NOISY GIRL

NOISY GIRL
NASIHAT


__ADS_3

Ardi berkendara sembari memikirkan apa yang telah dia lakukan pada istrinya, melihat perempuan itu menangis sesungguhnya hatinya ikut sakit, hanya saja sebelumnya dia tidak mengerti sakit untuk hal yang mana, masalah sang istri yang ingin menunda momongan, seharusnya dia lebih bisa menunggu penjelasan.


 


 


Tanpa ia sadari, dia membelokkan sepeda motornya ke arah rumah sang ibu, dan yang paling ia sesali dari keputusannya kali ini adalah kenapa dirinya pergi dengan membawa motor mami mertuanya. Seharusnya dia bawa mobilnya saja kan.


 


 


Merasa menyesal tidak membawa kunci rumah itu, Ardi kemudian mengetuk pintu, sampai beberapa kali hingga pria itu berpikir akan pergi lagi jika tidak ada yang membukakannya. Wajar saja, ini sudah larut, dan ibu atau kakaknya itu pasti sudah di kamar masing-masing untuk beristirahat.


 


 


Dan suara pintu terbuka membuatnya yang ingin melangkah pergi kemudian  berbalik.


 


 


"Ngapain kamu?" Kakak perempuannya bertanya seolah dirinya itu tetangga sebelah yang datang membawa handuk malam-malam.


 


 


Ardi tidak menanggapi, malah ngeloyor masuk melewati sang kakak yang masih berdiri memegang handle pintu.


 


 


"Dih, nggak jelas," gumam Nena, namun merasa bingung juga kenapa adiknya itu datang kembali ke rumah malam begini, padahal tadi siang dia habis dari sini juga, oh mungkin ada yang ketinggalan. Begitu pikirnya.


 


 


Nena menunggu beberapa saat, kalau-kalau pria itu akan kembali dan dia akan mengunci pintu lagi, namun setelah masuk ke kamarnya, Ardi tidak keluar lagi. Perempuan itu mengunci pintu. Sedikit berlari ke kamar sang adik dan membukanya, pria itu tampak merebahkan diri dengan posisi tengkurap di sana. Kenapa?


 


 


***


Marlina bersiap akan tidur saat Nena menghampirinya dan mengatakan bahwa anak bungsunya yang beberapa hari lalu resmi menikah, kembali seorang diri dan tidur di kamarnya. Perempuan itu curiga ada apa-apa.


 


 


Dan di sinilah Marlina sekarang, mengetuk pintu kamar Ardi dan melangkah masuk saat dari dalam putranya membuka benda itu. "Kenapa?" Tanyanya saat wanita itu sudah duduk di tepi ranjang.


 


 


Ardi naik ke atas kasur, kembali merebahkan diri, "Nggak apa-apa, emangnya Ardi nggak boleh pulang ke sini lagi?" Tanyanya merajuk.


 


 


Marlina menyentuh kepala sang putra yang tengkurap di hadapannya, memberikan usapan pelan. "Kamu sudah menikah, dan pulang selarut ini tanpa membawa istrimu, bagaimana ibu nggak curiga."


 


 


Ardi mendongakkan kepala, menatap ibunya yang tampak menunggu dirinya bersuara. Pria itu sempat bimbang haruskah dia bercerita atau tidak.


 


 


Alih-alih menanggapi, Ardi malah merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu, mengambil bantal guling dan menghadap langit-langit kamar, "Nggak ada apa-apa kok, Bu." Dia kembali menyangkal.


 


 


Marlina menghela napas, ibu mana yang akan senang melihat rumah tangga anaknya dirundung masalah, tapi yang membuatnya kecewa, putranya ini ternyata belum dewasa. "Nggak seharusnya kamu lari dari masalah, Ar," tuturnya.


 


 


Ardi menarik tatapannya ke atas, mencari wajah sang ibu yang terlihat tanpa ekspresi saat mengutarakan kalimatnya. Dan yang membuat pria itu bingung, mengapa ibunya bisa menebak. Namun dia memilih diam saja.


 


 


"Apapun bisa diselesaikan dengan musyawarah, bicarakan baik baik apa yang kamu suka dan tidak suka dengan istrimu."


 


 


"Tapi kita kan kenal udah lama, Bu." Ardi berucap setelah menarik diri dari pangkuan sang ibu, kemudian beralih ke atas bantal. "Dia seharusnya tau sifat aku."


 


 


"Kamu tau nggak sifat dia?"


 


 


Pertanyaan itu membuat Ardi tertegun, selama ini dia sudah merasa telah mengerti sifat perempuan itu, tapi lebih banyak mengalah daripada mengutarakan perasaannya, dia jadi berpikir apakah hal itu sudah benar.

__ADS_1


 


 


"Jadi suami itu harus tegas, jangan iya-iya aja."


 


 


Ardi mengerjap terkejut, melirik sang ibu takut-takut, wanita itu seperti bisa membaca pikirannya. "Ya terus aku harus gimana?" Tanyanya lirih.


 


 


"Itu berarti kalian belum tau sifat satu sama lain, enam tahun itu lama loh, Ar, dan pemikiran Karin yang kamu kenal saat sekolah dulu, berbeda dengan pemikirannya yang sekarang." Marlina menatap putranya dengan seksama, nyatanya mereka sudah berpisah cukup lama, dan terlalu terburu-buru dipersatukan dalam ikatan pernikahan.


