NOISY GIRL

NOISY GIRL
CANDU


__ADS_3

"Kenapa lo ninggalin Karin di taman labirin?" Ardi menghadang Mita yang kala itu hendak masuk ke villa setelah dari taman belakang.


 


 


Di taman labirin, mereka mendapat jemputan dari Mbak Indah, dan wanita itu terkejut karena Ardi juga Karin yang basah kuyup. Dan permintaan maaf dari Nadia membuat Ardi tahu gadis remaja yang berstatus pacarnya itu sengaja ditinggal oleh mereka.


 


 


Mita melipat lengan nya di dada, tatapannya menantang, "gue nggak tau kalo dia masih ada di dalem," balasnya.


 


 


"Nggak mungkin," tukas Ardi. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sedikit mencondongkan tubuhnya pada gadis itu, "lo masih belum puas bales dendam sama gue, mau apa lagi? disiram jus udah, tampar juga pernah. Sebenernya waktu kita pacaran, gue udah ngapain lo si?"


 


 


Mita mengernyit grogi, sedikit memundurkan kepala, lipatan lengan di dadanya terlepas, kemudian beralih mendorong pemuda di hadapannya. "Lo jangan geer deh, jangan seolah-olah kalo gue itu gagal move on dari lo ya, sory," ucapnya.


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya, "gue nggak bilang lo gagal move on dari gue," jelasnya, dan gadis di hadapannya jadi salah tingkah. "Denger ya, Marcella Selomita, gagal move on itu cuma buat orang-orang yang ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya, dan gue nggak pernah ninggalin lo, kita putus itu lo yang minta."


 


 


Mita melengos, kemudian kembali mengarahkan tatapan kesalnya pada pemuda itu,"kenapa lo mau, Ar?" Tanyanya, belum sempat mendapat balasan gadis itu berucap lagi. "Kenapa lo mau pas gue minta putus dari lo, kenapa lo nggak ada perjuangan buat bertahan sama gue, dan dari situ gue tau lo nggak bener-bener sayang sama gue." Mita mulai menangis, kemudian membuang muka.


 


 


Ardi menghela napas, jadi mungkin hal ini yang membuat sang mantan begitu membencinya, sebuah kenyataan yang pemuda itu baru sadari adalah pernyataan bahwa wanita tidak pernah salah itu adalah benar.


 


 


"Gue harus minta maaf berapa kali lagi? Buat menghapus kesalahan yang bahkan gue nggak ngerti. Dan kalo lo masih nggak bisa berenti benci sama gue, lo maunya apa si?"


 


 


"Udah lah, Ar. Nggak usah dibahas lagi," ucap Mita, mengalihkan tatapannya ke arah lain, "percuma, lo nggak bakal ngerti."


 


 


"Kenapa sih, cewek itu selalu menyelesaikan masalahnya dengan kalimat nggak usah dibahas? Terus buat apa ada istilah diskusi." Ardi kembali menghela napas berat, tidak tau gadis di hadapannya itu menginginkan apa sebenarnya. "sekarang gue tanya, kenapa lo nggak suka sama Karin?"


 


 


Mita membuka mulutnya, nyaris mengucapkan sesuatu tapi ia urungkan. "gue nggak suka sama dia nggak ada alasan, ya nggak suka aja."


 


 


Ardi mengangguk-angguk, kemudian tertawa remeh. "Lo tau gue kan? Tau banget gue rasa, gimana jahatnya mulut gue kalo udah nggak suka sama orang. Dan buat lo, gue masih kasih toleransi. Jangan sampe kata-kata gue tambah bikin lo sakit hati," ucapnya panjang lebar, kemudian melangkah pergi.


 


 


Mita mencengkram lengan baju Ardi, membuat pemuda itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh, mengarahkan tatapan teduhnya pada gadis berrambut panjang yang menundukkan kepala.


 


 


Gadis itu mendongak,"gue masih sayang sama lo," ucapnya lirih, kemudian merapatkan bibir, kalimat yang terlontar dari mulutnya itu adalah satu hal yang selama ini mengganjal di dalam hatinya, dan mengatakan itu Mita merasa lega. "Gue cemburu sama Karin yang bisa deket sama lo, gue nggak suka liat anak kecil itu jadi alasan buat lo tersenyum, gue nggak suka, Ar," tuturnya semakin lirih, tangisannya semakin pecah.


 


 


Ardi tertegun, kemudian mengangkat satu tangan yang tidak dicengkram oleh gadis itu, menepuk pundaknya." Lo berhak buat dapet yang lebih dari gue, yang bisa sayang sama lo, yang bales chatnya nggak lama, yang bisa lo ajak kemana-mana, romantis juga, nggak mageran kaya gue, nggak ketus kaya mulut gue, dan nggak sengeselin gue, lo bisa dapet," ucapnya. "Sebenernya yang lo suka dari gue tuh apa sih? Selain ganteng ya, mon maap," candanya.


