NOISY GIRL

NOISY GIRL
SALES BAPER


__ADS_3

"Ayo dong sayang, kamu bujuk ibu." Justin terus mengekori sang istri saat wanita itu tengah sibuk meracik dua botol susu untuk anak kembarnya.


 


 


Nena berdecak sebal, "kan kamu yang nyanggupin buat jadi sales bapperware ibu, masa kamu nyuruh aku bujuk ibu batalin bazar besok,  temen-temen arisan ibu tuh udah pada bikin stand loh, mau ikut ramein acara."


 


 


Justin mendesah pasrah, "bilangin aja akunya lagi nggak enak badan, sayang."


 


 


"Ntar kamu sakit beneran loh, kualat kamu, Mas."


 


 


Justin kembali mendesah, duduk di ranjang, menerima satu botol susu yang istrinya itu sodorkan kemudian memberikannya pada salah satu putranya.


 


 


"Lagian bazar ini tuh buat amal, Mas, hasilnya sebagian besar buat sumbangan." Nena mengingatkan.


 


 


"Nggak usah jadi sales juga aku bisa nyumbang, mau berapa banyak si?"


 


 


Nena memberikan tatapan tidak suka pada sang suami, "kamu aja sana yang bilang sam ibu," suruhnya.


 


 


"Nggak tega."


 


 


"Ya, sama, ibu tuh udah semangat banget tau buat besok."


 


 


Justin kembali hendak berucap, namun ketukan di pintu membuat perhatiannya teralihkan, tidak lama benda itu terbuka, kepala sang adik menyembul dari sana, "sales bapperware dimohon kumpul, briefing dulu," ujarnya yang mendapat lemparan bantal kecil dari sang abang. Kemudian kembali pergi setelah terdengar tawa.


 


 


Justin menghela napas, "adek kamu, tuh," adunya kesal.


 


 


"Enak aja, adek, kamu."


 


 


***


 


 


Ardi cekikikan sendiri, segera menutup kamar sang abang  sebelum lemparan bantal berikutnya mendarat di kepala.


 


 


"Abang kenapa si?" Tanya Karin yang kebetulan lewat dengan membawa gelas kosong di tangannya.


 


 


Ardi yang sedikit terlonjak kemudian menoleh, "Nggak apa-apa, Dek," ucapnya, lalu melirik gelas di tangan gadis itu,  "Mau ke dapur ya?"


 


 


Karin mengangguk, "mau ambil minum," jawabnya, dan kemudian sang abang merangkulkan lengan di lehernya.


 


 


"Sekalian ya, abang aus, nih."


 


 


Karin menyingkirkan lengan pemuda itu dari pundaknya, "ambil sendiri lah, Bang."


 


 


"Sekalian yaelah, ah iya disuruh kumpul di ruang tv sama ibu."


 


 


"Ngapain?"


 


 


"Mau ngomongin rencana ke depan buat kita."


 


 


"Masa?" Tanya Karin serius, wajahnya tampak tegang, dan hal itu membuat pemuda di hadapannya jadi tertawa.


 


 


"Boong, Dek."


 


 


Karin reflek memukul lengan Ardi dengan kesal, "abang ih," omelnya. Dan keduanya terus bercanda sampai pintu ganda kamar sang abang di belakangnya itu terbuka. Mereka jadi terdiam.


 


 


Justin yang tengah menggendong salah satu anaknya melangkah santai melewati keduanya, membuat Ardi dan Karin jadi terpisah mundur satu langkah.


 


 


"Berduaan aja terus," omel Justin. "Nih, bertiga," imbuhnya dengan menyerahkan anak yang ia gendong pada Ardi yang reflek menerimanya.


 


 


Pemuda itu jadi melongo, dan tidak lama kemudian, Nena yang juga melewati mereka menyerahkan satu anak yang dia gendong pada Karin, mengambil alih gelas dari tangan gadis itu. "Ber empat biar aman," ucapnya lalu setengah berlari menyusul sang suami.


 


 


"Ngapa jadi gue yang gendong bocah si."


