NOISY GIRL

NOISY GIRL
BERITA BAHAGIA


__ADS_3

Seorang pemuda masuk ke dalam Cafe dengan masih mengenakan helm juga jas hujan di tubuhnya. Dan hal itu membuat beberapa pengunjung kemudian menoleh.


 


 


Dengan tergesa, Ipang menaruh helm di atas meja bar. Membuat Agung yang sibuk dengan pekerjaannya jadi menoleh. "Nitip bentar. Gue mau ke kamar mandi," ucapnya kemudian berlari pergi.


 


 


"Woy, buka dulu lah jas ujannya." Agung berteriak, namun tidak mendapatkan balasan dari pemuda itu, dia kemudian menyuruh karyawan di sana untuk membersihkan jejak-jejak basah yang ditinggalkan sahabatnya.


 


 


Beberapa saat kemudian, Ipang kembali dengan jas hujan yang mungkin sudah dilepaskan di kamar mandi. "Asli dah, naik motor ujan gini tuh nyiksa banget, kaca helm ditutup jadi burem, tapi kalo dibuka berasa totok wajah," ucapnya terus berceloteh. "Bikinin kopi dong," Imbuhnya.


 


 


"Mobil lo kemana?" Agung bertanya, sembari mengambil cangkir kopi yang tersusun rapi pada rak di hadapannya.


 


 


Ipang mengusap kepalanya dengan kedua tangan, berharap dapat mengeringkan kondisi rambutnya yang sedikit lepek. "Disita bokap gue," ujarnya.


 


 


"Kaya anak sma aja masih sita-sitaan." Ardi yang juga baru datang ikut nimbrung setelah meminta secangkir kopi pada Agung.


 


 


"Ya abis mau gimana, mobil bokap gue." Ipang mengambil helm di hadapannya, dan memberikan pada salah satu karyawan di sana untuk disimpan. "Tumben lo ke sini, Ar?"


 


 


Ardi mengangguk, "Mau jemput Karin tapi kerjaannya belum kelar, yaudah kesini dulu," ucapnya. Mendekatkan cangkir kopi untuk menghirup aromanya.


 


 


"Nikah sama wanita karir kaya Karin itu, enak nggak sih, Ar?" Agung bertanya setelah menyelesaikan dua pesanan kopi sahabatnya.


 


 


"Hn?" Ardi reflek menoleh, kemudian sedikit berpikir. "Ya, enak nggak enak," balasnya.


 


 


"Enaknya apa, nggak enaknya apa?" Kali ini Ipang yang jadi penasaran ikut bertanya.


 


 


Ardi mendekatkan wajahnya pada secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas, hingga rasa hangat dan aroma menyenangkan dari minuman itu merasuk ke dalam hidungnya. Dia kemudian tersenyum. "Enaknya ya istri lo punya duit sendiri, jadi nggak perlu banyak-banyak ngasih jatah bulanan," ucapnya setengah bercanda.


 


 


Ipang jadi tertawa, "cita-cita lo buat punya istri kaya raya terkabul dong, Ar," ucapnya.


 


 


Ardi tertegun, saat remaja dulu mereka memang pernah membahas tentang hal demikian, tapi masalah cita-cita memiliki istri kaya, tidak sepenuhnya ia inginkan. "Masih inget aja lo, Pang," ucapnya.


 


 


"Terus nggak enaknya apaan?" Tanya Agung.


 


 


Ardi menoleh. "Nggak enaknya ya lo jadi kurang perhatian," jawab pria itu, teringat sesuatu dia kemudian menegakkan duduknya. "Alya mengundurkan diri dari perusahaan, kira-kira kenapa ya?"


 


 


"Ya wajar lah, bokapnya kan kaya, dia kerja di tempat lo buat tugas kuliahnya doang." Ipang yang menjawab.


 


 


Mendengar itu Ardi menoleh pada Agung yang entah kenapa akhir-akhir ini terlihat murung. "Kalian baik-baik aja kan?" Tanyanya.


 


 


Agung menoleh, kemudian mengangguk. "Sejauh ini sih baik, nggak tau kedepannya kaya gimana," jawab pemuda itu.


 


 


"Dari awal Om gue emang kenal sih sama Agung, dia sering denger cerita dari gue. Harusnya dapet jatah promosi dong gue." Ipang berseloroh yang hanya ditanggapi tawa oleh teman-temannya.


