NOISY GIRL

NOISY GIRL
DUNIA IPANG


__ADS_3

Ardi pulang ke rumah, dan bingung saat melihat mobil Ipang berada di depan gerbang kediamannya. Berhubung di luar masih hujan, Ardi mengambil hp, kemudian menghubungi temannya itu.


 


 


Ardi dapat melihat pergerakan pemuda di hadapannya yang tampak mendekatkan ponsel ke telinga, setelah itu suaranya pun terdengar jelas di hpnya.


 


 


"Gue nginep di rumah lo, ya. Percuma balik, nggak ada orang juga." Ipang berucap dengan pandangan lurus ke depan, menatap mobil di hadapannya yang tampak gelap.


 


 


"Yaudah," ucap Ardi, kemudian menekan klakson agar pak satpam di rumahnya itu membukakan gerbang.


 


 


"Kenapa lo? Tumben." Ardi bertanya saat keduanya sudah keluar dari mobil dan membuka pintu rumah.


 


 


Ipang seperti akan menjawab, namun berpapasan dengan Justin membuat pemuda itu memilih untuk diam, kemudian menyapa abang temannya itu dengan anggukan.


 


 


Pemuda itu melihat Justin memberikan map yang entah berisi apa pada Ardi, dan anehnya juga tanpa berkata-apa-apa, membuat Ipang jadi canggung berada di antara mereka, dua orang cuek di pertemukan ternyata sedingin ini, dulu Bu Marlina ngidam kulkas dua pintu dia rasa.


 


 


"Ipang mau numpang tidur di sini, Bang." Ardi berucap setelah menerima map dan sedikit memperhatikannya.


 


 


Justin melirik pada teman adiknya yang reflek tersenyum, pria itu mengangguk saja kemudian melangkah pergi.


 


 


"Gila, abang lo auranya bikin gue geter kaya hp jadul," ucap Ipang saat mereka sudah masuk ke kamar temannya.


 


 


Ardi membuka laci, menaruh map di dalamnya kemudian menutup lagi, menoleh pada Ipang dengan tertawa. "Biasa aja si, dia mah emang gitu jan diambil hati," ucapnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah melepas jaket dan menyangkutkannya di balik pintu.


 


 


Ipang ikut merebahkan diri, tatapannya menerawang, "Tadi map apaan?" Tanyaya penasaran.


 


 


Ardi melipat sebelah tangannya untuk dijadikan bantal agar lebih tinggi, kemudian menjawab, "paspor."


 


 


Hening, Ipang ikut melipat lengannya di belakang kepala, "beneran ya, kirain gue prank doang."


 


 


Ardi terkekeh pelan, "kurang kerjaan," ucapnya.


 


 


"Gimana lo sama Karin?" Tanya Ipang tanpa menoleh.


 


 


"Kendala gue mah cuman papinya doang sama belom cukup umur, masalah perasaan nggak diragukan," ucap Ardi kemudian menoleh. "Lo sendiri gimana sama Heny, diterima nggak?" Tanyanya, dia tau Ipang kembali mengutarakan perasaannya saat mengantarkan gadis itu.


 


 


Ipang menghela napas, "ditolak," ucapnya lemah.


 


 


Ardi meninju lengan temannya main-main, "Yaudah lah ya, cari mangsa baru. Lagian lo juga si, kalo niat serius sama dia mah nggak usah deketin yang lain juga."


 


 


"Gue deketin yang lain cuman pengen liat reaksi dia cemburu apa nggak."


 


 


"Ya nggak gitu caranya. Cewek kalo udah sayang, lo lebih perhatian sama game online di hp lo juga, dia cemburu, nggak harus deketin orang lain juga, yang ada dia mundur."


 


 


Ipang tertegun, perkataan temannya itu memang ada benarnya, alasan gadis itu menolaknya pun mungkin karena takut akan berujung patah hati. "lo tau kan, Ar, cinta pertama seorang anak laki-laki itu adalah ibunya, dan saat ibu gue menghianati bokap gue, sama aja dia udah hianatin gue juga, lo nggak akan tau gimana rasanya."


 


 


Ardi tertawa pelan, amat pelan hingga terdengar miris, bertahun-tahun dia berteman dengan Ipang tapi baru kali ini pemuda itu mau membagi kisahnya. Dulu dia pikir, temannya yang kocak itu adalah satu-satunya orang yang tidak punya masalah dalam hidupnya, sering tertawa membuat dia terlihat bahagia.


