NOISY GIRL

NOISY GIRL
KEMBALI


__ADS_3

Sabtu sore, Ardi terbangun karena rasa lapar, sepulang kantor tadi siang pemuda itu langsung tidur ketika sampai di kamarnya.


 


 


"Oma mana?" Tanya Ardi pada Nino yang tampak khusuk membaca buku dongeng anak-anak. Bocah itu sesekali tersenyum, mengernyit bahkan tertawa sendiri. Ardi mengusap kepalanya. "Ya Allah ponakan aku kasian kecil-kecil udah gila."


 


 


Nino menepis tangan omnya yang menempel di kepala, "apa si, Om?" Tanyanya ketus.


 


 


"Oma mana?"


 


 


Bocah yang menduduki sofa tunggal di ruang tv itu melengos, kembali pada buku di tangannya. "Pergi," jawabnya singkat.


 


 


Ardi berdecak, "iya tau, tapi pergi kemana."


 


 


"Aku nggak tau, Om, Oma nggak minta izin sama aku." Nino menjawab dengan memberikan tatapan sinis kemudian kembali lagi pada bukunya.


 


 


Ardi jadi kesal, tapi kemudian berpikir. "Iya juga si," gumamnya. Kemudian memberikan gerakan menjitak namun tidak sampai kena, "bocah," umpatnya.


 


 


Pemuda itu pergi ke dapur, tidak menemukan makanan di meja, dan tidak ada stok makanan juga di kulkas, bahkan lemari di atas komporpun tampak kosong.


 


 


"Miskin amat ini ahir bulan." Ardi bergumam sendiri, keluar rumah untuk mencari tukang makanan yang memang sering mangkal di sana, dan sialnya dia lupa tidak punya uang tunai, tukang bakso mana mau dibayar  pake kartu, berhubung dirinya tidak ingin mandi kuah bakso sore ini, jadi pemuda itu memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya.


 


 


"Eh, Jino." Ardi mencegah keponakannya yang satu lagi, bocah yang tampak lusuh dengan bola di tangannya itu menoleh.


 


 


"Ada apa, Om?" Tanya Jino, dari pada Nino sang abang yang berbeda lima menit dengan bocah yang tahun besok menginjak sekolah dasar itu, Jino lebih enak diajak bekerja sama.


 


 


"Jino punya duit nggak, Om minjem dulu dong."


 


 


Jino menggeleng, "aku nggak punya, tapi papi sama mami banyak duitnya om."


 


 


"Ya itumah jangan diomongin, tetangga sebelah juga tau, malah dikira pesugihan saking kayanya itu bapak lo."


 


 


"Hah?" Jino mengernyit tidak mengerti.


 


 


"Udah lah otak kamu nggak nyampe, sini om bilangin." Ardi merangkul keponakannya, berucap dengan sedikit berbisik. "Jino minta duit ya sama mami, tapi jangan bilang disuruh sama om, bilang aja Jino mau jajan."


 


 


Jino kecil kemudian mengangguk, "ok, Om," ucapnya kemudian berlari ke arah sang mami.


 


 


Ardi mengikuti anak itu, bersembunyi di balik tembok penghubung dapur dan taman belakang, sang kakak tampak mencatat sesuatu di buku, sesekali melihat ponselnya.


 


 


"Mami-mami, Jino minta uang dong."


 


 


Ardi mendengar anak itu membujuk maminya, dia merasa bangga, anak itu terkadang bisa diandalkan juga.


 


 


"Buat apa?" Tanya Nena, mengusap keringat yang mengucur di dahi putranya itu. "Buat jajan, Mi," imbuhnya.


 


 


"Iya, jajan apa?"


 


 


"Apa, Yah?" Jino jadi bingung sendiri. "Bentar Mi, Om Ardi minta duitnya buat jajan apa si?" Jino berteriak ke arah sang om bersembunyi.


 


 


Ardi yang masih belum menampakkan diri jadi kelabakan, kemudian membenturkan kepalanya pelan pada tembok di hadapannya, "dasaaar, Upin, Ipin, dua duanya nggak bisa diandelin," rutuknya kesal sendiri.


