NOISY GIRL

NOISY GIRL
PESTA


__ADS_3

Malam ini Ardi yang menghadiri pesta William cukup terkejut dengan batik couple  yang dikenakan dirinya dan Karin, entah apa maksud pria bule itu, dia rasa tentang Karin yang ditunangkan dengan orang lain dia sudah tau.


 


 


Ardi berdiri didekat pilar besar dan menyadarkan tubuhnya di sana, tangan kanan memegang gelas minuman yang kemudian ia mainkan, matanya melirik gadis cantik yang memakai dress batik, bercorak  senada dengan yang dikenakan oleh dirinya, pemuda itu tersenyum.


 


 


Di ujung sana Karin juga tampak memberikan senyum balasan, dan di sebelahnya sang papi sibuk memperkenalkan dirinya pada rekan kerja pria itu, pujian cantik dari mereka Karin tanggapi sambil lalu.


 


 


Ardi menoleh saat seseorang menepuk pundaknya. Nena yang tampak kerepotan dengan dua putranya itu kemudian menyodorkan kamera.


 


 


"Nih, dari pada kamu nyender aja di sini kaya kain pel, mending foto-foto," ucap Nena, menangkap lengan Jino yang nyaris kabur saat wanita itu menyerahkan benda di tangannya pada sang adik.


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya, mengernyit sebal, kain pel katanya, demek dong gue, rutuk pemuda itu dalam hati." Ngapain si, bikin kerjaan aja."


 


 


"Udah kamu fotoin aja yang banyak. Tadi aku abis foto sama pengantin, sekarang kamu fotoin apa aja yang ada, suka banget aku sama dekorasinya, cantik banget." Nena  berceloteh sembari menyapukan pandangannya pada hiasan bunga bunga yang menempel di dinding gedung.


 


 


Ardi mengarahkan kamera di tangannya pada sang kakak yang tengah memegang tangan ke dua anak kembarnya. Dia tersenyum, hasilnya bagus, sang kakak yang memang cantik selalu terlihat sempurna walau foto candid sekalipun.


 


 


"Jangan lupa nanti kamu fotoin pelaminannya, cantik banget, nanti kalo Nino atau Jino mau nikah mbak mau pake yang kaya gini aja." Nena kembali berceloteh, tidak berhenti mengagumi kemewahan dekorasi di dalam ruangan besar itu.


 


 


Ardi berdecak, "kelamaan, Mbaknya," komentarnya. "Kenapa harus Jino Nino si, kenapa nggak buat aku aja yang udah mulai tua ini," imbuhnya melas sendiri.


 


 


"Dih, emangnya kamu ada yang mau."


 


 


"Enak aja, Karyawan aku di kantor aja pada ngantri."


 


 


"Minta dikawinin tuh?"


 


 


"Minta naik gaji."


 


 


"Yhaa, nggak lucu, buruan sana fotoin yang banyak," omel Nena kemudian pergi.


 


 


"Om eskrimnya enak!" Jino berteriak yang kemudian ditarik oleh maminya.


 


 


Ardi menuruti perintah sang kakak, beberapa kali mengarahkan kamera ke mana saja dan mengambil gambarnya. Hingga kemudian kamera di tangannya itu menangkap sosok Karin, sedang mengobrol dengan beberapa rekan papinya di ujung sana.


 


 


Pemuda itu ikut tersenyum saat gadis dalam layar kameranya juga tersenyum, dan kemudian gadis itu menoleh. Ardi mengerjap, di Sana Karin mengangkat telapak tangan, dan pemuda itu mendongakkan pandangannya dari kamera.


 


 


Ardi memberi isyarat mengajak gadis itu keluar gedung, dan saat mendapat anggukan menyanggupi dari Karin. Dia kemudian melangkah pergi.


 


 


Karin menemui sang abang di sudut Timur bangunan. Sebuah taman yang hanya diterangi dengan beberapa lampu yang tampak redup, gadis itu menyapanya.