 


 


Berbeda dengan Ardi yang mengomel, Karin malah tampak senang, gadis itu tersenyum ke arah anak  balita yang ia gendong "Jino ini mami baru," ucapnya, kemudian menoleh pada pemuda di sebelahnya. "Abang jadi papi barunya ya," canda gadis itu.


 


 


Ardi melengos, "enak aja papi baru, bikin nya aja belom," celotehnya kemudian melangkah pergi sembari menenteng anak balita dengan lengannya seperti boneka.


 


 


"Abaang."


 


 


***


 


 


"Ungu?" Tanya Justin dengan wajah pucat, membentangkan seragam kaus berkerah warna ungu terong yang bertuliskan #bapperware anti baper. Astaga.


 


 


"Masa aku juga dapet seragam kaya gini sih, Bu?" Protes Nena, kembali melirik seragam di pangkuannya.


 


 


Marlina yang sibuk dengan tumpukan baju di atas meja kemudian menoleh. "Kamu juga bantuin suami kamu, dong," ucapnya.


 


 


"Nanti Nino sma Jino sama siapa?"


 


 


"Kan ada suster," ucap Marlina, kemudian mengambil dua seragam berwarna hijau dan ia berikan pada Ardi dan Karin.


 


 


"Aku ikutan juga?" Tanya Ardi. Membuka plastik berisi baju seragam yang tampak baru di pangkuannya.


 


 


"Nanti kamu sama Karin jagain dagangan ibu aja," balas Marlina yang membuat putranya itu reflek menoleh.


 


 


"Hah?" Sejenak Ardi ternganga, dan lebih mencengangkan lagi saat ia membentangkan seragam di tangannya dan membaca tulisan di Sana, pemuda itu nyaris pingsan.


 


 


"Kutunggu jajan mu?" Karin membaca tulisan di seragam nya dengan lantang.


 


 

__ADS_1


"Buu..., aku mengundurkan diri jadi anak ibu," keluh Ardi memelas.


 


 


Justin jadi tertawa, dan Nena sudah terguling di sofa saking geli nya.


 


 


"Nih, hapalin daftar harga makanan yang kamu mau jualin besok, jangan sampe ketuker nanti ibu rugi." Marlina menyerahkan selembar kertas berisi daftar harga pada Ardi yang masih tampak tidak percaya.


 


 


"Risol, bakwan, lontong, lemper? Ya Allah ibu, teganya." Ardi mengerang fustrasi, dulu saat dia jadi orang miskin pun belum pernah berdagang seperti ini, kenapa sekarang udah jadi orang kaya malah disuruh jualan gorengan? Keterlaluan. "Aku nggak mau."


 


 


Marlina melengos kesal, menoleh pada anak sulungnya, "denger ya, Justin, mulai besok si Ardi jangan dikasih jatah bulanan," titahnya tanpa bantahan.


 


 


Justin menahan tawa, menoleh pada sang adik yang semakin merana. "Siap Kanjeng Mami."


 


 


Karin tampak senang-senang saja, "besok pasti seru banget, Bang," ucapnya riang.


 


 


Ardi menyadarkan punggungnya pada sofa,  mana dia juga mengundang teman-teman kuliahnya pada bazar besok pula. Ya Tuhan.


 


 


"Nah ini buat si kembar," ucap Marlina menyerahkan dua seragam kecil berwarna merah hati bertuliskan.


 


 


"Bibit unggul masa depan?" Nena membaca tulisan yang tercetak di belakang seragam mungil itu. "Apaan deh, Bu."


 


 


"Lucu kan, itu buat cucu-cucu ibu yang paling ganteng," ucap Marlina, mencubit dua balita yang tampak anteng di tempat duduknya.


 


 


"Bibit unggul," ulang Ardi setelah menegakkan duduknya, "mujaer, bibit unggul," imbuhnya yang mendapat sabetan baju dari Nena yang kebetulan duduk di sebelahnya.


 


 


"Yaudah nanti kamu bagi-bagiin ke temen kamu yang katanya mau bantu ya." Marlina menyerahkan beberapa seragam pada Ardi untuk teman-temannya.


