NOISY GIRL

NOISY GIRL
GRUP WA


__ADS_3

"Dari awal kamu itu seharusnya tau, Ardi bukan lawan yang sepadan buat Hendrik." William berucap tenang, jarang sekali pria bule itu menampakkan wajah seriusnya seperti ini.


 


 


Justin yang duduk di kursi putar dalam ruang kerjanya di kantor, kemudian mendongak, "lalu aku harus apa? Si Hendrik sudah sangat keterlaluan."


 


 


"Kenapa tidak kau laporkan saja ke polisi, ini jelas-jelas tindakan penganiayaan." William yang semula duduk di kursinya kemudian berdiri.


 


 


Tatapan Justin mengikuti arah langkah sahabatnya. "Ardi melarang untuk itu," ujarnya kemudian mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Dia terlihat gusar.


 


 


"Atas tindakannya kali ini, kau tidak bisa melarangku untuk melakukan sesuatu," ucap William, menyadarkan tubuhnya pada meja di hadapan sahabatnya itu.


 


 


"Melakukan apa?"


 


 


William mengangkat bahu. "Lihat saja nanti, kau terlalu lunak menyikapi seorang Hendrik, pria itu bahkan tidak bisa diajak bicara baik-baik. Jika Ardi adalah adikku, dan diperlakukan seperti itu, aku tidak akan membiarkan si Hendrik kebagian jatah udara di dunia ini," ucapnya berapi-api.


 


 


Justin tertawa mendecih, "menurutmu kenapa Hendrik begitu tidak menyukai Ardi?" Tanyanya.


 


 


William sedikit berpikir, "tentu saja karena bibit bebet bobotnya."


 


 


Justin menggeleng, "kukira bukan karena itu, Ardi adalah adikku, siapa yang tidak kenal Adley grup, jika memang Hendrik tidak suka karena masalah harta, itu tidak masuk akal, jelas masa depan Ardi sangat terjamin di bawah naunganku."


 


 


William melipat satu lengannya di dada, dan tangan satunya ia gunakan menopang dagu, pria bule itu tampak berpikir." Mungkin tidak? kalau ini ada hubungannya dengan Carla, ibunya Karin itu, Hendrik dendam pada Mr Juan karena telah merebut istrinya, dan imbasnya jadi benci padamu."


 


 


Justin beranjak berdiri, tertawa pelan kemudian menoyor kening sahabatnya itu. "Kepalamu isinya sinetron semua," ujarnya mencibir.


 


 


William berdecak tidak terima, "Heh, ini kan hanya dugaan, siapa tau memang benar begitu," ucapnya. Dan bersamaan dengan itu, ketukan dipintu membuat keduanya menoleh, tidak berselang lama benda itu pun terbuka.


 


 


"Ini laporan yang Pak William minta." Alvin, asisten khusus Justin berucap sembari mengangsurkan sebuah map, dan Justin yang kebetulan berada lebih dekat dengannya langsung merebut benda itu, lalu membukanya.


 


 


Setelah membacanya sekilas, Justin menoleh pada William yang tampak tersenyum lebar, menunjukan deretan gigi putihnya yang membuat sahabatnya itu mengerutkan dahi. "Harga saham Gunawan grup merosot? Kau?" Justin merasa curiga.


 


 


"Hanya sedikit membeberkan fakta," ucap William, tampak tidak enak saat sahabatnya itu malah diam saja.


 


 


Namun tawa Justin yang berderai kemudian membuat dia ingin sekali memukul kepalanya.


 


 


"Kerja bagus Will, kalo perlu akuisisi saja perusahaan si Hendrik itu. Buat dia tidak bisa memilih apa yang dia inginkan."


 


 


"Hancurkan!" pekik William semangat.


 


 


***


 


 


Dua hari Ardi tidak masuk kuliah, dan selama itu juga teman-temannya selalu menanyakannya, hanya Ipang yang tau apa yang terjadi pada pemuda itu, dan teman-temannya yang lain hanya tau bahwa dirinya sakit saja, masalah sakit apa mereka tidak terlalu mempermasalahkannya.


