
"Tadi siapa yang nyuruh tante buat nolak lamaran yah?" Carla melontarkan sindiran saat mereka tengah makan malam bersama.
Ada sedikit drama saat Ardi menemui abangnya di ruang tamu, inginnya sih baku hantam, tapi takut durhaka, biar begitu, Justin adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Ardi tampak cuek meneruskan makannya saat yang lain sibuk tertawa, ya sudah lah terserah, terseraaah.
"Lebih parah lagi kemaren, Tan, masa Ardi nyumpain biar tunangan Karin burik, panuan, aku sih lagi nungguin aja kapan dia mulai garuk-garuk." Nena ikut menanggapi.
Carla jadi tertawa, Karin yang juga ikut tertawa menoleh pada pemuda yang kini sudah resmi jadi tunangannya.
Marlina mengelus pundak Ardi, "Nggak apa-apa yang penting kamu udah lega."
Ardi tersenyum pada ibunya, kemudian mengangguk. Makan malam kali ini penuh dengan sindiran kekonyolan Ardi tentang sumpah serapah untuk saingannya yang adalah dirinya sendiri.
Ardi masih duduk di ruang tamu saat rombongan keluarganya pamit pulang, pemuda itu kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Karin. "Buat sampai sejauh ini perjuangannya nggak mudah ternyata," ucapnya sembari menunjukan jarinya yang tersemat cincin tunangan yang bentuknya lebih sederhana.
Karin mengangguk, "apalagi pas abang ngancurin kamar ya?"
Ardi jadi terdiam, menatap wajah cantik di atasnya itu dengan senyum, "tau dari siapa?" Tanyanya.
"Dari mbak Nena, katanya tangan abang sampe berdarah karena nonjok foto aku." Karin meraih tangan kanan pemuda yang kepalanya ia pangku, mencari bekas luka yang mungkin masih ada di situ.
"Lukanya kecil, jadi bekasnya ilang," ucap Ardi, membiarkan saja gadis itu memeriksa tangannya lebih jauh.
"Sampe segitunya sih, Bang." Karin menggenggam jemari sang abang, menundukkan kepala menatap wajah pemuda itu.
"Cinta aku ke kamu terlalu dalam, Dek, jadi kecawanya juga berasa."
"Nangis nggak?" Karin bertanya penasaran.
Ardi tertawa pelan, "Nggak sampe nangis sih, cuma kaya orang gila."
Sesaat keduanya saling diam, hanya deru napas masing-masing dari mereka, yang menjadi salah satu bukti bahwa di ruangan itu, kehidupan masih ada.
"Mami kamu mana?" Tanya Ardi penuh Arti.
Karin tersenyum geli untuk menanggapi, "Kenapa?" Tanyanya sedikit curiga.
"Sepi, Dek?"
Karin tertawa lagi, "terus kenapa kalo sepi?" Godanya.
"Jatah candu dulu," ucap pemuda itu yang kemudian mendapat cubitan di lengan, dia mengaduh. "Sakit sayang," rengeknya.
Karin yang cekikikan mengusap lengan Ardi yang mendapat bekas cubitan. Mereka saling tatap, hingga nada dering panggilan masuk di ponsel pemuda itu mengalihkan perhatian ke duanya
Ardi beranjak duduk, menerima panggilan yang tertulis nama sang kakak, dan saat pemuda itu menempelkan benda di tangannya ke telinga, sesaat kemudian ia menjauhkannya.
"Kenapa?" Tanya Karin.
Ardi tersenyum, menyimpan ponselnya di atas meja, "Mbak Nena teriak kenceng banget," jelasnya.
"Teriak apa?"
"Pulang katanya," ucap Ardi kemudian tertawa.
"Yaudah pulang, Bang, udah malem."
"Nggak boleh nginep ya?"
Karin berdecih, melirik pemuda yang menduduki sofa di sebelahnya dengan sedikit curiga. "Apa?" Tantangnya.
