
Ardi menghampiri teman-temannya di ruang tv, dengan Karin yang berjalan di belakang.
"Ikutan game enggak, sambil nunggu ujan, kita seru-seruan dulu," ucap Ipang.
Karin yang masih malu pada pemuda itu karena kejadian di kamar tadi memilih untuk diam saja, entah kenapa dia merasa canggung.
"Game apaan?" Tanya Lisa yang baru ikut bergabung, duduk di atas sofa.
Ipang menggotong meja, dan menaruhnya agak jauh, agar mereka bisa duduk melingkar di karpet. Dan Agung yang datang membawa mesin pompa elektronik membuat semua penghuni ruangan menjadi bingung.
Nadia yang sempat memusatkan perhatiannya pada televisi di sana ikut menoleh, kemudian menuruni sofa. "Lo mau bikin game tiup balon itu ya?" Tanyanya saat melihat Ipang mengeluarkan satu pak balon dari saku celananya.
Agung menambahkan selang kecil dengan panjang satu meter pada mesin pompa, kemudin mengikat satu balon di ujungnya. "Iya, bener," jawabnya. "Nanti ada satu orang yang ngasih pertanyaan, dan kita dapet giliran jawab dengan megang balon yang terus diisi angin," jelasnya.
"Kalo balonnya pecah gimana?" Tanya Karin yang ikut penasaran.
"Buat si pemegang balon yang belum sempet jawab tapi balonnya udah pecah. Dia bakalan jadi orang yang ngasih pertanyaan berikutnya. Paham nggak?" Agung kembali menjelaskan.
Karin menggguk-angguk. Kemudin duduk di samping Ardi, "abang ikutan nggak?" Tanyanya pada pemuda itu.
Ardi mengangkat bahu. "Yaudah terserah," ucapnya.
Mereka pun duduk melingkar, mesin pompa elektronik yang Agung pinjam pada suami Mbak Indah kemudian ia taruh di tengah.
"Siapa duluan nih yang mau kasih pertanyaan?" Tanya Lisa yang duduk di sebelah kanan Ardi, di sebela kiri pemuda itu ada Karin.
"Eh, Ta. Ayo ikutan." Nadia menarik lengan sepupunya untuk duduk di sebelahnya. Diikuti dengan Irvan yang melakukan hal yang sama.
"Game apaan si?" Tanya Mita, yang kemudian mendapat penjelasan dari Nadia.
"Gue boleh ikutan juga nih?" Tanya Irvan. Tidak terlalu akrab dengn mereka menjadikan dia sedikit sungkan.
"Ikutan lah, makin rame makin seru." Ipang memberikan jawaban.
"Woy, sipa nih yang ngasih pertanyaan pertama?" Lisa yang pertanyaannya tidak mendapat tanggapan jadi sewot.
"Ok yaudah gue aja," ucap Agung.
Mereka duduk melingkar di atas karpet, Agung masih memikirkan pertanyaan, sebelum mesin pompa ia nyalakan. Searah jarum jam, urutan mereka di mulai dari Agung, Ipang, Irvan, Mita, Nadia, Edo, Heny, Lisa, Ardi, Karin, kemudin kembali ke Agung.
"Selain Allah swt, di dunia ini apa yang kalian takutkan?" Agung memberi pertanyaan, kemudin menekan tombol pada mesin pompa yang membuat balon mulai terisi angin. Pemuda itu dengan cepat memberikannya pada Ipang yang duduk di sebelahnya.
"Malam minggu," jawab Ipang. Pacarnya yang kadang lebih dari satu membutnya menghindari malam itu. Kemudian menyerahkan balon pada, Irvan yang sedikit kelabakan.
"Aduh, apaan ya, tanggal tua deh," ucapnya yang mendapat ledekan dari mereka.
"Beda orang kerja mah takutnya sama tanggal tua, kita mah duit aja masih minta orang tua." Agung menimpali.
Ardi jadi tertawa, bener juga. Pikirnya. Dan tidak terasa balon sudah ada di tangan Edo setelah mendapat giliran Mita dan Nadia.
"Pacar gue ngambek," jawab Edo dan spontan mendapat tabokan dari kekasihnya.
Heny menjawab, "kematian."
"Buset serem amat lo." Lisa jadi mengomel pada gadis itu, "kalo gue, abis kuota!" teriaknya kemudin, karena balon yang sampai di tangannya sudah semakin membengkak. Dan dia memberikan pada Ardi yang nyaris kabur jika tidak ditarik lengan bajunya.
Tanpa berpikir dua kali, mendapat pertanyaan apa yang paling ditakuti di dunia ini, pemuda itu menjawab, "ketauan!"
