
Karin amat bahagia, di hari dia wisuda ternyata sang papi datang bersama istri dan anaknya untuk memberikan ucapan selamat, hubungannya dengan mami Carla pun tampak baik-baik saja.
"Bang Ar kok belum dateng sih, Mbak?" Tanya Karin pada Nena saat mereka selesai foto bersama. Gadis itu menoleh pada sang papi yang tengah mengobrol dengan Justin, dia jadi sedikit takut, bagaimana sikap sang papi jika di hadapan Ardi yang adalah tunangannya.
"Tadi sih bilangnya mau beli bunga, nggak tau deh tuh anak belinya di ujung mana." Nena menanggapi, kembali mengarahkan kamera pada kedua putranya yang sibuk berpose.
Karin menoleh saat menemukan sosok sang abang berjalan ke arahnya dengan buket bunga besar di tangan kanan, dia reflek tersenyum.
"Selamat jadi sarjana Karin sayang." Ardi berucap setelah memeluk tunangannya itu dan memberikan bunga di tangannya.
"Apa sih, Bang, kan kemaren waktu aku lulus sidang udah bilang."
"Ya nggak apa-apa sekarang bilang lagi." Ardi mencolek hidung Karin, gadis itu tampak lucu dengan baju toga yang dikenakannya.
"Heh, foto dulu." Nena yang menghampiri keduanya kemudian mengarahkan kamera pada pasangan tersebut.
Ardi merangkul gadis di sebelah nya kemudian tersenyum. Setelah puas berfoto-foto. Pemuda itu menghampiri Hendrik dan mencium punggung tangannya, sedikit berbasa basi menanyakan kabar kesehatan pria itu.
Meski tidak banyak memberikan senyum, tapi dari raut wajahnya yang tidak lagi angker, Ardi tau, calon mertuanya itu sudah menerima kenyataan bahwa dia adalah tunangan putrinya
"Bang, kamu yang ngobrol sama papi jadi aku yang tegang," komentar Karin saat sang abang kembali menghampirinya.
Ardi tertawa, "aku tegang juga sih, apalagi pas dia nanya, berasa di ruang sidang skripsi," ucapnya jujur.
"Nanya apa papi?" Tanya Karin penasaran.
Ardi tersenyum, dan malah membuat gadis di hadapannya itu mengerutkan dahi.
"Nanya apa, Bang?" Ulang Karin yang tampak penasaran.
"Kata papi kamu, minta kado apa buat hadiah pernikahan."
Karin bertambah mengerutkan dahi, bingung. "Masa papi nawarin gitu?" Tanyanya tidak percaya.
Ardi melengos, "ya emang gitu," ujarnya kemudian melangkah pergi.
Karin ikut melangkah menyusul sang abang menuju mobilnya. "Terus abang jawabnya apa?" Tanyanya.
Sesaat Ardi menoleh, "rahasia," jawabnya yang membuat gadis di sebelahnya menjadi kesal.
"Abang ih."
"Makan dulu yuk," ajak Ardi, mengacak rambut gadis di hadapannya itu dengan gemas, setelah mengambil topi toga dari kepalanya.
"Bilangin dulu abang jawabnya apa." ucap Karin. Merebut topinya kembali.
"Penasaran banget si." Ardi tersenyum jahil, semakin gadis itu penasaran semakin dirinya tidak akan mau membocorkan jawaban. "Nanti aku kasih tau sambil makan," imbuhnya saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Karin menurut saja.
Rombongan keluarganya telah pulang lebih dulu, dan Ardi mengajak gadis itu ke salah satu restoran untuk mentraktir makan.
Merasa aneh masuk ke dalan restoran dengan seragam wisuda, Karin menanggalkan perlengkapannya itu di dalam mobil.
"Jadi apa jawaban abang," desak Karin setelah memasukkan makanan ke dalam mulut dan mengunyahnya sebentar.
__ADS_1
Ardi menahan senyum, melihat gadis di hadapannya benar-benar penasaran, dia jadi merasa lucu. "Abisin dulu makanan kamu," balasnya.
Karin berdecih, "kebiasaan abang tuh main rahasia–rahasiaan, nggak suka aku," ucapnya merajuk.
Ardi meletakkan sendok ke atas pering, menautkan jemarinya satu sama lain, fokus menatap gadis di hadapannya. "Kamu beneran pengen tau aku jawab apa?" Tanyanya sedikit serius, Karin pun mengangguk. "Aku bilang, kadonya anak om aja aku bawa."
Karin mencibir, "dih, gitu doang," ledeknya.
Ardi kembali mengambil sendoknya, dan mulai makan lagi, "seharusnya kamu lebih penasaran sama tanggapan papi kamu," ucapnya memberi saran.
"Emang apa tanggapan papi?" Tanya gadis itu.
"Kata papi kamu...." Ardi memberi jeda, berdehem untuk menirukan suara calon mertuanya, "tolong jaga Karin, karena saya tidak bisa melakukan itu," lanjutnya.
Karin tertegun, jujur dia terharu, papinya sejak dulu memang sayang, hanya saja cara menunjukkannya terkadang berbeda dari para ayah pada umumnya.
"Papi kamu sayang sama kamu."
Karin mengangguk, dan saat pemuda di hadapannya itu meraih jemarinya untuk ia genggam, gadis itu tersenyum.
"Jangan sedih dong, aku punya lagu."
