
Ardi duduk bersila menopang dagu di atas kasurnya, di hadapannya, bocah sekolah dasar yang akhir-akhir ini begitu menyebalkan juga tampak melakukan hal yang sama.
Apa-apaan ini? Sejak dirinya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, bocah itu sudah duduk manis di atas kasur pengantinnya, dan yang lebih menjengkelkan lagi, sang istri malah tampak senang-senang saja. Sialaaan.
"Mau ngapain kamu?" Ardi bertanya dengan nada mengancam.
Bocah bernama Nino Nakula itu tersenyum miring. "Aku diutus sama seseorang buat jagain Tante Karin, takut di apa-apain sama Om Ardi," jawabnya tegas, namun mata bulatnya yang mengerjap polos membuat Karin teramat geli, dia tertawa.
Ardi berdecak sebal, bocah sekecil ini siapa yang mengajari? Pikirnya. "Memangnya menurut kamu, Tante Karin mau om apain?" Dia balik bertanya.
Nino menoleh pada Karin, kemudian kembali pada omnya, merasa bingung harus menjawab apa karena dia juga tidak mengerti, bocah itu memilih masuk ke dalam selimut. "Pokoknya aku mau tidur di sini," ucapnya.
Ardi menghela napas, mengusap wajahnya gusar, kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. "Mbaaak, anak loo!" Teriaknya saat nada panggilan sudah tersambung.
"Bang," tegur Karin, belum sempat gadis itu melanjutkan omelannya, sebuah ketukan di pintu membuat mereka menoleh.
Ardi beranjak turun, dia tau siapa yang datang, "masa Nino mau ikut tidur di sini," semprotnya saat membuka pintu dan mendapati sang kakak sudah berdiri di sana.
Bukan marah, Nena malah tertawa, "aku juga nggak tau kenapa dia bisa punya inisiatif nemenin kamu," ucapnya, kemudian melongok ke dalam kamar, "Ayo Nino ikut mami," ajaknya yang mendapat gelengan dari anak itu.
"Yaudah, Mbak Nena. Biarin aja nggak apa-apa," ucap Karin saat berkali-kali sang kakak ipar membujuk putranya itu, namun tetap tidak berhasil.
Nena memberikan tatapan menyesal pada sang adik yang bersandar pada kusen pintu di hadapannya, "semalem doang deh, Ar, besok nggak," ucapnya.
Ardi memejamkan mata, kemudian membukanya dengan sorot nelangsa, "kira-kira lah, Mbak, malem pertama ini," rengeknya dengan lemas.
Nena malah tertawa, "emang dari kemaren-kemaren belom? Kan kalian sering nginep bareng," ledeknya.
"Astagfirullah!" Ardi berucap geram, merasa kesal karena keimanannya diragukan. "Ya enggak lah," imbuhnya.
"Yaudah nanti nungguin dia tidur aja." Nena memberi usul, tertawa kemudian melangkah pergi.
"Mbaaak!" Ardi berteriak kesal, dan tidak dihiaraukan oleh sang kakak, yang sudah kembali ke kamarnya, "inget ya, pembalasan lebih kejam," ancam pria itu.
Ardi menutup pintu, seiring langkahnya menghampiri tempat tidur, tatapannya lekat pada perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya, dia tersenyum.
"Gimana kalo kita buka kado aja, Bang." Karin memberi usul saat suaminya itu sudah naik ke atas kasur dan merebahkan diri di sebelahnya.
Ardi menoleh, "aku maunya buka yang lain," godanya, yang mendapat cubitan di lengan.
Karin menoleh pada Nino yang tampak memperhatikan interaksi keduanya, "Nino mau kan bantuin Tante Karin buka kado?" Tanyanya.
Saat anak itu mengangguk, Karin turun dari kasur dan mengambil setumpuk kado di atas meja, dua kali balik sampai bisa terangkut semua.
