
Siang ini Karin yang sudah mulai belajar mengelola hotel bisnis keluarga milik papinya itu, mendatangi kantor sang suami saat makan siang.
Ardi sudah ada janji dengan kliennya, dan saat pria itu mengajak Karin untuk ikut dengannya, dia menolak, percuma saja, obrolan mereka tidak akan dimengerti olehnya.
Dan sekarang di sinilah dia, bersama Maya di kantin kantor Ardi yang siang ini penuh sekali.
"Pengantin baru, apa kabar nih?" Maya bertanya menggoda, dan Karin hanya mencebikkan bibir sebagai tanggapan, perhatiannya teralihkan saat dua mangkuk soto juga nasi sudah dihidangkan di atas meja. "Gue jadi penasaran cerita malam pertamanya?" Tanya Maya lagi. Kemudian tertawa.
Karin berdecak, mengaduk kuah soto yang masih mengepulkan uap panas, tidak ingin menanggapi sebenarnya, tapi Maya yang terlihat penasaran sekali membuatnya jadi geli. "Yang jelas mah, sakit," jawabnya dengan suara pelan, menoleh sekilas pada orang-orang di sekitarnya yang sibuk makan.
Maya mengerutkan dahi, "masa iya sih?" Tanyanya tidak percaya, "kalo sakit kenapa orang-orang pada suka," imbuhnya.
"Ya lo kan nanyanya pengalaman pertama, ya pertamanya mah sakit." Dengan santainya Karin bercerita, meniup kuah soto dalam sendok dan mencicipinya.
Maya melakukan hal yang sama, "terus dedek gemes yang pada nggak Virgin itu berani amat ya," ucapnya mulai bercerita.
Karin mendongakkan pandangannya dari mangkuk, "dedek gemes siapa?" Tanyanya.
"Ya ada lah anak remaja sekarang kan kebanyakan pada berani kaya gitu."
Karin tidak menanggapi, kebiasaan Maya yang sejak dulu sulit sekali untuk dihilangkan adalah ngomongin orang, dan parahnya dia malah kadang senang. Tapi untuk kali ini tidak lagi, dia harus menghindari hal-hal semacam itu. Rugi. "Ya itumah urusan mereka lah," komentarnya.
"Kalo awalnya sakit, seterusnya nggak dong ya, rasanya gimana, Rin?" Maya kembali bertanya dengan semangat.
Karin menghela napas, "ya begitu lah, masa iya gue ceritain, ntar kalo lo jadi pengen susah prakteknya."
Maya nyaris melemparkan sendok di tangan ke wajah sahabatnya, "nyesel gue nanya," omel gadis itu yang membuat Karin tertawa.
"Ya siapa suruh lo nanya-nanya."
Maya mencebik, kemudian teringat sesuatu. "Eh, Rin tau nggak?"
Kalimat awalan untuk mengaktifkan ghibah mode on meluncur dari mulut Maya, biasanya ini akan berlangsung lama, "Eh, bentar-bentar, sehari aja nggak ngomongin orang bibir lo kering ya, May." Karin berkomentar.
Maya menepuk-nepuk mulutnya dengan gemas, "ya ampun iya kebiasaan," omelnya pada diri sendiri. "Maaf deh, abis seru banget," imbuhnya lagi.
Karin meneruskan makannya, disela mengunyah dia berucap, "makanya sekali-kali kepribadian lo di upgrade, biar dapet suasana baru."
Maya berdecak, "ya abis gimana gue juga pengen unistal jiwa sirik, iri dengki sama ghibahin orang, tapi kan aplikasi bawaan mah nggak bisa dihapus, Rin."
Karin jadi tertawa, "iya juga," ucapnya.
"Yah, padahal tadi gue mau ceritain Mbak Lusi, yang genit itu, masa kemaren didatengin sama ibu-ibu."
Karin menghentikan kunyahannya, dia jadi penasaran, "Terus," pancingnya.
Maya kembali mengecilkan suaranya untuk bercerita, dan sepanjang perbincangan itu Karin hanya mengangguk-angguk saking serunya, seberapaun mereka selalu menghindari kegiatan unfaedah berupa ghibah, tetap kalah oleh rasa penasaran dan ingin tau dalam dirinya yang menggebu-gebu.
