NOISY GIRL

NOISY GIRL
MOMEN 2 (HARI IBU)


__ADS_3

Ardi tidak mengerti, kenapa dia bisa berada di antara orang-orang berdasi, bahkan pembahasan apa yang tengah mereka sepakati dia pun tidak begitu paham. Setengah jam lagi mendengar mereka saling bertukar pikiran bisa-bisa dirinya ketiduran di sofa, duuh jadi pengen rebahan kan.


 


 


"Selain penggelapan pajak, pembuangan limbah yang meresahkan warga sekitar, juga kecurangan gaji karyawan, apa lagi?" Tutur William. "Dengan hal itu kita bisa saja menghancurkan perusahaan yang dibangun Gunawan grup," imbuhnya.


 


 


Justin masih fokus membaca berkas-berkas yang diberikan Alvin, asisten khusus yang ia utus untuk menyelidiki perusahaan Hendrik, pria itu mengerutkan dahi kemudian menaruh benda di tangannya ke atas meja."Aku tidak ingin menghancurkan perusahaan orang itu," ucapnya, mengarahkan pandangan pada William yang menduduki sofa di hadapannya. Dan di sebelah Justin sang adik tampak diam saja. "Soal itu kita lupakan saja, fokus bagaimana si Hendrik itu mau diajak kerja sama?"


 


 


"Apa kau bilang? Kerja sama?" William tersenyum sinis, tidak mengerti dengan pola pikir sang sahabat, "yang benar sajalah Just," imbuhnya.


 


 


Ardi benar-benar nyaris tertidur di sofa sekarang, belum lagi percakapan mereka yang sesuai kamus besar Bahasa Indonesia itu terkadang membuatnya jadi ngantuk, jiwa nyablaknya memberontak, selain mengangguk-angguk yang padahal tidak mengerti, mau bagaimana lagi. Masa dia harus ikut menyusun kalimat sesuai ejaan yang disempurnakan. Repot dong. Jadi dia memilih untuk menyimak saja.


 


 


"Hendrik tidak sejahat itu, aku tau sebenarnya dia amat menyayangi Karin, hanya saja caranya itu terkesan salah."


 


 


"Sayang bagaimana," sangkal William, "anak itu dipukul hampir setiap hari, seorang ayah yang sayang pada anaknya tidak mungkin bisa tega seperti itu," imbuhnya dengan  geram.


 


 


"Kasusnya sama seperti aku, kau lupa? Dulu aku hampir setiap hari dipukuli Papa Juan, karena beliau ingin menjadikan aku sebagai yang terbaik, tapi buktinya dia sayang." Membahas masa lalu, Justin jadi ingat sesuatu.


 


 


"Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada Mr Juan, dia kan dulu rival Hendrik." William memberi usul.


 


 


"Aku juga berpikir begitu."


 


 


"Yasudah, tunggu apa lagi," ucap William.


 


 


Ardi sedari tadi menopang dagu, sesekali menoleh pada William, juga Justin saat mereka bergantian membahas sesuatu.


 


 


"Ar?" Tegur Justin yang ternyata untuk ke dua kali.


 


 


Ardi mengerjap, sedikit terkejut. "A, apa, Bang?" ucapnya sembari menegakkan duduk.


 


 


"Nyawa kamu ke mana?"


 


 


Ya Tuhan, abangnya ini paham sekali dengan apa yang padahal dirinya sendiri tidak pernah sadari. "Ngantuk, Bang. Laper banget akutuuh."


 


 


***


 


 


"Setau papa, Hendrik itu punya usaha perhotelan." Juan yang menjamu tamunya di ruang makan kemudian berucap, mengenai kedatangan Justin yang mengutarakan niatannya mencari tahu tentan Hendrik untuk membuat Karin kembali,  Juan ikut prihatin.


 


 


"Tapi sepertinya itu bukan atas nama Hendrik." William yang mengambil sendok di hadapannya kemudian menanggapi.


 


 


"Menurut hasil penyelidikan Alvin, hotel itu masih atas nama Nyonya Larasati yang kemudian akan diwariskan pada Karin." Justin meminum air putihnya dari dalam gelas.


 


 


"Untuk itu lah kenapa Karin ia tahan dirumah, jika memang dia berniat mengurus putrinya itu, dari dulu kemana saja." William berucap geram.


