
Entah kenapa, seruan kata "sah" dari beberapa orang yang menjadi saksi pernikahan Edo dan Nadia itu seketika membuat hati Ardi bergetar, dia tentu merasa terharu, pagi ini sahabatnya sudah lebih dulu memantapkan hati untuk menyempurnakan separuh agama.
Rangkulan di pundaknya membuat pemuda itu menoleh, Ipang yang berdiri di sebelahnya berucap pelan.
"Bentar lagi giliran lo, nanti jangan lupa tanya sama Edo rasanya gimana?" Ipang memberi usul.
"Rasa apanya?" Tanya Ardi yang memang belum nyambung saat diajak berbicara, pikirannya masih melayang entah ke mana.
Ipang berdecak, "kasih tau, Gung." Ipang yang memang berdiri di tengah keduanya malah menyuruh Agung untuk menjawab.
Agung mengerutkan dahi, "rasa apaan si, malam pertama ya, malu lah nanya gitu," balasnya.
Ardi jadi tertawa, dan reflek menutup mulutnya saat beberapa bapak-bapak yang tengah khusuk membaca doa di hadapan mereka reflek menoleh. Acara kali ini memang diperuntukkan bagi para orang tua, sanak keluarga dari Edo dan Nadia, juga rekan bisnisnya.
Sedangkan untuk teman-teman dari kedua mempelai dijadwalkan besok malam, namun geng buronan Mitoha tentu merasa harus datang, mereka tidak ingin melewatkan momen penting di mana salah satu sahabatnya tengah mengucap janji setia.
"Bukan elaah," bisik Ipang gemas, "tanyain gimana geroginya mengucap ijab qabul," ucapnya.
"Yaelah tinggal ngomong doang," balas Ardi meremehkan.
Agung mencibir, "awas aja kalo besok lo kicep ngadep papinya Karin, gue vidioin," ancamnya tidak main-main.
Ipang tertawa, "jangan lupa viralin, abis itu ketawain," tambah pemuda itu.
Ardi berdecak, "masih lama tenang aja," ucapnya, kemudian menyikut ke dua temannya saat Edo datang menghampiri mereka.
"Weh, selamat," ucap Agung menepuk pundak sahabatnya, dan diikuti oleh kedua temannya yang lain.
Edo berterimakasih, senyumnya tampak bahagia, dan hal itu menular pada ke tiga teman-temannya.
"Gue kan udah bilang, jatah kalian tuh besok, liat kan undangan bokap gue semua tamunya," ucap Edo.
"Nggak apa-apa, Do, kita cuman pengen ikut nyaksiin Salah satu anggota buronan Mitoha melepas status lajangnya doang." Ardi berucap tulus, mengelus pundah sahabatnya yang tampak gagah dibalut jas pengantin yang pas di tubuhnya.
"Yaudah lo balik ke pelaminan sana, banyak yang nyariin pasti," ucap Agung, dan diiyakan oleh Ipang yang menunjuk kursi pelaminan dengan dagunya, di sana Nadia yang dirias begitu cantik tampak duduk sendirian.
Edo mengangguk, setelah mendapat ucapan selamat sekali lagi dari teman-temannya pemuda itu beranjak pergi.
***
Ipang dan teman-temannya memutuskan untuk pulang, acara yang dikhusus kan untuk para orang tua biasanya akan terasa membosankanu. Makan-makan, berjabat tangan, sedikit berbincang dan kemudian pulang.
Disaat para bapak tampak menyapa, obrolan diantara mereka tidak jauh dari pertanyaan pulang lewat mana.
Sedangkan untuk para ibu-ibu biasanya akan lebih seru membahas rasa makanan yang disajikan dan berkomentar kurangnya di mana.
Di anta mereka ada Lisa, Heny, dan Mita yang juga tampak seru membahas salat buah yang disajikan.
"Ada yang kurang nih menurut gue," ucap Lisa.
Mita menoleh, "kurang apaan, tante gue nih yang bikin."
"Kurang banyak." Lisa menjawab kemudian cekikikan.