 


 


Ardi terbangun karena notif di ponselnya yang terus berbunyi dan membuatnya terganggu. Pemuda itu membuka aplikasi wa.


 


 


0896646....menambahkan anda ke grup rencana tahun baru.


 


 


Irfani A: grup paan nih?


 


 


Nadia S : aku yang bikin, buat rencana acara tahun baru nih.


 


 


Heny: jadinya mau di rumah siapa, Nat.


 


 


Irfani A: di rumah aku aja bep, sekalian kamu aku kenalin sama calon mitoha.


 


 


Agung N: Njiir modus.


 


 


Lisa A: masih aja lo, Pang. Si Fitri, Nina, Eno, Faily sama Ajeng masih kurang emang, masih aja lo nyepikkin temen gue.


 


 


 Nadia S :Itu pacar Ipang atau udah mantan, banyak amat.


 


 


Irfani A: pembunuhan karakter woy.


 


 


Edoardo D :itu baru gebetannya doang, Bep, nggak ada yang nyangkut.


 


 


Irfani A : Setan


 


 


M. Selomita : kalah banyak sih dari jejeran mantannya Ardi.


 


 


Lisa A: termasuk lo ya Ta wkwkwk

__ADS_1


 


 


M. Selomita: sialaan


 


 


Ardian R: Ngapa jadi gue dah.


 


 


Heny: Set orangnya nongol.


 


 


Nadia S : lo udah sembuh Ar.


 


 


Edoardo D: udah kok, perhatian bgt sih kamu, sayang.


 


 


Lisa A: yang ditanya siapa yang jawab siapa.


 


 


Ardian R :Alhamdulilah Nadia.


 


 


Edoardo D: Jan sok manis lo Ah, sakit paan lo, sakit si main hp mulu.


 


 


Ardian R: monmaaf ya Om, saya sakit biasa, bukannya koma.


 


 


Edoardo D: sialan gw dipanggil om.


 


 


Heny: Gws ya Ar.


 


 


 Ardian R : Iya, Heny.


 


 


Irfani A: gws itu kepanjangan dari gak wafat sekalian ya.


 


 


Heny: sembarangan.


 


 


Ardi tertawa membaca percakapan dari teman-temannya itu, kemudian kembali mengetikkan balasan.


 


 


Agung N: jadinya gimana nih rencana tahun baru, ngapa jadi oot dah?


 


 


Ardian R: gue nggak ikutan kayaknya.


 


 


 


 


Edoardo D: Anak rumahan mah nggak seru, di kandang mulu mainannya.


 


 


Ardian R: aku lagi sakit bep.


 


 


Edoardo D: alasan, kamu pasti udah ada janji di luar kan.


 


 


Ardian R: kaga bep.


 


 


Edoardo: aku nggak percaya.


 


 


Heny: ih kok gue jadi geli ya, baca percakapan kalian:


 


 


Nadia S : jangan gitu, Yang. Aku nggak suka.


 


 


Edoardo D: hehe, gimana kalo kita ngumpul nya di rumah Ardi aja. Dia kan nggak bisa kemana-mana, kita aja yang nyamperin. Sekalian jengukin. Beneran sakit kaga, kalo boong kita lelepin.


 


 


Irfani A: nggak enak gue, abangnya galak banget.


 


 


Lisa A: si Ardi punya abang ya, setau gue dia punyanya kakak perempuan.


 


 


Agung N: Tapi ganggu nggak, abang dia kan anaknya masih bayi, sedang kan kalian biang rusuh semua.


 


 


Ardian R: punya, Lis.


 


 


Ardian R: gue mah terserah, asal jan pada ngrepotin aja lo. Abang gue sama istrinya pergi ke rumah bokapnya.


 


 


Edoardo D: tenang aja.


 


 


Heny: Rumah si Ardi di mana, gue nggak tau.


