ya, Dek," pesannya kemudian melangkah mundur dan berbalik pergi, menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup kembali.


 


 


Karin mengeratkan pegangan pada kursi yang tersedia di depan meja. Gadis itu mengerang frustrasi, sia-sia usahanya selama ini untuk melupakan sang abang, sang mantan sekaligus cinta pertama untuk dirinya, yang ternyata harus ia sadari masih menjadi pemilik hatinya.


***


Author: jan lupa tambahin poinnya yaa.. Semangat.


 

__ADS_1


 


__ADS_2