
"Brengsek!!" Hendrik melemparkan apa saja yang ada di hadapannya, berkas-berkas yang semula tersusun rapi di atas meja kini berserakan di lantai, membuat asisten pribadi pria itu ketakutan dan tidak berani mendekat.
Merosotnya harga saham yang diakibatkan oleh isyu-isyu yang tidak bisa ia ajukan tuntutan membuat pria itu benar-benar terlihat marah. Belum lagi tanah yang ia incar untuk lahan parkir juga pusat perbelanjaan di sekitar hotelnya ternyata sudah jatuh ke tangan Justin.
"Sialaan, apa sebenarnya yang dia inginkan. Kita sangat membutuhkan lahan itu, jangan sampai jatuh ke tangan orang lain, bisa berantakan semuanya." Hendrik kembali berteriak marah, menggebrak meja yang membuat asistennya itu sedikit terlonjak.
"Perusahaan Adley membeli lahan itu untuk dijual kembali, Pak." Romi, asisten pribadi Hendrik memberanikan diri untuk bersuara.
Hendrik menoleh sinis, "Apah?" Pekiknya tidak percaya.
Romi mengangguk, "Iya, Pak. Sepertinya perusahaan itu sengaja ingin menjatuhkan perusahaan kita," ucapnya, kembali menunduk takut saat bosnya itu memberikan tatapan sinis.
Hendrik yakin ada yang Justin inginkan dengan semua ini, pria itu pasti mengincar sesuatu, pikirnya.
Dan dia langsung menghubungkan masalah ini pada putrinya, pria itu menginginkan Karin kembali ke rumahnya, pasti karena itu.
Pusing memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi, Hendrik mengernyit dengan tangan memegangi perutnya, merasakan sakit yang seperti ditusuk-tusuk itu akhir-akhir ini sering ia alami beberapa kali.
"Sudah waktunya anda cuci darah, Pak," ucap Romi mengingatkan, atasannya itu dan membantu menopang tubuhnya yang limbung.
"Apa Dokter Frans ada di tempat?" Tanya Hendrik setelah menduduki kursinya.
"Sepertinya beliau ke luar Negri, asistennya bilang, dia ada tugas di sana."
Hendrik membuka laci, mengambil setoples kecil berisi obat yang biasa ia konsumsi saat rasa sakit itu mulai kambuh. Dengan sigap Romi mengambilkan gelas berisi air putih di atas meja untuk ia sodorkan pada tuannya.
"Cari tau dia ke mana, dan segera atur jadwal penerbangan saya untuk menemuinya."
Romi mengangguk patuh, "baik, Pak," ucapnya.
***
Ardi menyambut teman-temannya di ruang tamu, menyuruh mereka untuk duduk dulu.
"Sakit apaan lo?" Tanya Edo saat berhadapan dengan Ardi yang masih berdiri.
Ardi tertawa pelan, "biasa," ucapnya, kemudian melangkah ke dalam untuk memberitahu asisten rumahtangganya agar menyiapkan minum. Dan kembali lagi dengan sang ibu yang mengikuti di belakangnya.
Kedatangan Marlina membuat teman-teman putranya serempak berdiri, merasa sungkan. Kemudian mengantri untuk menyalami wanita yang adalah ibu Ardi, yang meskipun sudah berumur tapi masih terlihat aura kecantikkannya.
Nadia sudah pernah datang bersama Edo beberapa hari yang lalu saat pacarnya itu ada urusan. Jadi dia tidak perlu memperkenalkan diri, juga Ipang dan Agung yang memang sering berkunjung ke rumah ini, mereka hanya bersalaman kemudian kembali duduk lagi.
"Saya Mita, Tante." Gadis cantik berrambut panjang itu memperkenalkan dirinya.
"Panggil ibu aja," ucap Marlina ramah. Mengusap lengan gadis di hadapannya dengan tangan kiri.
"Iya, anggep aja ibu mertua ya, Bu," celetuk Lisa yang mendapat sikutan dari Heny yang berdiri di sebelahnya, kedua gadis itu ikut memperkenalkan diri. Dan Marlina menanggapinya dengan tertawa pelan.
