NOISY GIRL

NOISY GIRL
RENCANA


__ADS_3

Hendrik merasa lega. Beberapa menit lalu dia sudah menyelesaikan tugas sebagai wali untuk putrinya. Pria itu melangkah menjauhi keramaian, sesekali membalas sapaan juga ucapan selamat dari setiap orang yang melewatinya.


 


 


Sepertinya dia sudah memilih keputusan yang tepat saat menyetujui Justin melamar putrinya untuk Ardi. Buktinya Karin saat ini terlihat amat bahagia.


 


 


Sembari mendudukkan dirinya, pria itu menoleh ke pelaminan, ramai teman-teman putrinya berdatangan. Untuk beberapa menit ke depan, lebih baik dirinya tidak usah bergabung dulu.


 


 


"Om mau es krim dong." Seorang bocah laki-laki menarik lengan jasanya, membuat pria itu menoleh.


 


 


Hendrik mengernyit, mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu anak itu sebelumnya, wajahnya tampak familiar. "Kamu mau es krim?" Tanyanya memastikan.


 


 


Anak di hadapannya mengangguk, dan setelah Hendrik memintakan satu cup es krim pada petugas yang ada di sana, anak itu berterimakasih.


 


 


"Kenapa kamu sendirian, di mana ibumu?" Hendrik bertanya pada bocah yang kini duduk di kursi sebelahnya, anak itu mendongak dari makanan dingin di tangannya, kemudian mengerjap beberapa kali.


 


 


"Kata papi nggak boleh ngobrol sama orang asing," ujar anak itu, kedua bola matanya yang bulat mengerjap lucu.


 


 


Hendrik tertawa pelan, "jika begitu kenapa kamu menyuruhku mengambilkan makanan untukmu," sindirnya, dan anak di hadapannya jadi terdiam. "Orang asing kan?"


 


 


Anak laki-laki itu mendongak lagi, "karena om udah baik hati, sekarang bukan orang asing lagi," ucapnya serius, "nama aku Nino Nakula, Om, panggil Nino aja," lanjutnya memperkenalkan diri.


 


 


Hendrik mengerutkan dahi lagi, mengulang nama anak itu di dalam hati, "oh, astaga," gumamnya, nama itu dia kenal, kemudian kembali memusatkan perhatian pada anak yang sibuk dengan es krim di tangannya. "Di mana papi kamu, kenapa kamu sendirian?" Tanyanya.


 


 


Nino menoleh, sedikit merasa bingung, "memangnya om kenal papi aku?" Tanyanya tidak yakin.


 


 


Hendrik mengangguk, "kenal, kita berteman," jawabnya meyakinkan.


 


 


Nino melirik kursi pelaminan, di sana sang om juga tantenya tampak sibuk menyambut para tamu yang memberikan ucapan selamat, dan mengajak bersalaman. "Kenal juga dong sama Om Ardi?" Tanyanya lagi.


 


 


Hendrik ikut menoleh ke arah pelaminan, kemudian tersenyum, "kenal," jawabnya.


 


 


"Itu namanya Tante Karin, Om, dia tante aku, cantik kan," ucapnya mencari persetujuan, Hendrik tampak mengangguk. "Sayang aku kurang tinggi, makanya Tante Karin nggak pilih aku, malah pilih Om Ardi."


 


 


Hendrik reflek tertawa, menepuk pelan kepala anak laki-laki di sebelahnya, seandainya saja dia punya ank laki-laki juga. Mungkinkah sikapnya akan semenggemaskan ini, pikirannya. "Memangnya kenapa dengan Om Ardi?"


 


 


"Aku kesel sama Om Ardi, dia udah ambil Tante Karin dari aku," ucapnya dengan wajah yang cemberut, namun tidak berhenti menyuapkan es krim di tangannya.


 


 


Hendrik mengulas senyum, "Om juga nggak suka sama dia, dia juga udah ngambil Karin dari om," ucapnya yang membuat bocah bernama Nino menoleh prihatin.