 


 


"Lisa ke mana, jarang keliatan, Pang." Agung mengalihkan topik pembicaraan tentang dirinya.


 


 


Ipang mengangkat bahu, "masih marah soal yang kemaren gue ceritain," ungkapnya.


 


 


"Yang ketemu sama mantan lo?" Tanya Ardi.


 


 


Ipang mengangguk, "nyesel gue ngoleksi mantan, jadi kaya bom waktu yang meledaknya sewaktu-waktu, dan biasanya gue dalam keadaan nggak siap."


 


 


Ardi tertawa mendengus,"ada dua kesan yang tertinggal saat seseorang menjadi mantan," ucapnya, dan teman-teman pria itu tampak memusatkan perhatian.


 


 


"Apaan?" Ipang bertanya tidak sabaran.


 


 


"Kesan baik dan kesan buruk, kemungkinan lo terlalu meninggalkan kesan manis jadinya mantan lo pada ngelunjak," jawabnya ngasal.


 


 


Ipang berdecak, "berarti lo selalu meninggalkan kesan buruk ya, Ar. Mantan lo kalo ketemu muka suka pura-pura nggak kenal."


 


 


Ardi jadi tertawa, belum sempat menanggapi, kedatangan Edo yang menggebrak meja membuat ketiganya jadi menoleh.


 


 


"Gue punya berita bahagia," ucap Edo, wajahnya tampak berbinar.


 


 


"Apaan?" Tanya ketiganya nyaris bersamaan.


 


 


Bukannya menjawab dia malah tersenyum, membuat teman-temannya melengos kesal. "Nadia hamil," ungkapnya kemudian.


 


 


Ketiga temannya kemudian tertawa, respon mereka tentu tidak terduga.


 


 


"Bercanda," ucap Ipang.


 


 


"Nggak mungkin." Ardi ikut menanggapi.


 


 


Dan Agung hanya menggelengkan kepala, seolah berita yang dibeberkan sahabatnya terlalu nihil untuk dipercaya.


 


 


"Sialaaan, kalian ngeremehin gue." Edo pura-pura tersinggung. Dan hal itu membuat teman-temannya kembali tertawa.


 


 


Ardi adalah orang pertama yang menepuk pundaknya. "Selamat, Do, akhirnya lo tambah tua."


 

__ADS_1


 


"Dapet ponakan baru dong, kembar tiga ya," imbuh Agung, ikut merasa senang dengan kebahagiaan sahabatnya.


 


 


"Doain gue biar cepet nyusul." Ipang berucap yang mendapat hujatan dari teman-temannya.


 


 


"Gila si Ipang, nikah aja belom." Agung berkomentar.


 


 


"Ada juga gue nih doain biar cepet nyusul." Ardi ikut menanggapi.


 


 


"Gue lagi seneng, kalian pilih aja makan apa nanti gue yang bayar."


 


 


"Asik!"


 


 


Edo melangkah pergi menuju sofa, dan Ardi yang meloncat turun dari kursi kemudian mengejarnya.


 


 


"Do, ajarin gue biar tokcer kaya lo," ucapnya, setelah itu obrolan mereka mengalir ngawur seperti biasanya.


 


 


Ipang tidak ikut nimbrung bersama mereka, pemuda itu mengambil ponsel di saku celana, kemudian menghubungi kekasihnya.


 


 


"Kamu tuh kenapa si? Udah dong marahnya."


 


 


Percakapan Ipang dengan seseorang di balik telepon membuat Agung menoleh, pemandangan seperti itu sebenarnya sudah amat biasa di antara mereka, dia tidak lagi merasa aneh.


 


 


"Yaudah." Ipang mematikan sambungan telepon, raut wajahnya terlihat jengkel. "Cewek itu maunya apa si, bilang nggak apa-apa, tapi nyolot, ngambek mulu nggak sudah-sudah, perasaan gue kalo marah nggak pernah lama," celotehnya panjang lebar, pada Agung yang tampak tersenyum memperhatikannya.


 


 


Agung menyodorkan satu cangkir kopi yang  dia racik dengan resep baru, "udah tau cewek itu kalo lagi ngambek pastinya cemburu, masih aja lo tanyain kenapa, ya nggak apa-apa lah pasti dia jawabnya."


 


 


"Ya terus gue harus giama?"


 


 


"Samperin ke rumahnya."


 


 


"Ogah, ujan begini."


 


 


"Yah, kalah sama ujan."