Karin kembali tersenyum, "lagu apa coba," tantangnya.
Ardi berdehem, kemudian mulai melantunkan lagu, "oy adek berbaju biru, cantik manis cak ulat bulu."
Karin tertawa, sedikit menunduk melirik baju yang ia kenakan yang memang berwarna biru, "apa sih, Bang, malu diliatin orang."
"Ciee..!"
Karin menutup wajahnya dengan telapak tangan, "malu-maluin ih abang, Ya Allah."
Ardi tertawa lagi. "Yaudah ayo kita pulang, abang juga malu ini."
***
Suasana Cafe yang ramai membuat Karin merapatkan tubuhnya pada sang abang saat mereka berjalan bersisian untuk masuk ke dalam, beberapa pengunjung yang hilir mudik sesekali tidak sengaja menyenggol lengannya.
Ardi menarik gadis itu menuju meja bar yang sedikit lengang, menoleh pada sofa tempat biasa teman-temannya berkumpul.
Tempat itu memang sengaja dipersipkan untuk mereka, jadi mau seramai apapun, mereka masih dapat kebagian tempat.
"Bilangin, Kak, sama ibu kamu, kalo mau cucu yang lucu-lucu, cari mantunya yang kaya aku."
Ardi tidak sengaja mendengar Alya yang menggoda kekasihnya padahal tengah sibuk. Agung terlihat tertawa.
"Kenapa harus kaya kamu, kenapa nggak kamu aja." Agung kembali membalas, kemudian tertawa pelan.
Ardi menoleh pada Karin yang ia gandeng tangannya, mereka kemudian tersenyum. "Deuuh uwwu banget si kalian berdua," ledeknya.
Alya sedikit terlonjak, menoleh dan tertawa cengengesan, "eh Pak Ardi, mampir juga?" Tanyanya sedikit berbasa basi, kemudian menyuruh Karin untuk duduk di bangku kosong sebelahnya.
Ardi melepaskan tangan gadis itu, kemudian menyebutkan kopi pesanannya pada karyawan Agung, "kamu minum apa?" Tanyanya pada Karin.
__ADS_1
Karin malah menoleh pada Agung, "yang enak apa, Bang?" Tanyanya.
Agung sedikit berpikir, "bentar," ucapnya kemudian mulai meracik secangkir yang Karin sebut itu kopi, gadis itu tidak mengerti dengan apa saja nama-nama kopi, yang dia tau ya secangkir kopi.
"Latte namanya, cobain deh, enak." Agung menyodorkan secangkir kopi dengan gambar bunga di atasnya.
Karin tersenyum, masih takjub dengan bagaimana cara pemuda itu membuatnya.
Setelah mencicipinya sedikit dan berkomentar enak, gadis itu tersenyum pada Alya yang juga balik tersenyum padanya.
"Mau coba yang ini?" Ardi menawarkan secangkir kecil kopi miliknya.
Karin mengernyit, kemudian menggeleng, dia tau, espresso adalah kopi yang pahit. Dan dia pernah mencobanya saat belum tau, "Kenapa si abang suka kopi?" Tanyanya.
"Abis gimana, udah candu," jawab Ardi, "kaya kamu," imbuhnya yang membuat gadis di hadapannya itu menahan senyum.
"Dari sekian banyak jenis minuman, kenapa harus kopi coba?" Karin menopang dagu, menatap Ardi yang berdiri di hadapannya, bersandar pada meja bar.
Ardi menipiskan bibirnya, menyesap rasa pahit yang tertinggal di sana. "Kopi itu jujur, dia nggak pernah pura-pura manis."
Jawaban itu membuat Karin tersenyum, "ya gimana mau pura-pura, emang pait si, apalagi espresso, apa enaknya coba."
"Aku pesen ini kalo ada kamu doang." Ardi memberi alasan.
"Kenapa?"
"Soalnya kalo ada kamu, minum kopi pun udah nggak butuh gula, kamunya udah manis."
Karin tertawa, menarik jaket yang dikenakan pemuda di hadapannya hingga sedikit maju mendekat, "Pinter banget gombal sekarang kamu, Bang," bisiknya.
Ardi belum membalas, hanya ikut tertawa pelan saat tiba-tiba entah datang dari arah mana salah satu temannya membagikan lembar undangan, dia jadi menoleh, dan tentu saja terkejut. "Ini beneran, Do?"
"Wah parah, lo nggak bilang-bilang, pantes aja beberapa hari ini ngilang." Agung ikut melontarkan omelan.
"Udah kalian nggak usah ikut pusing, biar gue aja yang pusing," ucap Edo, "jangan lupa besok kalo sempet ke butik di Mbak Indah, ya, gue bikinin seragam buat kalian.
Ardi menepuk pundak sahabatnya itu,"Selamat ya, moga lancar," ucapnya.
"Abis gue lo nyusul."
Ardi tertawa, "iya" balasnya."
***iklan***
Semangati aku dengan poin, wkwkwk, akhir-akhir ini semangat menulis jadi menurun.
Jadi kurang haha hihi. Wkwkwk
Jangan lupa tambahin poinnya ya, biar aku semangat ide ngalir. Aku sayang kalian. Semangat ngumpulin poinnya.
Nb: judul lagu jilbab biru yg pernah viral. Gk tau siapa yg ciptain. 😅
__ADS_1