
Agung tengah sibuk dengan mesin kopi saat kekasihnya datang dan kemudian duduk di depan meja bar di hadapannya, gadis itu menyapa.
"Selamat sore menjelang malam, Sayang." Alya menelengkan kepala, menggoda kekasihnya yang berdiri di hadapannya namun terhalang meja.
Pemuda itu tersenyum, beruntung kali ini dia sendirian, jadi membalas candaan kekasihnya dia tidak lagi sungkan. "Sore juga," jawabnya.
"Kapan kita kemana?" Tanya Alya menopang dagu.
"Udah nggak usah kemana-mana, takut terkena virus yang lagi naik daun." Ipang yang entah datang dari mana ikut nimbrung, kemudian duduk di kursi sebelah sepupunya.
Alya melengos kesal, anak ini tidak bisa sekali membiarkan saudaranya bahagia. "Kaya iklan pucuk teh, naik daun," balasnya, kemudian melepaskan tangan dari dagunya, beralih menarik kaus pemuda itu. "Pang," panggilnya.
"Hmm." Ipang yang sibuk dengan ponselnya hanya bergumam sebagai tanggapan.
"Bilangin temen kamu kek, ajak kemana gitu ini akunya bete," rengek gadis itu, melirikkan matanya pada Agung yang masih sibuk dengan mesin kopi. Pria itu sekilas menoleh, namun sibuk lagi.
Ipang menghela napas, "ya lo sabar, dia kalo lagi kerja nggak bakal bisa diganggu," ucapnya.
Alya memberenggut, kembali melirik sang kekasih yang tampak fokus dengan tugasnya. Gadis itu jadi sebal sendiri.
"Sibuk banget sih dia, ngapain coba."
"Biasa, berexperimen sama biji kopi, sebenernya bukan sibuk si, lo aja yang mungkin bukan prioritas buat dia."
"Ipang." Melihat pacarnya dipanas-panasi, Agung akhirnya angkat suara. Dan hal itu membuat Ipang tertawa.
Wajah cantik Alya semakin ditekuk saja, gadis itu menoleh pada kekasihnya. "Jadi aku nggak diprioritasin, nih," rengeknya.
Agung menghela napas, beralih mengambil buku, "aku mau tulis stok besok sebentar, abis ini kita makan," ucapnya.
Alya tersenyum senang, bersamaan dengan itu Ipang yang masih duduk di hadapannya itu kedatangan seorang teman, lalu mereka terlibat percakapan.
"Jadi ini sepupu lo."
Kalimat itu membuat Alya yang sempat fokus pada ponselnya kemudian mendongak, lalu menyambut uluran tangan, teman sepupunya yang mengaku bernama Sadly.
"Alya," ucap gadis itu kemudian tersenyum. Dan saat pujian cantik terlontar dari mulut pemuda blasteran itu, kegaduhan di balik coffee bar membuat mereka menoleh.
Agung terlihat kelabakan saat tidak sengaja menyenggol gelas di sebelahnya. "Sory-sory," ucapnya.
Ipang yang mengerti sifat sahabatnya itu jadi cekikikan. Kemudian menepuk pundak pemuda bernama Sadly yang ahir-ahir ini menjadi langganan di Cafe mereka. "Cantik lah sepupu gue, lo mau kenalan," tawarnya.
Sadly tertawa pelan, melirik pada gadis yang duduk di kursi tinggi itu kemudian tersenyum, "boleh kah? Memangnya belum ada yang punya?" Tanyanya.
Alya tersenyum canggung, melirik sinis pada Ipang yang sudah menawarkan dirinya.
"Liaa," panggil Agung, pemuda itu mendekat.
Alya reflek menoleh, raut wajahnya berubah senang, "iya, Kak."
Agung melirik pada Ipang sembari melepaskan apron yang terikat di belakang tubuhnya, kemudian beralih menatap Alya. "Katanya mau makan, ayo," ajaknya.
Senyum gadis itu semakin lebar, "Kak Agung udah kelar tugasnya."
Agung mengangguk, "udah kok," ucapnya, kemudian melemparkan apron di tangannya pada wajah Ipang yang masih cekikikan.