Lisa menarik Mita yang hendak beranjak, "ini loh, Bu, salah satu mantannya Ardi, batal calon mantu ibu, cantik kan," adunya yang mendapat tabokan di lengan dari gadis bernama Selomita.
"Apaain si lo, Lis, pake bilang cantik segala, malu-maluin gue aja deh," omel Mita setengah berbisik dan masih bisa didengar teman-temannya yang mulai tertawa.
Lisa mengusap lengannya yang sedikit kebas, "apaan si, orang gue bilang ibunya yang cantik, ngapa lo yang sewot dah."
Marlina kembali tertawa, "terus yang kemaren nyiram anak ibu pake jus siapa?" Tanyanya setengah bercanda.
"Nah ini dia bu, pelakunya," ucap teman-temannya nyaris serempak, tak terkecuali Heny yang biasanya kalem-kalem saja, membuat gadis bernama Mita jadi mengerjap gugup, sedikit takut.
Mita tersenyum canggung, melirik Ardi yang masih berdiri melipat lengan di dada dan tampak menahan senyum di sebelah ibunya. "I, itu–,"
Marlina kembali mengusap lengan gadis di hadapannya, "udah nggak apa-apa, anak ibu emang kadang suka ngeselin," ucapnya menenangkan. "Yaudah terusin aja acaranya, ibu ke dalem dulu ya," imbuhnya kemudian beranjak pergi setelah menepuk lengan putranya pelan.
Setelah beberapa saat mengobrol basa-basi di ruang tamu, Ardi menggiring teman-temannya itu ke samping rumahnya yang merupakan sebuah taman, ada bangku-bangku dengan satu meja bundar di tengahnya, dan alat memanggang terletak tidak jauh dari sana.
"Nah, berhubung si tuan rumah lagi sakit, jadi gue bawa koki andalan gue nih buat bantu manggang," ucap Nadia, memperkenalkan dua asisten di restoran ibunya yang baru datang. Ardi pun mengundang satpam juga tukang kebun abangnya untuk memberikan bantuan.
"Jadi kita santai-santai aja nih," ucap Ipang, kemudian menduduki kursi di hadapannya.
"Bisa dibilang gitu sih, soalnya kan kita ke sini niatnya mau jengukin si Ardi." Edo ikut menanggapi.
Di antara teman-temannya yang mengobrol, Lisa juga mulai mengajak pemuda disebelahnya berbicara. "Rumah lo mewah juga ya, Ar, mana adem banget lagi. Betah nih gue lama-lama," pujinya.
Ardi tertawa pelan, "dulu rumah gue biasa aja, abang gue yang renovasi, jadilah kaya gini," ucapnya yang membuat gis itu mengangguk-anggun, dan terlihat takjub.
"Mau game?" Tawar Agung pada teman-temannya.
"Game mulu, bosen, mendingan kita nyanyi aja." Heny memberi usul.
"Nah bener tuh, lo bukannya punya gitar ya, Ar?" Setelah sibuk dengan ponselnya, Ipang kembali bersuara.
Ardi bangkit dari kursi yang ia duduki, "yaudah gue ambil dulu," ucapnya, kemudian beranjak pergi, dan setelah kembali teman-temannya yang tidak lagi lengkap membuat pemuda itu bertanya.
"Nadia sama Mita ke mana?" Ardi menduduki kursi di sebelah Ipang.
"Mereka beli cemilan katanya." Edo memberi jawaban.
__ADS_1
"Kan udah ada."
"Kurang kali," Heny ikut menanggapi. "Ayo dong mulai nyanyinya, gue belum pernah liat lo main gitar tau," imbuhnya mengalihkan perhatian.
Ardi menyerahkan gitar di tangannya pada mereka, tapi tidak ada yang mau menerima dengan alasan tidak terlalu bisa, akhirnya pemuda itu yang akan memulai nyanyian pertama. "Mau lagu apa nih?" Tanyanya.
"Lagu barat dong." Heny memberi masukan.