Ardi terdiam, menopang dagu seolah menunggu, senyumnya penuh arti.
"Abang mau candu," tawar gadis itu.
"Emang boleh?" Ardi menurunkan tangannya dari dagu, fokus menatap gadis itu.
"Nggak boleh pun emang bisa nolak?"
__ADS_1
"Kalo maunya lebih, boleh nggak?"
Karin mengangguk, "mau candu sampai mabuk pun, boleh aja," tantangnya.
Ardi merapatkan bibirnya, namun kemudian tersenyum, "beneran?" Tanyanya tidak percaya.
Karin mengangguk lagi. "Tapi halallin dulu akunya."
"Yhaaaa, penonton kecewa."
Karin tertawa, dan Ardi mengacak rambutnya. "Kenapa? Nungguin ya?"
Ardi mengangguk, "Yaudah, abang pulang dulu ya," ujarnya, kemudian beranjak berdiri.
Karin mengantarkan tunangannya itu sampai ke depan pintu. Dan sebelum pemuda itu menghampiri mobilnya, dia menyempatkan mencium kening gadis di hadapannya itu lebih dulu.
Malam ini penuh kejutan, rasa kesalnya akan hal-hal yang sempat membuat dirinya kecewa tersamarkan oleh rasa bahagia, kini dia baik baik saja.
"Tumben kening aja," sindir Karin saat pemuda itu melepaskan tengkuk lehernya.
Ardi tertawa pelan, "kalo bibir juga ntar aku jadi nginep," ucapnya sembari memejamkan mata, keduanya kemudian tertawa.
***
Agung melirik Alya yang duduk menopang dagu pada meja bar di hadapannya, "kamu mau pesen sesuatu apa mau ngeliatin aku aja?"
Masih menopang dagu di hadapan pemuda itu, Alya tersenyum, "ngeliatin kakak aja, pesen kopi rasanya pait, kontras banget sama yang ngeracik."
Agung refleks tersenyum, "pake gula kalo mau manis," ucapnya.
Alya menurunkan tangannya dari dagu, namun tatapan gadis itu tetap fokus pada pemuda itu. "Kak Agung kalo senyum gulanya berapa sendok sih," godanya.
"Kenapa emang?"
"Kemanisan."
Alya berdecak kesal, "pergi lo sana," usirnya.
Sepupunya itu tertawa, dia memang hanya mau menitipkan kunci pada Agung, kemudian beranjak pergi setelah melontarkan beberapa sindiran menggelikan.
Alya kembali menoleh pada pemuda di hadapannya, yaelaaah jadi ambyar, sampe mana tadi ya. Pikirnya.
"Jangan godain aku terus, ntar aku jadi baper," ucap Agung. Nadanya mungkin bercanda, namun dari tatapan pemuda itu sepertinya cukup serius.
"Emang kenapa kalo baper?" Tanya Alya.
"Jatuh cinta itu jatuhnya sakit, aku nggak berani coba-coba soalnya."
"Cinta mah cinta aja, nggak usah pake jatuh," balas gadis itu.
"Tapi aku udah biasa jatuh," ucap Agung, sedikit bingung dengan percakapan dengan gadis itu sebenarnya mau dibawa kemana.
Alya menghela napas, "Nggak usah takut jatuh, Kak, makanan yang jatuh aja disayang-sayang."
"Sayang belum lima menit ya?"
Alya tertawa pelan, "Kata Ipang, Kak Agung itu orangnya susah move on, emangnya bener?"
Agung berdecih, "Ipang jangan didengerin," ucapnya mengingatkan.
Alya mengerutkan dahi, benar juga si, selama ini Ipang memang jarang sekali bersikap waras, sepupunya itu terlalu gila untuk dapat dipercaya. Tapi si. Penasaran juga.
"Ipang cerita apa lagi?" Tanya Agung.
Alya mengerjap gugup. Pemuda itu entah sejak kapan sudah duduk di hadapannya, sepertinya dia melamun, meski detak jantungnya sedikit berulah, beruntung tidak sampai terjengkang dari kursinya.
