
Hari minggu, pagi-pagi sekali Karin sudah sampai di depan rumah Ardi, rumah yang dulu bertahun-tahun pernah dia tinggali.
Berhubung pintu depan sudah terbuka, karena bibi asisten rumah tangga sudah pergi ke pasar, gadis itu nyelonong masuk saja.
"Selamat pagi Jino." Karin menyapa bocah kecil yang duduk di sofa ruang keluarga, anak yang tengah menonton film kartun itu lalu menoleh, kemudian melengos.
"Aku Nino tau, Tan," ralatnya dengan masih fokus ke layar televisi.
Karin tertawa pelan, kemudian duduk di sebelah si kembar yang mengaku bernama Nino, "maaf deh, abis gantengnya sama," ucapnya menggoda, sedikit memiringkan kepala demi melihat wajah bocah di sebelahnya.
"Gantengan aku lah." Nino berucap sembari melirik sang Tante.
Karin mengacak rambut kepala anak di hadapannya, "iya deh, gantengan kamu," ralatnya.
Nino menoleh sekilas kemudian tersenyum, bersamaan dengan itu sang adik yang muncul dari dapur berlari dan langsung melompat ke pangkuan Karin.
"Tante, Jino kangen," teriaknya.
Karin yang reflek menegakkan duduknya karena salah satu dari si kembar melompat memeluknya itu kemudian tertawa. "Aku juga kangen sama Jinjin," balasnya.
Gadis itu tidak pernah tau bahwa ada yang merasa cemburu akan kedekatan keduanya.
Nino melengos kesal, adiknya selalu unggul dalam beberapa hal, termasuk mengambil hati orang-orang di sekitar.
Cih, Jinjin, dia doang dapet panggilan sayang. Aku mana pernah, pikirnya, lagi juga jikapun ada mau dipanggil apa?
Terus menggerutu dalam hati, bersidekap dengan sebal, bersamaan dengan itu, sang mami yang membawa segelas susu dan berjalan menghampirinya membuat dirinya semakin kesal saja.
"Susu lagi, aku kan bilang, aku nggak suka." Nino yang tiba-tiba mengomel membuat mereka jadi menoleh.
Anak itu merasa tidak enak dengan omelannya sendiri, kemudian menatap sang mami yang masih berdiri. "Maaf, Mi," ucapnya hati-hati.
Nena meletakkan segelas susu di tangannya ke atas meja, duduk di sebelah putranya, "mami bikinin susu buat Jino, kok, mami tau kamu nggak suka susu, jadi pagi ini mami nggak bikinin, maaf ya kalo selama ini mami suka maksa," ucapnya hati-hati.
Nino tertegun, menoleh pada sang mami dengan tatapan bingung. Selama ini dia selalu menolak, mengomel bahkan marah-marah saat wanita itu membuatkan segelas susu.
Tapi saat sekarang maminya bisa mengerti dan menuruti keinginannya, dia malah merasa sang mami mulai berubah, parahnya, dia merasa diperlakukan berbeda. Dan entah kenapa rasanya amat menyedihkan.
"Tante Karin mau lari pagi ya? Jino ikut, dong." Jino yang sudah turun dari pangkuan sang tante kemudian berucap.
Karin mengangguk, "boleh, tapi ganti baju dulu."
"Ayo Jino, mami bantu ganti baju," ajak Nena, kemudian berlalu dengan menggandeng putranya.
Karin memiringkan kepala, menatap wajah tampan Nino yang sedikit berubah, gadis itu menepuk kepalanya. "Kalo kamu mau, minum aja, mami kamu nggak akan marah, malah pasti seneng," ucapnya setelah menunjuk gelas susu di atas meja. Gadis itu kemudian ikut beranjak pergi.
Nino melirik ke arah tantenya itu melangkah. Namun kembali menolehkan pandangan pada segelas susu di hadapannya, perlahan anak itu meraih gelas susu dan meminumnya.
Di tempat lain, Karin dan Nena yang tampak bersembunyi kemudian tertawa tanpa suara. Rencananya berhasil, menghadapi seorang Nino Nakula memang harus dengan rencana.
__ADS_1
"Pinter kamu, Rin," puji Nena, memancing rasa cemburu agar Nino mau minum susu adalah rencana gadis itu.
"Aku mau bangunin Bang Ar nih, Mbak," ucap Karin, "boleh nggak aku masuk kamar abang?" Tanyanya.
Nena berpikir sejenak, "Yaudah sana, tapi jangan macem-macem," pesannya.
Karin tertawa pelan, "diusahakan, Mbak Nena," ucapnya kemudian berlari pergi ke kamar sang abang.
"Selamat pagi." Karin menyapa pemuda itu yang membuka mata dengan paksa.
Bagaimana tidak, dipencet hidungnya membuat Ardi kehabisan napas, dan mau tidak mau terjaga dengan sedikit terkejut. "Kamu ih," omelnya, mengusap wajah kemudian tersenyum, namun terpejam lagi.
"Abaaang, ayo katanya mau joging," protes Karin kembali mencubit hidung pemuda itu dengan kesal.
Ardi yang kembali membuka mata kemudian menangkap gadis itu dan menariknya ke dalam pelukannya.
Karin tertawa saat sang abang mengurung dirinya dengan kedua lengan, gadis itu meronta dan berusaha melepaskan diri.