 


 


Ttidak lupa juga memberikan selembar kertas berisi daftar harga bapperware pada Justin dengan berpesan, "ingetin, jangan sampe ketuker, apalagi sampe ilang tutupnya, pokoknya jangan," ucapnya mengingatkan. "Ayo kita tidur biar semangat buat besok," imbuh wanita itu sebelum melangkah pergi.


 


 


Justin menyandarkan kepalanya pada pundak sang istri, "kayaknya aku nggak bakal bisa tidur malam ini," keluhnya, dan Nena jadi tertawa.


 


 


***


 


 


Justin keluar dari mobil, dan terkejut dengan ratusan orang yang berlalu lalang di halaman kantornya, stand beberapa makanan juga beragam aksesoris tampak berjejer memenuhi area, dan di antaranya banyak rekan bisnis, juga para karyawan yang ia undang beserta sanak keluarganya.


 


 


Dengan seragam berwarna ungu bertuliskan anti baper, pria itu memeilih masuk kembali ke dalam mobilnya untuk bersembunyi.


 


 


"Eh! Mas kamu mau kemana?" Cegah Nena, seragam sama yang diikat ujungnya pada bagian pinggang membuat wanita itu tampak seperti espege rokok yang sering bertebaran di pinggir jalan. "Nggak boleh kabur."


 


 


"Aku nggak sanggup," keluh Justin, belum apa-apa dia sudah merasa panas dingin.


 


 


Ardi yang keluar dengan membawa box berisi makanan yang akan ia jajakkan bersama Karin kemudian menghampiri abangnya. "Pria sejati adalah mereka yang mampu menepati janji," sindirnya, menirukan wejangan sang abang yang selama ini ia dengarkan.


 


 


Dan demi untuk melihat tatapan Justin yang seperti akan membunuhnya, pemuda itu jadi tertawa, kemudian berlalu pergi meninggalkannya.


 


 


 


 


Dan saat dia menoleh pada Alvin dan Indira yang mulai mengangkut puluhan kotak makanan yang digemari ibu-ibu itu untuk di susun pada tempatnya, mereka tampak sama bersemangatnya juga.


 


 


Lalu kenapa dirinya begitu berat menyandang gelar seorang sales bapperware. Seumur hidup belum pernah dia merasa ingin tenggelam ke dasar bumi saking gugupnya.


 


 


"Sayaang, aku mau pulaang."


 


 


***


 


 


Ardi dan Karin meletakkan box berisi makanan di atas meja, dan orang yang berlalu lalang tampak cuek-cuek saja, mereka lebih tertarik pada pameran yang menjadi ikon di tempat ini. Bapperware.


 


 


Dan pemuda itu melihat sang abang mulai dikerumuni oleh ibu-ibu, nyaris tidak terlihat saking ramenya. Dia yakin, abang nya itu pasti sudah ingin menenggelamkan diri di rawa-rawa.


 


 


"Ayo dong, Bang. Tawarin jangan diem aja," tegur Karin yang membuat pemuda di sebelahnya itu menoleh.


 


 


"Lo aja yang nawarin, gue biar yang nampanin duitnya aja."


 


 


Setelah menabok lengan abangnya, Karin berdecak kesal. "Nggak mau ah, abang aja yang jualin, biar Karin yang nyicipin rasanya," ucapnya kemudian mencomot satu lemper yang dicegah oleh sang Abang.


 


 


"Jangan dimakan dong, entar setoran kita mines."


 


 


"Satu doang, Abang."


 


 


Ardi berdecak, "Gini deh, nanti kalo dagangan kita cepet abis, kita jalan-jalan gimana?"


 


 


Karin tersenyum senang, "serius, Bang?"


 


 


"Dua rius, lo mau kemana pun, gue ikutin, minta apapun gue beliin."


 


 


Karin tersenyum dengan mata berbinar, namun setelah teringat sesuatu tatapannya jadi pudar, semangatnya menyusut.


 


 


"Kenapa?" Tanya Ardi yang berubah bingung.


