
Ardi menghentikan laju kendaraannya di depan pintu gerbang rumah besar kediaman Hendrik Gunawan, malam ini dirinya yang berkata ingin menyampaikan sesuatu pada sang papi mertua, membuat lelaki itu berinisiatif mengundangnya untuk makan malam.
Di kursi penumpang sebelahnya, Karin tampak tersenyum memperhatikan sang suami yang terlihat gugup, "Bang Ar beneran mau ngomong sama papi?" Tanyanya sekali lagi, setelah beberapa menit lalu sudah dua kali dia menanyakan tentang hal itu.
Ardi menoleh, meraih tangan sang istri yang berada di pundaknya kemudian ia cium, "demi kamu, Dek," ucapnya dengan tersenyum.
"Kalo seandainya nanti aku bener-bener di coret dari daftar hak waris, apa Bang Ar udah siap punya istri pengangguran?" Tanyanya dengan nada bercanda.
Ardi tertawa, "bahkan kalo kamu di rumah seharianpun, aku nggak bakal biarin kamu nganggur," ucapnya yang mendapat pukulan di lengan, dan pintu gerbang di hadapannya yang terbuka membuat keduanya jadi menoleh.
Pria itu melanjutkan kendaraannya masuk ke halaman, dan mereka disambut oleh Naya dengan suka cita.
"Kalian udah ditungguin di ruang makan," ucap Naya setelah anak menantu dari suaminya itu mencium punggung tangannya secara bergantian.
Karin menanyakan keberadaan Kalila, dan wanita itu menjawab bahwa putrinya berada di kamar, tidak ikut makan malam bersama.
"Kenapa?" Tanya Karin.
Naya tersenyum, mengusap pundak anak tirinya itu dengan sayang, "Lila emang gitu, udah nggak usah dipikirin, anak itu memang suka sendiri."
Karin mengangguk, perempuan itu kemudian menoleh pada sang suami yang menyalami papinya, dan duduk berhadapan dengan pria paruh baya itu di meja makan, Karin pun melakukan hal yang sama.
Obrolan makan malam kali ini terbilang cukup ringan, Naya selalu mencairkan suasana dengan melontarkan beberapa pertanyaan untuk pasangan di hadapannya itu, meskipun Hendrik diam saja, pria itu tampak menyimak tanpa menyela.
Hingga makan malam telah usai, Hendrik terlihat serius menanyakan tentang kedatangan Ardi yang katanya ingin mengatakan sesuatu, dan dengan berani pria itu mengutarakan keinginannya untuk meminta Karin agar berhenti bekerja.
Hening. Yang terdengar hanya dentingan piring yang sedikit beradu saat asisten rumah tangga di tempat itu merapikan meja makan, tatapan papi mertuanya bertambah dingin, tapi Ardi tidak akan pernah gentar dengan sesuatu yang ia ingin.
"Sebagian orang mungkin senang jika istrinya memiliki karir yang bagus." Hendrik berucap datar.
Ardi mengangguk, menoleh pada Karin yang memberikan semangat berupa senyuman. "Dan aku mungkin termasuk ke dalam sebagian yang tidak suka," ujarnya.
Hendrik tampak menghela napas, sepertinya pria itu tengah mempertimbangkan permintaan menantunya. "Saya tidak lagi muda, dan tentu saja butuh penerus untuk memajukan bisnis keluarga, kamu pikir pada siapa saya harus melimpahkan itu semua?"
Ardi tampak berpikir, menyusun kalimat apa yang akan ia lontarkan sebagai argumen, dan mengulas senyum ia jatuhkan sebagai pilihan terlebih dahulu."Tidak ada yang lebih pantas mengemban itu semua, kecuali papi sendiri," ujarnya.
"Kamu pikir saya tidak akan mati," ucap Hendrik.
Mengalihkan Larasati Hotel menjadi atas nama dirinya malah akan semakin diperdebatkan oleh sanak saudarinya yang lain. Tante Rosita bahkan sudah meminta haknya dari jauh-jauh hari, dan jika wanita tua itu tau putrinya melepaskan hak waris yang atas nama dirinya, hal ini pasti akan menjadi perpecahan yang cukup serius.
"Semua orang tentu akan mati, dan bisa jadi lebih dulu kami daripada papi sendiri, untuk itu saya tidak ingin menghabiskan waktu yang sebentar ini dengan terus dipusingkan dengan urusan masing-masing. Cukup saya saja yang pontang-panting, biarlah istri saya tetap dirumah agar saya merasa betah, bukankah papi mertua pun menyuruh mami Naya untuk seperti itu?"
Hendrik terdiam, dia menoleh pada Naya yang sepertinya tampak membenarkan, belum sempat dirinya mengutarakan kalimat balasan, Ardi kembali melontarkan kalimat berikutnya.
"Bayangkan jika papi pulang, Mami Naya justru tidak ada di rumah karena sibuk bekerja, apa papi akan senang."