 


 


"Tapi lo beruntung, Pang. Bokap lo masih peduli, tajir pula, cuman kurang kasih sayang doang hidup lo. Itu mah gampang, banyak duit mah banyak yang nyayang, lo liat aja ntar," ucap Ardi menenangkan.


 


 

__ADS_1


"Iya, sayang sama isi dompet gue," balas Ipang tersenyum miris. "Buat gue dulu cewek tuh kaya baju, lo tertarik, beli. Kalo suka, koleksi. Masih sayang, simpen. Lo butuh, pake, udah bosen, buang."


 


 


"Sialaan\, bangs*t teori lo\, set*n. Astagfirullah." Ardi jadi mengumpat\, namun tertawa juga. Menendang kaki temannya itu hingga nyaris terjungkal dari ranjang. "Sana lo jauh-jauh\," usirnya.


 


 


Ipang yang nyaris terjatuh langsung melompat bangkit, mengambil bantal dan melemparkan pada sahabatnya. "Itu kan dulu yaelah," keluh pemuda itu, kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Setelah gue kenal Heny, gue ngerasa dia itu beda."


 


 


"Bedanya?"


 


 


"Ya beda aja, gue tuh ngerasa kaya masuk distro, nemu baju yang gue suka, blom dimilikin orang tapi gue nggak bisa bawa pulang, berapapun gue coba nawarin harga."


 


 


"Kan selama ini lo udah sering ditolak."


 


 


"Tapi dia doang yang bikin gue penasaran."


 


 


"Jadi cuman penasaran doang nih?"


 


 


Ipang berdecak, melengos kesal. "Gue tuh aneh aja sama dia, dia nolak perasaan gue, tapi nggak nolak pas gue deketin, bahkan...." Ipang menoleh pada pemuda di sebelahnya.


 


 


Ardi mengangkat alis, gestur bertanya tanpa mengucapkan kaliamat, dalam hati dia mulai curiga.


 


 


"Dia mau aja pas gue cium," lanjut Ipang, dari raut wajahnya yang tanpa ekspresi. Pemuda itu terlihat bingung sekali.


 


 


Ardi mengarahkan tatapannya pada langit-langit kamar, "intinya dia suka sama lo, cuman mungkin sifat lo yang sering gonta-ganti pasangan bikin dia takut jadi mantan kesekian," ucapnya.


 


 


Ipang tertawa pelan, "dia pasti bakalan jadi mantan kesekian, karena jodoh buat gue selalu diatur sama bokap gue sendiri, gue jadi takut buat menentukan pilihan, gue takut dikasih pilihan yang dua-duanya sulit buat gue pilih," ucapnya, kemudian menoleh.


 


 


 


 


"Sering, setiap dia dapet undangan jamuan dari rekan bisnisnya, dia selalu bawa gue, padahal nggak ada yang bisa dibanggain dari diri gue," curhat Ipang, tertawa miris. "Kadang gue suka kasian, disaat temen-temennya itu membanggakan putra putrinya, dia cuman bisa ikut ketawa, hebatnya sebagai seorang ayah, selain nyuruh gue buat nurut, dia nggak pernah nuntut apa-apa."


 


 


Ardi terdiam. Dia jadi ingat dengan ayahnya sendiri."Mungkin bokap lo cuman mau ngenalin lo yang sebagai penerus perusahaan dia, terlepas dari itu, bokap lo sayang banget,Pang, sama lo."


 


 


"Gue juga sayang banget sama dia, cuman, susah buat gue ngungkappinnya."


 


 


***


 


 


Pagi-pagi sekali, Ipang sudah bersiap untuk pulang, meski di luar hujan masih tampak deras.


 


 


"Nak Irfan sarapan dulu, baru pulang," ucap Marlina saat mengambil baju kotor milik putranya dari dalam keranjang cucian.


 


 


"Nggak apa-apa, Bu. Aku pulang aja," tolaknya, kemudian menoleh pada Ardi untuk mengantarkannya sampai garasi.


 


 


Saat berpapasan dengan Justin yang baru keluar dari kamarnya dengan membawa gelas kosong, pemuda itu mengangguk sopan.