 


 


"Biasanya abang kalo nurutin semu keinginan Karin, pasti ada sesuatu deh," ucapnya mulai curiga, tatapan mata gadis di hadapannya itu tampak mencari jawaban pada expresi wajahnya.


 


 


Meski sempat tertegun beberapa saat, Ardi berusaha untuk biasa saja, pemuda itu tersenyum."emang ada sesuatu, Dek."


 


 


"Tuh, Kan," omel Karin. "Apa coba?" Tanyanya kemudian.


 


 


"Biar lo semangat jualananya lah," ucap Ardi dengan mengacak puncak kepala gadis di hadapannya.


 


 


Meski masih curiga, Karin memilih tertawa. "Bu, makanannya, ayo Kak, makanannya enak," teriaknya dengan semangat.

__ADS_1


 


 


Beberapa menit ke depan, pembeli dagangannya tampak hanya beberapa, dan semangat Karin mulai menurun. Dia menoleh pada sang abang, gadis itu baru sadar, pantes aja jualannya nggak laku, pikirnya. "Abang buka dong maskernya."


 


 


Ardi mengerutkan dahi, "kenapa? Kan biar higienis," ucapnya, namun gadis itu menarik masker yang ia gunakan menutup mulut dan hidung hingga merosot sampai dagu.


 


 


Karin bersiap merencanakan sesuatu, "Grraaaatiiiisss!!" Teriaknya lantang, Ardi nyaris menutup telinga saking kencangnya.


 


 


Dan mendengar kata gratis dikumandangkan beberapa ibu-ibu tampak berdatangan. "Yang mana yang gratis Neng?" Tanyanya.


 


 


"Senyum abang saya,Bu yang gratis,z, S" ucap Karin kemudian menyenggol lengan sang abang yang reflek menunjukkan deretan giginya yang putih bersih, entah kenapa, dia juga bingung. "Kalo makanannya mah, Bayar."


 


 


"Yhaaa," sesal mereka pada awalnya, namun setelah diperhatikan.


 


 


"Dek, abang nya ganteng juga, boleh dong salaman," celetuk satu ibu-ibu dengan genitnya.


 


 


"Kalo mau salaman belanja dulu minimal sepuluh ribu," tawar Karin.


 


 


"Kalo mau cubit, Neng," ucap yang lainnya.


 


 


"lima belas ribu."


 


 


"Foto bareng-foto bareng."


 


 


"Dua puluh ribu." Karin menjawab dengan diselingi tawa saat sang abang mulai menyenggol-nyenggol lengannya.


 


 


"Obral aja abang, Dek, obraaal," ucapnya lirih, dan bersikap waspada saat satu orang ibu datang menghampiri untuk mencubit pipinya.


 


 


Karin bersiap melindungi sang abang, seketika membuat pemuda itu merasa lega, namun gadis itu malah berkata. "udah salaman nggak boleh nyubit, belanja lagi dong, nggak berlaku kelipatan ya."


 


 


Anak setaaan.


 


 


Ardi sedikit terlonjak saat sebuah cubitan mendarat di pipinya, "Astagfirullah, Bu istigfar. Inget umuuur," omelnya saat dirasa cubitan yang datang bertubi-tubi semakin menyakitkan.


 


 


Karin tertawa, gadis itu tampak kewalahan melayani pembeli yang terlihat bahagia bisa menjamah wajah ganteng abangnya.


 


 


"Semoga nanti anak saya ganteng kaya kamu ya, Tong." Satu ibu berperut buncit mencubit pipi Ardi.


 


 


"Jangan kaya saya, Bu, kasian. Kesiksa lahir batin."


 


 


Suasana mulai aman terkendali hingga  beberapa saat kemudian, satu orang pelanggan menghampiri mereka. "Saya mau borong semuanya," ucapnya yang membuat mereka menoleh takjub.


 


 


"Boleh Bu silahkan," ucap Karin.


 


 


"Tapi saya mau foto bareng sama masnya ya, buat dipamerin ke grup Mak rempong saya, mereka pasti iri saya foto bareng brondong," ucap si ibu nyrocos sendiri.