 


 


Ipang tidak menanggapi, malah melirik secangkir kopi yang sahabatnya itu suguhi. "Apa lagi nih?" Tanyanya.


 


 


"Resep baru, lo orang pertama yang nyobain."


 


 


Dengan malas Ipang mendekatkan cangkir berisi cairan pekat itu ke depan mulut, lalu ia tiup. Setelah meminumnya sedikit pemuda itu kemudian mengernyit, menjulurkan lidahnya saat menyecap rasa yang terlalu pahit. "Apaan ini, rasanya kaya kenangan."


 


 


 


 


"Pait!"


 


 


"Set, iya gue lupa ngasih gula." Agung yang baru sadar kemudian tertawa.


 


 


"Sialaaan!" Ipang meludah pada tisyu yang ia cabut dari kotaknya. Pemuda itu tertegun, menoleh pada kaca jendela yang meskipun masih menimbulkan titik-titik basah di permukannya, tapi dia tau, hujan di luar sudah reda.


 


 


"Eh mau kemana?" Tanya Agung setelah membubuhkan gula pada cangkir kopi di tangannya. Melihat Ipang meminta helm dan mengenakannya, dia jadi curiga.


 


 


"Ke rumah cewek gue." Ipang menjawab sembari melangkah pergi ke arah pintu.


 


 


Sebelum temannya itu menjauh, Agung kembali berucap. "Nggak pake jas ujan?"


 


 


Pemuda itu mengangkat sebelah tangannya untuk berpamitan, "Nggak usah, biar dramatis," ucapnya memberi alasan.


 


 


Agung berdecak, dramatis apa? sahabatnya itu memang terkadang malas, dan entah kenapa dia malah cemas.


 


 


Pemuda itu mengalihkan tatapannya pada cangkir kopi yang ia pegang, kemudian berpikir, resep baru yang ia sajikan ternyata memberikan efek mengerikan. "Tadi katanya males, ujan. Tapi pergi juga," gumamnya.


 


 


***


 


 


Gerimis yang semula kecil lama-kelamaan menjadi tetesan air hujan yang membuat tubuhnya menjadi basah, Ipang menghentikan laju motornya di depan pintu gerbang yang sesaat kemudian lalu terbuka.


 


 


"Den Irfan tumben ujan-ujanan." Sapa Pak Satpam yang sibuk memegangi payungnya.


 


 


Ipang membuka kaca helm, mengusap wajahnya yang terasa basah. "Lisanya di rumah, Pak?" Tanyanya.


 


 


Pria berseragam hitam itu mengangguk, dan setelah mengucapkan terimakasih, Ipang melanjutkan kendaraannya sampai ke depan rumah.


 


 


Dua kali menekan bel, pintu ganda di hadapannya kemudian terbuka. Lisa yang sudah mengenakan piyama karena bersiap akan tidur kemudian mengerutkan dahi.


 


 


"Kamu ngapain?" Tanyanya, melihat sang kekasih basah kuyup, meskipun masih kesal, Lisa khawatir juga.


 


 


Ipang melepaskan helm dari kepalanya kemudian dia taruh di atas meja. "Kamu masih marah?" Tanyanya, "aku udah nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


 


 


"Aku nggak marah, siapa yang marah sih." Lisa menjawab dengan membuang muka, meski katanya tidak marah, tapi raut wajahnya yang tidak biasa tentu membuat Ipang merasa berbeda.


 

__ADS_1


 


"Ya terus kamu kenapa diemin aku? Kenapa berubah?"


 


 


Lisa akan menanggapi saat kemudian asisten rumah tangganya membawakan handuk yang ia pinta, "pake dulu, nanti kamu masuk angin."


 


 


"Nggak perlu," tolak Ipang, dengan lembut mendorong tangan sang kekasih yang akan menempelkan handuk di tubuhnya.


 


 


"Jawab dulu, Sayang. Kamu kenapa?"


 


 


"Nggak kenapa-napa, udah deh, kamu basah kaya gini mendingan pulang aja nanti kamu sakit, udah malem aku juga mau tidur," ucap Lisa.


 


 


"Kenapa kamu mau tidur?" Ipang bertanya.


 


 


Lisa menatap kekasihnya dengan bingung, "ya karena aku ngantuk lah," namun menjawab juga.


 


 


"Nah, gitu. Kalo ditanya kenapa tuh jawabannya karena, bukan nggak apa-apa."