 


 


Ardi tertegun lagi, entah kenapa dia jadi berpikir telah salah mengambil tindakan, dia tidak pernah menyesali telah menikahi perempuan itu, dia hanya sedikit lengah dalam menentukan arah, dan yang ada dipikirannya saat ini, istrinya itu dikendalikan oleh siapa.


 


 


Pria itu beranjak duduk, kemudian menceritakan tentang sang istri yang diam-diam meminum obat pencegah kehamilan, dan wanita itu malah tersenyum. "Aku nggak masalah mau nunda berapa lama, yang aku kecewa kenapa dia nggak bilang dulu," ucapnya sedikit ragu.


 


 


"Kamu nanya nggak?"


 


 


Dan pertanyaan itu kembali membuat helaan napasnya kian berat, kenapa seolah semua yang terjadi adalah dirinya yang salah.


 


 


"Kalian itu hanya kurang komunikasi, masalah hati, ibu yakin kalian saling menyayangi." Marlina berucap dengan lembut, tidak bermaksud menyudutkan putranya. "Tapi berumah tangga itu, nggak cuman menjaga keharmonisan di atas ranjang, komunikasi juga perlu, bahkan istrimu terpuaskan atau tidak pun, hal itu perlu dipertanyakan."


 


 


Ardi menelan ludah, mengusap tengkuknya yang terasa meremang, mendengar penuturan sang ibu dia jadi malu sendiri. Mereka menikah bahkan baru hitungan hari, dan untuk mengangkat topik itu sebagai bahan percakapan, keduanya masih merasa tabu.


 


 


"Bicarakan, Ar. Tidak baik menghindar dari masalah, kamu laki-laki, selesaikan dengan kepala dingin, jangan sampai emosi," ucap Marlina, menatap putranya yang tampak menunduk di hadapannya itu dengan sayang, "sekarang ibu tanya," Imbuhnya yang kemudian terjeda.


 


 


 


 


"Kamu benar melihat Karin minum obat itu, atau hanya dugaan kamu sendiri?"


 


 


Ardi membuka mulut, namun bingung dengan kalimat yang ingin ia lontarkan, bibirnya kembali terkatup. Memang belum jelas istrinya itu minum atau tidak, perempuan itu memunggunginya.


 


 


Marlina mengusap kepala Ardi saat pria itu meraih tangannya dan menempelkan di pipinya sendiri, meringkuk di atas kasurnya lagi.


 


 


"Terus aku harus gimana, Bu?" Tanyanya. Dan tidak mendapat tanggapan dari wanita itu, dia mendongak.


 


 


"Pulang," ucap sang ibu, "temui istrimu lalu bicarakan."


 


 


***


 


 


Ardi berada di dapur, menuang air putih ke dalam gelas kemudian meminumnya. Pria itu masih mempertimbangkan akan pulang atau tidak.


 


 


"Bisa ngobrol sebentar?"


 


 


Pertanyaan itu membuat Ardi menoleh, abangnya memberikan map coklat yang isinya entah apa, tanpa berucap pria itu mengangkat alisnnya mode bertanya.

__ADS_1


 


 


"Baca saja," ucap Justin, membuka kulkas dan mengambil air dingin.


 


 


Ardi duduk di kursi yang ada di sana, membaca berkas yang diberikan abangnya. "Abang tau dari mana?"


 


 


"Aku menyuruh Alvin menyelidikinya saat gosip itu mulai beredar, kupikir ini akan sedikit menyulitkan istri kamu."


 


 


Ardi menghela napas, lagi-lagi istrinya itu tidak mau terbuka dengan apa yang saat ini dia hadapi. "Karin nggak pernah cerita apa-apa," ucapnya dengan meletakkan benda di tangannya ke atas meja.


 


 


Justin bersandar pada meja dapur, setelah meletakkan gelas di tempatnya, pria itu bersidekap. "dia yang tidak bercerita atau kamu yang tidak mau ikut campur?"


 


 


Ardi tertegun, istrinya itu memang sesekali mengajaknya berdiskusi masalah pekerjaannya, atau malah mengajaknya ikut terjun ke sana, dan dia menolaknya, karena dia pikir ajakan itu hanya bercanda.


 


 


"Pernikahan kalian bahkan belum satu minggu, dan sekarang mau pisah ranjang?" Justin bertanya dengan nada menyindir.


 


 


Ardi mengerjap gugup, "ini juga mau pulang, tadi ada yang ketinggalan," dustanya.


 


 


Justin mengangguk, menegakkan tubuhnya dan berjalan menghampiri sang adik, "pertengkaran sekecil apapun di antara kalian, usahakan hanya kalian berdua yang tau. Dan kalian berdua juga yang menyelesaikan," ucapnya, menepuk pundak sang adik kemudian melangkah pergi.


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Author: Sekarang pada benci sama Karin, nyuruh Karin jangan berubah, yakali dulu kan dia masih bocah, yang nyuruh mereka cepet nikah kan kalian juga. 😒


 


 


Netizen: yatapi gak gini juga thor, masa dia egois banget, kan jadi sebel 🙄


 


 


Author: yanamanya juga konflik kalo gak ngeselin gak asik. 😂


 


 


Netizen: Kenapa sih thor cobaan cinta Ardi Karin tuh banyak banget kan kasian 😒


 


 


Author: Ya banyak lah namanya juga cobaan, kalo dikit mah coba-in. 😂


 


 


Netizen: 😑😑😑😑 poin gw eremin nih.


 


 


Author: Biar netes ya 😂 poinnya buat besok aja ya, buat hari senin.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2