NOISY GIRL

NOISY GIRL
PROSES


__ADS_3

 


 


Agung N telah menambahkan +1714....


 


 


Edoardo D: Widiih nomor luar.


 


 


Irfani A : Warganya Donald trumb


 


 


Ardian R: Eh, gue numpang doang yaa di sini.


 


 


Agung N: pa Kabar Ar?


 


 


Ardian R: buruk ini, nggak ada kalian.


 


 


Irfani A : lagi nunggu diusir ya, Bang?


 


 


Ardian R : Sialan...


 


 


Edoardo D : Wey pagi pagi udah nongol aja, jam berapa di sono?


 


 


Ardian R: jam empat sore ini masih hari sabtu.


 


 


Irfani A: kalo di sini udah minggu jam tujuh pagi, dan gue belum mandi.


 


 


Agung N: Nggak ada yang nanya, Pang.


 


 


Irfani A: pemberitahuan aja.


 


 


Edoardo D: Baik-baik lo di sono, Ar.


 


 


Ardian R : Iya Om.


 


 


Edoardo D: Suee


 


 


Irfani A: Enak nggak Ar di sono, gue mau nyusul ini.


 


 


Ardian R: Enak nggak enak.


 


 


Edoardo D: Enaknya apaan, banyak bule cakep ya.


 


 


Ardian R :Salah satunya.


 


 


Agung N: Nggak enaknya apaan.


 


 


Ardian R: Nggak bisa nitip absen gue.


 


 


Irfani A: Yhaaaa


 


 


Nadia S bergabung menggunakan tautan...


 


 


Lisa A bergabung menggunakan tautan....


 


 


M selomita bergabung menggunakan tautan...


 


 


Heny bergabung menggunakan tautan...


 


 


Lisa A: Ngapa Nih gw diundang masuk ke sarang buaya


 


 


Irfani A: Sialan.


 


 


Agung N : Brisik dah markas gue.


 


 


Edoardo D: hehe bentar doang ntar gue keluarin lagi.


 


 


Nadia S: Eh, ada Ardi ya?


 


 


Ardian R : Saya.


 


 


Heny : Pa kabar Ar, Mita udah kangen katanya.


 


M selomita : Apaan? Ngapa jadi gue si.


 


 


Ardian R: haha


 


 


Irfani A : Ini markas buronan Mitoha. Kalo mau bertamu tolong yang sopan, jangan diberantakin, terutama hati gue.


 


 


Lisa A : Yhaaaaaa Ambyar.


 


 


Nadia S: Buronan Mitoha itu apa si.


 


 


Edoardo D : yank masa kamu nggak tau.


 


 


Agung N: Buronan adalah orang yang diburu. Sedang kan Mitoha adalah mertua. Jadi kita ini orang yang diburu para calon mertua.


 


 


Heny : haha boleh juga.


 


 


Lisa A: Kenapa nggak buronan emak-emak si.


 


 


Ardian R: itu mah kemaren waktu jadi sales bapperware.


 


 


Edoardo D: Si Ipang noh yang kemaren jadi rebutan.


 


 


Irfani A: Emang tampang soleh mah banyak di minati.


 


 


Heny : Solehin.


 


 


Irfani A: Sa ae mbaknya.


 


 


Ardian R: ciein jangan.


 


 


Irfani A: gak usah udah ditolak.


 


 


Lisa A: yhaaa curhat.


 


 


Nadia S: kurang apa sih si Ipang Hen.


 


 


Heny : Kurang Do'a


 


 


Edoardo D: kurang amal


 


 

__ADS_1


Ardian R : kurangajar


 


 


Agung N: kurang usaha


 


 


M Selomita :kurang ganteeeng.


 


 


Irfani A: udah jangan dikurang-kurangin. Gue udah kelebihan.


 


 


***


 


 


Justin masih tidur di kamarnya saat ponsel yang ia letakkan di atas meja berdering nyaring. Pria itu mengangkat panggilan yang ternyata vidio dari luar negri.


 


 


"Baaaang," wajah sang adik memenuhi layar, membuatnya berdecak sebal.


 


 


"Apa?" Tanya Justin.


 


 


"Pengen pulang."


 


 


Justin tertawa, "belum seminggu, payah kamu," ledeknya kemudian beranjak bangkit dan bersandar ke kepala kasur.


 


 


"Kangen ibu."


 


 


Justin mencebikkan bibir, "ibu apa pacar kamu?" Ledeknya lagi.


