NOISY GIRL

NOISY GIRL
ADAPTASI


__ADS_3

Ardi meletakkan gelas ke dua dengan sedikit membanting ke atas meja, tidak menyangka dia akan sedahaga ini, tenaganya benar-benar terkuras habis.


 


 


Perihal menembus selaput dara, dia tidak tau sebelumnya bahwa akan sesulit itu, tapi yang lebih sulit lagi adalah menghentikan keinginannya untuk mengulang lagi, lagi dan lagi, padahal sang istri sudah terlihat pucat sekali.


 


 


Pria yang sudah tidak lagi perjaka itu menuang air dingin untuk ke tiga kali, kemudian meminumnya lagi.


 


 


"Aus ya?"


 


 


Suara itu membuat Ardi menoleh, namun kemudian melengos lagi.


 


 


"Gimana-gimana, sukses nggak?"


 


 


Ardi membuang napas, "atulah, Mbak, kepo amat si." Ini belum pagi bahkan masih bisa dibilang tengah malam, tapi kakak perempuannya itu sudah gencar sekali untuk menggoda.


 


 


Nena tertawa, kemudian menarik dagu sang adik untuk menghadap padanya, "kalo diliat dari cakaran di rahang ini sih kayaknya udah sukses ya," godanya.


 


 


"Mbaak...." Ardi menepis pelan tangan sang kakak dari dagunya, dan perempuan itu masih saja tertawa.


 


 


Nena beralih mengambil gelas, kemudian menuangkan air dingin ke dalamnya, dan menoleh saat Ardi menyerukan panggilan. "Apa?" Tanyanya.


 


 


"Sakit nggak?"


 


 


Nena mengerutkan dahi, kemudian mengerjap, "apaan?" Tanyanya bingung.


 


 


Ardi tidak menjawab, hanya berdecak sebal dan kakaknya itu kemudian mengerti.


 


 


"Oh, itu." Nena memberi dugaan dalam pemikirannya sendiri, "sakit lah," imbuhnya kemudian. Dan teringat sesuatu wanita itu menatap sang adik dengan curiga, "jangan bilang kalo kamu ngelakuinnya berkali-kali," tuduhnya.


 


 


Ardi merapatkan bibir, merasa terhakimi, "ya nggak berkali-kali juga," sangkalnya.


 


 


Nena tersenyum, namun saat menanyakan berapa kali dan tidak mendapat jawaban dari pria itu dia jadi tertawa, adiknya ternyata bisa tersipu juga. "Pertama doang sakit, besok-besok udah nggak," ucapnya menenangkan, menepuk pundak pria di hadapannya kemudian pergi dengan membawa gelas berisi air di tangan kanan.


 


 


Ardi kembali ke kamar si kembar, kemudian meletakkan gelas air yang ia bawa ke atas meja. Karin tampak tidur meringkuk di balik selimut, dan dia menghampirinya, memeluknya dari belakang," maaf," ucapnya.


 


 


Mendapat pergerakan dari sang istri dia mendongak, "belum tidur?" Tanyanya saat perempuan yang juga berbaring di hadapannya itu membalikkan badan.


 


 


Karin menggeleng, tersenyum kecil, kemudian merapatkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. "Abang dari mana?" Tanyanya.


 


 


"Minum, kamu mau minum?"


 


 


Karin menggeleng, raut wajahnya tampak berpikir. Perempuan itu seperti ingin mengutarakan sesuatu.


 


 


Ardi menopang kepalanya dengan satu tangan, berbaring miring menghadap sang istri kemudian merapikan rambut perempuan itu yang menutupi sebagian pundaknya yang terbuka. "Ngomong aja, ada apa," ucapnya.


 


 


Karin tersenyum, dia senang-suaminya ini begitu paham dengan apa yang dirinya resahkan. "Nanti kita tinggalnya di mana, Bang?" Tanyanya.


 


 


Sesaat Ardi tertegun, "kamu maunya di mana?" Tanyanya.


 


 


"Aku kasian sama mami, dia sendirian," ucap Karin, kemudian terjeda, menatap sorot mata sang suami yang belum memberikan reaksi apa-apa. "Gimana kalo kita tinggal di sana," imbuhnya.