 


 


Dan disinilah Ardi, setelah tadi ia mengeluh lapar, tidak disangka juga sang abang malah mengajaknya ke rumah Om Juan, batal calon papi tiri Karin.


 


 


Ini tolong ya, lagi makan jangan debat dulu, nanti akunya keselek. Ardi menggerutu dalam hati, masih bingung menentukan pilihan, mau makan ikan atau ayam.


 


 


"Sudah lah, hancurkan saja perusahaan orang sombong itu," ucap William berapi-api.


 


 


Belum sempat menyentuh makanan di piringnya, Justin menghela napas. "Tidak Will," tolaknya, "aku tidak mau menyulut permusuhan dengan Hendrik, akan sulit kedepannya untuk Ardi."


 


 


Mendengar namanya disebut, Ardi yang semula fokus dengan piring berisi makanan di hadapannya jadi mendongak.


 


 


Ngapa, dah, kok gue si? Tanyanya dalam hati.


 


 


Juan yang mengerti kemudian tertawa pelan, menepuk pundak Ardi yang kebetulan berada di sebelahnya."Makan yang banyak," ucapnya.


 


 


Ardi mengerjap bingung, namun kemudian tersenyum juga.


 


 


"Ah iya juga sih, bagaimanapun juga, Hendrik itu calon mertuanya." William dengan santai berucap, membuat pemuda yang duduk di hadapannya jadi tersedak.


 


 


Ardi yang terbatuk-batuk mendapat sodoran air putih dari abangnya yang duduk di hadapan pemuda itu. Setelah meminumnya dan batuknya mulai reda, ia mengucapkan terimakasih.


 


 


Juan tertawa lagi, "om setuju," ucapnya yang membuat Ardi tidak mengerti. "Ayo makan dulu, setelah ini baru kita bahas lagi," tambahnya kemudian.


 


 


Tunggu. Setuju apaan dah. Ardi semakin pusing. Namun ia enggan untuk menanggapi.


 


 


Setelah selesai makan mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga, kembali membahas cara menaklukkan Hendrik Gunawan.


 


 


Juan bilang dulu Carla mantan calon istrinya itu pernah mengatakan bahwa Hendrik sangat ingin memperluas Area hotel untuk pusat perbelanjaan dan juga ruang palkir kendaraan, hanya saja warga di sekitar area hotel itu menolak tanahnya dijual. Sudah beribu cara orang kepercayaan Hendrik ia kerahkan, dari mulai menawarkan harga paling tinggi, hingga menyebar isyu untuk menghasut beberapa warga di sana, tapi tetap saja, mereka tetap menolak.


 


 


"Kita beli saja tanah di sana, jika berhasil, tukarkan dengan Karin, Hendrik pasti setuju." William kembali mengutarakan ide gilanya. Pria bule itu otaknya memang canggih, hanya saja terkadang tanpa perhitungan.


 


 


"Akan sulit membeli tanah di Sana, mereka menolak diberi uang." Juan meletakkan berkas laporan tentang warga di sekitar lokasi hotel. "Sudah banyak yang menawarkan uang, mereka tetap tidak mau, bagi mereka, tanah leluhurnya adalah nyawa, pantang untuk mereka menjualnya."


 


 


Ardi diam-diam  ikut menyimak, memperhatikan foto-foto rumah warga yang katanya menolak diberi uang banyak, masa iya.


 


 


Dari foto warga di sana yang tampak bercengkrama, anak-anak kecil yang bermain gembira, Ardi bisa menyimpulkan mungkin mereka menjaga keharmonisan bertetangga.


 


 


"Gimana kalo kita tawarkan rumah, aku liat bangunan rumah di sana biasa saja," ucap Ardi yang membuat ke tiga pria di sekitarnya kemudin menoleh. Dia jadi gugup. "Ini sih cuman dugaan aku aja ya, mungkin mereka menolak diberi uang karena banyak dari mereka berpikir uang akan habis, dan belum tentu mereka bisa membeli rumah yang mereka mau, dan lagi belum tentu juga mereka mendapat suasana yang nyaman di tempat baru."

__ADS_1


 


 


"Intinya, mereka sudah nyaman di tempat itu." William menambahkan dengan semangat.