"Udah lah jangan ngomongin dia." Karin menyudahi perbincangannya.
"Telat lo, kita udah ngomongin dari tadi." Maya yang seolah baru tersadar jadi tertawa.
"Eh, cowok yang bareng lo pas dateng ke nikahan gue kemarin siapa?" Tanya Karin memulai topik baru, mendorong mangkuk bekas soto di hadapannya yang sedikit mengganggu.
"Itu cowok yang waktu itu gue ceritain, yang beda tujuh tahun itu loh."
Karin sedikit berpikir, "oh, iya gue inget, cakep juga sih, May," ucapnya.
"Iya tapi sekarang kayaknya agak menghindar dia, gue berasa jauh gitu," ucap Maya sembari memegang dadanya dengan telapak tangan, "Gue ngerasa udah patah hati, padahal bukan siapa-siapa."
__ADS_1
Karin yang semula sibuk mengaduk es teh manis miliknya sambil mendengarkan celotehan Maya kemudian mendongak, "emang lagi musim tuh, nyamannya berdua jatuh cintanya sendirian," sindirnya.
Maya yang masih berusaha menghabiskan jatah makanan di piringnya kemudian mengangguk, "Gue masih takut buat membuka hati, kisah gue sama Kak Heru kan bukan itungan Jari, delapan tahun, Rin, delapan tahun gue kasih perhatian buat jodoh orang," ucapnya berapi-api.
Karin refleks tertawa, belum sempat menanggapi, sebuah panggilan masuk ke ponsel sahabatnya.
Perempuan itu mengangguk saat Maya menaruh telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar tidak bersuara.
"Kak Dimas mau ke sini, Rin, tumben dia nyariin gue," ucap Maya, meski terlihat panik tapi ada rona bahagia terpancar dari sorot matanya.
"Dimas?"
"Yang gue ceritain."
"Ooh, yaudah gue pergi dulu deh." Karin beranjak berdiri, dan setelah mendapat anggukan dari sahabatnya dia pun melangkah pergi.
"Sendirian?" Tanya pria berkacamata pada Maya, kemudian menduduki kursi di hadapan gadis itu.
"Tadi sih sama temen, tapi udah pergi," jawab Maya, "ada apa, Kak, nyariin aku, perasaan dari kemaren ngilang, nggak ada kabar?" Tanyanya kemudian.
Pria tinggi yang masih terlihat muda di usianya yang menginjak kepala tiga itu bernama Dimas, dia tersenyum, "nyariin ya?" Godanya.
Dituduh seperti itu Maya jadi salah tingkah, belum lagi tudingannya memang benar adanya. "Ya enggak juga," sangkal gadis itu.
Dimas tersenyum lagi, dia tau gadis di hadapannya itu berbohong, padahal apa salahnya jika dia mengakuinya, dasar wanita. "Sory, kemaren sibuk banget, nggak sempet pegang hape, pulangnya malem terus abis itu tidur," ucapnya memberi penjelasan.
Maya mengangguk mengerti, meski dalam hati dia juga sadar diri, entah benar-benar sibuk atau dirinya yang tidak terlalu penting untuk diprioritaskan, entah lah. Dia tidak terlalu ambil peduli. "iya nggak apa-apa," jawabnya.
Pria di hadapannya menghela napas, satu kalimat berjuta makna, nggak apa-apanya seorang wanita biasanya mengandung arti yang berbeda.
Kacamata yang sedikit berembun ia lepas, kemudian mengambil tisu untuk mengelapnya, bingung harus darimana memulai percakapan, dia memilih untuk diam saja.
"Beda kenapa?" Dimas bertanya setelah mengalihkan perhatian dari benda di tangannya.
"Ya beda aja, cakepan nggak pake kacamata tau, Kak," puji Maya.
Dimas tertawa pelan, "aku juga ngeliat kamu beda kalo lagi nggak pake kacamata," ucapnya.
Maya mengerjap gugup, "beda kenapa?" Tanyanya.
"Ya beda, jadi burem."
