
Selepas pulang dari Cafe Agung, pasangan Ardi Karin berkunjung sebentar ke rumah sang ibu, dan mereka hanya menemukan si kembar yang sibuk belajar di ruang tamu.
"Kenapa belajarnya di sini?" Ardi bertanya setelah mendudukan diri di sofa.
"Nggak boleh di ruang tengah kata mami, soalnya pasti nanti jadi nonton tv." Jino yang duduk di karpet dengan dagu yang menempel ke atas meja kemudian menjawab.
"Kenapa nggak di kamar?" Tanya Karin, ikut duduk di karpet mendekati anak itu.
"Kalo di kamar, Jino bercanda terus belajarnya." Nino yang menjawab, anak yang tengah tengkurap di sofa sembari membaca buku pelajaran itu kemudian beranjak duduk. "Tante Karin bisa bantuin aku ngerjain soal ini nggak?" Tanyanya kemudian.
Ardi berdecih, memperhatikan sang istri yang beranjak berdiri dan menghampiri bocah itu, "yaelah, modusnya."
"Aku nggak ngerti beneran, Om." Nino berucap kesal.
"Om Ardi mendingan bantuin aku nyalin ini." Jino mengulurkan buku paket yang kemudian diambil oleh omnya. "bacain aku mau nyalain."
Ardi mendekatkan tubuhnya, memperhatikan anak itu yang sibuk menulis dalam kertas satu lembar. "Buat apa sih?"
"Buat dibawa ulangan besok."
"Astaga anak Bang Justin nyontek," pekik Ardi tidak percaya.
Jino berdecak, "bukan nyontek cuma nyalin," kilahnya.
"Kamu tuh kalo mau ujian usaha dong, belajar." Ardi menasihati.
Jino yang kesal kembali merebut buku di tangan omnya, "ini juga termasuk ke dalam bentuk usaha tau," ucapnya.
Dan Ardi masih menggeleng tidak percaya. "Sini aku ajarin," ucapnya yang membuat keponakannya itu mendekat. "Kamu nulisnya pake bahasa arap aja."
Jino mengerutkan dahi, "Kenapa?" Tanyanya tidak mengerti.
"Ya biar kalo nanti ketauan kamu bisa bilang ini kertas do'a."
"Bang Ar ih ngajarinnya." Karin yang menegur jadi ikut tertawa.
"Gimana mau nulis Arap, iqro aja baru bisa." Nino berucap meremehkan.
Bukannya tersinggung Jino malah mengiyakan, "Kalo gitu om aja yang nulis pake Arap."
Senjata makan tuan, Ardi melengos, "ogah banget, sama abang kamu aja sana," ucapnya kemudian beranjak berdiri.
"Bang Ar mau kemana?" Karin ikut beranjak, setelah berpamitan pada kedua keponakannya, dia melangkah pergi mengikuti sang suami.
Mereka menuju dapur, ada Nena juga sang ibu yang sibuk masak untuk makan malam, dan Karin menyalami keduanya.
__ADS_1
"Bang Justin kemana, Mbak?" Tanya Ardi setelah mengambil satu tempe goreng dan memakannya.
"Tadi sih di kamar, nggak tau sekarang di mana, cari sana," jawab Nena.
Mendapati suaminya beranjak pergi, Karin memilih untuk diam di dapur dan ikut membantu mengupas bawang.
"Gimana Rin. Boleh kamu berhenti kerjanya?" Tanya sang ibu yang membuat Karin menoleh.
"Boleh sih, Bu. Tapi kita disuruh ngasih cucu laki-laki buat papi," ucapnya bercerita.
Marlina jadi tertawa, "orang kaya ada-ada saja, laki-laki atau perempuan memangnya kita yang punya kehendak, kan bukan," ucapnya merasa lucu. "Sudah terlahir sehat dan ibunya juga selamat juga sudah bagus," Imbuhnya.
Nena mengangguk, "sama kaya Papa Juan yang dituntut anak laki-laki dulu, jadinya malah kaya gitu."
Karin terdiam, dia jadi tidak enak dengan tuntutan papinya, "tapi kalo pun anak aku nanti perempuan, aku tetep nggak mau terus mengemban tanggung jawab sebagai pewaris utama, biar saja mereka yang mengurus semuanya."
Ucapan itu membuat segala aktifitas di dapur itu terhenti, Marlina juga Nena berbalik menghadap Karin dengan tatapan penuh arti, dia jadi gugup.
"Emangnya kamu udah ngisi? "Tanya Nena.
"Udah telat berapa lama? "Marlina ikut menambahkan.
"Oh," ucap Marlina juga Nena yang kemudian kembali menghadap pada wajan.