 


 


Irfani A :Tenang bep, nanti aku jemput.


 


 

__ADS_1


Agung N: lo bukannya mau bawa cewek lo, Pang.


 


 


Irfani A: udah putus gw.


 


 


Edoardo D: set, cepet amat lo udah putus aja.


 


 


Ardian R: si Ipang mah swallow, gampang putus.


 


 


Agung N: kaya lo ya Ar.


 


 


Ardian R: ngapa jadi gue dah.


 


 


Heny: buaya lagi pada diskusi.


 


 


Edoardo D: njiirr gue nggak ikutan ya.


 


 


Irfani A: aku bukan buaya bep.


 


 


Lisa A: enak ya kalian para cowok, mau liat buaya tinggal ngaca.


 


 


Nadia mengganti nama grup menjadi sarang buaya.


 


 


Edoardo D: nggak sarang buaya juga kali.


 


 


Nadia S : hp aku dibajak sama Lisa nih.


 


 


Edoardo D: kamu udah pulang kuliah? Aku jemput ya.


 


 


Agung N: cewek mah gitu, yang buaya satu yang kena semua cowok.


 


 


Lisa A: kalian kan sama aja.


 


 


Ardi membiarkan saja teman-temannya itu ribut sendiri, pemuda itu meringis sakit saat menggerakkan tubuhnya untuk beranjak bangkit dari ranjang.


 


 


"Kamu udah baikkan?" Tanya sang ibu saat pemuda itu sudah sampai di dapur. Marlina yang sibuk memasak untuk makan siang mengalihkan perhatian pada anak bungsunya.


 


 


"Masih sakit, Bu." Ardi merangkul sang ibu dari samping, bergelayut manja.


 


 


Setelah menyuruh asisten rumah tangganya meneruskan memasak, Marlina mengajak Ardi ke ruang keluarga. "Sini ibu bantu pakein salep lagi," ucapnya saat pemuda itu sudah duduk di sofa, kemudian membuka bajunya.


 


 


Lebam bekas pukulan yang masih membiru selalu saja membuat wanita itu ngilu, belum pernah dia melihat putranya sebabak belur ini sebelumnya. "Kenapa papinya si Karin itu tega banget mukulin kamu kaya gini si," ucapnya sembari mengoleskan salep anti memar ke punggung putranya. "Ibu jadi khawatir sama Karin, takut dia juga diapa-apain."


 


 


"Kalo dia diapa-apain, Om Hendrik yang aku bikin jadi kaya begini, Bu."


 


 


"Keterlaluan banget itu orang, nggak punya hati, biarin aja ntar kalo dia mati keranda masjid ibu umpetin biar rasa." Marlina geram sendiri.


 


 


Ardi jadi tertawa, "nggak bisa digotong ya?" Tanyanya yang kembali mendapat ocehan sebal dari sang ibu. Kemudian pemuda itu ingat sesuatu. "Bu, buat malem tahun baru besok, anak-anak mau pada bikin acara di sini, boleh nggak?"


 


 


"Bagus itu, dari pada kamu yang pergi mendingan mereka yang kesini."


 


 


"Mereka rusuh loh, Bu."


 


 


"Nggak apa-apa, yang penting kamu seneng."


 


 


Ardi tersenyum, menoleh pada sang ibu sekilas. "Makasih Kanjeng Mami."


 


 


 


 


 


 



 


 


Kanjeng ribet: makasih like komen sama poinnya. Aku bilangin sekali lagi ya Noisy girl ini ceritanya aku pake alur lambat. Jadi buat yg nunggu, kenapa Ardi nggak pergi-pergi ke luar negri, sabar.


 


 


 



 


Kanjeng rusuh: buat yang mau join grup wa Noisy girl boleh klik link ini.   https://chat.whatsapp.com/IFVZtYl4ZptEqG6YWTg7Tn


Nanti di sana  dikabarin kapan kanjeng ribet updatenya. Makasiih.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2