NOISY GIRL

NOISY GIRL
BERKUNJUNG


__ADS_3

Ardi yang pusing karena pekerjaan kantornya bertambah pusing dengan kabar dari sang kekasih bahwa nanti malam tunangan gadis itu akan berkunjung ke rumahnya bersama keluarga.


 


 


Pemuda itu menghubungi teman-temannya lewat chat grup buronan Mitoha.


 


 


Ardian R: gimana nih?


 


 


Ketiknya kemudian ketika beberapa saat yang lalu dirinya menjelaskan perihal apa yang membuat hatinya menjadi resah.


 


 


Edoardo D: lo tungguin aja di rumahnya, biar tau kaya apa si calon suami si Karin, gue juga penasaran.


 


 


Ardian R: cuma tunangan ya tolong, calon suaminya jelas gue.


 


 


Irfani A: lo ajak Karin pergi aja, biar nggak ketemu dia sama tunangannya.


 


 


Agung N: kalo menurut gue sih jangan ajak pergi, emangnya lo nggak penasaran sama orang yang ditunngin sama cewek lo itu.


 


 


Edoardo D: iya bener tuh, kita liat gantengan mana sama lo Ar.


 


 


Agung N: emang ganteng bikin kenyang, kalo tu orang anak Sultan mau apa lo.


 


 


Ardian R: Gue adeknya Sultan biasa aja.


 


 


Irfani A: ngapa pada ngomongin gue si.


 


 


Edoardo D: ngomongin si Sultan woy, ngapa jadi lo yang ribet dah, Pang.


 


 


Irfani A: ya gue kan anak Sultan.


 


 


Agung N: Sultan Aziz, lah iya juga.


 


 


Ardian R: etolong jan pada berjanda gue lagi serius.


 


 


Edoardo D: salfok gue sama janda.


 


 


Ardian R: Typo yaelah.


 


 


Ardian R: gimana ini.


 


 


Ardian R: nasib gue diujung anduk.


 


 


Agung N: Tanduk woy.


 


 


Irfani A: biarin aja biarin, mau nulis apa kek dia, lagi stres itu maklumin aja.


 


 


Ardian R: emang nggak bener gue minta saran kalian.


 


 


Agung N: udah Ar iklasin aja.


 


 


Ardian R: berantem lo sini sama gue, Gung.


 


 


Edoardo D: biarin-biarin jangan dipisain.


 


 


Irfani A: gue suka nih, baku hantam.


 


 


Ardian R: Set*n!


 


 


Ardi melempar ponselnya dengan kesal ke atas meja, meminta saran dari teman-temannya sama saja seperti makan kuaci tapi di itungin dulu, buang-buang waktu.


 


 


Denting sebuah pesan di ponselnya membuat pemuda itu menoleh, kemudian meraihnya. Dia mengerutkan dahi.


 


 


Abang : Nanti malam saya mau ajak kamu ke rumah seseorang, jangan sampai nggak pulang.


 


 


Ardi memberikan balasan, menanyakan akan berkunjung ke rumah siapa. Dan sesaat kemudian tulisan itu terkirim, centang dua dan berwarna biru, namun tidak ada tulisan typing di dalamnya. Inikah rasanya menunggu balasan, selama ini dirinya yang selalu melakukan itu pada siapa saja yang mengirim pesan.


 


 


Pemuda itu kemudian mengabaikannya, beralih lagi pada grup chat buronan Mitoha yang sedari tadi notifnya tidak pernah ada jeda.


 


 

__ADS_1


Dan berbaur bersama mereka dengan pembahasan yang tidak jelas pangkal ujungnya membuat pemuda itu terlena, dia jadi lupa.


 


 


***


 


 


Aset cantik: Bang Ar jadi ke rumah?


 


 


Ardi masih menunggu martabak pesanannya saat Karin kemudian mengirim chat berupa pertanyaan, pemuda itu membalas ia, dan mengatakan tengah menunggu martabak untuk dia bawa.


 


 


Aset cantik: cokelat keju ya Bang.


