NOISY GIRL

NOISY GIRL
OBROLAN


__ADS_3

Malam ini, Agung mengunjungi sang ibu di kamarnya, pintu yang terbuka secelah membuat dia dapat melihat saat wanita paruh baya itu tengah solat isya, dia pun melangkah masuk, duduk di tepi ranjang kemudian merebahkan diri di sana, tangannya mengambil satu buku tipis bertuliskan ilmu fiqih yang bertumpuk di atas kasur, membuka sekilas kemudian ia tutup lagi dan meletakkan ke tempat semula.


 


 


"Ada apa?"


 


 


Pertanyaan itu membuat Agung beranjak duduk, turun ke lantai dan mencium punggung tangan wanita kesayangannya itu. "Ada yang mau aa omongin, Mi. Bisa minta waktunya sebentar nggak?" Tanyanya meminta izin.


 


 


Wanita bernama Laila, yang biasa anak-anaknya panggil dengan sebutan umi itu mengangguk, "ngomong aja, A."


 


 


Agung menghela napas, duduk bersandar pada kaki ranjang di belakangnya. "Om Azlan mengundang kita buat makan malam besok, katanya buat silaturahmi, juga mau meluruskan kesalah pahaman sebelumnya, umi bersedia dateng nggak?"


 


 


"Menurut kamu, apa kita harus datang?" Tanya balik Laila, namun mendapati putranya itu malah terdiam, dia kemudian mengulas senyum, menyentuh punggung tangan putranya yang berada di atas lutut yang bersila. "Jangan jadikan kemarahanmu menghalangi untuk kita bersilaturahmi, niat Pak Azlan mungkin baik, agar di antara kalian nggak ada lagi pertikaian," ucapnya seraya menarik kembali tangannya dan beralih mengusap wajah tampan putra sulungnya itu.


 


 


"Siapa yang marah," sangkal Agung, wanita itu berucap seolah dirinya masih menyimpan dendam terhadap hinaan Aldo, tapi jika diingat, hatinya memang masih sakit.


 


 


Laila yang tertawa tanpa suara itu melepaskan mukena, melipat benda itu dan ia taruh di atas pangkuannya, "keliatan banget kalo aa tuh masih kesel, jangan gitu A, umi nggak ngajarin buat menyimpan dendam."


 


 


Sesaat Agung terdiam, kemudian menatap wanita itu dengan pandangan sebuah pengakuan, dia memang mengakui jika masih benci bila mengingat kalimat yang terlontar dari pria itu, apalagi saat mencela ibunya. "Aa kan bukan Malaikat, Mi. Wajar lah kalo masih kesel."


 


 


Wanita itu menggelengkan kepala pelan, "Nggak harus jadi malaikat untuk kita bersikap baik terhadap sesama, umi yakin Aa pasti bisa maafin abangnya Lia, masih sayang kan sama adeknya?"


 


 


Agung berdehem canggung, dia selalu gugup jika membahas tentang kekasihnya pada sang ibu, senyum jenaka itu membuatnya selalu malu. "Sayang lah, sama kaya aa sayang sama umi, Anggi, juga Nina," ungkap pemuda itu, "sayang banget malah," Imbuhnya lirih.


 


 


Mendengar itu Laila tersenyum bangga, "anak umi udah gede ya?" candanya.


 


 


Agung yang memberenggut tidak terima kemudian menyahut, "udah gede lah, Mi. Udah bisa cari uang," balasnya.


 


 


"Kalo gitu udah siap dong buat nikah?"


 


 


Pertanyaan itu membuat Agung terbungkam, melirik wanita di hadapannya dengan pelan, dan reaksi mengangkat alis itu mengutarakan permintaan sebuah jawaban. "Aa belum siap," ungkapnya.


 


 


Laila menghela napas, "umi udah mulai tua, A, bahkan temen-temen umi udah pada punya cucu, umi juga mau," pinta wanita itu.


 


 


"Kan ada Nina, aa belum siap berumah tangga."


 


 


"Belum siap tapi pacaran."


 


 


"Kan biar deket aja, biar saling mengenal."


 


 


"Inget ya, A. Dalam Al Quran dikatakan, yang artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. Deket aja nggak boleh apalagi sampai melakukannya, dan jalan terbaik untuk menghindari fitnah ya dengan menikah."