 


 


"Aku nggak nyangka corak baju kita bisa sama." Karin berucap setelah sedikit berasa-basi.


 


 


Ardi tertawa pelan, "percuma, Dek, kita pake baju couple tapi nggak bisa jalan bareng di dalem."


 


 


Karin mengangguk murung, "ada papi, Bang, aku takut jadi ribut."


 


 


Ardi yang semula duduk di bangku panjang kemudian berdiri, mengambil kamera yang ia kalungkan dileher kemudian mengarahkan pada gadis itu.


 


 


Karin mengerjap bingung, "apa sih, Bang, belum siap juga."


 


 


"Tapi canti kok, cantik banget malah."


 


 


Karin tampak tersipu. "Abang juga ganteng banget," pujinya balik.


 


 


"Jalan-jalan, yuk," ajak Ardi.


 


 


"Kemana?"


 


 


"Keliling taman ini aja, jangan jauh-jauh, nanti kamu dicariin."


 


 


Karin mengangguk, kemudian mengikuti sang abang yang berjalan lebih dulu. "Istri Bang Bule cantik banget ya, Bang. Sayang bukan Mbak Lily," gumamnya pelan.


 


 


"Iya cantik, tapi cantikan kamu," ucap Ardi, kemudian menoleh, Karin tampak menjulurkan lidahnya, meledek.


 


 


"Enak mereka, jadi Raja dan Ratu sehari."


 


 


"Kenapa, kamu mau?"


 


 


"Mau lah, tapi sama abang."


 


 


Ardi tertawa pelan, "kapan ya, Dek, abang jadi raja terus kamu jadi permaisurinya."

__ADS_1


 


 


"Tapi aku nggak mau abang jadi Raja,"


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Banyak selirnya, aku nggak suka."


 


 


Ardi kembali tertawa, kemudian  mengangkat kamera di tangannya, mengambil lagi, gambar gadis yang tersenyum di sebelahnya. "Ternyata belajar fotografer itu susah ya, Dek," keluhnya, mengganti topik pembicaraan.


 


 


"Kenapa, Bang."


 


 


Ardi menghentikan langkah, kemudian menoleh, "yang difoto pelaminan, yang muncul wajah kamu," gombalnya.


 


 


Karin tertawa pelan, "ya abis gimana, aku kan emang ada di sana, udah gitu abang ngarahin kameranya ke aku terus."


 


 


"Abis sinyalnya kenceng banget si," ucap Ardi, kemudian mereka tertawa.


 


 


"Kemaren aku belajar masak sama mami, dan ternyata susah tau, Bang."


 


 


"Kenapa emang?"


 


 


"Yang ditumis kacang, yang jadi malah kangen, yhaaa."


 


 


Ardi tertawa, gadi itu memang selalu bisa membalas gombalannya. "Kamu jangan jauh-jauh dari abang, Dek," ucapnya kemudian kembali melangkahkan kakinya pelan, dan gadis itu mengikutinya.


 


 


"Kenapa emang, Bang?"


 


 


"Kata orang, cowok itu kaya bloetooth, dia akan terhubung padamu saat kamu dekat, dan mencari perangkat lain saat kamu jauh." Ardi kembali menghentikan langkahnya, mengambil potret wajah gadis itu lagi. "Abang nggak mau cari perangkat lain, Dek," imbuhnya.


 


 


"Abang tenang aja, karena kata orang perempuan itu kaya wifi, dia mampu melihat semua perangkat yang tersedia, tapi yang punya sinyal paling tinggi lah yang akan dipilih."


 


 


Ardi terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum. "Semoga abang punya sinyal paling kenceng di antara perangkat yang lain, Dek."


 


 


"Abang tenang aja, nanti aku kunci kata sandi buat yang lain, biar yang tau cuma abang aja."


 


 


Ardi tertawa pelan, "beneran ya, Dek," ucapnya.