"Sialaan." Ipang mengomel, namun kemudian tertawa, hingga pasangan itu berlalu dari hadapannya, dia masih mengikuti langkah mereka.
"Yah, udah ada yang punya, Ya?" Sadly tersenyum.
Ipang menggulung apron di tangannya, kemudian ia lempar pada petugas di sana yg sigap menerima. "Iya, jangan diganggu, mereka udah bahagia," ucapnya.
***
Seperti biasa, Agung dan Alya memilih dua kursi yang saling berhadapan dengan meja persegi di tengah, letaknya di sudut Cafe yang jauh dari keramaian, hal itu membuat keduanya bisa mengobrol dengan nyaman.
"Mau makan apa?" Tanya Agung saat mereka membuka buku menu.
"Yang ringan-ringan aja, udah malem," jawab Alya, masih memilih menu yang dia suka.
Agung melirik kekasihnya itu dengan geli, "ribet ya cewek, banyak peraturan hidupnya, makan malem aja nggak boleh banyak-banyak," sindirnya.
__ADS_1
"Ya enggak juga," balas Alya, kemudian memilih satu menu untuk dia pesan, dan Agung pun memesan makanan yang sama.
"Kamu hampir tiap hari ke sini nungguin aku kerja emang nggak bosen?" Agung bertanya, menautkan kedua tangannya kemudian menopang dagu, tatapannya mengarah pada gadis yang masih membaca buku menu di hadapannya itu.
Alya mendongak, kemudian menggeleng. "Enggak, abis aku seneng liat kamu kalo pas lagi serius," godanya.
Agung tertawa kecil, menurunkan tangannya dari dagu dan meraih jemari gadis itu di atas meja. "Kenapa kamu nggak pernah mau aku jemput di kerjaan?"
"Kan kamunya jam segitu lagi sibuk-sibuknya, aku nggak mau ganggu," jawab Alya, kemudian berpikir. "Kapan si Kak Agung liburnya? Aku perhatiin kakak nggak pernah libur."
"Aku nggak punya bos, siapa yang mau ngasih libur?"
"Kan kakak bosnya, bisa libur sendiri dong."
"Nanti diatur lagi jadwalnya."
"Beneran yaa." Alya tersenyum senang, namun kemudian teringat sesuatu. "Jangan kaya minggu kemaren tapi, pas libur gagal lagi gara-gara ada karyawan yang nggak masuk."
Agung tertawa, menarik tangannya dan ia lipat di atas meja, "inget aja kamu," ucapnya. "Bikin kamu kecewa, maaf ya."
Alya menghela napas, "dijanjiin sama kamu tapi terhalang kendala tuh rasanya kaya makan sebungkus nasi goreng, pas udah abis baru inget kerupuknya ketinggalan. Kesel sih, tapi yaudah lah."
Mendengar penuturan gadis itu, Agung jadi tertawa, kemudian mengacak rambut kepalanya dengan gemas." bisa aja kamu, " pujinya.
Perhatian keduanya teralihkan saat pesanan mereka disajikan di atas meja. Bersamaan dengan itu, notif grup chat di ponsel Agung membuat pemuda itu mengambil benda yang terletak di atas meja kemudian membukanya. Dia tersenyum sendiri.
"Kenapa kak?" Tanya Alya penasaran.
Agung mendongak dari ponselnya, tangan kanan pemuda itu sudah memegang sendok. "Oh, ini Ardi pamer apartemen baru."
Alya ikut tersenyum, "wah, hebat."
Agung mengangguk, meletakkan benda di tangannya ke atas meja, biar saja temannya yg lain heboh di sana, dia hanya berkomentar memberi selamat. "Hadiah pernikahan dari abangnya."
Alya mengangguk-angguk, menyuapkan roti bakar pesanannya ke dalam mulut. "Pak Justin itu kaya banget ya, Kak."
Agung masih mengunyah saat memberikan senyum, lalu menatap gadis di hadapannya, pemuda itu mengangguk. "Mbak Nena yang kaya," ucapnya.
Agung tertawa, "mana pernah, shampo impor baru beli aja kalo kurang wangi pasti langsung diganti."
"Bisa jadi tuh." Alya ikut tertawa.
"Mbak Nena cantik banget, aku ampe mikir dia pake susuk dulu."