 


 


Agung terdiam, kalimat itu mengingatkannya pada ciuman panas di balkon kemarin malam, dia jadi merasa berdosa sekarang.


 


 


Laila melepas mukena bagian bawah, melipatnya sembari berdiri dan ia letakkan di atas meja, melihat tatapan putranya yang terus mengikuti kemana dia melangkah, wanita itu jadi teringat masalalu, dan bayangan bocah kecil lugu yang menunggu sang ibu mengatakan sesuatu benar-benar membuatnya amat terenyuh, bagaimanapun putranya itu sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang harus ia tahan keberadaannya. "Kalo kamu udah merasa cocok sama Lia, udah yakin sama perasaan kalian, tunggu apalagi?" ucapnya meyakinkan, duduk di tepi ranjang dengan mengusap pundak putranya.


 


 


"Aa belum siap jika harus ninggalin umi."


 


 


"Menikah itu kan bukan berarti kamu harus pergi, kalian bisa juga tinggal di sini, ini kan rumah kamu."


 


 

__ADS_1


"Mi...," ucap Agung lirih, menyentuh jemari wanita itu yang berada di pundaknya. "Seorang istri itu nggak pernah cocok sama mertua dan saudara ipar, Lia pasti nggak nyaman kalo harus serumah sama kita, sama kaya aa yang nggak akan nyaman kalo tinggal di rumah dia."


 


 


Laila jadi terdiam, yang dikatakan putranya itu memang benar, belum sempat berucap lagi dan kalimat anak itu kembali diteruskan.


 


 


"Apa umi siap kalo aa nggak pulang-pulang? Siap juga aa nggak selalu langsung ada saat umi butuh apa-apa," ucap pemuda itu, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


 


 


"Umi malah kasian sama Lia, kamu kan cerewet, tukang nyuruh, enak malah umi nggak ada kamu."


 


 


"Dih umi jahatnya," rengek Agung berlagak tidak terima, namun kemudian tersenyum juga. Pemuda itu menunduk, tampak memikirkan sesuatu, sedangkan sang ibu menengadahkan kepala, menatap langit-langit kamar dengan tujuan agar air matanya tidak keluar. Dia tidak mau putra kesayangannya melihat hal itu.


 


 


"Mi?"


 


 


"Hn?" Laila menyahut gelagapan, menoleh pada putranya untuk memberikan tanggapan.


 


 


"Aa pernah denger, kalo seorang anak perempuan itu menikah dia bukan lagi milik ayahnya, melainkan sudah menjadi milik sang suami, tapi jika seorang anak laki-laki menikah, dia masih menjadi milik ibunya," ucap Agung, kemudian menoleh saat bertanya, "bener nggak sih?"


 


 


Laila hanya tersenyum sebagai jawaban. Putranya seolah mengerti dengan apa yang ia resahkan, tentu saja dirinya sangat terharu.


 


 


"Jadi umi jangan takut aa bakal ninggalin umi, karena aa masih milik umi." Agung berucap, kemudian melipat lengannya di lutut sang ibu, merebahkan kepala di pangkuan wanita itu.


 


 


Untuk kali ini Laila tidak mampu lagi membendung laju airmatanya,  kalimat yang terlontar dari putranya itu benar-benar membuatnya amat terharu. Meski dulu pemuda itu pernah mengecewakan, dan dia hanya bisa bersabar menghadapi tingkahnya, Laila amat bahagia karena kini putranya telah banyak berubah.


 


 


***


 


 


Besoknya Agung yang sudah rapi beranjak ke ruang tamu menemui keluarganya yang tampak masih bersiap. "Mi..., udah malem loh, nanti kita telat nggak enak kalo ditunggu," seru pemuda itu sembari mengancingkan lengan kemejanya.


 


 


 


 


Adelina mendekati abangnya, duduk terdiam di sebelah pemuda itu, melihat pakaiannya yang cukup rapi juga riasan natural di wajah yang tidak seperti biasanya, Agung jadi berkomentar.


 


 


"Katanya nggak mau ikut, ko udah cantik?"


 


 


Adelina menyandarkan tubuhnya pada sofa, melirik abangnya dengan tatapan dibuat tidak suka, "ada yang mau aku omongin sama Ka Aldo," ucapnya sembari melipat tangannya di dada.


 


 


Agung mencebik, "pacaran teruuus," sindirnya.