"Janganlah gue kurang suka, mendingan dangdutan aja ya nggak." Lisa ikutan memberi usul.
"Lagu yang lagi hits aja, kau tercipta bukan untukku." Agung yang baru ikut bersuara malah mendapat surakan.
"Jan yang ngenes-ngenes napa lagunya." Ipang berucap di sela tawa.
"Gue nggak terlalu hapal, kalo liriknya loncat-loncat nggak papa ya." Ardi mulai mencari posisi yang nyaman dengan mendekap benda di tangannya, perlahan mulai memetik benda itu hingga mengalun sebuah nada.
"Kan ku bawa wajahmu, kan kubawa namamu, ku ingin tidur dan bermimpi malam ini." Agung memulai bait pertama, suaranya yang sedikit ngebas cukup terdengar bagus di telinga mereka, Ardi hanya tertawa tanpa suara, melanjutkan petikkannya.
"Aasik!!" Lisa yang berperan menjadi penyanyi latar malah tampak lebih heboh dari vocalisnya.
Di bagian reff Ardi ikut bernyanyi, entah kenapa, dia jadi teringat pada Karin. "Jangankan untuk bertemu, memandang pun saja sudah tak boleh, apalagi menyanyi bersama bagai hari lalu."
"Kan ku simpan wajahmu."
"Aaasik!"
"Kan ku ukir namamu." Ardi melantunkan lagu dengan diselingi tawa, tidak kuat dengan aksi gila teman-temannya. Lisa yang mulai berjoget dihadapkan dengan Ipang yang memegang lembaran seratus ribuan di tangannya.
"***** gue disawer." Lisa yang merebut uang di tangan Ipang kemudian tertawa.
"Tarik Bang Ipaaang." Edo memberi semangat. Beberapa asisten mereka yang bertugas memanggang daging ikut cekikikan menggelengkan kepala. Heny yang memang menjunjung tinggi gengsi dan harga diri hanya ikut bernyanyi, duduk di antara vocalis Agung dan gitaris abal-abalnya.
Agung kembali melanjutkan lagunya. "Di sana kau berdua, di sini aku yang sendiri, di sana engkau tersenyum–"
"DI SINI AKU BODOOO AMAAAT!!" Sambung teman-temannya yang lain dengan lirik ngaco, Agung jadi kesal sendiri dan menendang kaki Edo yang ikut berjoget gila memberikan saweran, jika ada Nadia pemuda itu mana berani senyeleneh ini.
Lagu yang terdengar acak-acakan itu diakhiri dengan Ipang yang kembali merebut uang yang sudah berada di tangan Lisa.
"Itu udah jadi hak milik gue anjiir." Lisa yang protes menjambak rambut Ipang hingga mengduh. Pemuda itu dengan tertawa memberikan kembali uang itu pada temannya.
"Sini gantian gue mau nyanyi." Ipang merebut gitar dari tangan Ardi, duduk di hadapan Heny. "Lagu ini gue persembahkan buat gebetan gue yang udah nolak gue lima kali."
"Nggak tau gue nggak inget." Heny menjawab dengan jutek.
Ipang memulai petikan gitar, kemudian lagu dari Anji berjudul Dia mulai ia lantunkan. "Oh Tuhaan, kucinta dia, sayang dia, rindu dia, dianya enggak."
"Yhaaaa!" Ardi dan Agung memberikan surakan paling keras pada temannya itu.
"Njiir jan ngegas napa," omel Ipang, kemudian mengganti lagu dengan sesuka hati. Kali ini lagu hits berjudul satu hati sampai mati kembali membuat Heny tertawa di hadapannya.
"Demi cintamu rela ku berpisah, meski sekian lama kita takan bersua, pergi lah kasih, usah risaukan ku yang menanti."
Pada bagian itu, Ardi tertegun, dia kembali ingat pada gadis berisik yang akhir-akhir ini sering ia rindukan, rencana abangnya sudah jauh berjalan, dan sebentar lagi Karin pasti bisa kembali, dan beberapa hari terhitung dengan saat ini, dia harus pergi.