 


 


Ucapan Ipang membuat Lisa tertegun, hal itu begitu menyentil perasaannya.


 


 


"Kalo ada yang kamu nggak suka dari aku, tolong kasih tau, cuman kamu satu-satunya perempuan yang selalu gagal aku retaskan code-codenya. Aku nggak ngerti kalo kamu nggak mau ngomong."


 


 


"Pang, udah malem-," Lisa menggantungkan kalimatnya, menatap wajah pemuda di hadapannya yang mulai memucat dia benar-benar ingin menangis. Tapi entah karena apa.


 


 


"Kenapa?" Ipang bertanya untuk ke sekian kalinya.


 


 


Sesaat Lisa tertegun, membuka mulutnya secelah dengan bibir yang sedikit bergetar, "ka, karena.... Aku takut, aku takut kamu bakal ninggalin aku dan kembali dengan salah satu mantan-mantan kamu itu, aku takut-"


 


 


Ipang berdecak saat ucapan perempuan di hadapannya kembali terjeda, namun tanpa dipungkiri, dia merasa lega. "Kalo itu yang kamu takutin, ayo kita nikah."


 


 


Deg. Lisa merasa detak jantungnya sesaat terhenti, tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut pria di hadapannya yang selama ini sempat ia ragui.


 


 


Mulutnya kembali terbuka, namun kalimat apapun yang ada di kepala seolah menghilang di tenggorokannya. Dia menangis. Jujur dia bahagia, dan saat pemuda di hadapannya kembali menanyakan kesiapan dirinya. Dia kemudian mengangguk.


 


 


"Boleh masuk nggak?"


 


 


Kalimat itu membuat Lisa tersadar, pemuda di hadapannya  tampak menggigil kedinginan. "Lagian kenapa juga ujan-ujanan," omelnya sembali mengusap kelopak matanya yang masih basah.


 


 


"Biar dramatis," jawaban Ipang membuat perempuan di hadapannya itu tertawa, kemudian mengajak kekasihnya masuk ke dalam rumah.


 


 


"Kamu mandi dulu, nanti aku pinjemin baju ganti."


 


 


Ipang yang menangkupkan handuk di tubuhnya kemudian menoleh, "sepi banget  om sama tante kemana?" Tanyanya setelah  memperhatikan suasana di dalam rumah.


 


 


"Lagi pada pergi."


 


 


Jawaban itu membuat Ipang tersenyum, "asik dong, sepi," godanya dengan sedikit mencondongkan kepala.


 


 


Lisa berdecak setelah reflek memundurkan tubuhnya, "Nggak usah macem-macem, sana buruan mandi," omelnya, sembari mendorong pemuda itu ke arah pintu kamar tamu, ada toilet di dalam situ.


 


 


Ipang kembali tersenyum menggoda, "tapi kamu ikut ya," pintanya.


 


 


"Dih, Ogah."


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: gue kaga demen dah, kalo udah mulai panas begini pasti iklan. 😌


 


 


Author: Lah, belom halal lo pikir mau ngapain 😑


 


 


Netizen: ya ngapain kek namanya lagi sepi. 😌


 


 


Netizen: Yaudah lo terusin aja sendiri, sesuai imajinasi. 😒


 


 


Author:Jan gitu thor, gue tau pasti dalam imajinasi lu ada adegan-adegan yang menegangkan, gue yakin 😒


 


 


Author: Astaga soudzon nya. Netizen kaya gini nih, halal banget buat dijadiin pakan ternak buaya. 😌


 


 


Nggak usah banyak nuntut sama komen komen gak penting yang bikin imajinasi gue ambyar ya Katemi. Mendingan lu vote yg banyak sama komen Next aja biar gue semangat.


 


 


Akhir akhir ini komentar cabe yang tersembunyi di dalam risol kalian bikin gue jadi down. Tolong lah gue bilangin sekali lagi kenapa sifat Karin berubah. Ya karena dia udah dewasa, masa tingkahnya pecicilan kaya dulu lagi. Gue yakin kalo karakter Karin dibikin polos manja kaya dulu pasti ada aja yang komen. "dih Karin udah nikah kok tingkahnya kekanakan banget."


 


 


Serba salah kan gue jadi tukang nulis 🙄


 


 


Makasih buat yang selalu mendukung aku. Dengan vote dan komen menyenangkan. Aku padamu 😘


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2