"Banyak juga." Ardi ikut nimbrung dengan posisi tengkurap di antara sang istri dan juga keponakannya yang duduk bersila. Pemuda itu merebut kado dari tangan Nino. "Anak kecil nggak boleh ikutan, isinya bukan mainan kamu," ucapnya.
Nino merebut kembali kado dari tangan Ardi, "iya aku juga tau, isinya mainan om sama tante kan, nggak bakalan aku ambil," ucapnya yang membuat Karin tertawa.
Mereka jadi cemas saat bocah itu dengan cekatan membuka sekotak kado dan mengeluarkan isinya, "dasi, Om," ucapnya sembari menunjukkan sejuntai kain bercorak garis-garis di tangannya.
"Aman." Ardi berkomentar, dan Karin jadi tertawa.
"Emangnya kamu tau kadonya pasti nggak aman?" Tanya Karin.
"Liat dulu namanya, kalo dari Ipang jangan dibuka." Ardi berucap sembari mengambil bantal untuk menopang dagunya, kemudian mengambil satu kado untuk ia buka.
"Emang Bang Ipang kasih kado?" Tanya Karin, tangannya membuka kardus dan membentangkan isinya. Ardi tertawa.
"Jangan dipake tante, nanti masuk angin." Nino dengan polosnya berkomentar.
Karin yang reflek merapikan kembali baju tidur berupa lingerie dengan warna merah menyala dan teramat seksi itu jadi cengengesan, "iya, Bang nggak aman," ucapnya.
"Mami juga punya, tapi papi nggak suka," ucap Nino sembari membuka kado selanjutnya.
Ardi menoleh penasaran, bagaimana anak sekecil Nino bisa menyimpulkan hal semacam itu, "tau dari mana papi kamu nggak suka?" Tanyanya.
Nino mendongakkan pandangan dari benda di tangannya, sedikit berpikir, "waktu itu aku liat bajunya robek, terus dijait sama mami, kata mami papi yang rusakin."
Ardi tidak kuasa menahan tawa, dan Karin yang juga ikut tertawa di sebelahnya kemudian berkomentar, "baju aku jangan dirobek juga ya, Bang, sayang loh victoria punya-dari Lisa."
__ADS_1
"Yaudah nggak usah pake baju," jawab Ardi yang mendapat pukulan kotak kado di bahunya.
Nino yang tidak mengerti kemudian mengerutkan dahi, seseorang berkata bahwa omnya mungkin akan menyakiti Tante Karin, tapi yang dia perhatikan sejauh ini, malah omnya sendiri yang sering mendapat penganiayaan dari sang tante, tadi dicubit sekarang dipukul, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan sepertinya.
"Tisu galon, Om," ucap Nino, memamerkan benda yang sering ia temukan di dapurnya, sedikit berbeda tapi mirip.
Ardi beranjak duduk, kemudian merebut benda di tangan bocah itu, "dibilangin kalo tulisannya dari Om Ipang jangan dibuka," ucapnya setelah membaca nama pengirim yang tertera di kertas kado yang terkoyak.
"Kan tulisannya Irfan, bukan Ipang." Nino si bocah pintar ngeles itu mengelak.
Ardi jadi berdecak, "sama aja," omelnya.
Karin merebut benda itu dari tangan sang suami dan membaca tulisannya, "tisu magic, buat galon beneran?"
Ardi jadi tertawa, "nanti aku kasih tau, sekarang masih ada anak di bawah umur, sabar ya sayang."
"Dih, apaan si." Karin jadi geli sendiri, menepis tangan sang suami yang mencubit pipinya.
Mereka melanjutkan membuka kado, sesekali berdebat, memperebutkan isi kado yang dirasa ngaco dan membuat Karin tertawa, kedua laki-laki berbeda usia itu selalu membuatnya geli, terkadang dia sulit membedakan mana yang masih anak-anak dan mana yang sudah dewasa.
Sesaat berpamitan ke kamar mandi, Karin kembali, dan mendapati dua orang yang saling tindih di atas kasur itu tampak tertidur, perempuan itu merapikan bekas kado yang berserakan di lantai.