"Hanyalah dirimu kasih satu yang ku sayang, takkan tergantikan, smoga kau dan aku satu hati sampai mati, setia tak terganti."
"Cieeee!" Lisa bersurak meledek, Heny jdi keki sendiri.
"Yaelah, Pang, lagu lo satu hati sampe mati." Agung menyindir.
Heny yang tersenyum acuh kemudian menambahkan. "Tau, tuh, padahal list chat di wa nya aja kaya daftar absen anak kebidanan, isinya cewek semua."
"Yhaaa, modus lo kebaca, Pang." Edo ikut meledek.
"Mana ada sih, Bep. List chat aku dari kamu doang."
"Dih, kapan gue chat lo?"
"Yaelaah, isi bensin, Pang. Gaaass."
Ardi hanya ikut tertawa, dia tidak mengerti dengan kisah Ipang dan Heny, mereka beneran ada rasa nggak si, Ipang yang gencar menggoda gadis itu nyatanya sudah berkali-kali ganti pasangan. Sedangkan Heny yang selalu terlihat salah tingkah itu malah berkali-kali menolak temannya.
"Ar, waktu hari apa ya, gue liat lo masuk ke ruangannya Pak Budi, lo mau ngapain?" Tany Heny mengalihkan perhatian dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi entah kenapa yang ditanya malah terlihat gugup, gadis itu mengangkat alis, berubah jadi penasaran.
Ardi berdehem, melirik pada teman-temannya sekilas yang tampak sibuk masing-masing, berharap mereka tidak ada yang menyimak obrolan berikutnya. "Gue mau pindah kuliah."
Dan tiba-tiba hening, Ipang yang semula sibuk menyetel senar gitar di pangkuannya itu jadi menoleh. Edo dan Agung yang sempat mengobrol entah apa juga ikut menoleh.
"Gimana-gimana?" Lisa yang semula sibuk mengolok Heny, tampak tidak percaya.
"Iya, gue mau pindah kuliah," jawab Ardi sekali lagi, keheningan yang ditimbulkan setelahnya membuat pemuda itu jadi canggung. Beberapa asisten yang masih sibuk memanggang tampak ikut bingung dengan situasi yang berubah serius.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya Ipang akhirnya.
Ardi menyebutkan nama tempat di luar Negri yang direkomendasikan oleh abangnya, dan saat Edo bertanya kapan, pemuda itu kembali menjawab. "Semuanya udah gue urus, tinggal nunggu waktu yang tepat aja buat berangkat."
"Oh," ucap Ipang lirih, "jan lama-lama lo di sana, ntar si Karin gue culik ditikungan," ancamnya.
Ardi jadi tertawa, "boleh aja kalo dianya mau lo bonceng," balasnya.
"Gampang itu mah, bapaknya aja udah setuju sama gue."
Ardi tertawa lagi. Kemudian kembali hening, mereka tampak larut dengan pikiran masing-masing, ada kalimat yang mungkin belum bisa terungkap, juga kenangan yang mungkin belum sempat diulang.
"Mbaak ini tolong ngiris bawang nya jangan banyak-banyak, mata aku perih," Teriak Lisa, menoleh pada asisten yang Nadia bawa di belakangnya yang tampak kebingungan, pasalnya saat ini, mereka sedang tidak mengeksekusi bawang.
Bersamaan dengan Heny yng menyikut lengan Lisa, sahabatnya yang berubah melo itu, suara petikan gitar dari Ipang membuat mereka menoleh.
"Datang akan pergi, lewat kan berlalu, ada kan tiada bertemu akan berpisah." Ipang mulai menyanyikan lagu berjudul sampai jumpa yang saat kelulusan Sma dulu mereka juga menyanyiknnya berrami-ramai satu kelas. Ardi mengulas senyum, kenangan tertawa bersama teman buayanya itu berputar-putar di kepala.