 


 


"Dan tugas kita adalah menciptakan kenyamanan di tempat baru, kita tawarkan sebuah komplek perumahan, biar mereka yang memilih rumah Mana yang mereka inginkan. Tentunya sesuai dengan harga tanah yang mereka miliki," tutur Justin panjang lebar. "Begitu sepertinya lebih bagus."


 


 


"Sepertinya Hendrik juga sudah pernah mengusulkan hal itu, sulit bermusyawarah dengan mereka, kebanyakan yang menolak di sana adalah ibu-ibu," ucap Juan, meletakkan cangkir kopinya di atas meja setelah tadi menyecapnya sedikit.


 


 


Ardi kembali berpikir, "kita mungkin butuh ibu-ibu untuk membujuk ibu-ibu," usulnya, yang kembali membuat mereka menoleh takjub. Anak muda yang satu ini, tidak bisa diremehkan ternyata.


 


 


"Tapi siapa?" Tanya Justin.


 


 


"Bagimana kalo Bu Marlina," ucap William.


 


 


"Memagnya bisa?" Justin tampak ragu.


 


 


"Ibu sering demo nawarin dagangannya ke kampung-kampung kok. Dan mereka kehasut sih. Jadi pada beli." Ardi menanggapi.


 


 


"Tapi kalo seandainya kita berhasil membeli tanah itu, kau yakin si Hendrik mau membelinya dari kita?" Tanya William.


 


 


"Kalo dia tidak mau yasudah, jadikan investasi saja, tidak akan rugi juga, nanti kita cari cara lain untuk mendapatkan Karin kembali," ucap Justin, mengambil cangkir kopi di hadapannya kemudian ia minum. Dan William melakukan hal yang sama.


 


 


"Dan bagaimana tawaran papa?" Tanya Juan yang membuat Justin menghentikan pergerakannya.


 


 


"Soal itu, sepertinya untuk saat ini belum bisa, Pa," ucap Justin.


 


 


Ardi sebenarnya tidak mengerti, tapi ia memilih untuk diam saja.


 


 


"Bu Marlina kan ada Ardi, nanti ada Karin juga, papa tinggal sendirian di rumah sebesar ini, papa juga ingin menimang cucu, kapan kalian akan pindah ke sini."


 


 


William yang ikut menyimak memilih untuk diam saja. Ini urusan keluarga sahabatnya, dan dia pikir tidak perlu ambil peduli.


 


 


"Jino dan Nino masih sangat kecil, dan Nena mungkin masih butuh perhatian Ibu Marlina dalam mengurus anak, mungkin nanti kalo mereka sudah besar, baru aku pikirkan lagi," tutur Justin, dan papanya itu tampak mengangguk mengerti. "Dan lagi jika nanti Karin kembali, Ardi akan kuliah di Luar Negri."


 


 


Ardi seketika menoleh, menatap abangnya yang juga mengarahkan pandangan yang sama.


 


 


Tatapan Justin seolah berkata-kata, dan menjadi ancaman untuk dirinya, dia kembali teringat ucapan sang abang tempo hari, bahwa pria sejati adalah yang mampu menepati janji. Dan Ardi sudah berjanji untuk pergi jika Karin telah kembali.


 


 


***


 


 


Ardi merebahkan tubuhnya di atas kasur Karin, ini malam ke dua dia tidak melihat gadis itu berada di kamar ini, malam ke dua juga dirinya akan tidur di sini.


 


 


 


 


Beruntung syaratnya itu bukan menyuruh Ardi untuk menjajakkan dagangan di kampus, cukuplah abangnya juga Bang Will  yang menjadi sales bapperware sang ibu, dia jangan ikut-ikutan.


 


 


Dan mengingat tatapan abangnya sore tadi, yang seolah memperingatkan Ardi untuk menepati janji, benar-benar membuat pemuda itu patah hati, dia merasa sudah tidak diinginkan di rumah ini.


 


 


Sepertinya sang abang telah menjadi pemeran antagonis untuk kisah hidupnya kali ini.


 


 


Dia sempat berpikir ingin kabur saja, tapi takut jadi gembel, gimana dong.