 


 


"Ardi kamu yah, ngajar-ngajarin Jino ngadalin aku." Nena mengomel, meski begitu di hadapan anak kembarnya wanita itu berusaha untuk bertutur halus. "Jino mandi dulu sama suster yah."


 


 


"Ok, Mi." Jino berlari ke dalam rumah, melewati Ardi yang kemudian mengacak rambutnya. Pemuda itu menghampiri sang kakak.


 


 


"Ngapain lo nyuruh-nyuruh Jino buat ngibulin gue," omel Nena, dengan jiwa mak lampir di dalam tubuhnya.


 


 


Ardi kemudian tertawa pelan, "Minjem duit mbak, kehabisan lupa ngambil," ucap pemuda itu memberi alasan, "laper ini," imbuhnya memelas.


 


 


Nena mengacungkan selembar kertas yang sedari tadi ia tekuni, yang ternyata adalah daftar stok bulanan. "Yaudah kalo gitu lo belanja sono," ucapnya.


 


 


Ardi menjatuhkan pundaknya lemas, "keburu mati juga ini mah," keluhnya.


 


 


"Ish." Nena beranjak berdiri, berjalan melewati sang adik.


 


 


"Oy, nasib gue gimana ini?" Ardi berjalan mengekori wanita itu.


 


 


"Gue pesenin gofood, mau."


 


 


"Asik."


 


 


Sembari menunggu kedatangan abang ojol membawa makanan, keduanya duduk di sofa ruang keluarga, namun yang datang malah sang abang dengan membawa paperbag besar yang ternyata berisi baju pesta, dan Nena langsung memeriksanya.


 


 


"Bang, kenapa Bang Will nikahnya sama orang, emangnya Mbak Lily kemana?" Tanya Ardi memulai percakpsaan.


 


 


Justin yang duduk di sofa sebelah sang istri itu jadi menoleh, kemudian mengangkat bahu. "Aku juga tidak mengerti," ucapnya.


 


 


Ardi menyadarkan tubuhnya pada sofa, "tapi Bang Will keliatan biasa aja ya, klo aku sih nggak bakalan sanggup," akunya.

__ADS_1


 


 


Nena yang tengah membentangkan baju kecil di tangannya kemudian menoleh. "Makanya kalo jatuh cinta itu masukin ke dalam hati aja, jangan sampe merasuk ke jiwa," ucap Nena menasihati, "jadi kalo nanti putus cukup sakit hati aja, nggak sampe sakit jiwa," imbuhnya yang membuat sang suami tertawa pelan di sebelahnya.


 


 


Ardi melengos tidak terima, kemudian menegakkan duduknya di hadapan ke dua kakaknya itu. "Siapa yang sakit jiwa," sungutnya.


 


 


"Ooh, Itu yang beberapa bulan lalu ngacak-ngacak kamarnya, kamu mah nggak kenal," sindir Nena.


 


 


Ardi jadi kicep, dia malu sendiri jika mengingat kelakuannya itu, seharusnya memang tidak usah seberlebihan itu. Masih merenung sendiri, sebuah baju batik melayang ke arah dirinya dan reflek dia tangkap."Apaan nih?"


 


 


"Buat menghadiri pesta William," jawab Nena, kemudian memanggil ke dua putranya.


 


 


"Sayang, cobain dulu yah," ucap Nena membentangkan satu baju batik pada tubuh putranya.


 


 


"Baju aku sama abang sama ya, Mi."


 


 


"Iya, nanti Mami sama Papi juga bajunya samaan."


 


 


"Oy, terus aku samaannya sama siapa dong ini?" Tanya Ardi.


 


 


"Tukang prasmanan."


 


 


"Tegaaaaa!"


 


 


****


 


 


Karin membuka mata dan terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba berada di dalam kamarnya, gadis itu beranjak duduk menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, pasalnya dia hanya mengenakan kaus ketat tanpa daleman. Sialan.


 


 


"Selamat pagi." Ardi tersenyum lebar, membungkukkan tubuhnya ke arah Karin yang wajahnya memerah saking kesalnya.


 


 


"Kamu ngapain sih di sini?" Tanyanya ketus, "Nggak sopan tau masuk-masuk kamar perempuan tanpa izin," imbuhnya kemudian.