"Awal kan berakhir, terbit kan tenggelam, pasang akan surut, bertemu akan berpisah," lagu kembali disambung oleh Heny dan Lisa secara bersamaan, mereka berdua juga Mita dan Nadia mungkin bukan teman sekolah Ardi, tapi kedekatannya selama ini tidak bisa pemuda itu pungkiri, suatu saat dia pasti merindukan celotehan mereka.
" Hey! Sampai jumpa di lain hari, untuk kita bertemu lagi, kurelakan dirimu pergi." Edo ikut-ikutan menyumbang lagu, Ardi semakin terharu, meskipun mereka sering berseteru, tetapi Edo yang paling dekat jarak rumahnya membuat mereka lebih sering bersama.
Dan bait terakhir disambung oleh Agung yang meletakkan tangannya di pundak Ardi."Meskipun, ku tak siap untuk merindu, ku tak siap tanpa dirimu, kuharap terbaik untukmu." Agung tersenyum kecut, sahabatnya yang paling bijaksana itu Ardi belum tentu bisa menemukannya di manapun.
Ardi mengusap wajahnya dengan kedu telapak tangan, "njiiir jangan gini lah, gue jadi berat," keluhnya yang kemudian mendapat rangkulan dari sahabatnya di kiri kanan.
Dan keharuan itu dirusak dengan omelan Heny pada Ipang yang bisa-bisanya mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Jangan peluk-peluk gue,
Ipang jelek." Heny mendorong pemuda yang memeluknya itu untuk menjauh.
"Bilang aja lo suka, kalo gue yang pergi lo sesedih ini nggak?"
"Bahagia gue, seneng lahir batin kalo lo yang minggat."
"Jahatnyaa Heny."
Suasana kembali mencair, Edo yang menyadari kembalinya Nadia dengan mobilnya yang tetparkir agak jauh dari mereka kemudian bertanya. "Karin tau lo mau pergi Ar."
Ardi terdiam sesaat, "gue bingung gimana cara ngomongnya."
"Jadi Karin belum tau hal ini?" Tanya Agung.
Ardi menggeleng, "nanti kalo waktunya udah tepat, gue pasti ngomong kok, tapi bukan sekarang, gue–"
"Bang Ar!!"
Panggilan itu membuat Ardi sedikit terlonjak, menegakkan tubuhnya kemudian menoleh. Karin yang berlari dengan Mita dan Nadia di belakangnya itu sontak membuat pemuda itu beranjak berdiri.
"Bng Ar Karin kangen!" Pekik gadis itu memeluk tubuh abangnya spontan, dan pemuda itu tampak mengernyit sakit. "Eh, masih sakit ya?"
"Lo, kok bisa ada di sini?" Tanya Ardi mengalihkan perhatian, pasalnya teman-temannya tidak tau sakitnya karena apa.
Karin menoleh pada Mita dan Nadia, yang kemudian mengcungkn dua jarinya, tersenyum bangga bisa membawa pujaan hati sang mantan ke tempat ini. Kurang apa coba.
"Untung bokapnya tadi lagi nggak ada," ucap Nadia, yang menerima sodoran air mineral dari Edo.
"Emang bokapnya galak banget ya? Tapi maminya tadi baik banget deh." Mita ikut menanggapi.
Heny dan Lisa tampak mengangkat bahu, Mita jadi curiga kenapa teman-temannya ini berubah kalem, namun hal itu teralihkan oleh ucapan Karin.
"Makasih ya, Mbak Mita, Mbak Nadia." Gadis itu tersenyum senang, kemudian kembali menoleh pada pemuda di hadapannya. "Abang kangen nggak sih sama Karin? Kok diem aja."
Ardi tertawa, mencubit pipi gadis itu pelan, "banget, Dek. Cuman lo yang gue tunggu, yang lain ganggu."
"Sialaan?!"
Ardi reflek menghindar saat lemparan botol kosong nyaris mengenai tubuhnya. Pemuda yang nyaris mendapat amukan masa itu terselamatkan dengan kedatangan asisten Nadia yang membawa daging panggang yang baru matang.
"Yee, makan-makan."
Karin: semangat ya kumpulin poinnya, part depan insya Allah ada Ardi Karin.
__ADS_1