Heny mencibir, "Yaudah nih buat lo aja punya gue," ucapnya, sembari menyodorkan salat buah dalam mangkuk kecil. "Enek banget rasanya," imbuh sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Nggak suka kali si debay dalem perut lo." Mita berkomentar.
__ADS_1
Heny mengangguk, "kayaknya sih," ucapnya, bersamaan dengan itu seorang pria datang menghampirinya, yang mereka tau adalah suami dari sahabatnya itu, keduanya terlibat sedikit percakapan. "Eh, gue pulang duluan ya, bilangin Nadia besok malem gue nggak bisa dateng, soalnya ada acara."
"Siap Bumil." Mita menanggapi, kemudian berpamitan pada Lisa untuk menemani sepupunya kembali.
Lisa yang ditinggal sendiri mulai mencari orang, dan Ipang menghampirinya.
"Pulang yuk," ajak pemuda yang sejak beberapa bulan yang lalu resmi menjadi tunangannya.
Lisa mengangguk, masih sibuk menyuapkan salat buah ke mulutnya, "mau?" Tawarnya saat menyadari pemuda di hadapannya itu terus memperhatikannya.
Ipang menggeleng, kemudian tersenyum, "temen-temen kamu udah pada dihalalin, kamu kapan?"
Lisa melirik tunangan dadakannya itu penuh arti, lalu kembali fokus pada makanan di tangannya lagi, "emangnya aku b*bi dihalalin," jawabnya acuh.
Ipang yang berdiri di hadapan gadis itu melipat lengannya di dada, "aku serius Lisaa," ucapnya.
Gadis itu sejenak tertegun, "aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucapnya tiba-tiba.
"Apa?"
"Tapi nggak di sini."
Ipang sedikit bingung dengan sikap tunangannya itu, dari sorot matanya yang tampak teduh tidak seperti biasanya, dia jadi curiga, khawatir lebih tepatnya. Dan keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah Lisa.
"Orang rumah pada ke mana?" Tanya Ipang saat sudah berada di dalam kediaman tunangannya.
"Masih di tempat kondangan," ucapnya sedikit menjelaskan, orang tuanya juga orang tua dari Nadia cukup berteman baik.
Ipang duduk di sofa ruang tamu saat Lisa berpamitan ke kamarnya untuk berganti baju.
Ipang melirik sebentar, kemudian kembali fokus pada benda di tangannya, "tar dulu, nanggung banget," ucapnya.
Lisa berdecak sebal, sebentarnya anak gamer itu biasanya sampai bisa naik level berikutnya, lama. Gadis itu mendekat, menyusup masuk di antara ke dua lengan pemuda itu yang sedikit mendongakkan kepal, menghindari benturan di dagunya, namun bukan marah dia malah tertawa.
"Ayo terusin aja main gamenya." Lisa berucap sembari mengalungkan ke dua lengannya pada leher pemuda itu.
Ipang memejamkan mata, hembusan napas saat gadis itu berbicara menerpa permukaan wajahnya, menguarkan aroma mint yang membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
Jarak wajah sang kekasih yang tidak lebih dari satu jengkal di depan kepalanya membuat ia kerasukan ide gila, rumah ini cukup sepi, dan pemuda itu berusaha untuk mengendalikan diri.
"Ok aku nyerah," ucap Ipang dengan mengangkat kedua tangannya ke udara, "ayo kita ngobrol, katanya ada yang mau diomongin," imbuhnya mengingatkan.
Lisa melepaskan rangkulan di leher pemud itu. Duduk tegak menghadap tunangannya dengan satu kaki bersila di atas sofa, wajahnya tampak gugup.
Ipang mengangkat alis, masih menunggu gadis di hadapannya itu mengungkapkan isi hatinya. "Ada apa si," desaknya.
Gadis itu berdehem, "A-aku...." Lisa tampak ragu.
Ipang mengusap kepala gadis di hadapannya, "bilang aja," ucapnya berusaha menenangkan.
"Kamu pasti kecewa, Pang," ucap Lisa sedikit bergetar. "Setelah ini kalo kamu mau berpikir ulang buat menjadikan aku istri kamu, aku nggak apa-apa."