"Banyak sih, cerita bang Edo juga yang katanya pacaran sama sahabatnya."
__ADS_1
Agung mengangguk tersenyum, "dia sahabatan dari kecil, tapi jadiannya sih pas kuliah," ucapnya mengiyakan.
"Dari kuliah sampe sekarang, Kak Edo nggak pernah berpaling tuh?"
Agung tertawa, "jangankan buat berpaling, pacarnya cemberut aja dia pusing."
Alya ikut tertawa, "kalo Pak Ardi gimana?" Tanyanya penasaran.
"Kamu manggilnya bapak sih?"
"Ya dia kan bos aku."
Agung sedikit berpikir. "Ardi beda lagi, kisahnya kaya buku cerita yang berminggu-minggu nggak bakalan habis dibaca."
"Kaya telenovela ya?"
"Drama sih biasanya."
Alya kembali menopang dagu di atas meja, "kalo Kak Agung sendiri, gimana?"
Agung tertegun, pemuda itu tampak ragu membeberkan kisah hidupnya. "Aku...." Belum sempat dia berucap lebih jauh, seseorang yang baru saja datang mengalihkan perhatian keduanya.
"Bikinin gue kopi, kaya biasa." Ardi menghampiri Agung, yang kemudian menyuruh anak buahnya untuk meracik pesanan sahabatnya itu.
"Seneng banget, Bos kayaknya." Alya menyindir.
"Iya, dong," ucap Ardi kemudian berbalik pergi menuju tempat Ipang tampak sibuk dengan berkas-berkas di atas meja.
Setelah pandangannya terus mengekori sahabatnya beranjak ke tempat biasa, Agung kemudian mengulurkan tangan. "Ayo gabung," ajaknya.
Keduanya menghampiri mereka yang tampak seru membahas sesuatu.
"Eh gue punya kabar baik." Ardi memulai percakapan.
"Lo udah ketemu sama tunangan Karin dan ternyata orangnya jelek?" Tebak Edo.
Ardi menggeleng, "lebih ganteng dari lo lah."
"Ternyata orang tua tunangan Karin itu nggak lebih kaya dari abang lo ya?"
Ardi berdecak, selain kepo, teman-temannya juga ternyata amat sok tau. "Bukan, ternyata tunangan dia itu–,"
"Pak Ardi sendiri," sambar Alya yang membuat ke empat pemud di sekitarnya itu menoleh.
"Eh, gimana?" Tanya Edo.
"Kenapa kamu bisa tau?" Tanya Ardi pada Alya.
"Ya aku kan anak buah Mbak Nena," akunya.
Meski tidak terlalu paham, Ardi berusaha untuk tidak mencari tahu, meski rasa penasaran sebenarnya amat menggebu.
"Etunggu-tunggu, ini gue udah boleh ketawa apa belum?" Tanya Agung.
Dan Ipang adalah orang pertama yang menanggapi sahabatnya itu dengan tertawa.
"Siapa kemaren yang meragukan tunangan Karin itu manusia?" Edo menyindir.
"Iya gue, gueee, ketawa aja udah, gue nggak peduli yang penting gue bahagia," ucapnya.
"Jadinya, kapan kalian naik ke pelaminannya?" Tanya Agung.
"Doain, secepatnya."
***iklan***
Author: maaf ya hari minggu gak update, sengaja biar poinnya kumpul, akupun udah senang bisa rengking dua makasih ya. Semangat mulai lagi tambahin lagi. 😘😘😘 Semoga bisa update rutin lagi ya, semangat kumpulin poinnya.
Netizen: tumben si thor komen gue gapernah dibales sekarang.
Author: maafin ya. Tapi pasti aku baca aku like, kan ceritanya diriku lagi sibuk kejar tayang. 😅😅
Terkhusus buat diriku pribadi. Tetaplah haha hihi walau komentar haters julid sekali 🤣🤣
__ADS_1