 


 


Ardi tampak melengos, kemudian kembali menoleh pada kamera. "Karin kemana, aku telfonin nggak diangkat."


 


 


Justin mengangkat bahu, kemudian menoleh ke arah pintu saat benda itu ada yang membukanya. Sang istri masuk dengan membawa mangkuk berisi bubur untuk si kembar, wanita itu menghampiri suaminya.


 


 


"Siapa?" Tanya Nena.


 


 


Justin tidak menjawab, malah menunjukkan layar ponsel canggihnya yang tengah menampakkan wajah sang adik.


 


 


Nena terlihat girang. "Masih idup, lo," pekiknya.


 


 


"Mbaak bujukin abang, gue pengen pulang."


 


 


Nena tertawa geli saat raut sang adik terlihat frustrasi. "Kamu gimana di sana, sepupunya William baik kan orangnya?"


 


 


"Ya baik sih, tapi gue nggak mau di sini, Mbak, bilangin abang gue mending tinggal sendiri aja."


 


 


Nena meletakkan mangkuk bubur di atas meja, duduk di sebelah sang suami dan berbagi tempat agar tersorot kamera. "Kenapa? Nih bilang sendiri."


 


 


Justin menoleh pada Nena, melontarkan pertanyaan dengan mengangkat sebelah alisnya.


 


 


"Aku tinggal di asrama kampus aja, Bang."


 


 


Justin menegakkan duduknya. "Memangnya kenapa?" Tanya pria itu mulai serius. Kemudian mengangguk-anggun saat sang adik menceritakan tentang kebiasaan sepupu William yang terlalu sering membawa perempuan. "Yaudah nanti saya suruh William ke sana, biar kamu diantar ke apartemen saya yang dulu, tapi bener kamu bisa sendiri."


 


 


Ardi terlihat mengangguk di seberang sana. "Ibu mana, Bang?"


 


 


Nena mengambil alih ponsel dari tangan sang suami kemudian membawanya ke dapur menghampiri sang ibu yang tengah memasak dibantu oleh asistennya di sana.


 


 


"Bujang kuu!" pekik Marlina, mengambil ponsel yang Nena sodorkan kemudian ia dekap saking senangnya, seolah putranya yang tengah ia peluk saat ini. "Pulang, Nak ibu kangen."


 


 


Ucapan sang ibu menui protes dari Nena di sebelahnya. "Gimana si, Bu, malah disuruh pulang Ardinya."


 


 


 


 


"Ibu sehat?"


 


 


Pertanyaan itu membuat Marlina mengangguk, "kamu udah makan belum?"


 


 


"Belum Bu." Rengek Ardi yang terlihat memelas di layar hp dan membuat Nena mencebik sebal.


 


 


"Ya Allah anak ibu belum makan, Na." Marlina yang terlihat sedih menoleh pada Nena. "Adik kamu ini, belum makan, kasian, kelaparan."


 


 


"Mau aja ibu dibohongin sama Ardi, nggak mungkin lah dia belum makan." Nena jadi sewot.


 


 


Marlina kembali menoleh pada layar hp, putranya tampak tertawa di sana. "Kamu mau makan apa?" Tanyanya.


 


 


"Susah, Bu, di sini nggak ada rumah makan padang, aku pengen makan ketoprak."


 


 


"Ya Allah." Marlina semakin sedih menoleh lagi pada Nena.


 


 


Nena jadi mengomel. "Nggak usah lebay kamu Ar. Nggak nyambung, emang di warung padang jualan ketoprak."


 


 


Ardi tampak tertawa, sang ibu membelai layar ponsel di hadapannya, dan gambar putranya itu malah menghilang. "Lah, ini gimana dong, Na, Ardinya ilang."


 


 


Nena tertawa geli, "ibu norak banget ih. Punya hp juga," ucapnya sembari mengotak atik hp nya dan wajah sang adik muncul kembali.


 


 


Marlina tersenyum lega, "nanti ibu kirimin aja makanan dari sini, pake ojek online," ucapnya yang membuat Ardi jadi tertawa.


 


 


Nena menghela napas sebal, "mampus aja itu abang ojol, Buu."


 


 


***


 


 


Karin mengambil sepatu di rak untuk ia cuci, gadis itu melihat sepatu sang abang teronggok di sebelah sepatunya, dan hal itu membuat ia teringat.


 


 


"De, cuciin sepatu gue sekalian."