 


 


Adiknya itu berdecih, "siapa yang pacaran, orang Nina udah putus," ucapnya ketus.


 


 


Agung terdiam, dia jadi teringat tentang perjanjian mereka, dan merasa bersalah karena telah mengingkarinya, melihat gadis di sebelahnya itu menoleh dengan  tiba-tiba, dia jadi mengerjap gugup.


 


 


Adelina menegakkan duduknya, "Aa udah putusin pacar aa belum?" Tanyanya kemudian. Dan melihat abangnya terdiam dengan wajah yang terlihat panik gadis itu jadi tertawa. "Biasa aja kali A, Nina juga tau pasti aa belum mutusin Lia kan, mana mungkin sekarang diundang makan malam," ucapnya dengan kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa.


 


 


"Kenapa putus? Kok bisa?"


 


 


"Ya seperti yang aa bilang, kita emang nggak cocok kok," ucap gadis itu menjelaskan, menoleh sekilas untuk melontarkan sebuah senyuman, lalu kembali membuang muka, dan alasan sebenarnya karena gadis itu tidak terima bahwa sang mantan sudah menghina keluarganya, terutama abangnya, enak aja dia, biarin tau rasa, begitu pikirnya.


 


 


Meski tanpa dipungkiri hatinya sedikit sedih juga, kedekatan satu bulan mereka harus berakhir tanpa koma yang kemungkinan akan berlanjut catatan kisahnya, cerita mereka telah usai, berakhir dengan titik dan tulisan selesai, bahkan sebelum konflik dimulai.


 


 


"Udah putus tapi dandannya cantik banget biar apa?" Goda Agung.

__ADS_1


 


 


Adelina menoleh dengan berdecak kesal, "Aa bisa nggak sih prihatin dikit sama hati Nina yang masih berplester ini, sedih Nina tuh aa."


 


 


Agung jadi tertawa, menyentuh lengan adiknya hingga sedikit terdorong, "tolong ambilin sepatu gih," pintanya.


 


 


"Dih aa males banget ah, nyuruh-nyuruh terus," keluhnya.


 


 


"Lagi kapan nyuruh terus, baru juga minta tolong sekali, ambilin sepatu buruan."


 


 


Adelina menggeleng cepat, "males, males, males," tolaknya.


 


 


Agung kembali sedikit mendorong lengan adiknya, "cepet ambilin, mau tambahan uang jajan nggak?" Ucapnya memberi penawaran.


 


 


Adelina menoleh, kemudian menegakkan duduknya. "Beliin Nina baju baru A," ucapnya melunjak.


 


 


"Iyaaa, buruan ambilin dulu."


 


 


Dengan semangat Adelina beranjak berdiri, setengah berlari menuju rak sepatu hingga membuat pemuda itu jadi tertawa, adiknya masih gadis kecil yang selalu manja saat menginginkan apa-apa.


 


 


***


 


 


Author: Mohon sarannya kalo tulisan di atas ada yg salah atau nggak sesuai, aku juga masih belajar.


 


 


Netizen: episode ini keliatan banget ya jemaah mamah dedeh nya thor 😆


 


 


Author: Ya akhirnya sekian lama mantengin mamah dan aa pagi buta akhirnya kepake juga. 🤣


 


 


Netizen: Mpo Lela kaga jualan bapperware ya thor, kaya ibu Marlina.


 


 


Author: Laila bukan Lela ya Saroooh 😒


 


 


Netizen: yaelah beda dikit. Jum'at berkah bincang akhlak lah thor kaya seleb Twitter 🤗


 


 


Author: dibilangin gue nggak bisa ceramah ngapa ya 😒


 


 


Netizen: ya dikit dikit bisa kali, ada komen readers nih nanya katanya kalo siang hari kumur-kumur pake es buah batal nggak ya puasanya  🤔


 


 


Author: niat banget itu kumur-kumur, suruh ganti pake aer kobokan aja yang ada minyak-minyaknya 😑


 


 


Netizen: rumah gue kan deket masjid thor liat muadzin lagi megang pentungan beduk gue minum duluan boleh nggak. 😆


 


 


Author : Yaelah itu udah megang pentungan, sabar dikit napah 😒


 


 


Netizen: abisnya garuk-garuk dulu kan gw kesel. 😆


 


 


Author : Serah lu seteraaah 😑


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2