 


 


Ardi terdiam, masih menatap sang istri yang berbaring miring menghadapnya, hingga perempuan itu menegur dan menanyakan sekali lagi, dia baru memberikan jawaban. "Nggak bisa tinggal di sini aja?"


 


 


Karin menghela napas, kemudian membaringkan tubuhnya menghadap langit-langit, dia seharusnya sadar. Perihal tempat tinggal pasti akan menjadi permasalahan tersendiri, seharusnya mereka membahasnya jauh-jauh hari.


 


 


"Papi malah nyuruh kita buat tinggal sama mereka," ucap Karin, tatapannya menerawang entah ke mana, kalo di rumah papinya dia juga tidak terlalu setuju, toh di sana banyak orang juga.


 


 

__ADS_1


Ardi tertawa pelan, "Nggak sanggup aku tinggal sama papi kamu, bisa beku," ucapnya, melepaskan topangan tangannya di kepala dan beralih pada bantal, tangannya memeluk tubuh sang istri dengan erat. "Mending juga kita beli rumah sendiri aja, biar nggak ada yang ganggu," ucapnya.


 


 


Karin berdecak, "kita kan kerja, rumah nggak ada yang ngurus dong."


 


 


Ardi mendongakkan kepala, "emang kamu beneran mau kerja?" Tanyanya.


 


 


Karin yang menoleh kemudian mengangguk, "malah aku kepikiran buat lanjutin S2," ucapnya dengan raut memohon.


 


 


Ardi memejamkan mata, belum apa-apa mereka sudah beda pendapat, keinginannya tentu sang istri tetap di rumah, menunggunya pulang dan menyiapkan makanan yang dia suka, bagaimana nanti saat dia pulang istrinya malah tidak ada, tentu dia akan kecewa.


 


 


"Emang nggak bisa dipikirin lagi? Aku maunya kamu di rumah aja." Ardi mengutarakan ke inginannya.


 


 


Karin beralih memiringkan tubuhnya, Tatapannya tersirat penuh penolakan, namun kata yang keluar dari bibirnya hanya. "Abaaang."


 


 


Dan entah sejak kapan mendengar rengekan itu keteguhannya jadi melemah. Ardi merapatkan matanya, menghela napas. "Terserah lah," pasrahnya.


 


 


Karin tersenyum senang, mengusap pipi sang suami yang berbaring berhadapan dengannya, hingga pria itu memejamkan mata, dan membuka dengan tatapan yang berbeda, dengan cepat dia menarik tangannya.


 


 


"Mau kerja di mana?" Ardi membuat pengalihan dengan sebuah pertanyaan.


 


 


"Di kantor papi, kalo nggak di hotelnya, masih bingung juga sih."


 


 


"Mending kamu kerja di kantor aku aja, jadi asisten plus-plus," ucap Ardi yang mendapat toyoran di pipinya.


 


 


"Berani gaji berapa emang?"


 


 


Mendengar kalimat itu Ardi jadi merasa diremehkan, meski tau istrinya itu bercanda tapi ya kesal juga, "rela aku jadi gembel kalo uangku abis buat gaji kamu per hari," ucapnya.


 


 


Karin tertawa, "segitunya kamu, Bang," godanya.


 


 


 


 


Karin tertawa lagi, "iya, Sayang," ucapnya. "Meskipun aku nanti sibuk pasti bakal luangin waktu buat makan siang bareng kok, nanti pulangnya kita juga bareng, kamu jemput aku ya."


 


 


Tanpa sadar, Ardi menarik-narik selimut yang melilit tubuh sang istri dengan telunjuknya, "pokoknya aku nggak mau denger kamu nolak aku dengan alasan capek," ucapnya mengingatkan.


 


 


Dari pada menanggapi ucapan suaminya itu, Karin lebih fokus merapikan kembali selimut di bagian dadanya dengan sedikit kekhawatiran yang tersirat dari sorot matanya. Abis gimana, nolak dosa nggak ditolak nyiksa. "Baaang," tegurnya lembut.


 


 


Ardi tertegun, kemudian tersenyum, "iya nggak, aku tahan," ucapnya,  sejenak memejamkan mata, kemudian membuka. "I love you tiga ribu, Dek," ungkapnya.


 


 


Karin terkekeh pelan. "Kok tiga ribu, murah amat," komentarnya.