 


 


"Om suka sama Tante Karin juga?" Tanya Nino, kepalanya ia miringkan demi untuk melihat raut wajah pria paruh baya di Sebelah nya itu, yang sesaat berubah murung.


 


 


Hendrik tersenyum, kemudian mengangguk, "suka banget malah," ungkapnya dengan tatapan menerawang, selama ini dia tidak ingat pernahkah dirinya mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, atau malah memang belum pernah.


 


 


Nino tertegun, mengaduk es yang mulai mencair di tangannya. Dia memang kesal pada omnya, tapi jika orang lain punya kekesalan yang sama, entah kenapa anak itu merasa tidak terima. "Om jangan kesel sama Om Ardi, biar aku aja yang kesel," ucapnya, beranjak meminta dua cup es krim lagi pada petugas catering, dan memberikan satu pada pria yang sedari tadi mengajaknya berbicara, "buat, Om," ucapnya.


 

__ADS_1


 


Hendrik terdiam, melirik es krim yang disodorkan, juga wajah anak itu bergantian, dia sedikit ragu.


 


 


"Ayo ambil," ucap Nino, "kata mami, kalo kita lagi sedih makan es krim aja," ucapnya menjelaskan.


 


 


Nino kembali terduduk saat pria di sebelahnya itu menerima makanan yang dia berikan.


 


 


Hendrik tersenyum, kemudian kembali menoleh pada anak itu, "begitu yah?" Tanyanya. "Sekarang apa kesalnya sudah hilang?" Imbuhnya lagi.


 


 


Nino terdiam, sedikit berpikir kemudian menoleh pada pria paruh baya di sebelahnya yang tampak menunggu, anak itu menggeleng, "masih kesel, Om," jawabnya.


 


 


Hendrik menyambutnya dengan tawa, hari ini entah kenapa dia jadi banyak tertawa, entah karena pernikahan putrinya atau oleh sosok bocah laki-laki di sebelahnya itu. Entahlah. "Om punya ide biar kamu nggak kesel lagi."


 


 


Nino mengurunkan niatnya menyuapkan sendok es krim ke dalam mulut, malah menoleh dengan kening berkerut, "ide apa?" Tanyanya. Dan saat pria itu mendekatkan tubuhnya dan berbisik sesuatu dekat telinga, anak itu tertawa-tawa. "Bagus idenya, Om," pujinya.


 


 


Hendrik mengangkat sebelah tangan, dan bocah bernama Nino itu menyambutnya dengan tepukan.


 


 


"Nino," panggil seseorang yang membuat keduanya menoleh. "Eh, Pak Hendrik," sapanya sedikit terkejut.


 


 


"Mami kenal sama om ini?" Tanya Nino yang sudah menghampiri ibunya.


 


 


Nena tersenyum, mengangguk sekilas pada pria yang juga membalas anggukannya, kemudian menoleh pada putranya, "Om Hendrik ini papinya Tante Karin sayang."


 


 


 


 


Saat melangkah pergi Nino menoleh, melambaikan tangan pada pria yang katanya papi tantenya, "makasih, Om," ucapnya, entah untuk es krim yang dia makan atau rencana yang pria itu usulkan. Entahlah.


 


 


***


 


 


Rombongan buronan Mitoha dengan rusuh menaiki pelaminan, foto bersama juga tidak lupa melontarkan ucapan selamat berupa ledekan khas mereka.


 


 


"Berapa taun deh, hubungan kalian berdua," sindir Ipang, "akhirnya nikah juga," ucapnya saat mereka berada dalam satu meja untuk makan bersama, kedua mempelai pun diberi kesempatan untuk makan dulu sebelum nanti menyambut para tamu kembali.


 


 


Agung yang sempat mengingat sebentar, kemudian tertawa, "hampir saingan sama kredit mobil lah," balasnya.


 


 


"Apaan?" Ardi merespon, "lamaan juga pasangan legend nih, Edo Nadia, Nyaingin kredit rumah."