 


 


Mita dengan kesal menghentakkan tangannya yang mencengkram lengan baju pemuda itu hingga terlepas. Namun sedikit tersenyum.


 


 


"Lo tuh orangnya nggak munafik, gue suka," ucap Mita, menatap pemuda yang berdiri di hadapannya yang memberikan tatapan tak terbaca.


 


 


"Nggak munafik itu nyablak versi nyablak ya."


 


 


Mita berdecak, "Lo juga orangnya nggak macem-macem, apa adanya. Gue suka."


 


 


Ardi tertawa mendengus, nggak macem-macem katanya, nggak tau aja lo nya, pikir pemuda itu. Namun dia mengangguk. "Udah lah Sel, mulai sekarang simpen rasa sayang lo buat orang yang tepat. Sayang sama gue tuh ibaratnya kaya, lo nyiram taneman pas cuaca lagi ujan, percuma. Nggak ada gunanya, bikin lo tambah sakit hati," ucapnya menasihati.


 


 


Mita mengangguk, "gue minta maaf. Dan gue juga sadar, nggak ada gunanya gue sayang sama cowok brengsek kayak lo, bikin baper abis itu ngilang. Sialan emang," makinya panjang lebar, namun setelah itu tertawa pelan.


 


 


Ardi ikut menahan senyum, melipat lengannya di depan dada." Si Irvan, boljug sih menurut gue,"


 


 


Mita yang semula sibuk dengan pikirannya sendiri kemudian menoleh," apaan boljug? " Tanyanya.


 


 


"Boleh juga," jawab Ardi yang mendapatkan tonjokan main-main di lengannya, dan pemuda itu tidak menghindar


 


 


"Paan si, orang cuma temen," ucap Mita malu-malu.


 


 


"Dulu juga kita cuma temen, nggak lama jadian, eh nggak kerasa sekarang udah jadi mantan, coba-coba emang sesingkat itu sih biasanya."


 


 


"Apaan yang coba-coba." Mita melotot.


 


 


"Ya coba-coba, nyobain dikit," ucap Ardi, "mau nyobain lagi nggak?" Tawarnya sedikit mencondongkan kepala.


 

__ADS_1


 


"Gue aduin sama Karin biar diputusin lo ya," ancam Mita. Dan Ardi hanya tertawa.


 


 


"Diamah minta putus duluan juga nggak bakalan gue putusin," sindir pemuda itu.


 


 


"Bucin dih, najis."


 


 


Ardi kembali tertawa, "terserah," ucapnya kemudian melangkah pergi. Dan Mita menatap pemuda itu dengan menyunggingkan senyum.


 


 


Ardi pergi ke kamar Karin, ingin menemui gadis itu  melalui pintu belakang. Hujan sudah berganti gerimis, dan ia ingin mengajak gadis itu jalan-jalan.


 


 


Belum sampai tujuan pemuda itu melihat Karin tampak mengobrol seru dengan Dewa di kursi dengan meja bundar yang terletak di luar kamar gadis itu.


 


 


Ardi menghentikan langkah, memperhatikan keduanya dengan bersandar ke tembok, raut wajahnya tampak kusut. Dia melipat tangannya di depan dada tidak suka.


 


 


Agung yang tidak sengaja lewat, dan ikut mengarahkan tatapannya pada dua sejoli di depan sana kemudian berkata. "Saingan gerak cepet, widiih."


 


 


Ardi menoleh sekilas, kemudia kembali mengarahkan tatapannya pada pemuda yang duduk di hadapan kekasihnya. "Biarin aja, masih gue liatin, ntar lama-lama gue sleding kepalanya."


 


 


"Buset serem." Agung tertawa, menepuk pundak Ardi kemudian meninggalkan pemuda itu.


 


 


Ardi menoleh sekilas pada kepergian Agung, kemudian kembali mengarahkan tatapannya pada Karin yang terlihat tengah tertawa, dia melengos kesal.


 


 


Pemuda itu menegakkan tubuhnya, benci melihat Dewa yang dengan lancangnya mengacak rambut gadis itu, dia memutuskan untuk menghampiri mereka, berdiri memasukan kedua tangan di saku celana dan diam seribu bahasa, tatapannya berkata-kata.


 


 


"Eh, Bang." Dewa menyapa lebih dulu,   dan hal itu membuat Karin menoleh, kemudian berdiri.


 


 


"Dewa pamitan sama Karin soalnya dia udah mau pulang," ucap Karin, menatap abangnya canggung.


 


 


Dewa ikut berdiri, "iya, Bang. Soalnya kita udah duluan," ucapnya.


 


 


 


 


"Abang udah lama?"