"Ardi kurang tokcer, Bu," bisik Nena yang masih sibuk memotong sayur di sebelah ibunya yang juga sibuk dengan penggorengan.
"Iya, lama banget, ibu kan nggak sabar pengen cucu baru," balasnya berbisik juga.
"Aku dengar loh, Mbak Nena." Karin berucap dengan cemberut, dan kedua wanita di hadapannya itu hanya cengengesan sebagai tanggapan.
***
"Jadi kamu ambil cutinya?" Tanya Justin saat sang adik menemuinya di ruang keluarga.
"Jadi, aku udah nyerahin tugas sama asistenku buat urus kantor selama aku liburan." Ardi menjawab setelah duduk di sofa, mereka saling berhadapan.
Justin mengangguk, membuka pola pada ponselnya untuk mengecek sesuatu, "nanti aku bantu pantau, sesekali aku dateng ke kantor kamu."
Ardi tidak menanggapi, ia justru menyusun kalimat untuk menanyakan satu hal lain, "Bang, bikin anak laki-laki caranya gimana sih?" Tanyanya.
Justin reflek menoleh, "Kenapa?"
__ADS_1
Ardi menceritakan perihal papi mertuanya yang menginginkan cucu laki-laki sebagai penerus pria itu nanti, dan Justin jadi tertawa.
"Tidak usah dipikirkan, itu cuma permintaan orang tua yang bahkan anaknya sendiri semua perempuan, kurasa dia hanya penasaran."
Ardi jadi berpikir, benar juga. "Tapi kalo pun nanti anakku beneran laki-laki, aku juga nggak mau kalo masa depan anak itu diatur oleh kakeknya, aku kan bapaknya."
"Nah iya, yang perlu kamu tau, apa yang ada pada dirimu, jangan pernah orang lain ikut campur akan hal itu."
Ardi manggaruk rambut kepalanya yang sedikit gatal, "terus aku harus gimana, Bang?"
"Kurasa itu hanya gertakan, dia tidak benar-benar mematok syarat itu untuk menjatuhkan kamu."
Ardi terdiam, untuk sekarang ini dirinya tidak mau pusing memikirkan tentang apapun, cuti satu minggu akan ia gunakan dengan sebaik-baiknya untuk menenangkan pikiran.
"Ar?"
Panggilan sang abang membuat pria itu menoleh, "iya," tanggapnya.
"Terlalu stres juga berdampak tidak baik pada kesuburan, jika kamu menginginkan seorang anak, ajak istri kamu liburan, buat dia senyaman mungkin," ucap Justin memberi saran, kemudian meletakan ponselnya di atas meja, fokus pada sang adik yang masih diam saja."Pengantin baru itu masa-masa yang menyenangkan, jangan terlalu terburu-buru mengejar momongan, toh kalian masih sama-sama muda, yang penting kalian tidak ada niatan untuk menunda kan, nanti juga pasti dikasih," ucapnya menambahkan.
***iklan***
Author: makasih buat saran kalian semu ya, iya juga sih OMB mungkin nanti aja lanjutnya usahakan cerita baru aja deh. 😌
Netizen: Udah lah thor jangan pusing mikirin cerita baru, sesempetnya aja ngehalunya. Sekarang kan kita berada di dalam bulan yang penuh ampunan, telat telat dikit updatenya juga dimaklum.
Author: Bisa begitu nyambungnya 😂 etapi bener sih, bulan ini emang penuh ampunan banget, ampuun dirumah melulu, ampuun gak dapet thr, ampuun nggak boleh mudik, ampuun dah ah. 🤧
Netizen: Ya ampuuuun nggak gitu juga kali thor. Bikin iklan yg berfaedah dikit napah yg ada ilmunya gitu. 😌
Author: Ilmu gue masih cetek monmaaf, nggak bisa ceramah. 😒
Netuzen: lu kan jemaah mamah Dedeh nih, gue mau nanya ya, misal ini mah tapi, kan siang siang panas ya, gue mandi trus misal nggak sengaja gayungnya ketelen puasa gue batal apa nggak thor 🤔
Author: 😑 etolong ya, puasa itu diwajibkan buat orang-orang yang berakal, orang gila gausah ikut puasa.
Netizen: Sueee, pedes banget lu puasa-puasa, amalnya buat gue nih separo 😑
Author: Abisnya nggak ada akhlak pertanyaan lu, pake nelen gayung segala, nggak baknya aja sekalian biar kenyang. 🙄
Iklan diambil dari status lucu tetangga, aku gamau ketawa sendirian 🤣 like komen vote yang kenceng ya... Salam hahahihi.
__ADS_1