 


 


"Eh, kamu nggak nonton filmnya ya?"


 


 


"Film apa?"


 


 


"Yaudah lah, nggak penting."


 


 


***


 


 


Pagi-pagi sekali, Karin sudah merapikan kamar si kembar, kemudian memasukkan selimut dan sprai ke dalam mesin cuci.


 


 


"Bisa jalan kamu?"


 


 


Dan pertanyaan itu membuat Karin sedikit terlonjak. "Mbak Nena ngagetin aja," ucapnya.


 


 


Nena terkekeh, "ditungguin di ruang makan tuh," ucapnya memberi tau.

__ADS_1


 


 


"Sama siapa?" Tanya Karin.


 


 


"Sama suami kamu dong," jawab Nena, kemudian meraih tangan perempuan yang masih melilit kan handuk di rambut kepalanya, "harus belajar melayani suami, dari mulai siapin sarapan sampe ambilin air minum, bikinin kopi, siapin baju buat kerja, memang sih, itu hal remeh yang mungkin menurut kamu dia bisa melakukannya sendiri, tapi itu sebagian kecil kewajiban kamu," tuturnya menasihati.


 


 


Sesaat Karin tertegun,"gitu ya, Mbak?" Tanyanya. "Biasanya juga Bang Ar, ngelakuin sendiri."


 


 


"Iya, itu kan dulu sebelum kalian jadi pasangan suami istri, sekarang beda lagi," ucap Nena, menepuk lengan sang adik sekilas, kemudian pamit pergi.


 


 


Karin mengangguk saat sekali lagi kakak iparnya itu menyuruh untuk ke ruang makan, perihal melayani suami dia memang belum terlalu paham, apalagi kebiasaan mereka yang sejak dulu sering bersama, dan Ardi pun tidak pernah menyuruhnya melakukan apa-apa.


 


 


"Mau kopi, nggak?" Tanya Karin saat mendapati Ardi yang tampak sibuk dengan laptopnya, tidak menemukan pria itu di ruang makan ternyata dia sudah berpindah ke kamarnya dan duduk bersila di atas kasur menekuni benda persegi yang menyala di hadapannya.


 


 


Ardi menoleh,"tumben kamu nawarin kopi," ucapnya.


 


 


Karin berdecak, kemudian duduk di tepi ranjang menghadap suaminya, "sekarang kan aku istri kamu," ucapnya mengingatkan.


 


 


"Eh, iya lupa." Ardi berucap dengan nada bercanda, kemudian melingkarkan lengannya di pinggang perempuan itu, "tawarin yang lain dong," usulnya.


 


 


Karin melirik wajah sang suami yang menempelkan dagu ke pundaknya, melihat tatapan yang tampak berbeda, dia mengerti apa maksudnya. "Masih pagi, Bang. Aku mau ke rumah mami," rengeknya.


 


 


Ardi tersenyum, kemudian melepaskan rangkulannya dan beralih pada benda di hadapannya, "Yaudah sana siap-siap, aku kelarin ini dulu, nanti aku anterin."


 


 


"Kamu nggak ke kantor?"


 


 


"Masih cuti, nanti malam juga kan kita ada acara lagi di hotel papi kamu, tapi kayaknya besok harus masuk dulu, kerjaan numpuk soalnya, bulan madu ditunda dulu yah." Ardi berucap panjang lebar tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop, pria itu kembali tenggelam dengan pekerjaannya.


 


 


"Siapa yang mau bulan madu," gumam Karin yang tidak membutuhkan tanggapan.


 


 


"Ya Aku lah, di sini direcokin si kembar terus, rese banget." Ardi menanggapi.


 


 


"Terus ini kamu mau dibikinin kopi apa nggak?"


 


 


"Nggak usah, sayang."


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: komentar jebol thoor seribu lebih,  fix readers lu omes semua 😂


 


 


Author: 😭😭 ternyata kalian bukan jemaah Mamah Dedeh.


 


 


Netizen: Banyak yang minta penjelasan tisu galon thor 🤭


 


 


Author: Tolong jangan dibahas 😭


 


 


Netizen: poin thor poin 😂


 


 


Author: 😭😭😭


 


 


Semangat ya mulungnya, mau lagi dong komen seribunya 🤣🤣 belum ada konflik. Santai dulu aja ya.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2