NOISY GIRL

NOISY GIRL
UDAH BELUM?


__ADS_3

"Udah belum?" Ardi kembali bertanya saat dua hari kemudian.


Karin menghela napas, sejak beberapa hari yang lalu sang suami terus saja menanyakan tentang hal itu, "baru tiga hari."


"Kok lama kok," ucapnya. Duduk di meja dapur memperhatikan sang istri yang tengah meracik segelas teh manis.


Karin menuang air panas, membuat pria itu sedikit menyingkir, "baru juga dateng bulan, nanti kalo abis lahiran lebih lama lagi puasanya."


Pria yang menyandarkan kepalanya pada badan kulkas itu seketika menoleh, "berapa lama?" Tanyanya.


"Empat puluh hari," jawab Karin, melipat lengannya di depan dada, seolah libur tamu bulanan ini bukan apa-apa.


Ardi semakin lemas, "Nggak sanggup abang, kawin lagi boleh nggak?"


"Abaaang!" Karin yang marah mencubit perut suaminya itu dengan kesal.


Ardi mengaduh, meski tertawa, tapi terlihat sekali dirinya begitu kesakitan, "nyubitnya beneran ih, sakit banget," keluhnya.


"Kamu juga bercandanya ngeselin," balasnya sewot.


Pria yang masih duduk di meja dapur itu kemudian tertawa, "siapa yang bercanda, orang serius," godanya yang kembali membuat tanduk sang istri muncul lagi.


"Abang iiih."


"Iya, enggak." Ardi menangkap tangan sang istri yang bersiap akan mencubitnya lagi.


"Malam ini mau makan apa?" Tanya Karin, perempuan itu membuka kulkas, memeriksa kelengkapan isinya.


Ardi menegakkan duduknya, "Nggak mau makan, maunya kamu."


Karin berdecak, mengambil buah anggur yang tadi siang dia beli, untuk kemudian ia cuci. "Jangan lemes-lemes gitu deh," tegurnya saat melirik sang suami yang kembali bersandar ke badan kulkas.


Ardi menoleh, menepuk bibirnya dengan telunjuk memberikan isyarat.


Istrinya itu berdecak sebal, kemudian sedikit berjinjit dan mencium bibir suaminya sekilas.


Ardi tertawa tanpa suara, "Apa sih, orang aku minta disuapin buah," ucapnya.


Merasa malu Karin memutuskan untuk diam saja, bibirnya mencebik kesal, "makanya ngomong dong biar jelas," omelnya kemudian.


"Jadi libur satu minggu yang rindu aku apa kamu?" Goda sang suami yang membuat wajah perempuan itu semakin memerah, namun alih-alih mengakuinya dia malah pura-pura marah.


"Siapa yang rindu," sangkal Karin, kembali menghadap tempat cuci piring untuk mencuci buahnya sekali lagi, dan hal itu semakin membuat suaminya geli.


Ardi menegakkan tubuhnya, berdiri mencondongkan kepala untuk menggoda perempuan di hadapannya, "cewek itu kenapa nggak pernah mau ngaku ya kalo dia juga butuh, bilang aja kalo kamu kangen sama sentuhan aku," bisiknya.


"Abaaang!"


Melihat sang istri yang wajahnya semakin bersemu, pria itu tidak tahan untuk tidak tergugu, "mana sini suapin buah dong aku," pintanya.


Dengan masih kesal Karin memetik satu anggur dari tangkainya, menyodorkan ke depan bibir sang suami, namun ketika pria itu mendekat dia menarik tangannya dan memasukkan buah ke mulutnya sendiri. "Ambil aja sendiri," ucapnya keki.

__ADS_1


Ardi berdecak, menarik pipi perempuan itu dengan kedua tangan, kemudian menyatukan mulut mereka. "Udah aku ambil," ucapnya setelah memundurkan kepala.


Gerakan mengunyah pria itu membuat Karin semakin kesal, "Abang jorok!" Omelnya, berniat kembali mencubit pria itu yang malah dengan cepat berlari menghindarinya, kabur entah kemana. "Sebeel."


***


Beberapa hari kemudian Ardi tidak lagi menanyakan kapan selesai si tamu bulanan, malam ini dia dengan membawa selimut dan bantal melangkah keluar kamar dan melemparnya ke atas sofa, dia memutuskan untuk tidur di luar sementara.


Pantas saja laki-laki diperbolehkan punya istri sampai empat, ternyata mungkin begini alasannya, bagi dirinya yang memutuskan hanya memiliki satu istri karena memang masih baru, lebih baik pasrah saja, menghindar adalah jalan yang benar agar dia tidak punya pikiran untuk menikah lagi, eh.


Bagaimanapun juga dia memutuskan untuk setia, bahkan saat tidur pun hanya wajah sang istri yang ia perbolehkan hadir untuk menemani mimpinya, tidak ada perempuan lain, bahkan bidadari sekalipun, entahlah dirinya pun bingung kenapa mimpinya tidak bisa diganti.


"Abang ngapain tidur di sini?" Karin yang baru keluar dari dapur dengan membawa segelas air putih di tangan kanannya kemudian bertanya.


Ardi menoleh, pria itu sudah mengenakan selimutnya. "Tidur sama kamu aku tersiksa, mau tapi nggak bisa," ucapnya merengek manja.


Karin berdecih, "aku udah selesai tau," ucapnya memberi kabar bahagia, kemudian tertawa.