 


 


Ardi mengerang frustrasi, bersamaan dengan itu ketukan di pintu berhasil membuat ia menoleh, mendapati sang kakak yang masuk ke kamarnya dia kembali bersikap acuh.


 


 


Nena masuk ke dalam kamar, mencolek lengan sang adik yang masih tiduran di tempatnya. "Ini hari ibu tau, lo nggak mau ngucapin," tuturnya.


 


 


Ardi menoleh, "ngucapin sama Mbak, yang udah berhasil jadi ibu-ibu?" Tanyanya yang berhasil mendapat jitakan di kening hingga membuat ia mengaduh.


 


 


"Ngucapin sama ibu lah, masa sama gue, bentar lagi kan lo mau merantau ya, sapa tau kaga balik-balik, sekalian minta maaf sono."


 


 


"Mbak jahatnya." Ardi yang merasa tersinggung jadi beranjak duduk. Dan Nena malah tertawa.


 


 


"Udah buruan sana ucapin, tadi Mbak sama Mas Justin aja udah ngucapin, bahkan Mas Justin ngasih satu set peralatan masak terbaru buat ibu."


 


 


Ardi sedikit cemburu, "Lah jadi anak kesayangan itumah udah," keluhnya kemudian kembali menggulingkan tubuh ke atas kasur, dan Nena menarik lengannya.


 


 


"Buruan sono gantian, ibu nungguin tau, lo mau ngasih apaan buat ibu."


 


 


"Ngasih apaan? Ngasih cucian aja besok, kebetulan pakean gue pada kotor." Ardi kembali mengaduh saat kini sang kakak beralih menjitak kepalanya.


 


 


"Emang anak durjana lo ya," umpat Nena kesal, kemudian beranjak berdiri. "Terserah lo aja lah," imbuhnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Dan di sinilah Ardi sekarang, depan pintu kamar sang ibu dan mengetuknya dua kali. Dari arah dalam Marlina menyuruh pemuda itu untuk masuk.


 


 


"Bu, emm Ardi," pemuda itu sedikit ragu, "numpang tidur di sini ya?" Dan alih-alih mengucapkan selamat hari ibu, dia malah berkata seperti itu.


 


 


Marlina yang duduk bersandar ke kepala kasur kemudian mengangguk, katalog bapperware di tangannya ia taruh di atas nakas, kemudian menepuk bantal di sebelahnya.


 


 


Ardi mendekat, beranjak ke balik selimut, sang ibu yang masih duduk bersandar mengusap kepalanya, membuat ia menoleh. "Bu, selamat hari ibu ya," ucapnya.


 


 

__ADS_1


Marlina tersenyum, "Iya," balasnya.


 


 


Ardi meraih jemari sang ibu, kemudian menggenggamnya, "makasih ya, Bu, udah jadi alarm tercanggih buat aku, yang kalo minta dibangunin jam tujuh, jam enem udah digedor, bilangnya udah jam delapan, panik aku tuh," tuturnya menjabarkan kebiasaan si kanjeng mami.


 


 


Marlina tertawa pelan, "kamu susah dibangunin sih," sangkalnya.


 


 


"Makasih buat sering bangunin aku pagi-pagi buta cuman nyuruh ngeluarin motor dari ruang tamu."


 


 


"Itu kan dulu, sekarang udah ada garasi."


 


 


"Makasih juga buat ngajarin aku trik nawar barang yang pura-pura pergi dulu biar dipanggil."


 


 


Marlina kembali tertawa, putranya ini ada-ada saja.


 


 


"Makasih udah mau nyisain jatah nasi kotak dari pengajian buat aku." Ardi menempelkan tangan yang ia genggam ke pipinya, "dan satu lagi, makasih buat ibu yang lebih sayang sama tutup bapperware daripada sama akuuu." Untuk kalimatnya yang itu, Marlina menjenggut rambut putranya gemas, kemudian tertawa.


 


 


"Kamu mau ngasih apa buat ibu," goda Marlina.


 


 


Ardi yang mendongak, memberikan tatapan memelas pada sang ibu. "Aku kasih calon mantu yang budiman aja ya, yang mau bantuin cuci piring sama ngepel."