Hendrik menghela napas, kalimat yang sudah ia susun sebagai balasan nyatanya kembali ia telan. "Jika itu mau kalian. Silahkan saja, kamu mungkin sudah merasa mampu menghidupi putri saya kan," ucapnya terlihat pasrah.
Ardi tersenyum, tidak perlu ia menjawab, iya atu tidak dengan pertanyaan retoris dari papi mertuanya, jelas pria itu pasti sudah tau jawabannya.
"Tapi aku punya permintaan sebagai ganti itu semua." Hendrik berucap lagi, membuat Naya juga mereka yang di sana tampak menyimak dengan waspada. "Berikan aku cucu laki-laki, sebagai penerus diriku nanti."
****
Agung pulang ke rumah saat hari mulai malam, pemuda itu menduduki sofa untuk membuka alas kakinya.
__ADS_1
"A Agung."
Panggilan dari adik perempuannya yang masih sekolah Sma membuat pemuda itu menoleh, dengan melihat map coklat di tangannya, juga beberapa buku-buku yang adiknya bawa, dia tau maksud gadis itu menghampirinya, tanpa harus bertanya.
"Bayaran lagi?" Tanya Agung.
Anggi mengangguk, "masih lama kok A, Anggi sengaja kasi tau dulu biar Aa bisa ngumpulin uangnya," ucapnya dengan mendudukan diri di sebelah pemuda yang ia panggil aa.
Agung tersenyum, mengusap puncak kepala adik bungsunya dengan sayang. "Tidur sana, udah malem. Besok a kasih uangnya," ucapnya lembut, dan adiknya itu lalu menurut.
Agung terkadang merasa kasihan pada anak itu, Anggi terlalu segan meminta sesuatu pada dirinya, dia masih merasa bahwa kehidupan mereka sama seperti beberapa tahun sebelumnya, saat hanya sekedar untuk makan saja mereka harus bersusah payah.
"A Agung malem banget pulangnya, aku nungguin tau." Adelina adik pertama pemuda itu beranjak duduk di sebelah kakaknya, menyodorkan selembar kertas tagihan. "Buat bayar semester, A. Harus besok pokoknya."
Agung menghela napas, meraih kertas yang disodorkan sang adik kemudian membacanya. Daripada Anggi, adiknya yang satu ini lebih berani mengutarakan keinginannya pada pemuda itu, tidak pernah sungkan apalagi malu, baginya Agung adalah papa kedua yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi tulang punggung keluarganya.
"Kuliah yang bener jangan pacaran mulu, aa nggak mau tau pokoknya taun ini kamu harus lulus." Agung memukulkan pelan kertas di tangannya pada wajah gadis muda di hadapannya itu.
Adelina tertawa, kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk ia letakkan di kening persis menghormat sang pusaka, "siap kakak pertama," ucapnya.
"Besok aku kasih," ucap Agung, meraih sepatunya untuk ia letakkan di tempat biasa, namun sang adik dengan sigap merebut benda itu, setengah berlari untuk kemudian menyimpannya.
"Aa, uang jajan Nina tambahin dong, bentar lagi kan mau mulai obserfasi, Nina mau ngumpulin duit buat beli baju bagus."
Agung melengos, beranjak berdiri untuk melangkah ke dapur, "yang ada aja kamu tabungin, nggak usah jajan," ucapnya memberi usul.
Adelina memberenggut, "Aa nggak asik ah, mana bisa Nina nggak jajan, mati lah nanti," ucapnya berlebihan.
"Minta aja sama pacar kamu, buat apa punya pacar nggak dimanfaatin."
Adelina melipat lengannya di depan dada, bersandar pada meja dapur. "Dih Aa matre sekarang, nggak boleh gitu," protesnya.
"Jaman sekarang emang harus matre,kalo nggak kaya, minimal bisa usaha, emangnya kamu mau hidup susah terus."
"Ya nggak lah, pacar Nina tuh dosen A, bibit bebet bobotnya jelas, anak orang kaya lah pokoknya."
"Bukannya kalian baru kenal sebulan? Mana eldeeran terus kan?" Agung bertanya menyindir.
Adelina mencebikkan bibir, "ya itu kan karena dulu dia sering bolak balik ke luar Negri, buat nyelesain urusannya di sana, sekarang mau menetap di sini katanya," ucap gadis itu dengan rona bahagia.
"Emang keluarganya setuju. Nanti malah jadi drama, mau kamu dimusuhin sama mama mertua?"
"Dih A'aaa!" Adelina mencubil lengan abangnya, hingga pemuda itu kemudian mengaduh.
"Udah tidur sana, jangan teleponan terus, emang aa nggak tau kamu tiap malem cekikikan."
"Dih, ngarang," sangkal Adelina, namun raut wajahnya tampak ragu, pasalnya sesekali dia memang seperti itu. "Nggak bisa dipertimbangkan nih, tambahan uang jajannya?" Tanya gadis itu.