"Lepasin, Bang, ntar diomelin Mbak Nena." Karin berusaha menjauhkan tubuh sang abang yang terus memeluknya.
"Hmm." Ardi hanya bergumam sebagai tanggapan, kembali mengeratkan pelukannya.
Karin berhenti meronta, membiarkan saja pemuda itu berbuat semaunya. "Jadi nggak jogingnya?" Tanya gadis itu.
Ardi menoleh ke jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi. "Entar aja," ucapnya.
Ardi mengangkat kepala, menopangnya dengan sebelah tangan dan menghadap gadis itu yang berbaring di hadapannya. "Mau apa emang?" Tawarnya.
Karin menipiskan bibir, kemudian berpikir, "coklat dong, sama mawar merah kan biasanya gitu," ucapnya.
Ardi tersenyum, mengarahkan tangan kanannya untuk merapikan anak rambut yang menjuntai di pipi gadis itu, menyelipkan ke belakang telinga. "Gitu doang?" Tantangnya.
Karin mengangguk, "temen-temen ku pada dapet coklat sama mawar merah," ucapnya.
Ardi berdecak, jangan suka ngikutin orang orang lah,"ucapnya, meraih tangan gadis itu dan memainkan jari-jarinya."Valentine itu bukan budaya kita, Dek," imbuhnya.
"Terus budaya kita apa dong?"
"Budaya kita itu ngitungin tanggal lahiran sama usia pernikahan orang jaraknya cuma berapa bulan."
Karin tertawa, "itumah emang tukang gosip," ucapnya, "terus kalo udah ketauan gimana?"
"Ya kalo ternyata antara lahiran sama pernikahan jaraknya nggak sesuai usia kandungannya berarti udah nabung duluan," tutur Ardi yang mendapat toyoran di pipi.
"Jauh banget kamu ngelesnya, orang aku cuman minta coklat sama bunga juga." Karin pura-pura merajuk.
Ardi tertawa pelan, membawa jemari di tangannya untuk ia tempelkan ke pipinya sendiri. "Mau cokelat sama mawar merah atau mahar nikah?" Godanya.
__ADS_1
Karin tertawa lagi, "bisaan ngelesnya," ucapnya salah tingkah. Sesaat keduanya terdiam.
Gadis itu menatap sang abang yang berbaring menopang kepala menghadapnya, dia tersenyum. "Kenapa sih, ngeliatnya gitu banget," Tanyanya.
Ardi balas tersenyum, "suatu saat nanti aku bakal menghabiskan masa tua sama kamu," ucapnya tiba-tiba.
"Hn?" Karin mengerutkan dahi.
"Aku berubah jadi bapak-bapak yang setiap pagi duduk di bangku teras depan, pake sarung, terus nyiramin jalanan pake air got di depan rumah," ucap Ardi puitis.
Bukannya terharu Karin malah tertawa, gadis itu memukul pelan lengan pemuda itu saking gelinya." Terus aku ngapain, Bang?"
"Kamu pake daster nyamperin tukang sayur keliling, terus belanja sambil ghibahin tetangga."
Karin kembali tertawa. "Kenapa jelek banget sih cita-citanya ih."
"Sesederhana itu, Dek, bahkan aku berharap Sesederhana apapun, kita tetep sama-sama," ucapnya.
Sesaat Karin terdiam, belum sempat gadis itu melontarkan balasan, pemuda di hadapannya itu mencondongkan kepala dan menyatukan bibir mereka. Dan gadis itu memilih memejamkan mata.
"Om!" Suara pintu terbuka dan teriakan yang datang secara tiba-tiba membuat keduanya kelabakan. Jino berlari dan naik ke atas kasur, menatap om dan tantenya yang sudah menjauh satu sama lain. "Ayo kita lari pagi," ajak bocah itu.
Ardi berdecak, "lari sana yang jauh, jangan balik lagi."
**iklan semi pengumuman\, tolong dibaca ya***
Pertama aku mau ucapin makasih buat kalian yang udah dukung aku dengan poin walau ngumpulinnya aku tau lumayan menguras emosi. 😅
Aku udah berusaha buat kalian juga dengan cara update tiap hari, tapi maaf udah mengecewakan. 😆
Dan aku mau minta maaf mungkin buat kedepannya update akan sedikit agak lama, selama yg aku rasain up tiap hari tuh bener-bener menguras tenaga, belum lagi kerjaan aku jadi banyak yg tertunda.
Jadi mulai hari ini aku update sesempetnya aja ya, aku gak mau maksain diri, aku mau enjoy nulis karena hoby, aku juga pengen punya waktu buat baca-baca karya tetangga, nyapa-nyapa pembaca, nonton drama korea.
Cerita ini pasti aku terusin hanya saja mungkin upnya agak lama, semoga kalian sabar ya, dan masih mau menyisihkan poinnya buat karya aku yang nggak seberapa. 😂😂😂
Khusus buat kalian pecinta Ardi Karin, tetaplah haha hihi walau updatenya lama sekali. 🤣
Aku berharap kalian masih mau menyisihkan poin buat cerita ini, semangat yaa..
AN: kutipan lucu gak sepenuhnya pemikiran aku, ada juga yg terinspirasi dari berbagai sumber. Contohnya cuitan Bang fiersa besari (panutan ku 😂) Makasiih.
__ADS_1