NOISY GIRL

NOISY GIRL
MOMEN 3 (KANGEN)


__ADS_3

Karin duduk tenang di sofa panjang, bersebelahan dengan Naya yang tampak khusuk menyimak pembacaan surat wasiat oleh pengacara di hadapannya, sesekali gadis itu tampak mengangguk saat dimintai persetujuan, entahlah setuju untuk apa, dia sendiri tidak mengerti.


 


 


Yang dia tau sedikit dari isi surat wasiat itu, sebelum dia berusia dua puluh lima tahun dan sudah menikah, harta benda yang diwariskan untuk dirinya dikelola oleh Hendrik sebagai wali sah.


 


 


Karin ikut berdiri saat sang papi menyalami pengacara keluarga besar almarhumah Nyonya Larasati yang adalah ibunya.


 


 


"Nanti malam kamu ikut  menemui rekan kerja saya, dia ingin mengenalkan anak laki-lakinya." Hendrik berucap setelah kembali menduduki sofa, saat tamunya sudah pergi.


 


 


Karin yang masih berdiri sontak menoleh terkejut pada sang papi. "Aku nggak mau dijodoh-jodohin, " tantangnya.


 


 


Menyadari suaminya yang terlihat akan marah, Naya beranjak berdiri dan menarik Karin untuk duduk lagi. "Bukan dijodihin, Karin, cuma kenalan aja kok, saling mengenal," hiburnya.


 


 


"Pi, aku tuh masih sekolah, aku nggak mau ya papi jodoh-jodohin aku sama anak rekan Papi."


 


 


Hendrik menghela napas, "kenapa? Karena kamu sudah suka sama si Ardi itu?" Tanyanya, sedikit menekankan nada suaranya saat menyebutkan nama sang abang, Karin tampak mengernyit takut.


 


 


"Maas." Naya memperingatkan suaminya dengan lembut.


 


 


"Saya tidak menjodohkan kamu, saya hanya ingin kamu tau cara mencari calon yang tepat, jelas asal usul nya," omel Hendrik.


 


 


Karin jadi berpikir, memang abangnya itu alien, yang asal usul nya nggak jelas? Dia bahkan kenal baik keluarganya.


 


 


"Kamu dengar saya Karin," tegur sang papi saat mendapati putrinya itu malah melamun. "Saya ingin kamu belajar cara memilih pasangan yang benar," imbuhnya, kemudian beranjak pergi.


 


 


Karin menoleh saat istri sang papi mengusap pundaknya, "nggak apa-apa, kalo kamu nggak suka nanti bilang aja, toh cuma kenalan."


 


 


Selepas magrib Naya mulai mendadani anak gadisnya, "nah, udah cantik deh," ucapnya saat selesai mengikat rambut Karin dan memberi  pita di sana.


 


 


Karin menghela napas saat melihat pantulan dirinya di cermin, "nggak usah cantik-cantik lah, Tan. Nanti anak temen papi jadi suka lagih," ucapnya, kemudian meraih tisu untuk menghapus riasan di wajah.


 


 


"Eh, jangan dong," cegah Naya, meraih tangan gadis di hadapannya itu dengan cepat. "Males boleh aja, tapi kecantikan nomor satu," ucapnya.


 


 


"Mi, kenapa aku nggak diajak sama Papi? Papi nggak suka aku ya, sukanya sama Kakak aja," ucap Kalila, yang membuat Karin menoleh.


 


 


Naya mengusap kepala putrinya sayang, berjongkok di hadapan gadis itu yang duduk di tepi ranjang Karin. "Kakak Karin itu anaknya nurut, nggak bandel kaya Kalila, makanya diajak."


 


 


"Papi nggak sayang sama Lila, Mi. Papi kerjaannya marah-marah terus," keluh gadis kelas empat sekolah dasar itu dengan memonyongkan bibirnya kesal.


