NOISY GIRL

NOISY GIRL
MAMI


__ADS_3

"Kan kita yang bawa Karin ke sini, jadi kita juga yang harus nganterin pulang." Nadia membujuk Ardi yang bersikeras ingin mengantarkan pacarnya pulang.


 


 


"Nggak papa, Nat, udah malem biarin gue aja."


 


 


"Yaudah deh," ucap Nadia, mengalah. "Sory ya, Rin, gue nggak bisa nganterin pulang. Cowok lo maksa."


 


 


Karin tertawa pelan, melirik sang abang yang tampak acuh melipat lengannya di dada. "Nggak papa, Mbak Nadia," ucapnya, kemudian melambaikan tangan saat teman-teman abangnya itu mulai pergi dengan mobilnya.


 


 


Ardi melangkah menuju mobil, dan Karin mengikuti di belakang.


 


 


"Abang beneran nggak apa-apa? Punggungnya masih sakit kan?" Tanya Karin saat mobil yang ia tumpangi sudah mulai dilajukan.


 


 


"Nggak, Dek." Ardi mengusap puncak kepala gadis di sebelahnya itu, kemudian fokus lagi pada kemudi.


 


 


Ketika mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Karin, pemuda itu menghentikan mobilnya, menoleh ke arah luar yang tampak hujan deras, seperti dejavu, suasana seperti ini dia jadi ingat kejadian tempo lalu.


 


 


"Gue masuk aja ya, kan papi lo nggak ada." Ardi memberi usul yang kemudian mendapat anggukan dari gadis di sebelahnya. Pemuda itu menekan klakson dua kali, membuka kaca mobil agar Pak Satpam di rumah Karin mengenali anak majikannya.


 


 


Setelah masuk, mobil kembali Ardi hentikan di halaman  rumah Karin yang beratap, pemuda itu menoleh pada gadis di sebelahnya yang tampak sibuk membuka sabuk pengaman.


 


 


Ardi mencondongkan tubuhnya, membantu Karin yang tampak kesulitan membuka benda itu, jarak mereka yang terlalu dekat membuat gadis berponi itu menahan napas.


 


 


Entah sejak kapan perasaan canggung itu selalu datang kala ia berdekatan dengan sang abang, padahal sebelumnya dia selalu merasa biasa saja, apa mungkin karena mereka sekarang jarang bertemu, atau juga karena perasaannya yang semakin dalam pada pemuda itu. Atau mungkin juga karena dia merasa sikap pemuda di hadapannya itu sudah semakin berbahaya.


 


 


Karin sedikit terkejut saat kecupan di bibir membuat matanya reflek mengerjap dua kali.


 


 


"Bengong aja terus sampe gue cium lagi," Tegur Ardi dengan masih mencondongkn tubuhnya.


 


 


Karin mendorong wajah sang abang menjauh, membuat pemuda itu tertawa pelan."Abang ih," keluhnya.


 


 


"Kapan lagi coba kita bisa kaya gini, Dek. Herder lo galak banget," ucap Ardi yang kembali mendapat dorongan di pipinya dari telapak tangan gadis itu.


 


 


Karin tertawa pelan, "Karin mau nanya, Bang," ucapnya saat teringat sesuatu.


 


 


Ardi tertegun, kalimat mau nanya selalu saja membuat dirinya merasa takut, terlepas siapapun yang mengutaraknnya. "Apa?"


 


 


"Abang ngusap perut Karin, cari apa?"


 


 


Ardi kembali tertegun, tidak menyangka gadis polos di hadapannya itu menyadarinya, "kenapa lo bisa kepikiran gue mau nyari sesuatu?"


 


 


"Soalnya nggak biasanya abang kaya gitu."


 


 


Ah iya, Ardi sadar, selama ini dia memang tidak pernah sejauh itu, dan ternyata enak juga, eh maksudnya.... "Nggak nyari apa-apa."


 


 


Karin memberikan tatapan curiga pada abangnya, membuat pemuda itu menghela napas dan mengembuskannya perlahan.

__ADS_1


 


 


Ardi meletakkan kedua tangannya di atas kemudi, menoleh pada gadis itu, "bekas jahitan di pinggang lo itu, kenapa kalo boleh gue tau?" Tanyanya.


 


 


"Kenapa abang mau cari tau?" Karin balik bertanya, menyingkap sedikit kausnya hingga memperlihatkan bekas sayatan di sana, meski samar dan kecil, tapi terlihat mencolok di antara kulit mulusnya.


 


 


Ardi berdecak, menurunkan kembali kaus gadis itu dengan tangannya, "Nggak usah dipamerin juga dong ya."


 


 


Karin terkekeh pelan. Kembali menyingkap kaus yang ia kenakan untuk menggoda abangnya.


 


 


"Dek," sergah pemuda itu dengan masih memegang ujung kaus Karin, membuat gadis itu tertawa.


 


 


"Dulu kata mami, Karin pernah operasi pengangkatan ginjal gitu. Dan ada orang yang baik hati donorin ginjalnya buat Karin," ucap gadis itu mulai bercerita.


 


 


Ardi menjauhkan tangannya, beralih menyingkap poni gadis di hadapannya itu yang nyaris menutupi mata." Terus, lo tau siapa orangnya?"


 


 


Karin menggeleng,"kalo tau, Karin pasti udah bilang makasih banget buat orang itu," ucapnya.