Suaminya itu sepertinya begitu lelah, bahkan sekotak kado yang belum sempat dibuka masih berada di tangannya, dengan perlahan Karin mengambilnya, dan sedikit terkejut saat pria yang kini telah menjadi suaminya itu membuka mata.
"Eh, maaf, Bang, kamu jadi kebangun."
Ardi meraih pergelangan tangan sang istri, sedikit menariknya hingga mendekat.
"Nanti Nino bangun," ucap Karin dengan meletakkan kedua tangannya pada dada pria itu.
Ardi melirik pada sang keponakan yang tidur dengan kakinya yg dijadikan bantal, perlahan dia menggesernya.
"Mau kemana?" Tanya Karin saat suaminya itu menarik pergelangan tangannya menuju pintu.
"Ikut aku." Ardi mengulas senyum, dan Karin menangkap tatapan pria itu yang tampak berbeda, dia jadi sedikit takut.
Ardi membuka pintu, "Ayo," ajaknya pada sang istri yang malah terdiam di tempatnya.
"Ngapain, ada Jino kan di dalem?"
"Jino mah gampang," ucap Ardi, kemudian melangkah masuk dan Karin pun mengikuti.
Di atas kasur -Jino tampak tertidur, namun Ardi yang tau bahwa anak itu tengah berpura-pura langsung menubruknya dan menggelitik perut bocah itu hingga tertawa. "kalo mau ngibulin matiin dulu hapenya," ucap Ardi, mengambil ponsel di bawah selimut, meski tidak ada suara tapi lampunya tampak menyala.
"Ampun, Om, jangan bilang mami," ucap Jino dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Ardi berdecak, perasaan dulu yang ketergantungan game online itu Nino, kenapa sekarang Jino jadi ikut-ikutan, dan abangnya itu malah jadi kecanduan merecoki kehidupannya.
"Udah malem kamu nggak tidur malah main hape, om bilangin mami nih ya." Ardi mengancam.
"Jangan dong, Om." Jino mencebikkan bibir, dia tidak mau uang jajannya ditahan.
"Kalo gitu ayo kita kerja sama."
Ardi membisikkan sesuatu ke telinga anak itu, dan Jino tampak mengangguk, mengacungkan ibu jarinya kemudian melompat dari ranjang dan berlari ke pintu.
"Apa sih, Bang?" Tanya Karin yang berdiri di belakang suaminya itu.
Ardi menoleh, tertawa pelan, "rahasia," ucapnya.
Sesaat Karin jadi penasaran hingga suaminya yang sudah mendekat dan mendaratkan ciuman di pipi itu, tidak ia sadari pergerakannya. "Abaaang," pekiknya saat pria itu mengangkat tubuhnya dan sedikit membanting ke atas kasur.
Ardi tertawa saat mendapat pukulan di dada dari perempuan yang saat ini berbaring di bawah tubuhnya. "Siap nggak?" Tanyanya.
Karin terdiam, pipinya bersemu merah, jujur dia takut, selain membuang muka dan mengangguk pelan, dia bisa apa.
Perempuan itu sedikit mengernyit saat mendapat sentuhan di pipinya, hal itu membuat Ardi tersenyum, "pelan-pelan aja," ucapnya.
Karin memberanikan diri menatap wajah pria yang belum sampai dua puluh empat jam itu, sah menjadi suaminya, dia menelan ludah, "aku takut," akunya.
__ADS_1
Ardi tersenyum lagi. "Kenapa? Kan kita udah sering ngulang candu, kurang lebih rasanya kaya gitu," ucapnya meyakinkan, melihat perempuan di bawahnya itu begitu pucat dia jadi tidak tega. "Rileks aja, jangan tegang nanti kamu sakit."