"Eh?" Ardi seketika menoleh, menegakkan duduknya hingga selimut yang menutupi dada jatuh ke atas paha. "Beneran?" Tanyanya memastikan.


Karin mengangguk, "beneran abang," ucapnya pelan.


Belum sempat Ardi bersorakย  meluapkan isi hatinya yang kelewat senang, suara bel pintu membuat perhatian mereka kemudian teralihkan. "Siapa si?" Keluhnya sembari menurunkan kaki, beranjak ke arah pintu dengan sang istri yang mengikuti.


"Mbak Nena?" Sapa Karin menyebut nama perempuan yang berdiri di ambang pintu, dengan suami juga anak kembarnya. "Masuk, Mbak," ajaknya.


"Maaf nih aku ganggu." Nena berucap dengan nada menyesal, mereka kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Jadi?" Tanya Ardi, saat sang abang mengutarakan niatnya untuk pergi ke luar kota bersama istrinya. Virus meresahkan yang beberapa minggu lalu dinyatakan musnah membuat aktifitas kembali dinormalkan seperti biasanya.


"Ooh, terus Jino?" Tanya Karin.


"Kenapa nggak diajak aja si?" Pertanyaan Ardi mendapat sikutan dari sang istri.


"Jino nggak mau jauh-jauh dari aku, dia pengen ikut." Nena kembali menuturkan kalimatnya. "Tapi Nino nggak mau ketinggalan sekolah, ibu nggak bisa nganterin Nino sekolah jadi kutitipinn sama kalian, cuma beberapa hari kok," ucapnya.


Selain mengiyakan Ardi bisa apa, sejujurnya pria itu senang-senang saja bahkan jika harus menjaga dua anak kembar itu sekaligus, tapi terkadang tingkah mereka itu sedikit menjengkelkan, apalagi Nino Nakula.


Setelah mengantarkan putranya, Nena dan Justin pamit pulang, begitupun Jino yang tampak enggan lepas dari sang mami. Takut-takut saat jauh nanti, dirinya ditinggal pergi.


"Jadi kamu tidurnya di kamar ini ya." Ardi membuka pintu di sebelah kamarnya dengan sang istri.


Nino mengerjap polos, menoleh pada Karin, "Tante aku biasanya dibacain dongeng kalo mau tidur," ucapnya.


Ardi berdecak, "cerita horor mau?" Tanyanya kesal.


"Abaang." Karin menegur sang suami dengan lembut, kemudian menoleh pada Nino. "Yaudah ayo aku bacain."


Dengan lemas, Ardi menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, "terus aku gimana?" keluhnya.


"Ya tunggu Nino tidur dulu."

__ADS_1


Ardi menghela napas, dia kesal, kenapa nasibnya selalu sial. "Yaudah lah," pasrahnya.


****


Menunggu seorang Nino tidur ternyata membuat dirinya ketiduran juga, Ardi terbangun saat waktu sudah pagi, nyaris kesiangan solat subuh membuatnya mengambil wudhu dengan buru-buru.


"Mau kemana?" Ardi bertanya sembari melipat sarung dan ia letakkan ke atas meja, menatap sang istri yang melangkah ke arah pintu.


"Bangunin Nino, dia kan mau sekolah, mau bikinin sarapan juga buat dia."


Ardi mendekat, "sarapan buat aku, mana?" Tanyanya.


"Kamu mau sarapan apa?"


"Kamu."


"Dih." Tidak menggubris suaminya Karin kembali melangkah, namun pria itu mendekapnya. "Baaang, aku mau bikinin sarapan buat Nino."


"Kasih aku sarapan dulu, kan semalem ketiduran, boleh lah sekarang."


"Yaudah dirapel aja buat nanti malem." Karin menanggapi dengan sedikit jengkel.


Ardi mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya ke atas ranjang, dengan cekatan tangannya melucuti setiap kancing piyama yang perempuan itu kenakan.


"Jangan lama-lama, Nino mau sekolah. Ini udah mau siang." Karin memberi peringatan.


.


Ardi belum selesai dengan urusannya saat ketukan di pintu membuatnya merasa terganggu.


"Bang. Nino mau sekolah," ucap Karin.


"Birin aja."


"Jangan gitu, kasian Nino nya."


Ketukan dipintu semakin lama kian kuat Nino berteriak memanggil om dan tantenya, tapi dari dalam tidak mendapat tanggapan apa-apa.


"Om! Aku mau sekolah."


**iklan**


Makasih buat kalian yang udah masuk grup chat, Bang Ar udah nangkring di banner dong. Buat yang masih mau gabung grup chat masih ada grup yang ke 3 tapi buat yg ini terserah kalian mau masuk atau nggak.๐Ÿ˜‚ Sekali lagi makasih ya, dukung aku terus jangan lupa like komen next sama vote biar aku semangat. Makasiih.


Netizen: Jadinya di sini corona udah musnah thor. ๐Ÿ˜†


Author: ya anggep aja do'a semoga bumi kita lekas sembuh. Gue sih yakin corona gak bakal awet kok. ๐Ÿ˜…


Netuzen: ngapa gak awet thor. ๐Ÿค”


Author: soalnya made in Cina, hape gue aja made in Cina jatoh sekali retak retak. ๐Ÿ˜Œ

__ADS_1


Netizen: belom pernah diseleding orang cina lu ya thor, biarin gue ss nih iklan. ๐Ÿคฃ


Author: Eh, maap dah bercanda ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


__ADS_2