
Selain deru mesin dan hembusan napasnya sendiri, juga helaan teratur dari gadis yang tertidur di kursi sebelah kemudi yang ia duduki, yang dapat Ardi dengar juga mungkin detak jantungnya sendiri.
Gadis itu sebentar lagi akan menjadi istrinya, dia tidak pernah menyangka perjuangannya akan serumit ini bahkan hanya untuk sekedar mendapatkan anak setan yang dulu pernah ia remehkan, sekarang malah dia yang sepertinya sudah cinta mati, dan nyaris gila karena menahan rasa ingin bertemu bertahun-tahun lamanya, dan sekarang dia boleh bersenang hati, karena sebentar lagi gadis itu akan segera ia nikahi.
Ardi menyerongkan tubuh, menatap gadis yang duduk terlelap di hadapannya, semula ia ingin sedikit mengguncang lengan Karin agar dapat membangunkan gadis itu, namun dia kini memilih cara lain.
Karin yang masih memejamkan mata kemudian mengernyit saat merasakan sesuatu yang menggigit-gigit pelan bibirnya, gadis itu sedikit terlonjak, lalu mendorong pemuda di hadapannya itu untuk memberi jarak. "Ngapain si," omelnya, namun terkekeh juga.
Ardi menahan senyum, menyembunyikan bibirnya ke dalam mulut, namun kemudian tertawa saat gadis di hadapannya itu memukul lengannya dengan kesal. "Orang cuma mau bangunin," ucapnya memberi alasan.
Karin mengusap bibirnya yang terasa basah denga punggung tangan, "emang nggak bisa pake cara lain apa banguninnya."
Ardi menggeleng, "enakan juga begitu," ucapnya dengan kembali mencondongkan kepala.
Karin sedikit menghindar, kemudian mendorong pipi pemuda itu agar menjauh.
Ardi yang tertawa kembali menegakkan duduknya, masih menatap gadis di hadapannya yang terlihat salah tingkah.
Karin menoleh ke luar kaca mobil, dan baru menyadari bahwa mereka sudah berada di halaman rumah sang mami.
"Aku ikut turun, nggak?" Tanya Ardi.
Karin menggeleng, "Nggak usah, Bang, lagian mami juga pasti udah tidur," ucapnya setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Gadis itu teringat sesuatu, kemudian menatap sang abang yang tampak sibuk mengatur suhu di dalam mobil." Besok hari terakhir aku kerja di perusahaan abang, " ucapnya.
Ardi mengalihkan perhatian dari kesibukannya untuk menatap sang kekasih," Kenapa?" Tanyanya, namun belum juga mendapat tanggapan pemuda itu berucap lagi, "Yaudah nggak apa-apa, biar aku aja yang cari duit," imbuhnya.
Karin sesaat terdiam, "setelah menikah nanti, papi nyuruh aku buat belajar mengelola hotel," ucapnya.
Ardi menoleh, Tatapannya tampak tidak terbaca, namun setelah pemuda itu terlihat menjatuhkan pundak, Karin tau calon suaminya itu tidak setuju.
"Sibuk dong nanti istri aku," keluh Ardi.
Karin menyentuh pipi pemuda di hadapannya, menyalurkan ketenangan, "Nggak apa-apa lah, Bang. Lagian kan kamu juga kerja, daripada aku sendirian di rumah."
Ardi menghela napas, mengangguk pasrah, "yang penting pas aku pulang, kamu ada," tuntutnya.
Karin mengangguk, "iya, nanti aku omongin lagi sama papi," janjinya, kemudian menyampirkan tali tas ke pundaknya, bersiap untuk turun. "Kalo udah nyampe kabarin aku ya," ucapnya.
Ardi mengangguk, menarik sebentar tengkuk gadis itu untuk memberikan ciuman selamat malam. "Lagi," ucapnya setelah terlepas.
Karin berdecih, "dasar agan omees," ledeknya dengan sedikit mendorong dada sang abang.
Ardi mengerutkan dahi, "agan omes apaan?" Tanyanya.
"Ada lah pokoknya," ucap Karin dengan membuka pintu mobil dan segera melangkah keluar, hingga sang abang yang tampak ingin menariknya kembali kemudian beralih dengan melambaikan tangan.
__ADS_1
***
Siang hari begitu terik, Karin dan Maya berada di bawah tenda ala kadarnya saat makan siang di kantor mereka, kantin yang tampak penuh membuat dua gadis itu memilih makan soto di pinggir jalan depan tempat ia bekerja agar tidak berdesakan.
"Jadi terakhir nih kita makan siang bareng?" Tanya Maya, raut wajahnya terlihat sedih.
Karin yang baru saja menuangkan satu sendok sambal ke dalam soto kemudian menoleh, "ya enggak terakhir juga, serem amat, mau kemana emang lo?"
Maya berdecak, mengaduk soto di mangkuknya dan perlahan menyuapkan ke dalam mulut, tidak menanggapi ucapan gadis yang duduk di hadapannya. "Gue putus sama Kak Heru, Rin," ucapnya yang malah membahas hal lain.
Karin yang semula sibuk sendiri, kemudian mendongak, menatap sahabatnya yang entah kenapa terlihat baik-baik saja, dirinya yang tidak peka atau Maya yang terlalu piawai bersandiwara, entahlah yang jelas mungkin gadis di hadapannya itu sedang butuh hiburan sekarang. "patah hati dong lo, ya?" Tanyanya hati-hati.