 


 


"Sejak haha-hihi yang pertama lah pokoknya."


 


 


"Abang kenapa sih?" Tanya Karin. "cemburu sama Dewa?" Tambahnya lagi.


 


 


Ardi mengangguk, "iya," jawabnya jujur. "Gue pergi juga deh," ucapnya, kemudian berbalik dan melangkah.


 


 


Karin menarik pemuda itu, beralih ke hadapan sang abang kemudian berjinjit, mencium bibirnya sekilas. "Jangan marah, abang," ucapnya.


 


 


Ardi mengerjap terkejut, namun masih diam. "Gue nggak suka liat lo sama Dewa," ucapnya.


 


 


"Iya," jawab Karin, "cuma bentar kok, dia pamit doang."


 


 


Ardi menyentuh kepala gadis di hadapannya, "gue juga nggak suka dia nyentuh rambut lo."


 


 


Karin tertawa pelan, kemudian menarik sang abang masuk ke dalam melewati pitu berdaun kaca, "abang diem banget tumben," ucapnya.


 


 


"Gue lagi ngambek," tukasnya, "bujukin dong."


 


 


"Kan tadi udah dicium." Karin terkekeh sendiri.


 


 


Ardi melipat lengannya di dada, "gitu doang," cibirnya.


 


 


"Ya terus abang maunya gimana?"


 

__ADS_1


 


"Nah, gitu dong tawarin," ucap Ardi kemudian duduk di sofa, memberikan isyarat gadis itu untuk mendekat.


 


 


Karin mendekat, dan saat akan menduduki sofa disebelah abangnya, pemuda itu malah menariknya ke atas pangkuan. "Abang!" Pekiknya.


 


 


"Diem." Ardi mencengkram lengan gadis yang duduk meronta dipangkuannya.


 


 


"Nanti ada Mbak Heny sama Mbak Lisa." Karin menoleh ke pintu, merasa khawatir.


 


 


"Biarin aja emang kenapa?"


 


 


Karin kembali meronta, "Abang ih, turunin," rengeknya. Dan suara pintu terbuka membuat keduanya  menoleh.


 


 


Ipang menyembul dari pintu, "buset daah berduaan mulu, yang ke tiga setan, nih, " oloknya tanpa berniat masuk.


 


 


"Iya, setannya lo!" Balas Ardi yang mendapat tabokan di lengan dari gadis dipangkuannya yg terus saja  minta diturunkan.


 


 


"Mau ikut game enggak?" Tawar Ipang, melirik pada Karin yang tampak merona malu.


 


 


"Ntar gue nyusul." Ardi menjawab, masih dengan menahan gadis di hadapannya yang nyaris kabur.


 


 


Karin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian membenamkan kepalanya di dada sang abang. "Malu, Bang Kariiin," rengeknya.


 


 


"Udah pergi Ipangnya, Sayaang."


 


 


Gadis itu mengangkat kepala, menatap Ardi yang menyandarkan tubuhnya di sofa. Dan saat pemuda itu menarik tengkuknya, kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menjadi sekat, antara tubuhnya dan pemuda di bawahnya agar tidak terlalu dekat.


 


 


Tidak ada yang bisa disalahkan dari tetesan air hujan yang mengakibatkan permukaan bumi menjadi basah.


 


 


Gadis itu mengangkat kepala, melepaskan pagutan yang membuat napasnya sulit menghela.


 


 


Pemuda di hadapannya itu tersenyum miring. "Nikah muda sama lo, enak kali ya," ucapnya.


 


 


Karin tertawa pelan, "coba ngomong sana sama papi Karin," tantangnya. "Nggak usah papi Karin deh, sama Bang Justin aja dulu."


 


 


Ardi menggigit bibirnya sendiri, memejamkan matanya sekilas, "kawin lari aja lah kita, Dek."


 


 


Karin kembali tertawa, "cape lah, Baang," ledeknya.


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya, menyatukan kembali bibir mereka, melumatnya lembut. Kemudian melepaskannya lagi, begitu, berulang berkali-kali, hingga ia merasakan pusat dirinya bereaksi.


 


 


Anjiiir, anak setaan!


 


 


Dan kamu adalah candu, tanpamu, melamunpun tidak pernah seliar itu.


 


 


 


 


**iklan**


 


 


Author: Ini tolong amal jariah gue berguguran.


 


 


Netizen: Nggak papa thor, biar gue yang tanggung dosanya.


 


 


Author: oh Alhamdulillah atulah 🤣


 



Karin: foto yang tertera nggak menggambarkan isi cerita, cuma pemanis saja. Ribet dong kanjeng, kalo harus nyari fotonya juga.



 


Ardi: Udah jadi rengking tiga pun udah luar biasa, pertahankan ya. Kecup jauh jangan?? 😄


 

__ADS_1


 


__ADS_2