 


 


Sesaat Ardi terdiam, menatap gadis yang berhadapan dengannya itu dengan sedikit senyum. "Kalo ternyata yang donorin ginjal itu papi lo sendiri, gimana?" Tanyanya.


 


 


Karin tertawa, "ya nggak mungkin lah, Bang, tau sendiri sifat papi tuh kaya gimana, tapi kalo sampe itu beneran, Karin pasti bakal nurut sama papi."


 


 


Seketika senyum pemuda itu menghilang, rasa takut membuat hatinya menjadi kalut, dan hal itu disadari oleh gadis yang menghentikan tawa di hadapannya.


 


 


 


 


Karin terdiam lama, bingung dengan sikap abangnya, "Nggak mungkin, Bang. Nggak mungkin papi Karin yang–"


 


 


"Nggak ada yang nggak mungkin, Dek." Ardi menyela ucapan gadis itu. "Gue nggak suka lo ngomong kaya gitu, janji satu hal sama gue."


 


 


Karin mengerjap gugup, sedikit takut melihat reaksi sang abang dengan candaannya. "Kenapa si, Bang?"


 


 


Ardi meraih jemari gadis itu, menggenggamnya erat, "janji satu hal sama gue, bahwa lo nggak akan berpaling dari gue, apapun yang terjadi."


 


 


"Bang?"


 


 


"Janji dulu, Dek."


 


 


Karin membuka mulut, belum sempat mengucapkan sesuatu, kemunculan Naya dari arah pintu membuat perhatian keduanya teralihkan. Gadis itu menoleh sekilas pada sang abang, "udah malem, abang pulang ya," ucapnya, kemudian membuka pintu.


 


 


Ardi yang berniat mencegah pergerakan gadis itu nyatanya kalah cepat, sama seperti kemungkinan yang akan datang berikutnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


 


 


Jika aku tahu sebuah perpisahan akan menorehkan luka sedalam ini, dari awal, perjumpaan kita tidak akan kubuat indah.


 


 


Tulisan Kanjeng ribet pada kiriman terbarunya terbayang-bayang di kepala, dan pemuda itu merasa tidak berdaya.


 


 

__ADS_1


"Kok cepet banget pulangnya?" Tanya Naya saat putri suaminya itu mencium punggung tangannya.


 


 


"Ujan, Tante, nggak nungguin jam dua belas, toh nggak bisa nyalain kembang api juga."


 


 


Naya mengangguk, menoleh ke arah mobil yang mengantarkan anak itu,"mana dong calon mantu mami, kenalin."


 


 


Karin mengerjap gugup, menolehkan kepala pada kaca mobil sang abang yang meskipun tidak terlihat orang didalmnya, tapi dia yakin pemuda itu pasti tengah memandanginya.


 


 


Tidak lama, pintu mobil terbuka, Ardi keluar dari sana, memberikan senyum terbaik pada Naya yang tampak berbinar senang.


 


 


Naya menyikut lengan Karin yang berdiri di sebelahnya. "Ganteng ih," bisiknya yang membuat gadis itu jadi tersipu.


 


 


Pemuda itu mendekat. "Ardi, Tante," ucapnya memperkenalkan diri, mencium punggung tangan Naya dengan ujung hidungnya.


 


 


"Oh, jadi ini calon mantu, Mas Hendrik," goda Naya.


 


 


Ardi tersenyum canggung, "masih belum dapet restu, Tante," balasnya yang mendapat pelototan dari Karin.


 


 


Naya tertawa pelan, mengusap sekilas lengan pemuda di hadapannya itu memberikan dukungan, "sabar ya, Mas Hendrik emang gitu orangnya, tapi sebenernya baik kok, cuman buat melihat kebaikan dia kadang seseorang harus berusaha lebih keras."


 


 


Ardi tertawa sumbang, kurang keras apa coba usahanya, dari manjat genteng, nyaris ditendang dan terakhir malah dipukul dengan payung, pemuda itu tidak pernah menyangka, kisah cintanya akan semenyedihkan ini sebelumnya.


 


 


"Iya, Tante, makasih," ucapnya kemudian mengangguk, menoleh pada Karin yang tampak menahan tawa.


 


 


"Mau mampir? Saya bikinin minum," tawar wanita itu ramah.


 


 


Ardi menggeleng. "Saya pulang aja, Tan," balasnya, "udah malem," imbuh pemuda itu kemudian kembali menyalami wanita yang terus memberinya senyuman.


 


 


Pemuda itu  mengangkat sebelah tangannya, berpamitan pada Karin yang membalas dengan anggukan.


 


 


"Pinter kamu milihnya," goda Naya pada putrinya saat mereka masuk ke dalam rumah.


 


 


"Apa sih, Tante."


 


 


"Kabarin Mas Hendrik ah, anak gadisnya dianter pulang sama cowok."


 


 


Karin yang semula melangkah beriringan dengan wanita itu sontak menghentikan laju kakinya, "ih, Tante kok gitu?"


 


 


"Abisnya kamu manggilnya tante terus, kalo aku dipanggil mami rahasia aman terjaga deh."


 


 


Karin tersenyum, menggandeng lengan wanita itu dan membujuknya, "Iya, Mami muda."


 


 


Naya jadi tertawa.


 



Ardi: makasih dukungannya ya. Semangat ngumpulin poinnya.

__ADS_1



Karin: grup Noisy baper bikin aku semangat terus, menghibur banget, makasiih... Jan lupa votenya ya.


__ADS_2