Maya tersenyum, "Gue malah ngerasa lega, entah kenapa, berasa beban gue tuh terangkat gitu," akunya dengan senyum ceria, ya bagus lah.
"Gimana mutusinnya, ceritain dong," pinta Karin begitu antusias, sebagai seorang yang hoby menulis, setiap kisah pasti ada saja yang dapat diolah.
Maya berdecih, "males gue cerita sama lo, yang ada entar kisah gue muncul di novel cerit kanjeng ribet," tolaknya.
Karin tertawa, selama ini temannya memang sering menjadi sasaran inspirasi untuk kelanjutan ceritanya yang terkadang buntu, "abisnya kisah lo kaya sinetron sih, ada aja bahan buat ghibah gitu," ucapnya.
Maya mencibir, "agak aneh juga sih seharian nggak nanya kabar Kak Heru, tapi ya mau gimana, abis dianya gitu sih.
"Yaudah lah, May, di langit itu ada beribu-ribu bintang, mati satu nggak akan membuat bumi merasa kehilangan," tutur Karin, mendengar itu Maya sedikit mengerutkan dahi, "ya intinya masih banyak yang mau sama lo, lo kan cakep juga," hiburnya kemudian.
Mendengar cerita itu entah kenapa Karin jadi curiga, "ati-ati, May. Ntar udah punya istri lagi." Karin jadi ingat kisah mbak Nena.
Maya terkekeh, "mudah-mudahan sih enggak, tapi dia bilangnya juga belom menikah."
Karin berdecak, "yah namanya mulut, pait aja dibilang manis, siapa yang bisa menjamin kalau ucapan orang itu seratus persen dapat dipercaya coba?"
"Iya juga si." Maya jadi berpikir, bisa jadi orang itu bohong, "Yaudah lah, paling juga deket doang, nggak sampe jadian," ucapnya kemudian.
Karin mengangguk, kembali meneruskan makanannya yang belum habis, dan sahabatnya itu bertanya sudah sampai mana persiapan untuk pernikahannya.
"Udah foto prewedding sih, nyetak undangan juga udah, tungguin aja." Karin menjawab santai.
"Nyewa gedung, Rin?" Tanya Maya penasaran.
Karin menggeleng, "kayaknya sih di hotel papi," ucapnya, sembari mengaduk minumannya di dalam gelas dengan sedotan.
"Anak Sultan mah bebas dah." Maya menyindir, Karin hanya tersenyum, belum sempat mendapat tanggapan dari gadis itu, sebuah notif di ponsel Maya membuat perhatiannya teralihkan.
Melihat sang sahabat yang raut wajahnya berubah tegang, Karin jadi penasaran. "Ada apa, May?" Tanyanya.
__ADS_1
Maya menunjukan sebuah akun mantan kekasihnya yang mengunggah foto dengan gadis lain di sosial media, "secepet itu, Rin dia dapet ganti gue?" Maya mulai terlihat ingin menangis.
Karin jadi panik, "ya lo pikir aja lah, May, nggak mungkin baru putus sehari langsung dapet gandengan, mereka pasti udah lama berhubungan," omel Karin kelepasan, bukan menenangkan sahabatnya gadis itu malah membuat keadaan semakin berantakan.
"Karin." Maya sedikit meraung, membuat beberapa pengunjung di tempat itu jadi menoleh, Karin jadi menyesal.
"Udah-udah, May, malu udah gede ih."
Maya yang mulai menangis tampak tidak peduli, mengambil tisu dan menyusut ingusnya tanpa sembunyi-sembunyi. Karin jadi ngeri sendiri. "Ternyata cowok itu semua sama aja," omelnya.
Karin menyahut, "ya enggak semua juga lah, May, cowok lo kurang ganteng jangan disamain sama semua cowok, calon suami gue yang ganteng kasian jadi kebawa-bawa."
"Kariiin!"
Karin jadi kelabakan, lagi-lagi ucapannya malah membuat Maya jadi semakin kesetanan. "Udah, May, udah, buktiin kalo lo juga bisa dapetin yang lebih baik dari mantan lo itu," hiburnya dengan menepuk-nepuk pundak sahabatnya agar sedikit tenang.
Maya mengangguk, meredakan tangisnya, kemudian menoleh ke sekitar, "Gue kekencengan nggak sih nangisnya."
Karin menelan ludah kesal, "lo pikir aja sendiri," ucapnya. Dan maya membalas dengan cebikan.
***iklan***
Netizen: thor tetangga sebelah nggak update liburan tuh, lah lu kalo nggak update ngapain dah. Penasaran gue. 😅
Author: ya palingan sibuk nyuci. 😒
Netizen: Yhaaaa beda kasta 🤣
Author : 😑😑 gue ketapel dari sini kena nih pala lu.
Netizen: set dah canggih amat 🤭
Author: pergi lu 😒
Netizen: poin, kaga vote nih. 😏
Author: 😭😭😭
Terkhusus buat diriku ini. Tetaplah haha hihi walau up tiap hari sulit sekali 🤣
Semangat ngumpulin poinnya ya. 😘😘
__ADS_1