
"Udah berapa lama?" Agung bertanya dengan memberikan tatapan tenang pada pria yang menduduki sofa di hadapannya.
Aldo menghela napas, dia jadi serba salah, ingat dengan apa yang ia lakukan pada pemuda itu tempo hari di rumahnya, dia jadi berpikir mungkin anak itu akan memberikan perlakuan yang sama terhadap dirinya dan yang harus ia lakukan adalah menerimanya.
"Sekitar satu bulanan, kami kenal di kampus, dia mahasiswi yang baik, dan aku tidak pernah menyangka kalo dia itu adik kamu," jawab Aldo santai.
Dengan pelan, Agung tertawa mendengus. "Kenapa kalo ternyata dia adik saya? Baru sadar bahwa kamu ternyata menyukai anak orang miskin yang tidak jelas kelurganya?" Tanyanya menyindir.
Aldo terdiam, melengos saat tatapan keduanya tidak sengaja bertemu, dia akui rumah ini cukup besar, dan dengan usaha Cafe yang cukup maju juga beberapa cabang yang ia ketahui dari Ipang, dirinya sungguh Salah jika mengira bahwa Agung adalah orang susah, ya setidaknya dulu dia taunya mereka termasuk ke dalam golongan yang kurang mampu.
"Kamu mau balas dendam dengan perlakuanku tempo lalu?" Tanya Aldo dengan tatapan menantang, jika ia harus dicacimaki seperti apa yang ia lakukan waktu itu, dia akan terima.
Agung menggeleng, "balas dendam untuk apa? Seorang kakak yang mengkhawatirkan tentang dengan siapa adiknya itu dekat kurasa hal yang wajar," tuturnya.
Aldo terdiam, entah kenapa kalimat itu terdengar lebih mengerikan, dan jika boleh memilih lebih baik dia dimaki-maki dengan kalimat yang sama, dari pada harus disindir sedemikian rupa."Iya, aku terlalu khawatir pada Lia, takut dia salah memilih seorang pria sebagai pendamping hidupnya, tidak salah bukan?"
Agung tersenyum, mengarahkan pandangan pada tangannya di atas lutut yang sibuk bertaut, kepalanya penuh dengan kalimat-kalimat, dan dia bimbang harus lebih dulu mengutarakan yang mana. "Memang tidak salah, hanya saja cara kamu menyampaikan kerisauanmu itu yang menurutku tidak benar."
Aldo menganggukkan kepala, dia mengakui bahwa kalimatnya tempo lalu sudah sangat keterlaluan, dan pemuda itu sepertinya berniat mengajarinya bagaimana menolak seorang pria yang jatuh cinta pada adiknya tanpa harus menghina-hina. Sial. "Jadi kamu mau aku minta maaf?" Tanyanya.
Agung tersenyum mendengus, "justru saya mau berterimakasih," balasnya yang membuat pemuda di hadapannya itu mengerutkan dahi. "Sekarang saya tau posisi kamu, bagaimana kamu mengkhawatirkan adik kamu salah pilih, dan saya pun sekarang merasa begitu, karena sepertinya adik saya telah salah memilih."
Aldo berdecih, "ya intinya kamu melarang aku berhubungan dengan adik kamu, begitu kan?"
Agung tidak menjawab, malah menoleh pada pintu dengan tangan kanan yang terangkat mengarah pada benda itu. "Sudah malam, jika masih ingin bertamu, kembali besok saja," ucapnya.
Meski merasa tidak terima, Aldo kemudian bangkit juga, ini lebih memalukan daripada dihina, dan baru kali ini dia tau bagaimana rasanya. "Permisi," ucapnya kemudian melangkah keluar.
Saat terdengar deru mesin mobil dari depan rumahnya, Agung tau pria itu telah pergi, dia memijat pelan pangkal hidungnya saat pusing di kepala mulai mendera.
"Aa?"
Panggilan itu membuat Agung menoleh, menurunkan tangannya dari kening saat adiknya itu berlutut di hadapannya.
"Nina nggak mau pisah sama Kak Aldo A." Adelina mulai menangis, menyentuh lengan abangnya yang tampak diam saja, saat tadi Aldo bercerita bahwa Alya yang ia kenal sebagai pacar abangnya ternyata adik kandung dari pria itu, Adelina benar-benar merasa takut bahwa hubungan mereka akan tidak baik-baik saja.
"Dia nggak cocok sama kamu, aa nggak suka sama dia."