 


 


"Males, Bang, cuci sendiri."


 


 


"Ayo dong, ntar gue beliin eskrim,"


 


 


"Dua ya."


 


 


"Segrobaknya, Dek, gue kasih."


 


 


"Mantep."


 


 


Bayangan sang abang yang tengah berdebat dengan dirinya itu terlihat amat nyata, gadis itu menggeleng, membawa sepatu sang abang untuk ia cuci bersama sepatunya juga.


 


 


"Coba tebak."


 


 


"Males gue nebak-nebak."


 


 


Karin kembali menggeleng, saat dia mulai menyikat sepatutnya dan malah kenangan itu kembali mengganggu. Sejak kapan ritual mencuci sepatu disertai dengan halusinasi macam begini, Karin jadi jengkel sendiri.


 


 


"Udah dong, Bang Ar, Karin mau nyuci dulu ini." Gadis itu mengomel entah pada siapa.


 

__ADS_1


 


"Karin kenapa?"


 


 


Pertanyaan Nena membuat gadis yang tengah duduk di hadapannya itu terlonjak.


 


 


"Mbak Nena ngagetin aja."


 


 


Nena terkikik geli, "dicariin sama Ardi tuh, ditelfonin dari tadi."


 


 


Karin tampak tidak peduli, kembali fokus pada sepatu dan busa-busa di tangannya, "Biarin aja, Mbak."


 


 


Nena mencebikkan bibir, "yang bener," godanya, dan saat gadis di hadapannya itu tidak merespon, ibu dari si kembar itu kembali berucap. "Yaudah kalo gitu." Nena melangkah pergi, namun bersembunyi di balik pintu, dan saat melihat gadis itu mematikan kran air dan berlari menuju kamarnya, dia jadi tertawa. "Dasar abege labil."


 


 


***


 


 


Di kamar, Karin mengambil ponselnya di atas meja, membuka pola dan mencari daftar panggilan baru di akun whatsapp nya.


 


 


Gadis itu ingin marah, mengomel, jika perlu dimaki-maki pun ia akan melakukannya, tega sekali pemuda itu tidak membangunkannya saat pergi, tidak memberi kabar selama dua hari, dan lagi...


 


 


"Assalamualaikum, Dek."


 


 


Karin sudah tengkurap di kasur nya, menghadap layar ponsel yang menampakkan wajah ganteng sang abang yang amat dia rindukan, kemudian menjatuhkan wajahnya ke atas bantal, dia ingin menangis. "Waalikum salam, Abang." Dan caci maki yang sebelumnya bercokol di kepalanya itu lenyap sudah.


 


 


Beberapa bulan setelahnya mereka rutin memberi kabar, mencari waktu yang pas untuk saling bertegur sapa tanpa mengganggu jadwal kegiatan masing-masing.


 


 


Perbedaan waktu yang lebih cepat lima belas jam dari tempat sang abang membuat Karin sedikit kewalahan mengimbanginya.


 


 


Balas-balasan chat yang terkadang tidak penting lebih mendominasi di antara mereka, dari mulai menjadi baby sister dadakan sampai menjadi instruktur senam sesekali, rela gadis itu lakukan demi tidak kehabisan kuota.


 


 


Dan duduk berjam-jam di depan colokan saat batre mulai sekarat namun chatting masih ingin terus berlanjut sudah biasa Karin jalankan.


 


 


Ayang bep adalah nama kontak sang abang yang tersimpan pada urutan nomor satu saking cinta matinya, namun sesekali kontak itu berganti seiring suasana hati gadis itu yang pasang surut, dari mulai abang ganteng, kanjeng somplak sampai tukang bajigur kerap kali muncul pada layar hpnya dengan notip dari orang yang sama.


 


 


Dan user name kontak sang abang kali ini adalah tukang parkir. Kenapa? Giliran dibutuhin nggak pernah muncul. Tapi giliran kita nggak peduli, mau pergi tiba-tiba nongol, iya, kaya kang parkir maret-maret.


 


 


"Kenapa lama banget si, balesnya, aku kirim malem dibaca nya pagi." Karin mulai mengetik balasan untuk sang abang saat pesan jawaban atas pertanyaannya sedang apa baru dibalas pukul lima pagi.


 


 


Kang Parkir : Kan di sini sore sayang.


 


 


Karin menjulurkan lidah. Padahal sang abang tidak bisa melihatnya. Belum sempat membalas, pesan dari pemuda itu kembali bermunculan.