 


 


Naya tersenyum, mencoba memberi pengertian pada putrinya yang memang jarang mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri." Mungkin papi lagi capek, makanya Lila jangan gangguin, Lila di kamar aja belajar biar pinter nanti juga papi seneng," ucapnya meyakinkan.


 


 


Kalila mengangguk, kemudian Naya mencium kening putrinya sayang, dan hal itu tidak luput dari perhatian Karin yang diam-diam mengagumi sosok Kanaya, ibu tirinya.


 


 


Berbeda sekali dengan Mami Carla, dulu saat dia mengeluh tentang betapa galaknya sang papi, maminya itu malah bilang. 'Sabar ya sayang, nanti mami cariin papi baru.'


 


 


Karin menggeleng, mengenyahkan pikiran itu, biar bagaimanapun dia adalah Maminya sendiri, meskipun saat kecil dirinya lebih sering bersama Oma Larasati, dan dididik menjadi anak yang baik oleh wanita itu.


 


 


Dan saat omanya  meninggal, Karin merasa hanya Carla satu-satunya orang yang menyayanginya.


 


 


"Maaf Nyonya, Non Karin udah ditungguin Tuan di depan," ucap bibi asisten rumah tangga mereka setelah mengetuk pintu yang dibiarkan terbuka.


 


 


Karin beranjak berdiri. Setelah mencium punggung tangan Naya dan wanita itu balik mencium keningnya, dia pun setengah berlari menghampiri sang papi.


 


 


Di perjalanan menuju Restoran tempat sang papi membuat janji dengan rekannya, Karin terus memperhatikan suasana di luar jendela mobil, tidak ada obrolan, dan menyetel musik untuk menghilangkan keheninganpun gadis itu tentu tidak berani.


 


 


Dia jadi berpikir, bahkan tukang ojek saja selalu mengajaknya berbicara saat mereka berkendara. Papinya ini kalah perhatian dari kang ojol lah pokoknya.


 


 


"Wah, Pak Hendrik, maaf nih jadi menunggu."


 


 


Pria paruh baya seumuran sang papi menghampiri meja Restoran tempat Karin mendudukkan dirinya beberapa menit yang lalu. Hendrik menyambutnya dengan hangat, dan berkata tidak apa-apa karena mereka juga memang baru datang.


 


 


Karin mengangguk dan ikut menyalami, dan mengucapkan terimakasih ketika dirinya dipuji cantik, mereka pun kembali duduk.


 


 


"Di mana putramu?" Tanya Hendrik.


 


 


"Ah, iya, dia tadi bawa kendaraan sendiri, mungkin sedang parkir dulu,"  jawabnya setelah memesan sesuatu pada pelayan yang datang menghampiri mereka.


 


 


"Maaf Om, saya telat," ucap seorang pemuda yang baru saja datang kemudian menyalami Hendrik.


 


 


Karin menoleh, dan terkejut mendapati ternyata yang datang adalah orang yang dia kenal, dan gadis itu jadi terdiam.


 


 


"Ayo Nak Irfan, duduk aja," titah Hendrik, dan pemuda itu kemudian duduk di sebelah putrinya, berhadapan dengan para orang tua. "Karin, kenalan dong," ucap sang papi yang kemudian membuat Karin mendongak, lalu menoleh pada pemuda di sebelahnya.


 


 


"Hay, saya Irfan," ucapnya mengulurkan tangan.


 


 


Karin mengerjap takjub, sedikit merasa aneh berkenalan dengan orang yang sebenarnya telah ia kenal, namun gadis itu menyambut uluran pemuda yang mengaku bernama Irfan dan menyebutkan namanya juga.


 


 


Obrolan makan malam itu mengalir biasa saja, sang papi yang  menanyakan kuliah dan kegiatan pemuda bernama Irfan itu, juga rekannya yang  sesekali menanyakan sekolah Karin, dan obrolan bisnis yang tidak Karin mengerti tampak lebih mendominasi pembahasan berikutnya.