 


 


 


 


"Hn?" Ardi menoleh, "kalo ternyata kamu suka gimana?"


 


 


"Ya gimana ya, aku sukanya sama abang doang."


 


 


Sesaat Ardi terdiam, dia sempat merasa ragu pada awalnya, namun pemuda itu berusaha untuk yakin dengan rencana Tuhan untuk dirinya. "Apapun yang terjadi, kalau menurut kamu itu baik, ikutin aja."


 


 


Karin menghentikan langkahnya, membuat pemuda yang juga melangkah di sebelahnya ikut berhenti. "Abang mau nyerah?"


 


 


Ardi tersenyum, "Nggak akan, Dek, liat aja Bang Justin, bahkan janur kuning yang udah melengkung buat Mbak Nena masih bisa dia tikung, apalagi kamu yang baru tunangan, kalo perlu aku nabung dulu deh, biar dapet restu."


 


 


Karin mengerutkan dahi, "nabung? Abang mau nabung biar bisa sewa gedung semahal ini ya?"


 


 


Ardi menggeleng, "nabung bayi, Dek, biar disuruh tanggung jawab."


 


 


"Abaaang." Karin memukul lengan pemuda di sebelahnya yang tertawa-tawa. "Nggak mau aku kaya gitu iiih."


 


 


"Abis jalannya buntu, ibarat tukang gali sumur tuh, udah mentok cadas, Dek."


 


 


Karin tertawa, apa hubungannya dengan tukang gali sumur si, dia jadi geli sendiri.


 


 


Masih membahas susunan rencana mendapatkan restu dari calon mertua, Ardi sedikit terlonjak dengan dering ponsel di saku celananya, pemuda itu mengangkat sambungan yang ternyata dari sang abang, pria itu menanyakan keberadaannya.


 


 


"Aku disuruh balik ke dalem," ucap Ardi, raut wajahnya tampak menyesal.


 


 


"Yaudah, aku juga balik takut dicariin sama papi, Bang." Karin menoleh pada pintu utama gedung. "Aku lewat sana aja, abang lewat pintu samping."


 


 


Ardi mengangguk, "bagi candu dong abangnya."


 


 


Karin mengernyit, kemudian memundurkan kepala, "banyak kamera cctv tau."


 


 


Ardi mencebikkan bibir kecewa, namun kemudian tersenyum dan mengacak rambut gadis itu. "Eh, Om Hendrik," pekiknya menoleh.


 


 

__ADS_1


Karin ikut menoleh terkejut, namun kemudian sebuah ciuman mendarat di pipinya, gadis itu kembali menoleh dan sang abang sudah berlari meninggalkannya. "Abang gilaaa," umpatnya pelan, namun kemudian tertawa.


 


 


Ardi kembali ke dalam gedung, mencari sosok Justin yang tampak mencolok di antara kerumunan, pria itu duduk di sofa dengan sang istri yang tampak serasi di sebelahnya, dan hanya tampak ada Nino yang ikut duduk di sana.


 


 


"Oh, ini yah, Nak Ardi." Seorang bapak tambun dengan kacamata bertengger di hidungnya itu kemudian berdiri dan menyapa. Dengan sopan Ardi menyalaminya.


 


 


Percakapan mengalir setelah itu, di pelaminan pasangan pengantin tampak sibuk menyambut ucapan selamat dari para tamu yang datang menyalaminya, dan disini sang abang malah membicarakan kelancaran bisnis dan sebagainya, acara sakral Bang Will dijadikan markas pertemuan bisnis terselubung oleh sang abang, benar-benar luar biasa.


 


 


Seorang gadis muda menghampiri mereka dan membuat salah satu dari rekan Justin di sana beranjak berdiri. Setelah terlibat beberapa percakapan, dia memperkenalkan gadis cantik di sebelahnya yang adalah anak bungsu pria itu.