"Yhaaa," pekik Maya kecewa, "Yaudah pake aja kalo gitu," imbuhnya pura-pura kesal.
Dimas tertawa lagi, "Kenapa sih, keki banget kayaknya."
"Kirain tadi mau digombalin."
"Yaah, aku nggak bisa gombal gimana dong," ucap Dimas, belum mendapat tanggapan dari gadis di hadapannya dia berkata lagi. "Malem minggu jalan yuk," ajaknya.
Maya menoleh, senyumnya mengembang, "kencan ya?" Tanyanya menggoda.
"Kalo boleh dibilang begitu ya boleh juga."
"Kencan tapi nggak jadian, yaah kasian." Maya memberanikan diri untuk memulai.
Dimas tertegun, seperti tidak menyangka, "Yaudah kalo gitu jadian dulu," tanggapnya.
"Ditolak, abisnya nggak romantis banget," ucap Maya, padahal jantungnya nyaris lepas saking senangnya.
__ADS_1
Dimas tertawa, "yah, belum nembak udah ditolak," ucapnya dengan nada bercanda, "tapi malam minggu jadi ya," bujuknya, dan Maya menanggapi dengan tertawa.
**
Dari kejauhan Karin masih memperhatikan interaksi keduanya, dari wajah Maya yang tampak berseri-seri. Sepertinya dia bisa menebak apa yang terjadi. Perempuan itu berbalik dan terkejut mendapati suaminya ternyata sudah berada di sana, ikut memperhatikan apa yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya.
"Abang ngagetin aja ih," omel Karin.
"Kamu liatin apaan si?" Ardi bertanya, kembali menoleh pada pasangan yang duduk mengobrol di sudut kantin.
Buknnya menjawab, Karin teringat sesuatu. "Abang kenal Dimas nggak?"
"Dimas, siapa?" Tanyanya curiga.
Karin berdecak, kemudian menunjuk teman Maya yang tampak seru bercerita di sudut sana.
Ardi mengangguk, "oh, dia namanya Dimas ya, kenal sih yang kemaren baru naik jabatan."
Karin menoleh antusias, "Udah punya istri belum dia, Bang."
Pertanyaan itu kembali membuat Ardi curiga, dia tentu merasa cemburu, "kita baru nikah loh, masa udah mau ada konflik, nanti dulu laah."
"Dih apaan si, orang buat Maya, mereka tuh lagi pendekatan abang." Karin memberi penjelasan.
Ardi menoleh ke arah mereka lagi, "oh, kemaren pas aku baca cv dia sih statusnya belum menikah."
"Ya bagus lah kalo gitu." Karin menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, senyumnya tampak bahagia.
Melihat ekspresi sang istri, Ardi ikut senang juga, tapi senyumnya tampak berbeda. "Kangen abang, Dek."
Mereka yang masih berdiri di dekat kamar mandi sesekali menarik perhatian pengunjung kantin yang melewatinya.
Karin melirik suaminya dengan curiga, kemudian menghela napas saat mengerti arti tatapannya. "Yang bener aja lah, Bang, ini di mana," omelnya.
Ardi merangkulkan lengannya pada pundak sang istri, kemudian berbisik, "Kan di ruangan kerja aku ada kamarnya."
"Astagaa, Abaang!"
***iklan***
Netizen: ko iklan si thor mereka jadi ke kamar apa nggak itu kira-kira. 🙄
Author: itumah terserah imajinasi masing-masing aja lu terusin sendiri. 😒
Netizen: Nggak asik lu ah. 😆
Author: Terserah 😑 eh iya gw mau nanya itu episode candu baru yg like sampe 5000 lebih tapi kalo episode biasa kenapa cuman 3000, itu yang 2000 kemana?
Tega yah kamu pemilik 2000 jempol yg nggak ninggalin jejak, banyak loh itu, buat bayar wc umum bisa dah.
Yaudah kalo jempol gak mau ninggalin jejak ya minimal kasih poin lah biar imajinasiku lancaran dikit, 😒
Hati senang, imajinasi lancar, pembaca haha hihi, poin kenceng. Kan enak tuh. 😅😅
Jangan lupa komen next nya biar daku syeemangat 😂
__ADS_1