 


 


Ardi mencebikkan bibir, "aku diizinin sama mami kamu lah," ucapnya, kemudian menegakkan tubuh dan memasukkan kedua tangannya pada saku celana. "Siapa dulu yang nggak pernah izin masuk kamar aku, cabut bulu kaki pas bangunin ngajak joging, siapa coba?" Tantangnya.


 


 


Karin membuka mulut, ingin membalas tuduhan pemuda itu tapi fakta, dulu dirinya memang setidak tau malu itu ternyata. Gadis itu menghela napas."Kamu ke sini mau apa?" Tanyanya mencoba mengalah.


 


 


"Ayo kita joging, aku tadi liat di deket sini ada taman, rame banget banyak yang jualan, ayo kita ke sana."


 


 


Karin menghela napas kemudian menggeleng, "Nggak," tegasnya.


 


 


 


 


Karin mengernyit kesal, "aku nggak mau, Bang."


 


 


"Oh, yaudah kalo gitu." Ardi mendekat dan dengan cepat menggulung tubuh gadis itu menggunakan selimut, jurus lama yang tidak pernah gagal.


 


 


"Bang Aar!" Karin berteriak marah, namun pemuda itu malah mengangkat tubuhnya, membawa ke kamar mandi yang ada di kamar itu dan memasukkannya ke dalam bathtub.


 


 


Karin mencoba meronta, namun tidak bisa, kedua tangannya tergulung selimut tebal.


 


 


"Mau mandi apa dimandiin." Ardi memberikan penawaran, tangannya bertumpu pada pinggir bathtub, bersiap menyalakan kran air.


 


 


"Emangnya aku mayat dimandiin, iya-iya aku mandi sendiri."


 


 


Ardi tertawa menang, membuka simpul pada selimut agar sedikit longgar. "Yaudah aku tunggu di luar, jangan lama-lama," ucapnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Karin merutuk sendiri, abang gilaaaa, makinya dalam hati.


 


 


***


 


 


"Tante titip motor ya," pesan Ardi pada Carla yang tampak asik menyiram tanaman di depan rumahnya.


 


 


Wanita itu menoleh, "oh, oke, hati-hati ya, kalian," balasnya.


 


 


"Ah iya, tante mau nitip apa nih." Ardi mencoba menawarkan.


 


 


Carla sedikit berpikir, "titip anak tante aja deh, jangan diapa-apain ya."


 


 


"Siap, Tante, dijaga."


 


 


Mendengar itu entah kenapa Karin ingin tertawa, dan untuk mengalihkannya gadis itu berjalan lebih dulu, sampai dia mendengar sang abang berpamitan pada maminya dan tampak berlari menyusul dirinya.


 


 


Mereka berjalan berdampingan dengan diam, sekilas Karin menoleh pada Ardi, kemudian fokus pada langkahnya kembali. Dulu mereka pernah sedekat Desember ke Januari, dan entah kenapa sekarang sudah seperti Januari ke Desember, masih terlihat dekat tapi terasa jauh.


 


 


Ardi berdehem, membuat gadis di sebelahnya kemudian menoleh, pemuda itu ternyata masih fokus ke jalanan, namun saat kemudian Karin kembali berpaling pemuda itu menoleh.


 


 


"Abang rindu anak setan." Ardi berucap pelan.


 


 

__ADS_1


Mendengar itu Karin sontak tertawa, tidak lucu, hanya merasa geli saja. "Apa sih."


 


 


"Aku rindu kita yang dulu, dengan sapa sederhana dan nggak pernah merasa ragu. Tapi sekarang kita udah kaya dua orang yang nggak pernah ketemu, Dek."


 


 


Karin menoleh, dan saat sang abang juga menoleh, reflek dia tersenyum.


 


 


"Kamu mau ngomong aja curi-curi pandang terus," sindir Ardi.


 


 


"Apa sih, Bang, siapa juga yang curi-curi pandang."


 


 


"Tolong kamu jangan berubah, Dek, abang nggak kuat diginiin." Berkata seperti itu, Ardi menghentikan langkahnya, membuat Karin juga berhenti kemudian menoleh.