 


 


"Hay, aku Alya, panggil aja Lia," ucap gadis  yang mengaku bernama Alya itu saat Ardi menyalaminya.


 


 


"Ardian, panggil aja, Ardi."


 


 


"Nona Alya ini yang besok mulai observasi di perusahaan kamu," ucap Justin memberi informasi.


 


 


Ardi tampak mengangguk, kemudian tersenyum. "Semoga bisa membantu," ucapnya tulus.


 


 


Alya mengangguk sekilas, "terimakasih," ucapnya, kemudian gadis itu menoleh pada sang ayah, mengajaknya pulang karena sudah merasa tidak nyaman.


 


 


Sang ayah yang adalah rekan bisnis Justin tampak menyesal dan menyuruhnya menunggu sebentar.


 


 


"Biar Ardi aja yang mengantar Nona Alya pulang," usul Justin.


 


 


"Hn?" Ardi menoleh, sedikit terkejut.


 


 


"Kamu bisa kan, Ar?" Justin meminta persetujuan, jika orang lain melihat tatapan pria itu tampak biasa saja pada adiknya, tapi bagi Ardi tatapan abangnya itu seperti todongan belati yang memberikan penawaran harta atu mati. Mati saja lah.


 


 


"Bisa, Bang." Ardi dengan terpaksa menyanggupinya, tak apa lah, toh hanya mengantarkan pulang saja.


 


 


Pemuda itu beranjak berdiri, dan sebelum melangkah pergi dia mengajak sang abang untuk berbicara sebentar.


 


 


"Abang maksudnya apa si? Nggak enak aku sama Karin," ucap Ardi, dan di hadapannya Justin tampak terlihat tenang.


 


 


"Kenapa? Toh Karin juga sudah punya tunangan, kamu bisa cari yang lain kan, Alya cantik."


 


 


Ardi menghela napas, abangnya ini seperti tidak punya perasaan saja, coba dia yang disuruh meninggalkan mbak Nena, pasti gila.


 


 


"Nggak segampang itu, Bang. Kan kemarin abang sendiri yang nyuruh aku buat bangkit dan berjuang, kenapa sekarang nyodor-nyodorin anak orang."


 


 


"Kita itu harus punya cadangan, Ar, setidaknya jika usaha kamu di tikungan tidak lancar, kamu bisa menepi pada yang lain."


 


 


"Nggak segampang itu, Bang."


 


 


"Setia boleh, tapi bodoh jangan, hidup itu sebuah pilihan."


 


 


Ardi melengos, kenapa mudah sekali sang abang berucap seperti itu, dia jadi merasa kesal.


 


 


Justin menepuk pundak sang adik, "terkadang Tuhan tidak memberi kelancaran pada usaha yang kita harapkan, tapi kamu harus tau, setiap apa yang kita butuhkan, Tuhan selalu memberikan jalan," ucapnya menasihati. "Mungkin Alya itu jalan kamu untuk mendapatkan Karin, jadi jangan salah melangkah, harus tegas menjatuhkan pilihan."


 


 


Ardi mengerutkan dahi, terkadang ucapan sang abang hanya Tuhan dan dirinya  sendiri yang dapat memahami. Karena sampai pria itu meninggalkan Ardi sendiri, pemuda itu masih tidak mengerti.


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: gue juga nggak ngerti thor, Bang Entin ngomong apa si.


 


 


Author: jangankan elu, gue juga nggak paham.


 


 


Netizen: Kampret.


 


 


 


 


 



Kanjeng Ribet: Setidaknya pernah rengking satu meskipun cuma beberapa menit, Yhaaaa kasian, nggak papa say, semangat ya mulungnya. Aku udah rengking dua juga udah seneng banget. Makasih banyaaak 😘😘


 


 


 


 


 



Kanjeng rusuh: jan kasih kendor, semangat ngumpulin poinnya, jangan sampe letooy 🤣


 


 

__ADS_1


__ADS_2