Setelah meletakan gelas di tangannya ke atas meja Agung kemudian menggeleng, "Nggak," tolaknya.
"Oh gitu. Yaudah nanti Nina aduin sama umi kalo kemaren aa mabuk-mabukan lagi," ucap gadis itu mengancam.
__ADS_1
"Eh!" Agung reflek menoleh, tau darimana gadis itu, dan tidak harus bertanya adiknya sudah menjelaskan pengetahuannya.
"Pas Nina ambil baju kotor aa buat dicuci tuh bau alkohol, pasti aa mabuk kan, biarin Nina aduin." Adelina kembali mengancam kemudian berlari pergi.
"Eh, Ninaaa!" Agung hendak mengejar sang adik, namun ketukan di pintu membuat langkahnya kemudian terhenti, dia berbelok ke arah benda itu, dengan terus menggerutu siapa gerangan seseorang yang berani bertamu selarut malam ini. "Cari siapa?" Tanya Agung saat mendapati seseorang memunggunginya di depan rumah.
Pria itu berbalik, dan keduanya tampak terkejut, si tamu kembali menoleh pada nomor rumah dan membaca keterangan di sana, dia berharap salah alamat.
Agung yang sama terkejutnya sontak mengerutkan dahi, ada kakaknya Alia datang ke sini. Untuk apa?
Terakhir pertemuan mereka, saat malam itu Ardi dengan sengaja memamerkan pada Aldo bahwa dirinya adalah pemilik Cafe buronan mitoha. Dan pria itu kemudian pergi dengan menyeret adiknya, dan sekarang dia kesini. Apakah ingin berdamai? Tapi sepertinya amat tidak mungkin.
"Bang Aldo? Ngapain?" Tanya Agung berusaha setenang mungkin. Meski sesungguhnya dia benar-benar penasaran dengan maksud kedatangannya. Mau minta maaf kah?
Aldo yang terlihat gugup entah kenapa memilih untuk diam saja, namun setelah beberapa saat dia berkata." Sepertinya aku Salah alamat. Maaf," ucapnya setengah berharap.
"Kak Aldo." Adelina menerobos keluar dari dalam rumah, sedikit menyenggol sang kakak yang berdiri di ambang pintu. "Kok kesini malem-malem? Ngapain?" Tanyanya malu-malu.
Aldo menunjukkan paper bag yang ia bawa, "buku kamu ketinggalan di mobil tadi, besok aku nggak ke kampus jadi aku anterin sekarang."
Melihat interaksi keduanya, Agung merasa semakin bingung, dan belum sempat dia bertanya, sang adik sudah memperkenalkan pria yang berdiri di antara mereka.
"A Agung kenalin ini Kak Aldo. Dosen sekaligus pacar Nina yang sering Nina ceritain."
Seperti suara petir di malam hari, pernyataan itu sungguh terdengar amat ngeri, sepertinya dunia ini begitu sempit, hingga dari sekian banyaknya populasi manusia kenapa dia harus berurusan dengan pria itu lagi? Seperti sebuah rantai makanan yang amat sulit untuk diurai yang mana yang lebih berkuasa untuk memakan atau dimakan, keadaan seperti ini benar-benar tidak terduga.
"Apah?" Pekiknya tidak percaya.
**iklan***
Author: ini si Agung dirumahnya dipanggil aa ya, tau kan aa itu sama aja dengan abang, kakak, kangmas, akang, apalah istilahnya. 😌
Netizen: orang mah Oppa aja thor manggilnya kaya Negara tetangga. Malah aa uu aa uu. 😂
Author: tolong jangan mancing ya, gue lagi puasa. Menahan hawa nafsu untuk menelan dirimu bulat-bulat. 😌
Netizen: siapa yang mancing si 😒 eh doa buat puasa hari ini apa thor.
Author: kalo gue sih sederhana aja ya, misal gue gak sengaja kelupaan makan semoga nggak ada yang ngingetin, ya minimal sampe minum lah biar gak seret 😌
Netizen: dih itumah do'a yang lagi viral di ig.
Author: ya daripada gw berdoa biar lu menghilang dari peradaban dunia, milih mana.
Netizen: emangnya gue virus corona.
Author: 😒 yaudah lah jan diterusin bentar lagi magrib sayang puasa gw kalo batal debat sama lu.
Ah iya sekarang di grup chat ada auto kick ya, jadi buat member yang jarang nongol bakal langsung ditendang. Bukan gue yang nendang jadi jangan salah paham. Intinya kalo gak mau ditendang ya usahakan buat aktif lah minimal sehari muncul sekali.
Udah gitu aja dah, jan lupa dukungannya ya aku padamu 🤗 salam haha hihi walau hari ini panas sekali. Marhaban ya ramadhan. Maafin kalo ada salah salah ketik. Atau bahasa yg menyinggung baik sengaja atau tidak disengaja, terutama buat yg julid kaya kamu, iya kamu. Aku minta maaf ya 😌
__ADS_1