"Lah apaan tuh yang ketauan?" Tanya Edo penasaran.
Ardi tidak menanggapi. Dan Karin yang jadi panik karena mendapat balon yg sudah sangat menipis, bukannya menjawab malah berteriak. "Abaaaang!" Dan balon pun pecah.
Bukannya mengambil alih balon dari tangan Karin, Ardi malah membantu gadis itu menutup telinganya, kemudian tertawa-tawa.
Setelah beberapa dari mereka yang sempat melarikan diri kembali ke barisan, permainan kembali dilanjutkan.
"Sekarang Karin yang kasih pertanyaan." Ipang menyerahkan balon baru yang sudah diikat di ujung selang.
Karin mulai berpikir, "apa sih hal ter ngenes dalam hidup kalian?" Tanyanya, kemudian memberikan balon yang mulai terisi angin pada Agung.
Agung menjawab, "diputusin pas lagi sayang-sayangnya."
__ADS_1
"Ooouuuuhhh!" balas teman-temannya sembari memegang dada masing-masing.
Setelah balon di tangan Ipang, pemuda itu mulai berpikir.
"Buruan woy, awas aja kalo pas giliran gue itu balon udah sekarat." Lisa mengomel.
Setelah membalas gadis itu dengan ledekan, Ipang menjawab, "pura-pura pendekatan. Eh sayang beneran," jawabnya yang kemudian mendapat surakan.
Balon singgah di tangan Irvan. "Belum nembak udah ditolak," jawabnya yang kembali mendapat eluhan.
"Siapa tuuh." Nadi menyenggol sepupunya.
Mita yang sudah mendapatkan balon tidak ambil peduli ledekan saudranya. "pura-pura minta putus, eh di iyain."
"Yhaaaaa!" Teriakan Edo paling kencang dari yang lain. Kemudian mendapat lemparan bantal sofa dari gadis itu.
Ardi menoleh sekilas, merasa tersindir meskipun ikut tertawa juga. Dan Karin di sebelahnya tampak biasa saja.
Balon meledak lebih cepat dari sebelumnya, kali ini di tangan Heny. Setelah memasang balon yang baru, gadis itu mulai memberikan pertanyaan. "buat cewek apa yang lo rasain dari yang nggak bisa dirsain sama para cowok. Dan pertanyaan sebaliknya buat cowok."
"Apaan sih Hen, pertanyaan lo kaya soal ujian." Lisa yang mendapat giliran balon pertama jadi mengomel. "Tali bh copot pas lagi ngumpul," jawabnya yang membuat mereka tertawa.
"Gantung ya, Hen." Ipang berkomentar.
"Berisik, lo nggak pernah ngrasain kan? Yaudah diem aja."
Setelah menjawab gilirannya, Ardi memberikan balon pada Karin yang sedikit panik, gadis itu trauma dengan ledakan sebelumnya.
"Sakitnya Pms hari pertama!" jawab Karin yang disambut tawa oleh beberapa dari mereka. Termasuk Mita.
"Asli deh sakit banget." Mita berkomentar yang membuat beberapa dari mereka terdiam, khususnya Nadia, tumben sepupunya itu menanggapi candaan Karin, pake senyum pula.
Dan Ardi melihat pemandangan itu dengan tersenyum menopang dagu, kebekuan di antara mereka sudah mencair sepertinya.
Dan pecahnya balon berikutnya membuat pemuda itu sedikit terkejut.
Setelah Irvan memberikan jawaban lupa, balon kemudian diberikan pada Mita.
"Brengsek!" Jawab Mita.
"Oooooow!" Dan surakan ditujukan pada Ardi. Belum sempat pemuda itu menanggapi, dengan cepat Nadia yang mendapat giliran memegang balon berteriak.
"Ganteeng!!"
"I love you full Nadia!!" Ardi berteriak, yang kemudian mendapat cubitan dipinggang dari Karin. Edo sudah akan menerjang pemuda itu jika tidak ditahan oleh kekasihnya.
Ardi terkejut, tau-tau balon sudah sampai di tangan Lisa yang menjawab.
"Ngangeniin."
Dan saat balon di tangannya, Ardi menjawab "ngribetin!" dan berhasil mendapat lemparan dua bantal sofa sekaligus dari Mita dan Nadia.
Balon mampir ke tangan Karin, "nggak tau, Karin nggak punya mantan."
"Putusin Rin abang lo!" Teriak Ipang.
"Setaan!"
"Eh emang kalian pacaran ya." Heny jadi heran, namun ledakan balon berikutnya berhasil menglihkan perhatian.