 


 


Ardi mencoba menuruti saja, dia tersenyum menghadap Kamera dengan si ibu di sebelah nya tengah memegang benda itu, dengan tangan Kanan, mengacunhkan ke udara. Setelah tersenyum beberapa detik, pemuda itu akhirnya sadar." Ini vidio, Bu, bukan foto."


 


 


"Hah?" Pekik si ibu terlihat kaget, "Yaudah nggak apa-apa deh vidioin aja, teriakin nama saya ya, Mak Ratna I love you yuhuuu, biarin pasti Mak zee sama Mak Siti pada iri. Ayo cepetan, buruan."


 


 


Ardi meringis ngeri, dan saat si ibu yang mengaku bernama Ratna itu kembali mengacunhkan ponselnya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya.


 


 


Karin menyadari kerumunan ibu-ibu di sekitarnya semakin banyak. Gadis itu menarik sang abang untuk kabur. Mereka berlari menembus keramaian dengan para fans baru sang abang yang dengan semangat terus mengejar keduanya.


 


 


Yang Ardi pelajari dari pengalamannya kali ini adalah jangan pernah berurusan dengan ibu-ibu, The power of mak-emak benar-benar mengerikan.


 


 


Karin tertawa-tawa saat mereka berhasil lepas dari kejaran, bersembunyi di belakang kamar mandi umum kantor abangnya, gadis itu terlihat ngos-ngosan, menyusut peluh di dahi dengan punggung tangan kanan yang erat memegang uang dalam kantong plastik.


 


 


Ardi tampak sama terengahnya, baru kali ini dia dikejar masa karena tampangnya, mana ibu-ibu semua, Ya Tuhan, dosa apa yang telah dia lakukan coba. "Lo si. Pake segala jualin harga diri gue."


 


 


Karin yang masih terengah kemudian tertawa, menyandarkan tubuhnya pada tembok dan Merosot terduduk. "Kirain nggak bakalan sampe serame tadi," ucapnya, kembali melongok ke balik tembok untuk memastikan suasana di luar sudah aman atau tidak


 


 


Ardi ikut bersandar di tembok sebelah gadis itu, ikut melongok ke arah yang sama,  gadis di hadapannya yang membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba membuat hidung mereka nyaris bertabrakan.


 


 


Karin refleks sedikit memundurkan kepala, kemudian tertawa, menarik masker yang tersangkut di dagu Ardi hingga menutupi mulut dan hidung pemuda itu. "Tutup aja, Bang. Bahaya," ucapnya memberi saran.


 


 


"Kenapa? Lo takut gue cium?" Tanyanya.


 


 


"Bukan, takut ada ibu-ibu yang lewat."


 


 


Karin tertegun saat pemuda yang kini berada di hadapannya itu mendekatkan kepala, mencium bibir gadis itu dengan masker yang masih menempel dimulutnya.


 


 


"Nggak berasa, Bang," ucap gadis itu dengan polos nya.


 


 


Ardi jadi tertawa, anak setan, umpatnya. Kemudian kembali mencondongkan kepala dan menarik masker yang ia kenakan sampai dagunya.


 


 


Tanpa sadar, uang di kantong plastik yang Karin genggam di tangannya kemudian terlepas, tau-tau dia nyaris kehabisan napas.


***iklan***


Netizen : ngomong-ngomong itu scen terakhir ngapain ya.


Author: ya lo pikir aja sendiri.


Netizen: aku nggak suka ya, pengen menghayati isi cerita aja disuruh mikir dulu.


Author: derita lu.


 


 



Ardi: semangat ya, ngumpulin poinnya. Jangan vote dulu, tahan buat hari senin.



 


Kanjeng ribet: aku nggak mau nyuruh kalian stok tisu buat part depan, karena aku juga nggak tau jatoh nya bakalan sedih apa nggak. Spoiler dikit buat part depan Bang Ar bakal ngomong sama Karin. Semangat ya ngumpulin poinnya. Kalo episode ini muncul hari minggu Votenya buat hari senin aja. Makasiih.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2