Adelina menggeleng, beranjak berdiri untuk kemudian duduk di sofa tunggal berhadapan dengan abangnya itu. "Aa nggak suka karena ternyata dia saudara kandung dari pacar aa, iya kan," tebaknya.
Agung memejamkan mata sejenak, memijat keningnya yang kembali terasa pusing, "bukan masalah itu–,"
"Aa takut hubungan aa sama Alya terganggu iya kan." Adelina memotong ucapan abangnya.
Agung terdiam, adiknya itu memang tidak tau dengan masalah yang membuat dirinya mabuk beberapa hari yang lalu. "Pokoknya aa nggak suka kamu berhubungan sama dia," tukasnya, berdiri kemudian beranjak pergi.
Baru beberapa langkah ucapan dari sang adik membuat pemuda itu terdiam, kemudian berbalik menghadap gadis itu.
Adelina berdiri dari duduknya, "aa egois," ulangnya. "Aa mentingin perasaan aa sendiri," imbuh gadis itu kemudian, dengan sesekali menghapus airmata yang mengalir di permukaan pipi, dia merasa sang abang tidak mau bertoleransi.
__ADS_1
"Terserah kamu mau mikir apa, yang jelas aa nggak setuju kamu berhubungan dengan orang itu," tegasnya yang membuat sang adik kembali menjatuhkan airmatanya.
"Ternyata aa nggak sebijaksana yang selama ini Nina kira, aku bener-bener kecewa sama keputusan aa."
Agung mengusap wajahnya gusar, "terus mau kamu apa?" Tantangnya.
Adelina mendengus, rasa kesal membuat napasnya kian sesak. "Sama kaya aa yang memilih terus berjuang buat Alya, aku sama Kak Aldo juga akan melakukan hal yang sama."
Melihat tatapan pemuda di hadapannya yang meredup entah kenapa Adelina merasa hatinya begitu sakit, tidak pernah ada pertengkaran seberat ini di antara mereka sebelumnya, dan entah kenapa dia malah merasa bersalah.
"Ok kalo gitu," ucap Agung yang kemudian terjeda, menata hati untuk mengutarakan kalimat berikutnya. "Aa bakal putusin pacar aa asal kamu juga mau putusin pacar kamu," ucapnya yang membuat keadaan hening seketika.
Adelina terhenyak di tempatnya, melihat sang abang yang melangkah mundur kemudian berbalik pergi meninggalkannya membuat dadanya semakin sesak.
Gadis itu tidak tau harus kecewa pada siapa, keputusan abangnya atau malah dirinya sendiri, karena melihat luka yang tersirat dari sorot laki-laki kesayangannya itu, berhasil membuat hatinya ikut kecewa. Dia harus bagaimana.
Lututnya yang lemas membuat Adelina jatuh terduduk di atas sofa, dia benar-benar merasa tidak berdaya.
"Teh Nina egois, Anggi kecewa sama Teteh."
Kalimat itu membuat Adelina menoleh, "Nggak usah ikut campur kamu, anak kecil tau apa," ketusnya.
Anggi mendekat, "seenggaknya meskipun belum dewasa, Anggi lebih peka dengan perasaan aa daripada teteh."
"Maksud kamu apa?"
"Jadi menurut kamu aku yang salah? Aku yang harus ngalah?"
"Aa melarang Teh Nina berhubungan dengan orang itu pasti punya alasan."
"Kamu nggak bakal ngerti Nggi, aa itu melarang aku berhubungan sama Ka Aldo karena dia pacaran sama adiknya, kamu paham sekarang."
Gadis remaja itu menggeleng, "Teh Nina yang seharusnya paham, teteh nggak tau kan kemarin aa pulang nemuin umi terus nangis-nangis sambil cerita kalo dia di hina-hina."
Adelina menoleh seketika, bibir yang sudah terbuka tidak lantas membuat kalimatnya terucap begitu saja, tenggorokannya malah tercekat, mendapati kenyataan bahwa dirinya tidak tau apa-apa.
"Apa Teh Nina tau siapa yang udah tega menghina A Agung?" Pertanyaan Anggi berhasil membuat kakak perempuannya itu semakin kalut. Dan tanpa menunggu sang kakak menyahut, gadis remaja itu kembali melanjutkan kalimat berikutnya. "Dia itu pacar yang selama ini teteh bangga-banggain di depan umi."
Saat sang adik menceritakan hinaan apa saja yang didapat oleh Kakak kandungnya dari pria yang selama ini ia cinta. Adelina benar-benar merasa kecewa, terutama pada dirinya yang tidak tau apa-apa. "Cukup Nggi," ucapnya yang membuat celotehan adiknya itu kemudian terhenti.