"Kamu juga cantik banget, udah pake susuk pake pelet lagi, aku nggak kuat."
"Kak, Agung."
Mendapat cubitan di lengannya Agung tertawa, "aku masih penasaran kenapa kamu bisa kerja sama mbak Nena but ngerjain Ardi dulu," ucapnya.
Alya berpikir, "oh, waktu itu aku ketemu sama mbak Nena pas ada kelas modeling gitu, dan pas ngobrol ternyata dia kenal sama Ipang."
"Kamu pernah jadi model?" Tanya Agung.
Alya mengangguk, "tapi sekarang udah nggak, dulu iseng aja."
Agung mengangguk, obrolan keduanya terus berlanjut, dan saat malam sudah mulai larut pemuda itu mengantarkan kekasihnya pulang ke rumah.
"Jangan mau kalo di deketin Sadly." Agung memulai obrolan saat mereka masih di perjalanan.
Alya menoleh, senyumnya tampak geli "jadi tadi kakak mecahin gelas tuh karena aku dideketin anak itu?" Tanyanya menggoda.
"Hn?" Agung menoleh sekilas, kembali fokus pada kemudi, "orang nggak sengaja kesenggol," kilahnya.
"Bilang aja kalo Kakak cemburu sama aku." Alya mendekat, menyentuh pundak pemuda itu.
"Ya-ya enggak gitu." Agung terlihat ragu, pemuda itu memang begitu sulit mengungkapkan perasaannya, dia hanya tersenyum.
"Bilang Kak, bilang kalo Kak Agung cemburu, ayo dong," bujuk Alya, semakin merapat pada kekasihnya.
Agung semakin gugup dan hal itu teramat menggemaskan di mata Alya yang terus menggoda kekasihnya. "Iya, aku nggak suka kamu dideketin siapapun," ucapnya.
__ADS_1
Alya bersemu, selama mereka resmi pacaran baru kali ini dia tau rasanya dicemburui, kaya ada bunga-bunganya gitu, gadis itu tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa si? Ngeri banget ih." Agung menegur dengan menjawel dagu gadis yang duduk di sebelahnya. Di dalam mobil yang hanya ada mereka berdua, diamnya gadis itu jadi terasa hampa.
Alya menggeleng, "baru tau rasanya dicemburui ternyata semenyenangkan ini," ucapnya dengan tersenyum.
Agung tertawa pelan, "dicemburuin kok seneng, Sivia malah nggak suka kalo aku cemburuan," ucapnya kelepasan, kemudian merapatkan bibirnya setelah tersadar gadis di sebelahnya menjadi diam, pemuda itu menoleh sekilas, "maaf," ucapnya.
Alya menghela napas, menegakkan duduknya menghadap jalan raya, "aku kan Lia, bukan Via," ucapnya lirih, "kita beda, Kak, kenapa sih Kakak belum juga mov-,"
"Nggak gitu, Lia," potong Agung, membelokkan mobilnya masuk ke kawasan perumahan di mana gadis itu tinggal. "Aku seneng aja ternyata kamu beda."
Alya tersenyum lagi, kembali duduk menyerong menghadap pemuda yang masih fokus pada kemudi. "Kalo boleh tau, Kakak pacaran sama Via berapa lama si?" Tanyanya.
Agung menoleh sekilas, "Kenapa jadi bahas dia sih?"
"Ya nggak apa-apa, aku pengen tau aja Kak Agung mantannya berapa."
"Cuma Sivia, nggak ada yang lain juga."
Alya mengerjap tidak percaya, "ah, masa si? Kak Agung ganteng loh, masa nggak ada mantan lain lagi?" Tanyanya.
Agung mengulas senyum, "makasih," ucapnya yang membuat Alya berdecak.
"Kak Agung beneran nggak ada mantan? Kok aku nggak percaya sih."
"Nggak percaya ya terserah, setiap orang punya hak untuk bercerita, dan nggak semua yang mendengarkan punya kewajiban buat percaya," ucap Agung, mematikan mesin mobil saat keduanya telah sampai di depan pintu gerbang rumah besar dua lantai yang adalah rumah kekasihnya. "Terserah kamu," Imbuhnya.