 


 


Marlina tersenyum, menatap langit-langit kamarnya sebentar. "Kamu tumbuh sehat aja udah jadi hadiah terbaik buat ibu, ditambah lagi pinter, terus ganteng juga, bingung deh ibu apa dulu pas di rumah sakit kamu ketuker sama anak orang ya."


 


 


"Buuu."


 


 


"Tapi calon mantu boleh juga, ibu mau calon mantu ibu yang bisa ngupas salak, bisa gosok baju sendiri, kalo cuci piring nggak cuma dua biji, pokoknya ibu mau calon mantu ibu tuh  lebih cetar dari mantunya Aburizal Bakrie."


 


 


Ardi tertawa, ibunya ini selain hoby nonton sinetron ternyata senang pada acara gosip juga. Untung dia nggak kenal akun lambe lumrah.


 


 


"Aku punya hadiah buat ibu." Ardi beranjak duduk, menghadap wanita itu. "Ibu tau nggak, selain aku yang sehat pinter dan ganteng nya nggak ketuker sama anak orang di rumah sakit, ternyata juga bisa nyanyi," ucapnya.


 


 


"Tau lah kan kamu sering konser di kamar mandi."


 


 


Ardi berdecak, "serius ini loh, aku mau mempersembahkan lagu."


 


 


"Yaudah iya, ibu dengerin."


 


 


Ardi berdehem, kemudian menyuruh sang ibu untuk jangan tertawa. "Apa yang ku berikan untuk mama, untuk mama, tersayang," lantunnya pelan, kemudian tersenyum.


 


 


"Tak ku miliki sesuatu berharga, untukmu mama, tercinta."


 


 


Marlina tertegun. Dia melihat putranya dalam sosok belasan tahun yang lalu, itu adalah lagu andalan saat mereka merayakan hari ibu.


 


 


Dulu, saat dirinya masih sering menangis saat terjatuh. Dan itu dulu, sekarang putranya sudah tumbuh dewasa. Dan sebentar lagi juga akan meninggalkannya.


 


 


"Hanya ingin aku nyanyikan, senandung dari hatiku untuk mama, hanya sebuah lagu sederhana, lagu cintaku untuk mama."


 


 


Marlina masih terdiam, dia hafal sekali kebiasaan putranya. Sebentar lagi pasti anak itu akan mencium punggung tangannya. Kemudian berkata.


 


 


"Ardi nggak punya sesuatu yang berharga buat dikasih ke Ibu, karena dalam hidup aku yang paling berharga adalah Ibu." Ardi berucap setelah mencium punggung tangan ibunya.


 


 


Marlina memeluk putranya sayang, air di matanya tak kuasa ia tahan. "Kamu baik-baik di Negri orang, jangan mudah terpengaruh, jangan sampe tinggalin salat."


 


 


Ardi terdiam, dia berusaha untuk tidak menangis, dan setelah sang ibu melepaskan pelukannya dia mengangguk. "Iya," ucapnya.


 


 


"Ibu khawatir, nanti kalo di sana kamu masuk angin, yang ngerokin siapa?"


 


 


"Hah?"


 


 


**iklan**


 


 


Author: maaf kalo part ini agak aneh, sebenernya aku nggak ngerti masalah bisnis, apalagi jual beli tanah huhuhu, ya moga sampe lah maksudnya ya.


 


 


Netizen: part ini nggak ada Karin thor aku kangen.


 


 


Author: iya, nanti di part selanjutnya aku munculin part momen Karin Ardi ya, pokoknya nanti bakal ada lagi yg aku kasih judul momen, buat yg kemaren marah marah momen apa padahal gk ada yg berkesan. Ya itu momen Ardi sebelum pergi aja lah gitu.




Aku minta tolong ya, tolong ucapin selamat tahun baru buat Noisy girl sama Oh My Boss tolong jangan dilupain. Lope lope sama kalian. Aku padamu netizen kuu 😘😘


 


Karin:Makasih banyak poinnya, jangan lupa ditambah ya.



 


 


 


Ardi: jangan lupa juga ngucapin happy New year buat Noisy girl sama oh my boss ya. Kanjeng ribet aja mau meluangkan waktu buat nulis panjang hampir setiap hari, kalian cuman cukup nulis met taon baru aja masa gak mau, kebangetan sayangkuuu.




Ini pandangan ibu Marlina saat nyanyi 😘😘


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2