 


 


Mereka sendiri sempat mencuri pandang sekilas, namun kembali berpaling saat tatapan keduanya saling beradu.


 


 


"Maaf sebentar Pak Azis, saya ke toilet dulu," pamit Hendrik, kemudian melangkah pergi, tidak lama pria itu pun mendapat panggilan di ponselnya, dan beranjak menjauh dari tempat mereka.


 


 


Karin yang hanya ditinggal berdua, tidak tahan untuk tidak menoleh, "Bang Ipaaang," pekiknya.


 


 

__ADS_1


Bersamaan dengan Ipang yang juga memanggil namanya hampir bersamaan, "Kariiin." Keduanya saling berpegang tangan, tertawa cekikikan.


 


 


Karin tidak menyangka, dari sekian banyak rekan sang papi, kenapa dia harus dipertemukan dengan Ipang, sahabat abangnya.


 


 


Dia jadi teringat ucapan papinya itu, yang katanya ingin mengajarkan mencari pasangan yang tepat.


 


 


Tepat apanya? Beruntung Selama ini dia sudah tau, selain mudah berganti pasangan setiap waktu, tidak ada yang istimewa dari seorang Ipang selain itu.


 


 


Meski pemuda ini adalah stok perjaka terakhir di bumi, untuk menjatuhkan pilihan padanya Karin harus berpikir ribuan kali.


 


 


Keduanya kembali kalem ketika orang tua masing-masing sudah duduk di tempat semula, berhubung sudah tidak ada lagi yang diperbincangkan, mereka saling bertukar pamit dan mengumbar janji untuk jumpa lain kali.


 


 


"Om, boleh nggak kalo Karinnya aku ajak jalan sebentar, pasti nanti dianterin pulang deh," izin Ipang yang membuat Karin menoleh, dia tidak melakukan kesepakatan apapun sebelumnya.


 


 


Dan yang lebih membuat Karin heran, papinya malah tertawa, "gerakan kamu ternyata lebih cepat Dari yang saya duga," ucapnya yang membuat rekan pria itu ikut tertawa. "Saya terserah Karin saja."


 


 


Diberi pilihan Seperti itu Karin jadi bingung sendiri, belum sempat menjawab, Pak Azis rekan sang papi kembali berucap.


 


 


"Kamu mau bawa Karin kemana? Pulangnya jangan terlalu malam."


 


 


Setelah menanggapi papanya, Ipang menoleh pada Karin, meminta persetujuan. Dan gadis itu pun mengangguk.


 


 


Ipang melambaikan tangan, saat dua mobil di hadapannya beranjak pergi dari Restoran, kemudian menoleh pada Karin sebelum akhirnya melangkah pergi juga.


 


 


Karin mengikuti langkah Ipang menuju tempat di mana pemuda itu memarkirkan kendaraannya. "Kita mau ke mana, Bang," tanyanya.


 


 


"Terserah lo, kalo gue sih mau kerumah cewek gue," ucap Ipang enteng.


 


 


Karin mengerutkan dahi, "lah, kok gitu, terus ngapain tadi abang ngajak Karin jalan?" Tanyanya meminta penjelasan.


 


 


Ipang membuka pintu mobil, menyandarkan lengannya di sana, mengarah pada gadis yang berdiri di hadapannya. "Buat alesan ke bokap gue lah, kenapa gue ngayap," balasnya.


 


 


"Ya seenggaknya anterin Karin pulang dulu kek, Karin nggak bawa duit nih, pesen ojol juga nggak ada hp," ucap gadis itu memelas.


 


 


Masih memegang pintu mobil yang terbuka, Ipang tertawa, "dengerin gue  ya, lain kali kalo dijodoh-jodohin sama papi lo, lo jangan mau," ucapnya.


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Nggak bener papi lo nyariin jodoh."


 


 


Karin jadi tertegun, berarti pemuda di hadapannya ini nggak bener dong, pikirnya. Dan melihat Ipang yang sudah duduk di balik kemudi, dia jadi panik. "Bang Ipang beneran nih nggak mau nganterin Karin pulang dulu?" Tanyanya sekali lagi.