 


 


"Mau kemana?" Tanya Justin yang sedikit membuat seorang Ipang terkejut, pasalnya jarang sekali pemuda itu mendengar abang temannya bersuara. Dan saat Ardi yang menjawab temannya itu akan pulang, Justin berucap lagi. "Di luar hujan, kemungkinan banjir di mana-mana, kamu nggak bakal bisa lewat, tunggu aja," ucapnya, kemudian melangkah pergi.


 


 


Ipang  mengerjap bingung pandangannya terus mengikuti arah pria itu melangkah, "maksudnya apaan dah?" Tanyanya pada Ardi yang berdiri diam saja.


 


 


"Maksudnya lo nggak boleh pulang, ayo masuk aja." Ardi yang menjelaskan perkataan abangnya kemudian menarik jaket yang dikenakan temannya itu dan membawanya ke ruang makan untuk sarapan.

__ADS_1


 


 


Benar saja, melalui kabar berita online Ipang tau bahwa beberapa titik ruas jalan yang akan dia lalui memang terrendam air, dan dia tidak bisa pulang, beruntung dia sudah mengabari sang papa tentang keberadaannya yang baik-baik saja di rumah teman. Saking tidak percaya, dirinya sampai dimintai alamat rumah sahabatnya.


 


 


Ardi beranjak berdiri saat bel rumahnya berbunyi, Ipang yang tengah sarapan pun ikut beranjak.


 


 


"Kayaknya bokap gue dah," tebak Ipang. Kemudian keduanya melangkah ke arah pintu.


 


 


"Papa ngapain si pake jemput segala, kaya anak kecil aja," ucap Ipang saat mendapati sang papa berdiri di depan pintu, pemuda itu menoleh pada mobil khusus yang dikendarai oleh papanya.


 


 


"Papa takut kamu nggak bisa pulang. Makanya papa jemput," ucap pria paruh baya itu yang tampak khawatir pada putranya.


 


 


"Masuk dulu, Om, di luar dingin." Ardi menyuruh Ipang untuk mengajak papanya itu duduk di sofa ruang tamu. Pria itu pun menurutinya.


 


 


Justin yang tampak penasaran dengan siapa yang datang kemudian ikut beranjak ke ruang tamu.


 


 


"Pak Justin? Anda di sini?" Sapa papa Ipang reflek berdiri.


 


 


"Pak Azis, apa kabar?" Tanya Justin ramah, dan hal itu membuat Ipang menoleh takjub, abang temannya itu ternyata bisa bersikap hangat.


 


 


"Baik. Anda kenapa ada di sini?"


 


 


"Ini rumah Ibu saya," jawab Justin, kemudian menyuruh pria di hadapannya itu untuk duduk.


 


 


Azis tertawa, menoleh pada Ardi teman putranya, pantas saja saat dia melihat pemuda itu dia merasa mengingat seseorang, mereka sangat mirip.


 


 


Justin meminta waktu sebentar pada papa Ipang untuk membahas sesuatu, sepertinya berhubungan dengan Hendrik, karena nama pria itu sempat dibawa-bawa.


 


 


Ardi menoleh pada Ipang yang juga masih berdiri, mengajak temannya itu untuk tidak ikut campur dengan obrolan keduanya yang mereka tidak mengerti. Sekalian menyuruh asisten sang ibu untuk membuatkan dua cangkir kopi, sesuai permintaan abangnya.


 


 


Ardi menutup pintu setelah mengantarkan  Ipang  ke depan untuk pulang bersama papanya, satu mobilnya dia titipkan di rumah ini.


 


 


Justin merangkul pundak sang adik, "setelah nanti pertemuan kami dengan Hendrik saat dia pulang dari luar Negri, urusan selesai," ucapnya tidak jelas, tentu saja Ardi tidak mengerti.


 


 


"Maksudnya?"


 


 


Justin menurunkan lengannya, tersenyum senang. "Hendrik tidak punya pilihan lain selain setuju dengan syarat yang kita ajukan," ucapnya. "Karin pasti kembali ke rumah ini."


 


 


Ardi ikut tersenyum, dan tepukan di pundaknya membuat pemuda itu menoleh pada sang abang.


 


 


"Pejuang Ldr, semangat ya," sindir Justin kemudian melangkah pergi.


 


 


Sialan. Ardi mengumpat dalam hati, kemudian menyusul sang abang dan melangkah mundur di hadapannya. "Dan satu hari jadi sales bapperware ibu, semangat ya."


 


 


Belum sempat abangnya itu memberikan tendangan di kakinya, Ardi sudah kabur lebih dulu.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2