Tidak terasa permainan sudah berjalan cukup lama, bekas balon yang pecah pun berserakan di hadapan mereka.
"Selain ngelus dengkul pacar yang dibonceng, pas nunggu lampu merah, di motor lo pada ngapain?" Kali ini giliran Lisa yang bertanya.
"Ngelus botol biar keluar jin." Ardi menjawab asal.
"Ngitungin menitan lampu merah." Dan Karin menjawab dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Salto," ucap Agung yang disambut tawa teman-temannya.
Dan jawaban Ipang semakin ngaco dari sebelumnya. "Jualan pecel lele!" teriaknya.
Hingga kemudian balon yang pecah di tangan Edo membuat pemuda itu mengajukan pertanyaan. "Apa yang kalian suka dari pacaran?"
Heny yang mendapat giliran, mengembalikan balon dengan kesal, "gue nggak punya pacaar!"
"Nggak asik dah, udahan gue." Lisa ikutan sebal.
"Game over!" Agung membanting balon bekas di hadapannya.
"Mentang-mentang punya pacar lo, nggak demen gue dah." Ipang ikut-ikutan melempar bantal sofa pada temannya itu, yang malah tertawa-tawa.
"Yaelah jomblo, ngenes amat. Jadian aja lo berempat," ledek Edo yang mendapat cibiran dari Heny dan Lisa.
Ardi menyandarkan tubuhnya pada kaki sofa di belakangnya, mencolek lengan Karin yang jadi menoleh.
Saat Karin menoleh, sang abang menyodorkan telapak tangannya yang terbuka, kemudian ia sambut dengan tangannya juga.
Tersenyum dengan jemari saling mengunci, keduanya beranjak dan pergi keluar.
"Di sini enak ya, Bang. Karin betah nih lama-lama." Gadis itu mulai membuka obrolan saat mereka duduk di bangku panjang yang tersedia di pinggir danau itu.
Ardi yang juga duduk di sebelahnya, mengmbil batu kecil dan melemparkannya ke dalam air. "Betah karena ada gue, coba kalo gue nggak ikut."
Mendengar itu, Karin mencebikkan bibir, meski ada benarnya juga, tapi gadis itu enggan untuk mengakuinya.
"Papi lo orangnya kaya gimana sih, Dek?" Tanya Ardi, kemudian menoleh.
Karin yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu jadi bingung sendiri, "Ya, ya kaya gitu lah. bang."
Ardi kembali melemparkan batu kecil ke arah danau, tanpa menoleh pada gadis itu, dia kembali berkata. "Kalo gitu gue ganti pertanyaannya," ucapnya, menoleh saat melontarkan kalimat berikutnya. "Kenapa waktu itu pas lo ke rumah papi lo. Lo nangis-nangis?"
Karin tertegun, tidak menyangka abangnya ternyata masih penasaran. Gadis itu pun menceritakan tentang dirinya yg hanya dijadikan alat untuk mendapatkan warisan.
Ardi sempat terdiam, dari cerita itu dia tau sedikit gambaran tentang papi gadis itu. "Kalo gue mau sama lo, berarti gue harus jadi orang dulu ya."
Karin tertawa pelan, "emang sekarang abang bukan orang?" Tanyanya.
"Maksudnya, jadi orang yang sukses, nggak mungkin papi lo mau nerima orang yang biasa aja."
Entah kenapa Karin jadi takut mendengar kalimat itu. "Abang kok ngomong gitu?"
Ardi menghela napas, menegakkan duduknya. "Gue ngerasa nggak pantes aja sama lo," ucapnya yang tidak mendapat tanggapan dari Karin, gdis itu tampak diam. "Kalo seandainya nanti gue memutuskan buat pergi, itu bukan karena gue nggak sayang sama lo. Tapi gue lagi beruaaha buat memantaskan diri."
Karin tertegun, namun tidak berkata apa-apa, dan sang abang yang merebahkan kepala di pangkuannya membuat ia menoleh.
"Saat kita dewasa nanti. Lo orang pertama yang gue bakalan tawarin buat jadi istri." Ardi mengulurkan tangan, menyentuh pipi Karin yang berada di atasnya. "Jaga hati buat abang ya, Dek."
Karin mencibir, "kalo Karin orang pertama, emang bakaln ada lagi kandidat yang ke dua."
"Ada."
"Siapa?"
"Karina."
Karin tertawa, "kandidat berikutnya?"
"Karina juga."
Karin: komennya kurang kenceng. Imajinasiku mampet.
Ardi: vote nya jangan kasih kendorr...
__ADS_1