 


 


"Sialan," balas Edo yang membuat istrinya tertawa. "Mendingan juga gue lama tapi nikah, dari pada si Ipang, lama jagain jodoh orang."


 


 


"Ngapa jadi gue si." Ipang yang tidak terima kemudian menyahut, "tapi bagus juga yang penting gue udah nyobain."


 


 


"Setaaan." Ardi mengumpat sambil tertawa, Karin yang duduk di sebelahnya jadi mengerutkan dahi.


"Yang kaya lo gini, nih, masuk Neraka lewat jalur orang dalem." Edo menanggapi.


"Nyobain apa si?" Tanya Karin penasaran.


 


"Nyobain yang nanti malem kamu cobain." Nadia yang duduk di sebelah Edo memberikan jawaban yang malah semakin membuat gadis itu kebingungan.

__ADS_1


 


 


"Iya deh yang udah pengalaman akumah apa atuh ktp aja baru jadi." Alya menyahut bercanda. Mereka jadi tertawa.


 


 


"Eh, sory-sory gue lama," ucap Lisa yang baru kembali dari kamar mandi, "bahas apaan si, kayaknya seru banget?" Tanyanya.


 


 


Sesaat mereka terdiam, kemudian menoleh pada Karin, biasanya gadis yang terlalu polos itu sering mengadukan apa yang dia dengar.


 


 


"Kenapa? Kok pada diem." Lisa jadi curiga.


 


 


"Nggak papa Lisa, cuman bahas Ipang yang katanya udah pernah nyobain mantan-mantannya." Malah Alya yang mengadukannya.


 


 


"Eh, enggak!" Ipang mengelak, dan mendapat pelototan dari tunangannya itu dia beranjak berdiri dengan waspada.


 


 


"Ipaaang." Lisa setengah berteriak dan melihat kekasihnya itu kabur dia kemudian mengejarnya.


 


 


Agung melihat itu jadi tertawa, "kamu sih kompor banget," tegurnya pada Alya yang cekikikan.


 


 


"Eh, tapi sekarang gue nggak liat si Ipang bawa cewek lain, kayaknya beneran serius dia sama Lisa." Edo memberi dugaan.


 


 


"Ya abis gimana, boro-boro dia selingkuh, satu aja kerjaannya tawuran mulu." Ardi menanggapi.


 


 


Teringat sesuatu, Karin mengambil buket bunga yang ia letakkan di kursi kosong sebelahnya, "gimana kalo kita kasih ini aja buat mereka, biar cepet nyusul," ucapnya.


 


 


Ardi tertawa, jika bukan karena rambut gadis itu yang dirias cantik sebagai mempelai wanita, dia pasti sudah mengusap kepala saking gemasnya. "Nggak ngaruh."


 


 


Agung ikut menanggapi, "mitos itu, jangan dipercaya," ucapnya.


 


 


Alya mengambil buket bunga di tangan Karin dengan tiba-tiba, "bunganya buat aku aja ya," pintanya, kemudian menoleh pada sang kekasih di sebelahnya. "Kak Agung cepet halalin aku ya."


 


 


"Eh?"


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: Kirain udah adegan mantap-mantap 😒


Author: bentar-bentar, gue blom siap 😂


Netizen: mantep kemaren ya thor komennya ampe 700 silen readers pada keluar semua. 🤭


Author: iya, isinya kebanyakan pada ngajakin bikin dosa. 😭


Netizen: katanya minta dikomen gimana si. 😒


Author: ya tapi Next aja, jan macem-macem juga 😂


Netizen: katanya kalo gak Hot poin ditahan thor 🤔


Author: poin ditahan gue jadi pemulung dong 😭


Netizen:makanya yang panas. 😏


Author: ntar gue tulis dua bulan kemudian, terus langsung bunting biar panas 🤭


Netizen: 😭😭😭


Author: makanya poinnya kencengin dulu biar akunya semangat 🤣🤣


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2