Senyum Alya semakin lebar, "waktu pacaran sama Via Kak Agung ngapain aja?" Tanyanya penasaran.
Agung mengangkat alis, pertanyaan itu membuat dirinya menahan geli. "Kamu pikir kita ngapain. Kamu sendiri tau, Sivia deketin aku itu punya tujuan lain," ucapnya.
Alya tertegun, dia tau cerita itu. "Masih nggak percaya aja, ternyata Kak Agung nggak punya mantan, pas sekolah ngapain aja?" Tanyanya di sela tawa.
Agung berdecak, berlagak tidak terima, "emangnya kita disekolahin buat nyari mantan, ya belajar lah, nyari ilmu ngejar ijazah, apalagi?" Agung mengacak puncak kepala gadis itu, kemudian tersenyum geli.
"Iya juga sih, justru yang perlu dipertanyakan tuh si Ipang, mantannya banyak banget sekolahnya ngapain aja coba," canda Alya, membahas sepupunya itu yang terkenal sering berganti-ganti pasangan.
Masih mengulas senyum, Agung kemudian berkata. "Aku bukan Ipang. Yang sering ngejar-ngejar perempuan buat dijadiin pacar," ucapnya, memberi jeda agar gadis itu bisa mencerna ucapannya. "Juga bukan Ardi, yang sering dikejar-kejar perempuan untuk dijadikan bahan pameran. Aku biasa aja, belajar dan fokus sama tujuan aku buat sekolah."
Alya mengacungkan dua ibu jarinya, "Kak Agung, keren," pujinya.
"Keren dari mana, nggak laku iya."
"Dih, kok gitu, Kak Agung sih terlalu kaku sama menutup diri, jadi cewek pada segan."
Agung mengangguk, "barangkali," balasnya, kemudian menoleh ke arah pintu gerbang yang tampak sepi, "aku nggak mampir ya, udah malem."
Alya tidak menanggapi, gadis itu seperti tengah berpikir, dan kekasihnya tampak menunggu. "Kak Agung kenapa sih, nggak pernah cium aku," ucapnya sedikit ragu.
Agung tertawa pelan, "emang mau?" Tawarnya.
Dan gadis itu mengangguk perlahan, raut wajahnya begitu lucu dan menggemaskan.
"Yaudah sini-sini." Agung menyentuh pundak gadis itu, mendekatkan tubuh mereka, kemudian mendongak untuk menggapai keningnya.
Belum sampai menempel, gadis di hadapannya malah mendongakkan kepala, membuat hidung mereka bertabrakan, dengan bibir yang saling bersentuhan, keduanya sama-sama terdiam.
Alya tersenyum, dia tidak berani melakukan gerakan-gerakan panas yang biasa dilancarkan mantan-mantannya, hanya menempel saja jantungnya sudah tidak karuan, rasanya sangat berbeda dengan ciuman yang pernah dia dapatkan sebelumnya.
Saat gadis itu memilih memundurkan kepala, dan merapatkan bibirnya, dia melihat kekasihnya tersenyum, perlahan pemuda itu mendekat, meraih bibirnya dengan lembut, memberikan gerakan-gerakan sehalus kapas yang membuatnya menjadi lemas.
Baru kali ini gadis itu merasakan ciuman yang begitu membuatnya terbuay, tidak menuntut juga terburu-buru, tanpa napsu yang biasa menggebu-gebu, namun berhasil membuat hatinya berdesir.
Dan hingga belakang kepalanya terbentur sandaran kursi, dia tersadar dan benar-benar mengakui, pemuda ini begitu istimewa, berbeda dengan laki-laki yang dulu pernah ada di hatinya.
**iklan**
Netizen: Bang entin kaya banget ya thor, dia pernah nggak ya pas mau pake gunting ternyata ada bekas bumbu indomie.
Author: orang kaya mana tau, rasanya motong buah pake piso di dapur eh pas di makan bau bawang.
Netizen: orang susah mana tau, rasanya nimbun masker pas virus corona semakin femes.
Author: orang kaya nggak tau, rasanya rajin pake scincare tiap hari tapi nggak glowing-glowing.
Jan lupa like komen sama votenya ya. Tetaplah haha hihi walau corona seram sekali. Selalu jaga kesehatan.
__ADS_1