 


 


"Kalo lo mau ikut ke rumah cewek  gue dulu, ayo."


 


 


 


 


"Dek!"


 


 


Dan panggilan dari suara yang ia kenal di belakangnya membuat gadis itu menoleh. Ardi tersenyum, berdiri di sebelah mobilnya.


 


 


"Abang!" Pekik Karin girang.


 


 


"Gimana nih, lo jadi ngikut gue nggak?" Tawar Ipang, jelas menggoda.


 


 


Karin yang masih kesal menendang pintu mobil pemuda itu kemudian berlari ke arah abangnya. Ipang jadi tertawa.


 


 


Ardi mengangkat tangan kanan saat mobil Ipang yang melewati dirinya membunyikan klakson, berpamitan.


 


 


"Abang kok bisa ada di sini si?" Tanya Karin yang masih tampak tidak percaya.


 


 


Ardi menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil yang tertutup, "kenapa? Ganggu lo yang lagi kencang sama Ipang?" Tanyanya menggoda.


 


 


"Dih." Karin berdecih pura-pura kesal.


 


 


"Cantik banget lo, mau ketemu Ipang doang."


 


 


Karin melengos ke samping, kemudian kembali menatap pemuda di hadapannya itu. "Muji boleh ya, Bang. Tapi tolong jangan nyindir," ucapnya.


 


 


"Nih, gue lagi nyindir," balas Ardi menunjuk mobil dengan dagunya.


 


 


"Itu nyender, ih nggak lucu," omel gadis itu namun tertawa juga.


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya, berdiri di hadapan Karin yang mulai berhenti tertawa. "Lo nggak kangen sama gue?" Tanyanya.


 


 


"Kangen banget, Bang."


 


 


"Terus?"


 


 


"Peluk boleh nggak?"


 


 


Ardi melengos, tertawa mendengus, namun kemudian merentangkan ke dua tangannya saat kembali menatap gadis itu.


 


 


Karin segera menyambut pelukan hangat sang abang, kemudian mendongak yang membuat wajah mereka saling berdekatan.


 


 


"Abang juga kangen banget sama lo, Dek."

__ADS_1


 


 


Ardi melepaskan jaket yang ia kenakan saat pelukan keduanya terlepas. "Lo pake baju kaya andukan, terbuka banget," ucapnya sembari menyampirkan jaketnya di pundak gadis itu.


 


 


Karin memperhatikan gaun selutut yang ia kenakan, memang terbuka di bagian pundak, "ini Tante Naya yang dandanin," ucapnya, dan memang gaun yang ia kenakan pun sebebarnya bukan miliknya, entah istri sang papi itu dapat dari mana.


 


 


"Siapa Tante Naya?" Tanya Ardi, sembari membuka pintu mobil di sebelah kemudi untuk gadis itu.


 


 


"Tante Naya itu istrinya papi," jawab Karin saat abangnya itu sudah duduk di balik kemudi.


 


 


Obrolan tidak penting perihal keadaan gadis itu di rumah sang papi mengalir setelahnya. Dan Karin juga  menceritakan tentang Naya yang baik hati.


 


 


"Dari sekian banyak pilihan, kenapa papi lo malah jodohin lo sama Ipang?" Tanya Ardi masih tidak percaya. Dan kembali fokus ke jalan raya setelah sebelumnya menoleh pada gadis itu. "Gue nggak terima lah, Ipang itu lebih brengsek dari gue," ucapnya yang membuat Karin tertawa.


 


 


"Bukan dijodohin, Bang. Cuman kenalan doang," sangkal Karin, karena memang tidak terucap kata perjodohan dari mulut sang papi, dan bisa saja pria itu mengenalkan pada anak rekannya yang lain sewaktu-waktu, karena dari dulu dia juga seperti itu.