 


 


Sesaat mereka saling diam , hanya deru motor  yang sesekali lewat dan menjadi backsound di antara aksi tatap pasangan muda yang terlihat mesra, di pinggir jalan pagi itu.


 


 


Ardi menyodorkan telapak tangannya, membiarkan terbuka. "Temani aku melangkah, mungkin kamu akan lelah, tapi abang mohon, Dek, kamu Jangan pernah nyerah," ucapnya.


 


 


Karin mengalihkan tatapannya dari wajah sang abang kemudian menatap telapak tangan di hadapannya. Gadis itu mengangkat tangannya, menyambut uluran sang abang yang kemudian tersenyum senang.


 


 


"Iya, Bang, temani aku juga buat terus bertahan, jangan pergi lagi yah."


 


 


Ardi tersenyum, kemudian mengangguk, membawa gadis itu menuju stand bubur ayam yang tidak terlalu ramai, keduanya duduk saling berhadapan setelah memesan dua mangkuk untuk sarapan.


 


 


"Kenapa kamu kaya menghindar, Dek?" Tanya Ardi memulai percakapan.


 


 


Karin sejenak terdiam, "aku nggak enak aja, Bang, kamu udah berjuang buat memantaskan diri di negri orang, di sini aku malah berhianat dengan menerima pertunangan dari orang lain," jawabnya lirih.


 


 


Ardi menghela napas, menggenggam tangan gadis di hadapannya. "Itu syarat untuk membebaskan mami kamu kan? Mungkin kalo aku ada di posisi kamu juga akan melakukan hal yang sama," ucapnya.


 


 


Karin tertegun, "aku ngerasa egois aja, nerima perjodohan juga tapi masih berhubungan sama kamu juga."


 


 


Ardi menggeleng, "bumi ini berputar bukan untuk hidup orang lain saja, tapi buat kita juga, jadi sedikit egois kurasa memang perlu, toh kita memiliki hak yang sama," balasnya.


 


 


Karin tertawa pelan, kemudian melepaskan genggaman tangan mereka saat bubur pesanan keduanya disajikan di atas meja.


 


 


Karin sibuk menuangkan kari dan sedikit sambal, kemudian mengaduknya.


 


 


Ardi yang melihat itu kemudian berkomentar,"makan bubur ayam itu enakan diaduk atau nggak diaduk?" Tanyanya.


 


 


"Sebenernya bukan masalah diaduk atau nggak diaduk bubur ini jadi enak," jawab Karin. "Tapi yang bikin enak itu tergantung dengan siapa kita menikmatinya."


 


 


Ardi yang mulai menyuapkan kerupuk ke dalam mulut kemudian tertawa pelan, dia senang akhirnya gombalan anak setannya mulai kembali. Pemuda itu melirik jari gadis di hadapannya yang tampak kosong, entah kenapa bukannya senang, hatinya malah sedikit merasa tidak nyaman.


 


 


"Cincin kamu mana?"


 


 


Karin yang semula sibuk meniup bubur di sendoknya kemudian beralih memperhatikan tangan kirinya sendiri. "Oh, tadi aku tinggal di kamar."


 


 


Ardi tertegun, kemudian dia menceritakan tentang Ipang yang juga sama mendapatkan perjodohan dan tidak tau calonnya siapa. "Mungkin nggak, yang ditunangin sama kamu itu Ipang?"


 


 


Karin tertawa pelan, "justru kalo emang iya berarti bagus, aku jadi punya sekutu buat membelot kan?"


 


 


"Tapi kalau seandainya Ipang menolak kerja sama, dan memilih menerima perjodohan itu, kamu gimana?"


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: orang belum jawab udah iklan.


 


 


Author: sengaja digantung, biar greget.


 


 


Netizen: biar pada penasaran ya thor.


 


 


Authot: sebenernya sih gue juga bingung jawabannya apaan makanya nggak diterusin.


 


 


Netizen:thor tolong cantumin alamat lu ya, gue mau ngirim santet ini.


 


 


Author: hehe canda aelaah.


 


 



Karin: makasih poinnya, jan lupa tambahin yaaa...


 


 



Ardi: ini dikirim hari rabu jam 7.30 pagi gak tau lolosnya kapan. Jan sampe letooy poinnya kencengin.


 


 


 



 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2