 


 


Ardi : terus.


 


 


Aset cantik: jangan dikacangin. Aku nggak suka kacang.


 


 


Ardi : iya sayang.


 


 


Aset cantik: abang nggak apa apa kalo nanti ketemu sama tunangan aku?


 


 


Aset cantik: jangan berantem ya.


 


 


Aset cantik: bang?


 


 


Ardi : iya.


 


 


Aset cantik: kok lama banget sih balesnya.


 


 


Ardi : katanya tadi martabaknya jangan dikacangin. Yaudah aku ajak ngobrol.


 


 


Aset cantik :abaaaaang.


 


 


Ardi: bercanda, tadi lagi di jalan, bukain pintu ya.


 


 


Saat Ardi keluar dari mobil di depan rumah Karin, pemuda itu bertanya pada asisten rumah tangga gadis itu yang barusan membukakan pintu gerbang untuknya. "Tante Carla ada, Bi."


 


 


 


 


Ardi mengangguk, pasti mereka tengah menunggu tunangan Karin, dan hatinya seketika memanas, rasa sedih membuat ia menggelengkan kepala, kemudian beranjak menghampiri pintu.


 


 


Carla menyambutnya dengan senang, namun wanita itu seperti mencari seseorang, "loh, kamu sendirian?"


 


 


Ardi mengerutkan dahi, "emangnya tante maunya aku bawa siapa?"


 


 


"Eh?" Carla jadi bingung, kemudian melirik pada tentengan yang pemuda tampan di hadapannya itu bawa.


 


 


"Buat, Tante." Ardi mengangsurkannya.


 


 


Carla menerimanya dengan lingkung, "makasih, ya," ucapnya yang membuat Ardi mengangguk.


 


 


"Aku boleh masuk nggak nih?" Pemuda itu meminta izin.


 


 


"Eh, yaudah," ucap Carla.


 


 


Ardi memasuki rumah besar di hadapannya, kemudian menoleh ke arah tangga. "Tante boleh nggak aku nemuin anaknya," izinnya lagi.


 


 


Carla mengangguk, "di balkon aja ngobrolnya, jangan di kamar."


 


 


"Iya, Tante," ucap Ardi kemudian setengah berlari menaiki anak tangga, menghampiri gadis itu.


 


 


Ardi duduk di sofa yang ada di kamar kekasihnya, suara gemercik air di kamar mandi membuat pemuda itu tau Karin berada di dalamnya, sembari menunggu, dia memejamkan mata.


 


 


Benarkah Ardi telah siap bertemu dengan tunangan gadis itu, benarkah perjumpaan ini tidak akan menyakiti perasaannya, dia tidak siap jika ternyata harus merelakan gadis yang bertahun-tahun namanya ia simpan di dalam hati.


 


 


Sibuk menanti setiap hari untuk sebuah perjumpaan yang dia pikir akan berujung bahagia, dan ternyata malah harus serumit ini jalannya. Dia belum siap untuk kehilangan. Lagi.


 


 


"Abang udah lama." Karin menghampiri pemuda itu, dan duduk di sebelahnya, wajahnya yang basah selepas mencuci muka ia usap dengan tisu putih di tangan,


 


 


Ardi menggeleng, "baru aja kok," ucapnya kemudian menoleh, dan tidak sengaja melihat cincin yang tersemat di jari manis gadis itu. "Kenapa kamu pake lagi?" Tanyanya.

__ADS_1


 


 


Karin melirik jarinya sendiri. "Kan nanti orangnya dateng, jadi mami suruh aku  buat pake."


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya, meraih jemari gadis itu dan memperhatikan cincin yang tersemat di sana.


 


 


Dia tau, ini bukan cincin murahan, pemuda itu pernah bertanya-tanya perihal benda itu saat dulu tengah mencarinya untuk melamar gadis di hadapannya dengan sang kakak, seingatnya juga Mbak Nena memilihkan satu untuk dibeli, tapi dia lupa menaruhnya di mana, dan kira-kira bentuknya seperti apa dia juga lupa.