***
"Yakin lo syaratnya kaya gitu?" Ipang bertanya pada sahabatnya, kemudian tertawa.
Ardi yang menceritakan tentang pertemuannya dengan sang mertua pada teman-temannya mengangguk mengiyakan, kemudian bersandar lemas pada sofa. "Coba lo pikir, gue nyetaknya harus kaya gimana."
Kalimat itu membuat Edo seketika tertawa, kejadian ini membuat kisah abang dari sahabatnya itu terulang kembali. "Jadi mertua lo maunya cucu laki-laki? Misal nggak dapet gimana?" Tanyanya.
__ADS_1
Ardi terdiam, kemudian menoleh pada sang istri yang duduk di meja sudut Cafe hanya berdua dengan Nadia, mereka tampak mengobrol. "Istri gue bakalan terus ngurusin kerjaannya," balas pria itu.
Edo menepuk pundak Ardi untuk memberikan dukungan, "semoga lo dapet anak laki, dan misal nanti anak gue cewek, gimana kalo kita jodohin, kan lumayan baru lahir udah dapet warisan," selorohnya.
Ardi berdecak kesal, "ogah gue punya besan kaya lo," balasnya.
Ipang yang ikut cekikikan menoleh pada Agung yang tampak diam saja duduk di ujung sofa dengan sesekali mengurut keningnya.
Pemuda itu terlihat gusar, bagaimana tidak, lepas dari beberapa hari perdebatannya dengan sang adik dan membuat perjanjian bodoh untuk memutuskan hubungannya dengan Alya, dia belum pernah lagi bertemu dengan gadis yang berstatus kekasihnya itu, pesan-pesannya pun selalu ia hindari, dia masih bimbang apakah benar-benar akan menyudahi kisah mereka atau malah melanjutkan saja.
"Aldo emang gitu, dia selalu keras jika itu menyangkut Alya."
Ucapan Ipang yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya membuat Agung menoleh. "Gue juga punya keras kepala yang sama kalo itu menyangkut Adelina."
Ipang mengangguk-angguk, dia memang sudah tau cerita yang sebenarnya baik itu dari Agung atau dari sepupunya sendiri, dan bukannya membantu, pemuda itu malah jadi ikut bingung dibuatnya." Susah lah, kalian baru ketemu aja udah kaya air sama minyak, susah buat nyatu."
"Gue punya alasan untuk itu," sela Agung.
"Ya terus kedepannya harus gimana, nggak mungkin lo terus menghindar dari Alya, gue pusing diteror sama dia yang tiap hari nanyain lo."
Agung berdecak, namun belum sempat menanggapi, langkah kaki yang berhenti di hadapan mereka membuat keduanya mendongak. Alya berdiri dengan raut kecewa, juga ribuan tanya yang bercokol di kepalanya.
***iklan***
Author: Ini mohon maaf banget ya. Bang Ar jadi cameo mulu beberapa hari ini. Tapi besok aku usahakan bikin part full keluarga mereka. 🤧
Netizen: Banyak yang komen katanya OMB suruh lanjut thor. 🤔
Author: aku pengen lanjut tapi bahas apaan coba, udah lah laper, pusing mikirin alur juga. 😆
Netizen: William aja thor kenapa dia gak nikah sama My Lyli kan penasaran.
Author: Yaelaaah candu lagi aja 🤧 lu yang tinggal baca enak, lah gue yang mikirin coba bayangin, puasa-puasa otak gue ngeres.
Netizen: ya lagian sapa yang nyuruh bikin alur ngeres, ngrepotin kang sapu aja. 😌
Author: Ya lu tau lah kelakuan William kaya gimana. 😆
Netizen: Gue nggak nyalain kelakuan William, emang lu aja yang iseng banget bikin karakter yang kaya gitu. 😑
Author: Jadi ini semua salah gue? Salah temen-temen gue. 😒
Netizen: emang lo punya temen. 🤔
Author: kaga 😭
Maaf lama, aku minta dukungannya ya. Kisah Bang entin emang sengaja episodenya dikit karena suatu saat bakal dilanjut tapi gak tau kapan. Dan kalo banyak respon positif like vote komen juga kenceng, nanti aku usahain buat lanjutin kisah mereka. Tapi gk janji bakal konsisten itu buat selingan aja.
Salam haha hihi jan lupa vote ya. Like komen yg kenceng biar lanjut ke OMB.
__ADS_1