Ipang menghela napas, hatinya memanas, pemuda itu menjauhkan tangannya dari kepala tunangannya. Dia kecewa, bahkan sebelum perempuan yang duduk menunduk di hadapannya itu mengungkapkan kalimatnya.
"Kamu mau bilang kalo kamu udah nggak Virgin?" Ipang menebak dengan tenang, Tatapannya teduh pada gadis itu.
Lisa mendongak, mulutnya terbuka secelah, ingin berucap tapi bingung dengan kalimat apa yang akan dia utarakan, jujur perempuan itu tidak menyangka bahwa sang tunangan akan dapat menebaknya.
__ADS_1
Sorot mata perempuan itu terlihat bergerak gusar, "kamu, kenapa bisa nebak kaya gitu?" Tanyanya tanpa menoleh.
Pemuda itu mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangan, kemudian menopang dagu dengan sikut yang bertumpu pada lututnya. "Apa lagi yang bikin kamu ragu buat ngomong, dan apa juga yang bikin kamu berpikiran pasti aku akan pergi setelah tau semuanya? Apa lagi kalau bukan itu?" ucapnya tenang.
Lisa yang masih menunduk kemudian tampak bergetar, bahunya naik turun, kaca-kaca yang semula meretak di bola matanya seketika pecah, dia mengangguk dalam tangisannya.
Ipang kembali menghela napas, secerca harapan bahwa tebakannya adalah salah kini hilang sudah, namun pemuda itu mengulurkan tangannya, menarik perempuan itu ke dalam dekapannya.
"Jangan menangis, yang terjadi tidak harus disesali," tuturnya lembut, mengusap kepala perempuan yang semakin tersedu di pelukannya. "Aku hargai kejujuran kamu, kecewa itu pasti, tapi jika berniat untuk pergi, itu tidak mungkin terjadi," janjinya sepenuh hati.
Lisa menegakkan duduknya, melepaskan diri dari rangkulan pemuda di hadapannya, dia memberanikan diri untuk mendongak, berusaha bercerita di sela isak tangisnya.
Kejadian itu sudah lama, dulu setelah perempuan itu lulus sekolah menengah pertama, sekali dalam seumur hidupnya dan ia sesali sampai saat sekarang ini perempuan itu berani bercerita.
Ipang jadi mengerti, kenapa Lisa begitu menutup diri, bahkan selama pemuda itu mengenal perempuan yang sekarang menjadi tunangannya, belum sekalipun terdengar kabar bahwa dia punya pasangan.
"Aku takut, minder lebih tepatnya, aku nggak berani menyukai siapapun sejak kejadian itu."
Ipang mengangkat sebelah tangannya, menghapus air mata di pipi perempuan itu dengan ibu jari, "aku sih nggak masalah, toh aku pun nggak suci-suci banget," ucapnya.
Lisa tertegun, tatapannya berubah curiga, dan pemuda di hadapannya itu tampak merapatkan bibirnya. Sepertinya dia telah Salah berbicara.
"Kamu? Pernah?"
Ditanya seperti itu Ipang jadi kelabakan, "eu, udah siang ini, aku pulang deh."
"Ipaaang!"
***iklan***
Netizen: kemaren nggak up nyuci beneran thor. 🤔
Author: yang namanya nyuci boongan kaya gimana coba. 😒
Netizen: yaudah gak penting ini kapan Bang Ar wawinnya thoor 😔
Author : sabar gue lagi mikir nyari kata kata yg pas buat menjabarkan malam pertama 🙄
Netixen: awas aja kalo ada kalimat dan mereka melakukannya. 😏
Author : ya atuh gimana, gue kasih candu aja pada halu, gimana kalo gue kasih adegan mantap-mantap 😂 dan mereka melakukannya memang andalan.
Netizen: poin gue tahan nih 😏😏
Author : 😭😭😭😭
Semangat ya ngumpulin poinnya, tetaplah haha hihi walau ranking turun lagi 🤣🤣
__ADS_1