 


 


Karin terdiam, "kenapa nggak jadi dilepasin?" Tanyanya.


 


 


"Nanti biar dia aja yang lepasin buat kamu."


 


 


Karin tersenyum jahil, "emang kamu yakin aku bakal nolak," godanya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya. "Kata mami ganteng loh, Bang, aku kalo sama yang ganteng suka lemah, gimana dong?" imbuhnya tanpa jeda.


 


 


Ardi mencebikkan bibir, melipat lengannya di depan dada, "belum pernah diculik terus dibawa ke KUA ya? Mau coba?" Ancamnya.


 


 


Karin tertawa, "udah, Bang jangan cemberut gitu, jelek tau," bujuknya dengan menarik lengan hingga lipatannya terlepas.


 


 


Sesaat mereka saling diam, Ardi sedikit mencondongkan tubuhnya dan berkata. "Abang kangen candu, Dek."


 


 


Kalimat itu selalu saja membuat Karin jadi meremang, gadis itu memicingkan mata, menarik kepalanya ke belakang saat sang abang semakin mendekatkan tubuhnya.


 


 


"Bentar doang," bujuk pemuda itu.


 


 


Karin menggeleng, "bentarnya kamu tuh, lama tau, Bang."


 


 


Ardi tertawa pelan, "bilang aja kamu suka, Yhaaaa," godanya.


 


 


Kalimat itu membuat Karin memukul lengan abangnya gemas, "dih ngeseliiin," ucapnya.


 


 


Dan pemuda di hadapannya menangkap lengan gadis itu kemudian sedikit menariknya untuk mendekat, dia mencondongkan kepala, mengikis jarak hingga telapak tangan gadis di hadapannya menyentuh dada, namun baru saja saling menempel, suara pintu terbuka membuat keduanya terlonjak, kemudian menjaga jarak.


 


 


Carla masuk ke kamar putrinya dengan membawa nampan berisi makanan yang pemuda itu belikan, "dibilangin ngobrolnya jangan di kamar," oceh wanita itu.


 


 


"Ngobrol doang, Tante." Ardi setengah berdusta.


 


 


"Mami ngapain ikut duduk di sini?" Tanya Karin saat mendapati sang mami duduk di sofa tunggal di antara mereka.


 


 


"Biar aman," ucapnya, "udah kalian terusin aja ngobrolnya, mami nggak akan ganggu.


 


 


Karin menghela napas, nggak akan ganggu katanya, dia melirik lagi sang mami yang sibuk memasang alat untuk mendengarkan musik di telinganya, kemudian menoleh pada sang abang yang tampak menahan senyum.


 


 


"Sampe mana tadi, Bang?" Tanya Karin setengah berbisik.


 


 


Ardi memejamkan matanya sejenak, kemudian tersenyum geli, "gagal candu, Dek," ucapnya yang membuat gadis di hadapannya tertawa lagi.


 


 


***


 


 


Di tempat lain, Nena yang mendapat kabar dari Carla dengan kedatangan Ardi yang sendirian ke rumahnya membuat wanita itu menggelengkan kepala. Carla bertanya mereka jadi datang atau tidak.


 


 


"Gimana dong, Mas? Ardi udah di sana duluan."


 


 


Justin berdecak sebal, "cepet banget gerakanya, yaudah kita kesana aja."


 


 


**iklan**


Netizen: Aset cantik apaan thor?


Author : anak setan cantik.


Netizen: oh, makasiih.


Author: bukan elu jubaedaah.


Netizen: eet, poin di tangan gue.


Author: aku padamu netizenkuuu 😘😘😘


 


Aku kirim naskah hari jumat jam 7.30 kalo langsung up hari jumat juga berarti beruntung.


Jangan lupa poinnya ya, nanti kalo bisa kirim siang aku taroin foto, tapi jangan marah kalo lulus riviewnya lama.


Makasih ya poinnya. Kalian luar biasa. 😘😘😘


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2