 


 


Kang Parkir: kamu lagi apa, Dek.


 


 


Kang Parkir: lama banget si, balesnya, kamu chat sama siapa lagi selain abang, Dek?


 


Karin jadi kelabakan, gadis itu mengomel, "ya gimana mau bales, lagi ngetik, pesan kamu dateng lagi. Aku balesnya lama tuh bukan chat sama yang lain, tapi lagi bingung nyari emotikon yang pas ini."


 


 


Pesan kembali terkirim, tidak lama centang dua di sana berubah biru, tulisan sedang mengetik membuat Karin menunggu, sepuluh detik, lima belas detik, pesan sang abang belum juga muncul. Wah bakal panjang nih pesan, pikirnya.


 


 


Karin sampai nyaris tertidur saking lamanya, dan saat notif yang ia tunggu akhirnya berdenting, gadis itu segera memeriksanya, dan isinya hanya emotikon tersenyum tiga biji.


 


 


"Kampret, gue nungguin lama banget juga, kang parkir sialaaan."


 


 


Karin mengetikkan balasan lanjutan  dengan kesal, "Bang vc dong." Setelah pesan terkirim gadis itu meloncat ke depan cermin merapikan rambut, sedikit mengulas bedak, pemerah bibir dan...


 


 


"Ia bentar!" Omel Karin pada hpnya yang berdering nyaring. Gadis itu menghampirinya. Sedikit berkaca di kamera yang menyala-nyala kemudian menekan nada sambung. Sang abang yang entah kenapa terlihat semakin ganteng entah efek kamera atau memang dia sudah bertambah jatuh cinta, mengalihkan dunianya.


 


 


"Kok lama angkatnya?" Tanya sang abang.


 


 


Karin yang berada di posisi tengkurap itu sedikit berpikir, "tadi ke kamar mandi bentar," jawabnya.


 


 


"Abis mandi?"


 


 


"Aku belum mandi malah."


 


 


Tampak pada layar hpnya sang abang tengah tertawa, "belum mandi kok udah cantik, seger banget mukanya."


 


 


Karin membenamkan wajahnya ke atas bantal, jadi ingin tertawa, ya iyalah cantik, The power of bedak lipstik. "Bener, Bang aku belum mandi, orang masih jam lima gini." Karin tau, di tempat sang abang pasti sekarang jam dua siang.


 


 


"Yaudah percaya, abang sambil makan siang ya."


 


 


Karin mengangguk, "Abang besok jadi pulang nggak? Kan udah janji mau pulang pas aku lulusan sekolah."


 


 


Sang abang yang semula tengah makan kini kembali fokus pada kamera, raut wajahnya tampak menyesal. "Nggak tau, Dek, abang ada bimbingan kayaknya."


 


 


Karin mencebik sedih, "Abang udah janji tau," rengeknya, dan belum sempat mendapat balasan, suara pintu terbuka membuat gadis itu menoleh. "Jinooo sakit, rambut antenyaa!" Karin mengomel saat seorang bocah nakal salah satu dari si kembar menaiki punggungnya dan  menjambak rambut gadis itu.


 


 


"Ante, Ino naik tuda," ucap bocah itu dengan bahasa yang masih belum terlalu jelas. Karin menggulingkannya ke atas kasur.


 


 


"Kamu kenapa bisa lepas dari kandang sepagi ini si? Mami kamu kemana?" Tanya Karin, namun bocah yang belum genap tiga tahun itu malah lebih tertarik pada hape sang tante yang bergambar wajah omnya.


 


 


"Om, Al!" Pekik bocah bernama Jino itu girang, dia kenal dengan omnya karena sang papi sering mengajaknya berkunjung ke sana saat ada kerja.


 


 


"Jino kapan main ke sini lagi?"


 


 


"Anti tama papi, Om."


 


 


"Nggak usah ke sana, besok juga Om Ardinya pulang, iya kan, Bang?" Pancing Karin.


 


 


Ardi tampak berpikir, "Nggak tau gimana besok aja lah."


 


 


"Yeee!" Pekik Karin girang, dan entah kenapa bocah laki-laki di hadapannya itu ikut senang juga, padahal tidak mengerti juga maksudnya apa.


 


 


 



Karin: Aku udah gede Bang.


 


 


 


 


 



Ardi: Kalo poin sama komentarnya kenceng, besok abang pulang. Kalo nggak kenceng nggak jadi pulang lah 🤣🤣


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2