Entah kenapa setiap kalimat yang meluncur dari bibir suaminya itu malah semakin membuat Karin merasa gugup, jantungnya berdetak berantakan, bagaimana jika rasanya benar-benar menyakitkan seperti yang banyak diceritakan teman-temannya.
Karin menoleh saat mendapati suaminya bergerak turun dari ranjang, dengan cepat dia beranjak duduk, belum sempat bertanya mau kemana, gerakan mengunci pintu membuat perempuan itu kemudian mengerti.
***
Di tempat berbeda Justin yang baru menyelesaikan pekerjaannya kemudian mendekati sang istri yang tertidur di atas kasur dan memunggunginya.
Pria itu ikut berbaring, memeluknya dari belakang dan mencium pundak sang istri yang terbuka hingga membuat wanita itu kembali terjaga.
"Udah selesai, Mas?" Tanya Nena yang kemudian berbalik menghadap suaminya.
Justin tersenyum, tangannya beranjak merapikan anak rambut yang menutupi sebagian kening wanita itu, dengan perlahan dia mendaratkan ciuman di sana.
Nena beralih membelai pipi Justin, menyelipkan jemarinya pada rambut kepala sang suami saat ciuman itu beralih ke ceruk lehernya.
Belum sempat melanjutkan pergulatan yang setiap malam tidak pernah bosan untuk diulang, ketukan di pintu membuat perhatian keduanya teralihkan.
Justin mendongak, kemudian mengerutkan dahi, "siapa?" Tanyanya yang mendapat gelengan dari sang istri, dengan enggan dia beranjak turun kemudian menghampiri pintu dan membukanya.
"Papi, aku mau tidur di sini," ucap Jino, kemudian berlari masuk dan naik ke atas kasur.
Setelah menutup pintu, Justin mendekat, "Kan kamu punya kamar sendiri," ucapnya dengan bersidekap.
Jino mengangguk. "Kamar aku dipinjem sama Om Ardi, sama Tante Karin juga, soalnya kamar Om Ardi dipake Bang Nino," ucapnya menjelaskan.
Justin memijat pelipisnya yang mulai terasa pening, "Yaudah kamu tidur di kamar om aja sama Bang Nino," usulnya.
"Nggak mau," tolak Jino, kemudian beranjak berdiri dan melompat-lompat di atas kasur, "mami, aku mau tidur di sini sama mami, boleh kan?" Tanyanya.
Nena mengerjap bingung. Kemudian melirik pada sang suami yang tampak frustrasi, namun kembali menoleh pada putranya dan kemudian mengangguk.
Jino melompat lagi, "yeee!" Serunya teramat senang.
Justin menjambak rambut kepalanya sendiri, belum pernah dia merasa sekesal ini, "Ardian sialaaan," umpatnya dengan geram.
***
2400 kata, tolong jangan bilang kependekan. Sekarang aku nggak bikin iklan tapi mau kasih pengumuman hehe.
Adakah diantara kalian yang belum follow aku, coba di cek juga apa ada yang belum kasih bintang lima. Juga tanda faforit berbentuk love di cerita ini. Dengan melakukan itu kalian udah sangat menghargai aku, terimakasih.
Habis baca haha hihi ketawa ketiwi, jangan lupa tinggalin jejak like, juga sempatkan buka kolom komentar, nggak minta banyak kok, cukup ketik next aja aku udah bahagia, nanti aku pasti like.
3.berikan lah poin meski itu cuman 10, ya syukur syukur sih 1000, apalagi sampe 10000, uwwu aku padamu lah.
Aku gak pasang visual mereka karena riviewnya pasti lama, jadi buat yang kangen sama mereka bisa follow ig aku @adeannisa66 nanti di sana rencananya aku taroin foto bisa berupa vidio dan kata-kata. Di follow ya.
5.Ini sih nggak maksa ya, kalo bisa tolong bantu promosiin cerita ini di sosmed kalian, biar makin banyak yg baca.
Makasih, salam haha hihi, luangkan waktu untuk tertawa, biarkan dirimu merasa bahagia.
__ADS_1