 


 


"Tapi untungnya itu Ipang sih, bukan orang lain."


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Ya kalo orang lain, gue nggak bakalan bisa sama lo sekarang."


 


 


"Bang Ipang hubungin abang ya?" Tanya Karin.


 


 


Ardi mengangguk sebagai jawaban, dan lampu jalan yang berubah merah membuat laju kendaraannya kemudian ia hentikan.


 


 


Menoleh pada Karin dan mencolek dagunya, "cantik banget si," pujinya yang tak ayal membuat pipi gadis itu sedikit bersemu. "Lain kali kalo dandan cantik kaya gini jangan buat orang, buat gue aja."


 


 


"Ini juga buat abang."


 


 


Ardi mencebikkan bibir, meledek, "emang lo tau gue bakalan dateng."


 


 


"Tau, batin Karin mengatakan kaya gitu Bang."


 


 


Ardi jadi tertawa, menoleh pada gadis di sebelahnya setelah tadi memperhatikan menitan di lampu merah yang sepertinya masih lama. "Kangen banget gue sama lo," ucapnya.


 


 


"Kangen sama bibir Karin yang candu," sindir gadis itu, menirukan ucapan sang abang tempo lalu.


 


 


Ardi tertawa pelan, "mesum banget gue di mata lo ya?" Tanyanya.


 


 


Karin mengangguk, "emang iya," ucapnya.


 


 


Sesaat Ardi terdiam, menatap gadis di sebelahnya dengan hangat, "boleh nggak?" Tanyanya.


 


 


Dan permintaan izin itu selalu saja membuat hati Karin seketika menghangat, baru tersenyum, belum sempat mengangguk, sang abang sudah menyatukan bibirnya dengan lekat.


 


 


Karin mulai menyecap rasa manis yang ditinggalkan dari entah apa yang abangnya itu makan sebelumnya.


 


 


Dan mengetahui kaca mobilnya yang tidak tembus pandang pada percobaan waktu lalu, membuat mereka bisa leluasa melakukan apapun tanpa takut ketahuan.


 


 


Sampai akhirnya klakson mobil dari arah belakang yang bersahut-sahutan membuat keduanya kelabakan.


 


 


Ardi kembali fokus pada kemudi setelah sebelumnya dengan enggan melepaskan pagutannya. Pemuda itu kembali menoleh pada Karin yang masih tertawa.


 


 


"Abang tuh, kita baru beberapa hari nggak ketemu aja udah kaya gitu," ledek Karin, "gimana kalo sampe bertahun-tahun nggak ketemu," imbuhnya yang tanpa sadar membuat Ardi jadi terdiam.


 


 


**iklan**


 


 


Author: ini mon maap ya, ngucapi happy new yearnya itu di event ya Solihin, jubaedah. Bukan di kolom komentar 🤣🤣


 


 


Netizen: lah, kirain gue ngucapin buat elu thor.


 


 


Author: Bukan jupri, buat NG aja sama OMB. Emang lu nggak liat gue taroin poto segede gaban 😂 nih.




Netizen: Lah Iya 🤣


Author: tapi kalo mau ngucapin di komentar juga gak papa si, makasih banyak. Aku padamu lah netizen kuu 😘😘


Banyak juga yang salfok ngucapin met ultah 🤣 tapi gk papa gw emang ultah tgl satu, sengaja ngasi tau, kali aja ada yg nanya alamat buat ngirim paket 🤣 jyahaha, (yang komentar isi paket nya kadal gue timpah pake sendal 😒)


 



Karin:makasih poinnya ya. Makasih juga buat ucapannya yang lucu-lucu. Di aminin aja. 😅


 



Ardi: setiap update kanjeng ribet dapet like seribu lebih. Khusus buat kamu yang merasa baca, ayolah sempetin buka event happy newyear 2020 tulis semangat doang juga nggak papa kok sayang 😘 jangan lupa di OMB  yang merasa belum komen, tambahin komenannya. Kasian abang gue.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2